Pengintaian

1826 Words
“Mama, jangan seperti ini. Bangunlah.” Rania mengusap punggung mertuanya. “Kamu tidak mengerti, saya sangat merindukan dia.” Ayyara menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. “I hope he wakes up and says something. Saya lebih senang dia marahi, memukul saya atau apa pun terserah, tapi jangan diamkan saya seperti ini. Ini lebih menyakitkan dari apa pun, Rania.” “Dokter akan mengusahakan yang terbaik, Mama akan berbicara lagi dengannya. Mama akan mendapatkan maaf darinya. Trust me, Mam.” Rania memeluk mertuanya yang masih terisak. Meski dia sendiri tak yakin Pak Bimo akan memaafkan perbuatan istrinya begitu saja. Tapi, bagaimana ia bisa mencurigai wanita serapuh ini? Arkan bercerita bahwa mamanya berselingkuh, dia percaya. Tapi membunuh papa, Rania merasa ragu. “Rania, Forgive me." Ayyara menggenggam tangan menantunya erat. “Buat apa mama minta maaf?” “Pernikahan harusnya membuat kamu bahagia. Nyatanya kamu malah terjebak dalam masalah kami. Semoga Arkan bisa sembuh dan membahagiakan kamu. I pray for that." “Sejak Tuan Ardi melamar saya buat A Arkan, saya sudah bersiap menghadapi semua.” Rania berpaling ke arah Arkan. Pria itu tampak anteng memerhatikan monitor detak jantung papanya. “Look!” Teriak Arkan tiba-tiba. Bersamaan dengan suara berdenging panjang dan nyaring dari monitor tersebut. Perawat secepat kilat mengambil ponsel, menelepon dokter. Ia meminta mereka semua keluar ruangan. Ayyara bersikeras bertahan di dalam dan memeluk tubuh sang suami. Tak lebih dari lima menit, dokter datang dengan tergesa. Ruangan di tutup dengan cepat. “Hei, What is it?" Haykal datang dengan wajah kebingungan melihat kakaknya mondar-mandir di depan pintu. “Papa, terjadi sesuatu. Nanti kita akan tahu dari dokter.” Rania berusaha menjelaskan, namun mulutnya terasa rikuh sekali. “Apa yang kalian lakukan padanya?” Haykal menatap Arkan tajam. “Hei, kami tidak melakukan apa pun!” Rania yang merasa tersinggung dengan tuduhan adik iparnya tersebut. “Aku percaya padamu, tapi tidak padanya.” Haykal mendekati pintu, berusaha menguping apa yang terjadi di dalam. Arkan menggeleng saat Rania hendak mengatakan sesuatu pada Haykal. Pintu terbuka, dokter keluar dengan wajah tampak lega. Ia tersenyum tipis. “Alhamdulillah sudah baik. Pak Bimo sudah stabil kembali.” “Mr. Haykal. Saya rasa Pak Bimo sebaiknya di rawat di RS saja. Saya khawatir terjadi seperti ini lagi, beruntung tadi saya tidak sibuk. Jika saya tidak bisa datang cepat atau dokter lain juga berhalangan, maka ... Hmm, saya tidak berani membayangkan.” Haykal mengangguk, “nanti saya bicara dengan mama,” ujarnya. “Tolong di pertimbangkan ya, ini demi kebaikan beliau.” Dokter berpamitan sesaat setelah menerima panggilan telepon. Haykal masuk, merangkul Ayyara yang masih terpekur di samping suaminya. “Ma, bisa ikhlasin papa?” tanya Haykal hati-hati. “Jangan bicara seperti itu, Kal. Bimo harus bangun. Dia harus memaafkan mama.” Ayyara terisak lagi. “Tapi kalau begini terus, dia menderita. Tolong jangan egois. Atau paling tidak, biarkan papa dirawat di RS. Mama bisa setiap hari pergi ke sana.” “Jangan lepaskan ventilatornya, Kal. Tolong. Mama yakin Bimo akan sembuh,” lirih Ayyara, menyentuh tangan anaknya dengan permohonan yang sangat. “Kita bawa papa ke RS, ya? Haykal janji, papa mendapat perawatan no satu.” ** Siang itu Bimo di bawa ke rumah sakit, diantar oleh Haykal dan Ayyara. Rania meminta maaf tak bisa menyertai dengan alasan Arkan harus ditemani. Arkan tergesa menuju kamar Ayyara begitu mobil yang membawa mereka pergi. Kebetulan, kamar Ayyara tak terkunci, entah biasa seperti itu atau memang terlupa. Arkan merasa ini adalah keberuntungan untuknya meski ia sempat merutuki kecerobohan Ayyara. Rania mengikuti langkah suaminya cepat. Ia berdiri di dekat pintu begitu Arkan masuk, mengawasi sekitar, siapa tahu ada yang memergoki mereka atau tiba-tiba Ayyara atau Haykal kembali. Itu akan sangat merepotkan. Memutuskan untuk membuka laci terlebih dahulu, Arkan membongkar isinya dengan hati-hati. Tak ingin mamanya curiga dengan isi kamar yang berantakan. Struk-struk belanja tersimpan di sana. Entah untuk apa Ayyara menyimpan itu. Arkan membuka laci tingkat kedua, di sana beberapa map tampak bertumpuk rapi. Dibukanya satu persatu, mencari petunjuk, apa pun yang mencurigakan akan dia ambil. Arkan menemukan map berwarna kuning, di dalamnya terdapat kertas kosong bertanda tangan papa Bimo sebagai pihak pertama dan Baskoro sebagai pihak ke dua. Ia memisahkan map tersebut. Laci ke tiga terkunci. Arkan memandang sekeliling. Di mana kira-kira kunci tersimpan. Matanya tertuju pada sekelompok kunci yang tergantung di pintu lemari. Memilihnya beberapa saat dan mencoba membuka kembali laci tersebut. Di sana terdiri dari beberapa kotak kecil. Di atasnya terdapat tulisan tanggal yang sama, hari ulang tahun Ayyara. Mata Arkan tertuju pada sebuah kotak berwarna emas, di samping tulisan tanggal kelahiran, terdapat tulisan “Bas” yang samar. Kotak tersebut berisi sebuah cincin berlian cukup besar. Arkan belum pernah melihat Ayyara memakainya. Ia mengambil cincin tersebut agar bisa melihat lebih jelas. Ternyata di bawah tempat cincin, terdapat satu ruang kecil yang berisi secarik kertas bertulis tangan. {Happy Birthday, Ayya. Jangan lupa janjimu, demi Haykal} Arkan meminta Rania memotret tulisan tersebut bersama kotak perhiasannya. Merapikan kembali semua karena tak ditemukan lagi sesuatu yang mencurigakan. Rania melambaikan tangan ke arah Arkan saat ia mendengar langkah kaki menuju ke arah mereka. Tak sempat keluar, mereka memilih masuk ke bawah tempat tidur Ayyara yang tertutup seprei berumbai. Arkan masuk terlebih dahulu lalu Rania mengikuti. Rania membelakangi Arkan. Beruntung tempat tidur Ayyara lumayan tinggi, tidak terlalu membuat engap. “No, saya tidak lupa. But you tahu sendiri Bimo sekarang seperti itu. Dia tak mungkin menanda tangani kertas yang kamu kasih.” Ayyara menutup pintu, kemudian duduk di tepi ranjang, Arkan mendengar mamanya membuang napas kasar. “Jangan main-main Ayya, sudah lebih dari dua bulan saya memberikan berkas itu, saya bisa mengungkap skandal kita ke publik jika kau melanggar. Anak kesayangan kamu yang gila akan semakin stress melihat video tak pantas milik ibunya.” Rania hampir terpekik mendengar ucapan pria di seberang telepon saat Ayyara mengaktifkan pengeras suara. Arkan secepat kilat membekap mulut Rania hingga tubuh Rania otomatis berada di pelukannya. Rania merasa Arkan punya Indra ke enam karena bisa otomatis tahu ia hampir bersuara. “Plis, Bas. Jangan.” “Kalau Bimo tak bisa, maka Arkan bisa. Lakukan secepatnya. Saya tahu kamu bisa merayunya. Dengar, saya tak ingin Haykal tak mendapatkan apa pun dari Bimo hanya karena ia anak biologis saya. Kau juga tak ingin Haykal tersisihkan, kan?” “Tapi Arkan ...” Klik. Telepon terputus saat begitu saja. Rania nyaris tak bisa bernapas karena eratnya pelukan Arkan. Ia berusaha memberi tahu suaminya agar memberi sedikit ruang, toh ia yakin tak akan kelepasan lagi dan tempat ini cukup luas untuk mereka berdua. Ia menggeleng-geleng kepala, namun Arkan tetap diam. Rania mencoba menggerakkan tubuhnya, namun ia seperti terkunci. Nyaris kehilangan akal, ia juga mulai merasa panas dingin saat menyadari d**a Arkan yang bidang menempel di punggungnya. Rania juga merasakan embusan napas Arkan di telinganya meski tertutup kerudung. Rania menggigit jari Arkan hingga pria itu sontak melepas tangannya. Untung saja ia tak berteriak, Arkan hanya mendorong tubuh Rania hingga bergeser agak menjauh darinya. Rania berbalik hingga posisi mereka berhadapan. Ia nyaris terbahak melihat ekspresi suaminya. Arkan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak membalas, takut Ayyara mendengar keributan di bawah ranjangnya. ** Arkan dan Rania baru bisa keluar dari kamar Ayyara setengah jam kemudian, saat Ayyara pergi ke kamar mandi. Kertas yang di bawa Arkan dilipat dan di masukkan ke saku, Arkan tidak ingin mamanya cepat menyadari kertas itu raib jika diambil dengan mapnya sekalian. “Kenapa menggigit heh?” menarik kerudung Rania hingga gadis itu nyaris terjengkang. “Salah siapa meluk kenceng banget. Napsu ya? Dasar m***m!” “Napsu? Tipis gitu gak bikin napsu!” Arkan menatap tubuh Rania dari ujung kepala hingga kaki. Membuat Rania risi dan merasa terhina. Arkan berlalu meninggalkan Rania yang masih menggerutu. Arkan menyadari tadi telah memeluk perempuan itu cukup lama. Ia sendiri merasa nyaman melakukannya, merasa menemukan kedamaian dan bahagia karenanya. “Kirimkan foto tadi ke Paman Ardi,” kata Arkan sebelum merebahkan tubuhnya di kasur. Rania merogoh saku, namun ponselnya tak ada di sana. “Kenapa?” “Ponselnya ...” “Jangan bilang ponselnya hilang!” “Sepertinya begitu,” sahut Rania, ia masih meraba kedua sakunya, berharap ia salah. “Ambil sekarang!” “Caranya? Jangan bilang saya harus balik ke kamar mama, kucluk-kucluk mengetuk pintu dan bilang ponsel saya ketinggalan di bawah ranjangnya.” “Ide bagus, ayo!” “Arkan! Yang benar saja.” Rania masih tertegun-tegun saat ujung kerudungnya di tarik lagi oleh Arkan sehingga mau tak mau ia mengikuti langkah suaminya. Arkan mengetuk pintu kamar Ayyara cukup kencang. Ayyara muncul dengan wajah sembap, menatap anaknya penuh tanda tanya. “Anu Ma, hmm ... Ponsel saya ketinggalan di sini.” Rania melirik Arkan. Namun Arkan malah ngeloyor masuk tanpa menunggu Ayyara mempersilahkan. “Ko bisa?” “Tadi Arkan mengajak saya main petak umpet, dia maksa masuk ke sini ..mm, ke kolong ranjang mama,” ujar Rania, tangannya terkepal gemas, ingin meninju Arkan yang nyaris tertawa di belakang Ayyara. “Ke kolong ranjang mama? Seriously? O may god Arkan.” Ayyara tak dapat membayangkan Rania masuk ke kolong ranjangnya, apalagi berdua bersama Arkan. Ngapain mereka di sana? “Maaf ya, Ma.” Rania melambaikan tangan saat Arkan menggandengnya pergi. Meninggalkan Ayyara yang masih termangu, Ayyara benar-benar tak mengenal anaknya lagi. Awalnya Ayya berharap anak sulungnya bisa membantu dirinya keluar dari masalah pelik yang dia hadapi. Nyatanya kini Arkan menjadi masalah baru buatnya. ** “Jangan ke manapun tanpa suamimu.” “Saya bisa gila kalau terkurung terus di sini. Beruang kutub. Kasih saya kebebasan sebentar saja.” “Kamu boleh ke mana pun, asal sama saya.” “Arkan, plis,” rayu Rania pelan. Ia tak menyangka dunianya akan menjadi seaneh ini. Jungkir balik ia menyesuaikan diri dengan semuanya. “Rania, sekarang kamu bukan yang kemarin. Keputusan kamu menikahi saya ada konsekuensinya, apalagi ini berhubungan dengan kematian papa kamu. Kamu pikir nyawa kamu sekarang aman seperti sebelumnya? Tidak, Sayang. Katakan mau ke mana, saya antar.” “Apotik, beli obat buat Aa,” sahut Rania dengan gaya manis yang dibuat-buat. “Aku suka gayamu yang seperti ini. Mojang priangan.” “Kamu pakai jaket, mau motoran?” Arkan menatap penampilan Rania yang tak berganti pakaian, hanya menambahkan jaket saja. “Kamu di belakang,” ujar Rania saat Arkan menghampiri motor besarnya. Ia menyerahkan kunci dengan perasaan tak yakin Rania yang bertubuh kecil akan bisa membawa motornya. Ia pikir Rania paling-paling mampu mengendarai motor matic, atau bebek. Menghidupkan mesin dengan angkuh, Rania merasa puas melihat ekspresi Arkan yang seperti masih tak percaya. “Ternyata kamu ...” Arkan tak tahu kata apa yang pantas untuk mengungkapkan kekagumannya. Ia takut Rania besar kepala. “Keren, kan? You don't know who I am yet, Polar bear!" Mereka melaju dengan kecepatan sedang. Rania menikmati tiupan angin di pipi halusnya seakan telah bertahun-tahun tak merasakannya. Arkan tersenyum tipis melihat rona bahagia yang terpancar dari wajah Rania yang ia lihat di kaca spion. Ia bersedekap, memejamkan mata agar bisa merasakan kebahagiaan yang Rania rasakan. Bahagia yang terlihat sangat sederhana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD