Bab 7. Mie Indonesia

1398 Words
Salju makin tebal, dan aku makin tak bersemangat untuk melangkah ke tempat kerja. Teringat aku bahwa hari ini mungkin service ponselku sudah bisa selesai. Yesuke mungkin akan mengambilkannya untukku, kalau dia ingat. Saat akan melewati rumah Yusuf, aku melangkah pelan. Selain karena jalanan licin, aku juga ingin melihat rumahnya. Mungkin dia masih tidur, atau sekedar berdiam diri saja di rumah. “Hey, Hitomi?” Tebakanku salah, bisa-bisanya tepat sekali waktu. Dia baru saja keluar dari pintu rumah dan kami pun bertemu. “Selamat pagi,” ucapku. “Selamat pagi, apa kamu mau berangkat kerja?” tanya Yusuf yang sepertinya sangat bersemangat menjalani permulaan hari. “Ya, aku akan pergi ke restoran,” jawabku. “Kita searah, ayo jalan bersama.” “Ya.” Semalam tidurku tak terlalu nyenyak, semua menjadi kacau karena pertemuan tiba-tiba dengan Tomo. Namun, bertemu dengan Yusuf menjadi serupa minum jus s**u strawberry di pagi hari. Menyegarkan. “Kamu kuliah?” tanyaku seiring langkah kami yang beriringan. “Ya, hari ini ada kelas pagi,” jawab Yusuf. “Oh.” “Kamu gak ada kegiatan lain selain di restoran, Hitomi?” “Hemm, gak ada sih.” “Main aplikasi?” “Aplikasi?” “Ya, aplikasi joget. Haha.” “Hemm, sebenarnya ponselku sedang rusak. Entah sudah selesai service atau belum.” “Memangnya di Jepang bisa service ponsel? Apa ponsel di Jepang harganya mahal?” “Hemm, ya. Sebenarnya tidak begitu mahal. Hanya saja ponselku hanya rusak sedikit, bisa diperbaiki.” “Ya, benar juga. Jadi tidak perlu beli baru, ya?” “Iya." “Pasti karena kebanyakan menyimpan foto kamu, haha.” “Haha, ya, bisa jadi.” “Sebenarnya aku sedang belajar aktif di media sosial, aku punya akun tobeyou juga.” “Ohya?” “Ya, lain kali apa kamu mau ikut membuat video denganku?” “Video seperti apa?” “Video tentang seputar Jepang, Shinjuku. Ya, tempat ini.” “Kamu sudah buat Video tentang Waseda?” “Baru kubuat juga.” “Tentu aku mau kalau itu bisa membantu kamu, Yusuf.” “Ah, senang mendengarnya.” “Ya. Teman harus saling membantu.” “Benar. Apa lagi teman seperti kamu. Baik dan cantik.” “Aih, jangan terlalu jujur.” “Haha.” Aku pikir, akan hanya ada obrolan kaku antara aku dan Yusuf. Rupanya kami bisa mengobrol dengan santai, mengalir begitu saja. Sekarang memang zaman aplikasi video yang canggih, hanya dengan sedikit tarian mengikuti musik, maka seseorang akan terkenal. Aku pernah ingin mencobanya, akan tetapi rasanya malu sekali. Di media sosial yang aku punya, aku punya banyak pengikut. Beragam komentar kuterima saat sesekali mengunggah foto, dan kebanyakan memujiku cantik. Namun, beberapa pesan pribadi juga masuk dengan kata-kata yang membuatku tidak nyaman. “Kita berpisah sekarang,” ucap Yusuf. Saat aku tersadar kami telah berada di penghujung gang. “Ya, sedikit lagi sampai restoran,” sahutku. “Kalau aku masih sedikit berkeringat lagi untuk tiba di kampus.” “Semangat!” “Semangat.” Aku dan Yusuf saling bertukar senyum, lalu melambaikan tangan perpisahan. Rasanya kekanakan, tapi ini cukup membuat hatiku terasa ceria kembali. Yusuf sepertinya pria yang lucu, mudah untuk bersahabat dengannya. Dan type laki-laki seperti itu kebanyakan disukai banyak perempuan. Aku jadi teringat pada perempuan yang semalam berjalan bersamanya dan bertabrakan denganku. Aku akan punya banyak saingan kalau ingin mendekati Yusuf. Lagi pula, hatiku juga belum tentu sudah jatuh untuknya. Bisa jadi ini hanya rasa suka sesaat pada orang baru. “Selamat datang, gadis pemalas,” sambut Yesuke yang sedang merebus kuah kaldu di dapur. “Bos datang?” tanyaku sembari melepaskan jaket tebal. “Tidak ada,” jawab Yesuke. “Ponselku, sudah selesai?” “Sudah, aku letakkan di tasku. Ambil saja.” “Ah, senangnya!” Aku bergegas mendatangi loker Yesuke dan mengeluarkan ponselku dari dalam tasnya. Saat kunyalakan rupanya benar sudah bisa, tidak ada lagi layar yang hitam. “Ingat, jangan sampai rusak lagi!” lirik Yesuke. “Oke, oke.” Dulu ada seorang pemuda yang menggangguku saat aku sedang duduk santai di taman. Dia melecehkanku dengan kata-katanya, mengajakku untuk pergi dengannya ke hotel. Karena terus dia memaksa, aku pun kesal dan memukul kepalanya keras dengan ponsel. Pemuda itu juga kesal karena kepalanya sakit. Lalu diambilnya ponselku yang jatuh dan dilemparkannya. Untung saja hanya memecahkan layar. Sampai akhirnya pemuda itu pergi dengan sendirinya. “Ini ponsel mahal, kalau beli baru aku mungkin tidak bisa,” gumamku. Lalu kuletakkan ponsel ke dalam kantung saku. “Ya, aku juga sudah membayar biaya perbaikannya,” sahut Yesuke. “Nanti akan kubayar,” jawabku. “Bayar pakai apa?” “Pelukan, mau?” “Ish.” Aku pun berjalan mendekati Yesuke dan memeluknya dari belakang. “Sudah lunas, ya?” kataku setelah memeluk. “Hanya begitu saja?” lirik Yesuke menggoda. “Kamu ingin merasakan pukulan di kepala dengan ponselku?” “Haha, ah, aku kan hanya bercanda.” “Huft!" “Sudah makan pagi, Hitomi?” “Belum.” “Kalau begitu kubuatkan ramen, ya?” “Tidak usah.” “Makan lah.” “Aku akan pergi bersih-bersih dulu.” Restoran ini kubersihkan setiap hari, jadi rasanya tidak mungkin ada debu yang masih tega untuk menempel. Saat tengah membersihkan meja, dua orang tamu datang memesan ramen. Aku tentu harus langsung melayani mereka, tak peduli dulu pada rasa laparku. “Antarkan ini pada pembeli, setelah itu makan ramenmu,” ucap Yesuke. “Baik, Kakek Yesuke.” “Haha, dasar bocah menyebalkan.” “Kamu terus mengoceh seperti orang tua.” “Memangnya hanya kamu yang boleh mengoceh!” “Ah, sudahlah. Aku mau makan.” Setelah mengantar pesanan ramen, aku pun langsung melahap ramen yang dibuatkan Yesuke untukku. Rasa ramen buatannya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Hanya saja masih layak di makan oleh manusia. “Seperti apa rasanya? Enak?” tanya Yesuke. “Sama saja seperti biasanya,” jawabku. “Aku memasukkan lebih banyak daun bawang dan lemak sapi, pasti rasanya lebih pekat kan?” “Entahlah, yang penting bisa membuatku kenyang.” “Kamu memang tidak berguna, Hitomi.” Yesuke sepertinya serius ingin mengembangkan restoran ini. Harusnya dia jadi bintang aplikasi saja, pasti akan terkenal dan punya banyak uang. Walau tidak tampan, dia punya rasa percaya diri yang tinggi. .. Pada jam istirahat makan siang, ada saja tamu yang bergantian datang. Restoran kami tidak begitu besar, jadi akan sulit melayani tamu banyak dalam satu waktu. Di antara tamu yang datang, aku melihat penampakan Yusuf. Dia datang membawa dua tas belanjaan yang terisi penuh. “Yusuf?” sapaku. “Hey, aku ingin singgah sebentar di sini,” sahutnya. “Kamu pulang belanja?” “Ya, aku dari mini market khusus produk Indonesia.” “Oh ya?” “Ya, tadi aku pergi bersama teman.” “Oh, begitu.” “Bisa buatkan untukku ini?” “Mie indonesia?” “Ya.” “Baiklah, hanya tinggal tambahkan air panas kan?” “Ya.” “Kalau begitu tunggu sebentar.” “Baik. Mohon bantuannya.” Aku pergi ke dapur membawa dua bungkus mie, dan meminta Yesuke memasukkan air panas ke dalamnya. Setelah itu melarutkan bumbu-bumbu. Dari aromanya saja, aku jadi ingin mencicipi. “Wanginya beda, ya,” gumam Yesuke. “Ya, sepertinya enak,” sahutku. “Harusnya dia membelikan ini untuk kita juga,” lanjut Yesuke. “Hish.” Aku membawa pesanan Yusuf ke hadapannya. Dan dia sepertinya sudah tak sabar untuk makan. Aku dan Yesuke hanya melihatnya makan dengan lahap, lalu kami meneguk liur karena ingin makan mie itu juga. “Aku kangen banget sama Indonesia!” Yusuf mengatakan sesuatu dengan bahasa yang tidak kumengerti. Dia sepertinya terharu karena bisa memakan mie dari negaranya itu. “Seenak itu?” gumam Yesuke. “Sepertinya begitu,” sahutku. “Aku akan minta satu bungkus darinya.” “Ya ampun, Yesuke!” “Biarkan saja.” Dan Yesuke tidak bercanda, dia benar-benar pergi menghampiri Yusuf dan mengatakan ingin memakan mie yang sama. “Silahkan, ini untuk kalian berdua,” ucap Yusuf memberikan pada Yesuke empat bungkus mie yang kemasannya berbeda warna. “Wah, banyak sekali,” ucap Yesuke pura-pura malu. “Ini enak sekali, aku jadi kepikiran untuk membuat konten makan mie produk Indonesia dengan kalian.” “Konten?” “Ya, video.” “Wah, boleh-boleh.” “Ah, aku akan pikirkan konsepnya nanti.” Yusuf benar-benar antusias, dan sepertinya dia serius. Entah apa rencananya dengan Yesuke. Semoga itu bisa menambah penghasilan kami berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD