Siapa Perempuan Itu?

1869 Words
“Kami sebenarnya tidak pernah bertemu dengan orang yang menyuruh kami. Kami mendapat perintah dari ponsel, dan mendapat bayaran secara transfer.” Pria yang mengaku bernama Sofyan itu menghela napas. “Tak ada untungnya anda menangkap saya, kecuali anda berniat membalas karena saya ikut memukuli anda.” Sofyan terkekeh pelan. Ia menyentuh matanya yang tentu terasa pedih. “Rania luar biasa, bahkan kami tak memprediksi pasir itu akan dia jadikan senjata.” “Kenal Rania?” Sofyan tak menjawab. Ia mendekati botol aqua yang masih berisi air setengahnya. “Tanya semua yang ingin Mister tanyakan. Tapi saya benar-benar tidak tahu siapa yang memerintah. Dan setelah ini, tolong jangan sentuh keluarga saya. Mereka tidak bersalah.” Arkan diam, dia tak menyangka penjahat ini masih punya hati. Melindungi keluarganya sedemikian rupa. Tapi ternyata orang ini terlalu lemah sekaligus bodoh karena ketakutannya, padahal Arkan bahkan tak tahu siapa namanya, bagaimana bisa tahu keluarganya? Nama Sofyan keluar dari mulutnya sendiri, bukan hasil penyelidikan Arkan. “Orang itu menelepon saat memberi perintah?” “Seringnya lewat WA, cuma sekali dia menelepon.” “Kamu punya nomornya?” “Tidak, Juna yang selalu dia hubungi.” Sofyan mengguyur kedua matanya dengan air, berkedip cepat agar kotorannya keluar. Pastinya Juna adalah pemimpin mereka. “Apakah terdengar seperti suara laki-laki tua?” “Tidak, suara perempuan. Logatnya aneh. Seperti ... Bule.” Arkan tercekat. Bayangan wajah Ayyara terlintas jelas. “Jangan mengada-ada!” Arkan menarik krah kaos Sofyan, tinjunya nyaris melayang jika saja ia tak segera menguasai diri. Sofyan mengangkat kedua tangannya, “Saya berkata yang sesungguhnya. Anda memukul saya juga tak akan mengubah apa pun.” “Kamu dibayar berapa?” “Dua puluh juta satu orang. Mungkin Juna lebih besar dari itu.” “Untuk?” “Membunuh anda dan Rania kalau diperlukan.” “Harga nyawa saya cuma segitu? t***l!” Arkan tertawa sumbang. “Anda tak tahu susahnya nyari duit, Mister.” Sofyan mendengus. Ia benci melihat tawa Arkan. Orang kaya tak tahu jungkir baliknya orang miskin seperti dirinya demi uang sepuluh atau dua puluh juta. “Saya bayar kamu lima puluh juta, kalau kamu bisa menemukan siapa yang menyuruh kamu sebenarnya. Sepuluh juta untuk satu informasi yang tepat. Apa yang mereka rencanakan, misalnya.” Arkan menyudahi tawanya dan menatap Sofyan tajam. Ia tak berharap ada penolakan. Dan lega melihat pria itu mengangguk. Bahkan tanpa menawar dengan harga yang lebih tinggi. Atau mungkin, si Sofyan ini orang baru di dunia seperti ini, sehingga uang sekecil itu dia anggap cukup layak. “Tapi teman-teman saya tahu bahwa saya tertangkap. Bagaimana cara saya kembali pada mereka tanpa dicurigai?” “Bilang saja kau bisa kabur dari kami,” sahut Arkan. Sofyan merenung, ia tak yakin bisa semudah itu. “Semua itu terserah kamu. Berikan nomor ponselmu, nanti kuhubungi. Jangan coba-coba berkhianat atau menipu saya!” Arkan menuliskan nomor yang di sebutkan Sofyan di ponsel Rania. Ia melangkah keluar dan memberi instruksi singkat pada Johan. Kemudian melesat kembali dengan motor besarnya. Ia menyempatkan diri membeli sebuah ponsel agar tak perlu menggunakan milik Rania. Ponselnya sendiri entah di mana sekarang, sejak masuk RSJ, ponsel itu tak pernah lagi dia genggam. Ia tak berminat menanyakan siapa yang menyimpan atau menggunakannya. ** Arkan membuka pintu kamar perlahan. Ia yakin Rania sudah tertidur karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Tak ingin membangunkannya, karena Arkan yakin Rania sangat lelah melewati hari ini. Kamar gelap, membuat Arkan sedikit berhati-hati. Siapa tahu ia menginjak sesuatu yang akan berbunyi nyaring. “Arkaaaaan.” Panggilan yang sangat halus di belakang punggung Arkan cukup membuat pria itu merinding. Ia terdiam, baru kali ini berada di kamar yang sangat gelap. “Arkaaaaan. Huuuuffffftttthhhhh.” Tiupan di pundak membuat Arkan makin terpaku. “Huahahhahaha!” Tawa Rania pecah melihat Arkan diam bagaikan patung, dinyalakannya lampu hingga wajah Arkan yang sedikit pucat terlihat jelas. “Saya tidak takut. Hanya sedikit kaget.” Elak Arkan. “Kaget sampe pucet, ya ampun. Hahaha!” Rania memegangi perutnya yang sakit karena tertawa terlalu keras. Arkan menatap kesal ke arah istrinya. Namun beberapa detik kemudian Arkan menyadari tawa Rania terlihat sangat indah. Matanya menyipit hingga tinggal berupa garis melengkung dihiasi bulu lentik. Giginya terlihat berbaris rapi di batasi lekuk indah bibirnya yang kemerahan. Arkan mendekat, tak tahan untuk tak menyentuh pipi Rania yang halus seperti kulit bayi. Rania yang tak menyangka akan perlakuan manis Arkan otomatis menghentikan tawanya. Ia menatap Arkan bingung, hatinya berdebar tak karuan. Ingin mundur, menolak, tapi kakinya tak bisa diajak kompromi. Ia seakan terpatri di sana. Mendongak menatap mata suaminya saat Arkan mengangkat dagu lancipnya perlahan. Aroma napas Arkan memenuhi penciumannya. Membuat Rania makin mabuk dan hampir terlupa. Lutut Rania gemetar saat Arkan mengusap bibirnya perlahan. “A-Arkan, a-aku ... Aku,” lirih Rania, berusaha menguasai diri. Tangannya menahan tubuh Arkan yang makin mendekat. “Please,”Arkan memohon. “I don't know if you will do this out of love or not, tapi saya rasa saya belum siap. Sorry,” ujar Rania, menarik diri dari suaminya yang tak mengucapkan apa pun. Arkan terpejam, mengatur napasnya yang memburu, dia tak bisa marah pada Rania. Ia malah merasa bersalah karena hampir saja menuruti nafsu. “It’s oke. No problem. Saya yang minta maaf. Itu tadi ... Hmm...,” Arkan bingung akan mengucapkan apa. Baru kali ini ia merasa tak tahu harus berbuat apa di hadapan seorang perempuan. “Oke, baiklah. Tak ada yang perlu dimaafkan.” Rania tersenyum, menyadari mereka berdua berada di situasi yang tak nyaman. “Dari mana?” Dia berusaha mencari topik lain. Yang sebenarnya dari tadi ingin dia ketahui. “Beli hp baru and menemui penjahatnya.” Arkan mengusap tengkuk. Ia masih belum menguasai diri sepenuhnya. “So? Udah tahu donk siapa dalang semua ini?” “Tidak. Orang itu sangat pintar. Sepertinya dia sudah memprediksi semua kemungkinan. Si Sofyan tak pernah bertemu dengan dalangnya. Hanya lewat telepon atau WA. And ...” “Apa lagi?” “Dia bilang itu terdengar seperti suara perempuan bule.” “Mama Ayya?” “Maybe ...” “Maybe Yes, maybe no. Bukankah kau bilang si dalang ini seperti sudah memprediksi semua kemungkinan? Dia tak akan menggunakan suara asli saat menelepon orang suruhannya. Itu sama saja bunuh diri.” Perkataan Rania membuat Arkan tercengang, ia sama sekali tak terpikir ke arah sana. Benar, jika itu suara asli, maka tak perlu waktu lama orang akan langsung menunjuk mama Ayyara sebagai penjahatnya. Sedangkan belum ada bukti kuat yang mengarah ke sana. “Saya rasa mama Ayya akan dijadikan kambing hitam. Kita harus lebih teliti lagi, A.” Arkan tersenyum mendengar Rania memanggilnya aa tanpa penekanan yang menjengkelkan. Itu terdengar alami dan menyenangkan. “Ya, namun jika benar mama yang jadi dalang semua ini. Saya belum tahu apa yang akan saya lakukan. I love Mama very much, despite all her faults." “Saya mengerti. Tapi kesalahan tetap kesalahan. Saya di sini untuk mencari keadilan tentang Papa, saya harap kau ingat itu.” Arkan melepas jaket dan bajunya, langsung merebahkan badan di kasur, ia tak berniat mandi di tengah malam seperti ini meski tak mandi sejak pagi. “Mandilah, saya sudah mengisi bathtub dengan air hangat.” Rania menyodorkan handuk. “No, kau tak lihat ini tengah malam?” “Apa masalahnya? Mandi bisa membuat badan dan pikiranmu segar kembali.” “Terus, habis mandi ngapain?” “Tidur.” “Berarti tak perlu mandi.” “Why?” “Karena tak ada yang tahu aku segar atau tidak, bau asem atau tidak.” “Maksudnya?” kening Rania mengernyit dalam. “Tidak, tidak ada maksud apa pun.” Arkan melangkah ke kamar mandi, padahal ia enggan melakukannya. Ia hanya tak ingin Rania merasa tak di hargai. Sungguh, Arkan mulai merasa tak ingin mengecewakan wanita ini. Sekecil apa pun. ** Rania telah berada di dapur sejak pukul lima pagi. Bermaksud membantu koki memasak menu sarapan. Koki berkali-kali menyuruhnya menunggu saja, dia dan tim akan melakukan semua seperti biasa. Namun Rania keukeuh. Ia mengaku bosan cuma makan dan tidur. “Tidak apa jika saya cuma di suruh mencuci piring, saya bisa. Sudah biasa ko,” ujar Rania setengah memelas. “Aduh, Nona. Saya tak ingin Mister Arkan marah. Takut dikira saya yang menyuruh,” kata koki dengan wajah bingung. “Tidak akan, A Arkan tak akan tahu. Dia masih tidur. Dan cuma akan bangun nanti, kalau saya membangunkannya.” “Biarkan saja, memangnya Arkan pernah marah padamu?” Haykal mengambil gelas, mengisinya dengan air dari dispenser dan meminumnya sambil bersandar ke pintu. Rania diam, ia tak berharap siapa pun membantunya saat ini. Ia hanya sedang merasa jenuh. “Baik, Mister. Mister Arkan memang tidak pernah marah, saya hanya khawatir.” Koki beringsut menjauhi mereka. “Mari kita lihat kamu bisa apa. Mau masak?” Rania melihat sekeliling, “sebenarnya tidak terlalu bisa, tapi kalau cuma nasi goreng, saya bisa. Ga apa lah, biar nanti saya makan sendiri. Saya jenuh di kamar terus.” Mengambil daun bawang dan dua butir telur, kemudian memilih bahan lain yang dia butuhkan. “Saya suka nasi goreng.” “Oh ya? Pernah makan di mana?” “Di rumah teman, tapi dia pakai bumbu instan. Lumayan enak. Tapi mungkin akan lebih enak kalau tidak instan. Apalagi kamu yang masak. Saya pasti suka.” Haykal tersenyum, mengambil pisau dari tempatnya, “saya bisa bantu memotong bawang.” Rania sigap membuka kulkas, mengambil beberapa bahan. Ia senang karena di sini lengkap, semua bahan yang dia inginkan ada, tak seperti saat dia nge kost, nasi goreng hanya ditambahi telur saja. Kadang-kadang ia memilih bumbu instan juga demi menghemat biaya. Rania menyalakan kompor setelah semua bahan selesai dibersihkan dan dipotong. Mengambil wajan yang sedikit besar dan menuang minyak sedikit. Haykal melompat ke atas meja tepat di samping kompor, di sana memang kosong, biasa digunakan sebagai tempat menyiangi sayuran. Ia menyambar sebuah apel merah dan menggigitnya cepat. “Hei!” Rania terkejut dengan tingkah Haykal yang tak di duganya. “Lanjutkan, saya tidak mengganggu.” Haykal menikmati apelnya, juga menikmati desir di dadanya saat memandang Rania dan bisa berdekatan seperti ini dengannya. “Tunggu saja di kursi, Haykal! Jangan di sini.” “Why? Saya suka di sini.” “Nanti kecipratan minyak.” “No problem, biar kau obati.” “Ya Tuhan,” gumam Rania. Ia tak habis pikir dengan tingkah bocah tua ini. Ia seperti melihat sisi lain Haykal, di kantor ia terlihat sangat berwibawa, sementara di sini tampak sangat kekanak-kanakan. Mau tak mau Rania melanjutkan pekerjaannya sambil mendengar ocehan Haykal yang hanya ia tanggapi dengan senyum. Rania mulai merasa Haykal cukup menyenangkan, tidak menyebalkan seperti sebelumnya. “Saya mau kopi, seperti yang biasa kamu bikin di kantor.” “Itu kopi sachetan, siapa pun bisa membuatnya.” “Really? Saya pikir itu kopi spesial. Karena pernah saya coba bikin sendiri, rasanya tidak sama. OB lain bikin, rasanya juga beda. Jadi mungkin, kopi itu nikmat tergantung siapa yang bikin?” Haykal menatap Rania lagi. Ia ingin memastikan raut wajah perempuan itu. “Bisa jadi. Tapi saya pikir kamu cuma tersugesti. Kamu menginginkan saya bisa membuat kopi spesial. Maka jadilah saya seperti itu di pikiran kamu.” Haykal menarik napas, ia kecewa tak menemukan jawaban yang dia inginkan. Tak melihat ekspresi tergoda atau tersanjung di wajah Rania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD