Udara pagi di halaman belakang rumah Ancelotti terasa lembap. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi dedaunan segar. Zenia menunduk, menyiram tanaman yang tumbuh rapi di sepanjang jalur taman. Daun-daun hijau itu berkilau karena embun, dan tetesan air yang jatuh dari ujung selang mengenai kakinya membuatnya sedikit menggigil. Suara langkah berat di atas batu koral menarik perhatiannya. Ia mendongak, dan di sanalah Matteo muncul — kemeja olahraganya setengah terbuka, tubuhnya masih basah oleh keringat setelah berlari mengelilingi kompleks. Napasnya masih berat, tapi langkahnya tegap, penuh percaya diri seperti biasa. Zenia berusaha berpura-pura tidak melihat, namun matanya secara refleks menatap sekilas ke arah tubuh Matteo. Perut dengan garis otot yang tegas, kulit kecokelatan yang mem

