Genk Motor?

1980 Words
“Arkan!” Jerit Rania kencang. Kepanikan terdengar jelas dari suaranya. Beruntung Arkan memiliki ketenangan yang luar biasa di saat seperti itu. Arkan melihat seorang pengendara motor melaju kencang dari arah berlawanan dengan mengacungkan sebuah tongkat baseball seakan hendak memukul mereka. Arkan mengambil alih kemudi, beruntung tubuh Rania jauh lebih kecil darinya hingga Arkan tak merasa kesulitan saat meraih setang motor. Membelokkan laju kendaraan ke arah kiri secara tiba-tiba membuat si pengendara berhelm biru sedikit oleng. Ia tak menyangka mangsanya akan menghindar secepat itu. Arkan memutar motornya dan langsung melaju cepat mengejar pria tersebut, Rania menekan tubuhnya serapat mungkin dengan badan motor. Ia berusaha agar Arkan leluasa bergerak. Kakinya berpindah ke atas kaki Arkan. Ternyata si pengendara sengaja memancing Arkan ke sebuah tempat sunyi. Sebuah jalan lengang yang berbatasan dengan tebing di sebelah kanan. Di sana telah menunggu dua pengendara lain. “Tunggu di sini,” ujar Arkan. Menghentikan laju kendaraannya, memandang lawannya dengan tatapan menyelidik. Arkan merasa mengenalinya, atau sudah pernah bertemu dengan orang-orang ini. “Kalian mau apa?” Rania diam-diam mengambil ponselnya dan mengirim lokasi pada seseorang. [URGENT!] Tulisnya, beruntung orang-orang yang mengelilingi Arkan seperti luput memerhatikannya. Seorang berbaju hitam seketika maju dan menendang Arkan diikuti dua orang lain. Tendangan pertama luput, membuat si pria makin berang. Arkan bergerak lincah menghindar, menangkis dan sesekali meninju ke arah lawannya. Beberapa pukulan di perut dan pipinya membuat Arkan sedikit terhuyung. Rania tak tinggal diam, ia melompat dan langsung menendang tengkuk pria yang tadi membawa tongkat baseball hingga pria itu tersungkur ke aspal. Ia bangkit dan melempar helmnya asal. Meludah dan bergerak ke arah Rania, Arkan menghindari tinjuan pria berbaju hitam seraya memelintir tangan pria yang satunya. Rania berdiri dengan kedua kaki sedikit terbuka, memerhatikan gerakan lawannya. “Oh, kau pria pecundang yang memukuli Arkan di atap gedung?” tawa Rania terdengar sinis. Rania mengenali gestur pria itu dari video yang berkali-kali ditontonnya. Arkan berpaling mendengar ucapan Rania. Menatap sepintas pada pria yang Rania maksud. Benar, pria ini yang selalu datang ke RSJ dan menyiksanya. Memaksa agar dirinya mengakui bahwa ia tak gila, juga mengakui bahwa ia pelaku pembunuhan. Pantas tadi Arkan merasa sudah mengenali mereka. Arkan mendorong pria yang dia plintir tangannya keras. Pria itu mengaduh kesakitan, namun kemudian mengambil sebuah pisau kecil dari balik bajunya. Kedua temannya melakukan hal yang sama. Arkan bergerak cepat ke arah Rania yang masih diam di tempat. Mereka saling membelakangi dengan posisi siaga. Rania memutar otak, dia tak yakin akan bisa mengalahkan orang-orang ini dengan tangan kosong, kekuatannya tak seberapa, dan Arkan juga belum tentu mampu. “Geser kiri, pelan-pelan,” bisik Rania. Arkan mengangguk tanpa banyak bertanya. Mereka bergerak sedikit demi sedikit ke arah pinggiran jalan di mana terdapat seonggok pasir sisa perbaikan jalan. Saat ketiga penyerang melompat bersamaan ke arah mereka, Rania berteriak kencang, “Ambil pasir!” Rania meraup pasir dengan kedua tangannya, melemparnya tepat ke wajah pria yang mendekatinya. Arkan melakukan hal yang sama pada kedua pria lainnya. Serta merta ketiga pria melepas pisau mereka dan menutup wajah masing-masing disertai teriakan tertahan. Butiran halus pasir pasti memasuki mata hingga mereka mengaduh kesakitan. Bersamaan dengan itu terdengar suara berderum kencang. Rania melambaikan tangan ke arah datangnya rombongan motor besar yang cukup banyak. Ketiga orang yang masih berusaha membersihkan mata mereka bergerak cepat menuju motor masing-masing, melajukannya dengan terseok. “Kamu baik-baik saja?” Arkan meneliti Rania dari atas hingga bawah. “I’m oke. See, saya bahkan tak terkena pukulan seperti kamu. Lihat pipimu lebam begitu,” sahut Rania, refleks di sentuhnya pipi Arkan yang menghitam. “Aww!” “Sakit?” Rania menarik tangannya, khawatir menambah rasa sakit yang di rasakan Arkan. “Tidak.” Arkan mengusap pipinya yang memang terasa sakit kini. Tadi ia tak merasakan apa pun sebelum Rania menyadari lukanya. “s**t!” Arkan menggeram kesal menyadari ketololannya, mengapa ia lupa meringkus ketiga orang tadi agar dapat mengorek informasi siapa yang menyuruh mereka. “Apa sih?” “Kenapa tadi gak diringkus sih?” “Ko nyalahin saya? Harusnya kamu tuh bilang gini ; makasih ya, Sayang. Kamu udah nyelametin aku.” Arkan mendengus. Mengacak rambutnya karena masih merasa kesal. “Bagaimana bisa kamu mengenali orang itu?” “Nih,” sahut Rania. Ditunjukkannya video yang sempat dia rekam. Arkan mengangkat alis, dia kagum dengan kepandaian istrinya. “Sama-sama, A.” Rania menyindir Arkan yang tak juga mengucapkan terima kasih kepadanya. “Kamu wanita aneh.” Arkan melangkah meninggalkan Rania yang menatapnya tak percaya. Menaiki motor dan langsung menghidupkannya. Rania naik dengan wajah ditekuk. Membetulkan letak kerudung yang tak rapi lagi. “Pulang?” Arkan melirik spion. Tersenyum geli melihat Rania yang tampak tengah bersungut-sungut tapi ia tak dapat mendengar sepatah kata pun. “Obat, Mister!” “Oke, oke.” Arkan melaju kencang, membawa istrinya ke apotek dan membiarkan Rania masuk. Arkan sendiri menunggu di motor, memandang istrinya yang berbicara panjang lebar dengan apoteker. Sesekali apoteker cantik itu menatapnya. Arkan mengakui wanita yang dia nikahi bukan perempuan biasa. “Ayo,” kata Rania yang entah sejak kapan telah membonceng lagi. Arkan sibuk dengan pikirannya sendiri. “Mumpung kita keluar, kamu punya rekomendasi warung makan yang enak?” Arkan memulai pembicaraan, ia merasa tak nyaman dengan diamnya Rania. “Tidak.” “Ayolah, kita tak akan bisa setiap hari pergi seperti ini.” “Saya suka semua jajanan pinggir jalan, jadi tak tahu tempat makan yang akan sesuai dengan seleramu.” “Bakso?” tanya Arkan saat melihat seorang penjual bakso. Dirinya memang nyaris tak pernah punya waktu untuk wisata kuliner. Jangankan di pinggir jalan, ke cafe saja nyaris tak pernah di lakukannya. Makan di restoran hanya dia lakukan jika klien memintanya bertemu di sana. “It’s oke.” Arkan menepikan motor persis di samping tukang bakso. Penjual bakso mengangguk sopan, “Mau bakso, Mister?” “Yeah, istri lagi ngidam,” ujar Arkan santai sambil mematikan mesin kendaraannya. Ia menggandeng tangan Rania yang mencebik sebal. “Bohong, Mang,” ketusnya. “Ga papa, Mister. Sabar ya, orang hamil memang suka aneh-aneh. Kadang malah ada yang benci sama suaminya. Gak mau dideketin, apalagi di colek,” cerocos penjual bakso, ia tertawa kecil, tangannya sibuk membuatkan dua mangkuk untuk mereka. “Istri saya begitu kelakuannya tuh.” “really?" Arkan memasang wajah polos, membuat Rania makin kesal. Ia berujar dengan memelas, “istri saya pun begitu, Mang. Kalau saya dekat, dia marah dan mendorong saya agar menjauh. I’m so sad.” “Kita senasib, Mister. Tapi nanti kalau sudah hamil gede juga sembuh. Malah pengen di peluk terus, kalau ditinggalkeun suka ngambek. Haduh, awewe memang serba aneh.” Bakso pesanan mereka telah selesai dibuat. Rania nyaris tak berselera karena mendengar percakapan absurd suaminya tadi. “Ou begitu, Mang. Thanks nasihatnya, ya.” “Iya sama-sama. Pokoknya Mister sing sabar, nanti ge si eneng nempel terus kayak tokek, kalau aya geledeg baru bisa lepas!” Tawa Arkan meledak mendengar perumpamaan dari si mamang. Rania yang memang telah lapar mengabaikan rasa jengkelnya dengan kelakuan Arkan. Ia menarik mangkoknya kemudian menambahkan cuka dan sambal yang cukup banyak, tanpa kecap dan saus. “Ada kabar dari orangnya paman Ardi?” Arkan kembali teringat orang-orang tadi. Ia memerhatikan cara Rania makan bakso dan mengikutinya, hanya saja dia tak berani mengambil sambal terlalu banyak. Rania mengecek ponselnya dan mengangguk, “Hanya satu yang tertangkap, katanya.” “Lumayan, minta sharelock. Nanti kita langsung ke sana.” “Bukankah lebih baik mereka saja yang menangani? Kita sudah terlalu lama di luar. Kita tunggu saja beritanya.” Merasa ucapan Rania benar, Arkan mengangkat bahu tanda mengiyakan. Meski hatinya sangat ingin pergi dan menghajar penjahat itu dengan tangannya sendiri. ** Haykal membuka pintu tepat saat Rania hendak mendorongnya. Pria itu tersenyum saat Rania membelalak kaget. “Jalan-jalan ke mana nih?” “Cari angin saja, Mister.” Rania mundur sedikit menjauhi Haykal yang menghalangi pintu. “Haykal, just Haykal. Boleh kalau lain kali Rania cari angin denganku?” Haykal menatap kakaknya. Arkan tak bereaksi, ia merogoh kedua saku jaketnya dan berlalu meninggalkan mereka berdua. Bahunya menyenggol Haykal yang masih menghalangi. “Itu tandanya boleh lho. Ngomong-ngomong kenapa pipi Arkan lebam? Jangan bilang kamu yang meninjunya waktu dia nyosor,” kekeh Haykal. Rania menunjuk ke dalam, “Boleh saya masuk?” Haykal menggeser tubuhnya, membiarkan Rania menyusul Arkan. Ia membuang napas dengan kasar. Memijit pelipisnya dan pergi menggunakan Pajero sport kesayangannya. “Adikku menyukai kamu, Rania,” desis Arkan. “Sepertinya sejak kamu kerja di perusahaan kami, dia sudah naksir. Kamu tidak merasa?” “Tidak, dan tolong jangan bahas itu. Itu hal paling klise yang pernah saya dengar. Saya office girl di sana dan dia CEO. Adegan naksir-naksiran seperti itu cuma ada di film dan novel-novel. Jangan ngarang.” “Saya mengenali Haykal lebih dari yang kamu kira. Dan saya tidak mengada-ada.” Merasa ditatap sedemikian rupa, Rania balik menatap Arkan dengan berani, “lalu kamu mau apa? Mau menyuruh saya menyukai Haykal juga?” Arkan diam. Di satu sisi ia ingin Haykal bahagia. Arkan tahu bahwa Haykal selalu merasa kalah dan tersisih olehnya, meski Arkan sendiri tak pernah menghendaki itu. Arkan selalu berusaha agar adiknya mendapatkan apa yang dia ingin, perhatian mama, misalnya. Nyatanya Haykal tetap kalah. Posisi CEO di perusahaan papa, tanpa meminta pertimbangan, papa langsung memberikannya pada Arkan dengan alasan Arkan anak sulung dan lebih bertalenta dibanding Haykal. Maka ketika Arkan berpura-pura gila dan Haykal menjadi CEO pengganti dirinya, ada sisi bahagia di hatinya melihat betapa Haykal bersemangat melakukannya. Arkan tidak tahu, apakah dirinya akan bisa memberikan Rania juga untuk kebahagiaan Haykal. Dia memang tidak mencintai Rania, tapi ada rasa tak rela melepaskannya. “Saya bukan boneka, di suruh menikahi seseorang, kemudian di suruh mencintai orang lain lagi. Sorry, saya tidak bisa.” Rania menggeleng, berlalu ke kamar mandi demi melepas penat dan menyegarkan badannya. Arkan melihat ponsel Rania tergeletak di kasur. Ia bersyukur Rania tidak menggunakan sandi, hanya dengan menggeser layar ia dapat membukanya. Mencari aplikasi w******p dan membuka pesan dari seseorang yang dinamai “SOS” oleh Rania. Arkan yakin itu nomor orang kepercayaan paman Ardi. [Sharelock sekarang, saya ke sana] Arkan segera mengambil pulpen dan kertas note dari laci napasnya. Menulis pesan pendek bahwa ia meminjam ponsel Rania sebentar. Ditempelnya kertas itu dengan selotip di cermin. Berlari secepatnya begitu ia mendapatkan pesan yang diinginkan. Melaju kencang membelah kota yang mulai merambat malam. Arkan memasuki sebuah gudang yang tak terurus. Ini adalah milik keluarganya, namun telah lama ditinggalkan karena lokasinya yang terjepit. Pemilik tanah di depan gudang ini tak memberi ijin kepada perusahaan untuk membeli tanahnya. Padahal telah ditawarkan harga yang cukup tinggi. Rencananya, tanah itu akan dijadikan jalan agar truk pengangkut besi bisa keluar masuk ke sana. “Anda sendiri, Mister?” Johan menyambut kedatangan Arkan. Ia menunjuk seorang pria yang terikat dengan posisi duduk di sebuah kursi. Arkan turun dari motornya dan langsung menghampiri pria yang babak belur tersebut. Kedua mata pria itu tampak bengkak. Wajah, rambut dan kaosnya tampak basah. “Sudah tahu siapa yang menyuruhnya?” “Dia sedikit keras kepala, Mister.” “Pergilah, ngopi sebentar bagus buatmu,” usir Arkan pada Johan dan kawan-kawannya. Johan tampak ragu, namun kemudian berlalu meninggalkan ruangan. “Jadi, apa kau tidak menyayangi keluargamu?” Arkan berjongkok di hadapan pria itu. Si pria tampak terkejut mendengar ucapan Arkan. Itu membuat Arkan bersorak dalam hati. Pancingannya mengena. “Beritahu siapa bosmu, maka saya akan melindungi keluarga kamu. Bukankah itu terdengar adil?” Arkan membuka ikatan pada tubuh pria itu perlahan. “Tidak usah berpikir untuk kabur, Johan dan yang lainnya tak akan meninggalkan kita terlalu jauh. And see, tak banyak jalan keluar dari tempat ini.” “Bunuh saja saya,” ujar pria berambut ikal yang kini tampak sangat kusut tersebut. “Itu gampang.” Arkan melempar tali tambang ke sembarang tempat. “Tapi berurusan dengan saya tak semudah itu.” “Saya tinggal mengetik nama kamu di sini, melihat data keluarga kamu dan ...” “Baiklah!” “Good boy."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD