Bab. 6. Bertemu Mantan

1213 Words
Restoran semakin sepi, terasa kian jauh dari harapan. Yesuke masih berusaha terlihat tegar, sedang aku kian merasa tak sabar untuk bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik. “Hebat sekali, kita mendapatkan lima orang pelanggan hari ini,” ucap Yesuke yang sepertinya telah selesai membersihkan bagian dapur. “Banyak, sampai aku tak ada keinginan untuk menghitungnya,” sahutku tak bersemangat. “Mau pergi ke tempat karaoke?” “Masih lama untuk mendapatkan uang gajian, bahkan mungkin gaji kita tidak ada, Yesuke.” “Hey, aku kan punya teman pemilik tempat karaoke. Kita akan bisa bebas tanpa bayar mahal di sana.” “Benarkah?” “Ya, ayo!” Tawaran Yesuke kurasa boleh juga. Sudah lama sekali kami tak pergi bernyanyi bersama, apa lagi ini sedang musim dingin. Segera kami pergi setelah selesai jam kerja dan menutup restoran. Musim dingin, Shinjuku masih ramai. Tak jauh berbeda dengan musim lain kecuali cuacanya. Aku mengikuti langkah Yesuke, ke mana pun dia pergi. Dan tak disangka dia mengajakku ke Bar Amici, aku belum pernah memasukinya sebelumnya. “Temanmu kerja di sini?” tanyaku ragu saat kami berdiri di depan bar. “Ya, benar. Dia pelayan di sini,” jawab Yesuke. “Sejak kapan pelayan bisa memberikan potongan harga?” “Memang tidak bisa, lagi pula kita tidak perlu potongan harga. Aku akan membayarnya.” “Kamu yakin?” “Tentu saja.” Meski masih ragu, aku pun mengikuti Yesuke untuk masuk ke dalam bar. Tidak begitu ramai, hanya terlihat beberapa pengunjung yang sedang minum-minum saja. “Di sini karaoke tidak bayar,” kata Yesuke yang siap di tempat memainkan musik. “Kita tidak pesan minuman atau makanan dulu?” “Tentu, pesan saja.” “Ah, tentu saja aku akan pesan.” Yesuke telah bersiap untuk menyanyikan sebuah lagu lawas, sedangkan aku masih mengamati buku menu. Aku berharap menemukan menu paling terjangkau. Dan sialnya, semua serba mahal bagiku dan Yesuke. “Hitomi? Hitomi Chan?” Suara seseorang menyebut namaku sayup terdengar, hampir terabaikan karena nyaringnya suara Yesuke yang sedang menghayati lagu. Hatiku tiba-tiba berdebar ketika melihat siapa yang tadi memanggil. “Senang bisa bertemu denganmu lagi, Hitomi,” ucapnya lagi. “Apa kita saling kenal?” tanyaku berpura-pura. Mana mungkin aku bisa cepat lupa pada laki-laki yang belum lama ini membuatku begitu terluka. “Hey, aku Tomo. Mana mungkin kamu secepat itu melupakan aku?” “Oh, sepertinya aku lupa. Yesuke! Aku harus pergi duluan.” “Hey, Hitomi!” Tanpa peduli lagi pada Yesuke yang terlihat kebingungan, aku pun pergi dari bar. Meninggalkan Tomo yang tadi terlihat makin keren saja, mungkin dia telah mendapatkan apa yang dia impikan. “Hey, Hitomi. Tunggu aku!” Yesuke setengah berlari mengekoriku. “Maaf, Yesuke. Aku terpaksa tiba-tiba pergi,” sahutku. “Selemah itu kamu bertemu mantan kekasih?” “Kamu ngomong apa sih.” “Apa karena masih cinta? Masih ada rasa?” “Omong kosong!” “Buktinya kamu langsung pergi, tidak bisa bersikap elegan seolah telah melupakan kenangan di antara kalian.” “Berhentilah bicara, atau pergi saja sana. Jangan mengikutiku!” “Begitu saja marah!” Aki berjalan lurus saja, seperti tak tahu arah. Aku menjadi tiba-tiba bingung mau melangkah ke mana. Sekelebat bayangan masa lalu bersama Tomo tiba-tiba teringat lagi. Dan itu membuatku kehilangan semangat lagi. “Eh, maaf!” bahu seseorang menabrak bahuku. Cukup keras hingga membuatku hampir jatuh. “Eh, Hitomi?” Yusuf, ternyata ada dia. Tak kusangka akan bertemu dengannya di jalanan ramai ini. Dan yang menabrakku tadi adalah seseorang yang berjalan bersamanya, seorang perempuan entah siapa. “Kamu mabuk, ya?” perempuan itu melihatku dengan ketus. “Maaf, teman saya lagi ngantuk berat,” sambung Yesuke. “Tidak menyangka bisa bertemu di sini, maaf ya,” sambung Yusuf juga. “Yusuf, kalian dari mana? Pacaran?” tanya Yesuke dengan senyum menggoda. “Ah, tidak. Kami dari kampus dan sekarang mau pergi ke toko sebentar,” jawab Yusuf. “Oh, begitu ya.” “Iya.” “Kalau begitu silahkan.” “Ya. Sampai jumpa.” “Sampai jumpa, Yusuf.” Yusuf dan perempuan bertubuh mungil itu berlalu pergi, aku masih melihat ke arah mereka sampai mereka masuk ke sebuah toko penjual peralatan elektronik. Perempuan itu tak jauh lebih cantik dariku, dan entah mengapa aku langsung tidak mau menyukainya. Entah dia siapanya Yusuf. Berjalan bersama bukan berarti ada perasaan atau terikat hubungan. Harusnya aku tak perlu begitu peduli. Hanya saja, aku merasa bertambah kesal. “Hitomi, berjalan pelan saja,” ucap Yesuke sembari memegangi lenganku. “Aku mau pulang, Yesuke,” sahutku. “Akan kuantar.” “Rumah kita memang searah kan.” “Iya, bawel.” Tanpa makan-makan, juga tanpa karaoke. Kini aku dan Yesuke berjalan pulang bersama. Pikiranku terasa begitu kacau, dan semua ini karena Tomo. Tomo, sudah hampir dua tahun kami tidak bertemu. Terakhir aku mendengar kabar, dia sudah pindah ke Korea Selatan. Entah bagaimana ceritanya sekarang dia ada di Jepang. Bukan hanya hati atau sekedar cinta biasa, dulu aku bahkan telah mempercayakan hidupku untuknya. Lalu ternyata, dia lebih memilih untuk meninggalkanku demi keluarga dan masa depannya. Aku hampir saja bunuh diri, karena merasa kehidupanku telah berakhir bersamaan dengan kepergiannya. Aku pikir, setelah sekian lama. Aku sudah bisa kuat untuk tidak terluka dengan pertemuan kami. Rupanya mentalku masih lemah, lukaku belum benar-benar tertutup sempurna. “Aku tahu yang kamu rasakan, sekarang pergilah tidur. Atau kamu ingin menangis dulu?” ucap Yesuke ketika kami telah berada di depan rumahku. “Menangis?” tanyaku merasa aneh. “Tidak ingin menangis?” “Haruskah?” “Dasar aneh. Tapi bagus lah, berarti kamu masih bisa melawan kesedihanmu karena luka masa lalu.” “Hemm, menurutmu begitu?” “Kamu itu memang bodoh, Hitomi. Cepat tidur saja sana!” “Ya sudah. Aku masuk dulu.” “Ya.” Dikatai bodoh oleh Yesuke barusan, malah membuatku merasa kembali hidup. Seperti sebuah cubitan kalau sekarang aku sudah tidak hidup di masa lalu, aku bisa melewati setiap luka itu. Jadi aku tidak perlu bersedih untuk mengenang semuanya. Aku masuk ke rumah, langsung menuju kamar Ibu. Ibu sudah terlelap dalam selimut tebalnya. Aku bersyukur karena Ayah belum pulang, bahkan aku berharap dia tidak pulang selamanya. Melepas pakaian tebal yang menempel di badan saja rasanya malas sekali. Ingin cepat-cepat merebahkan diri di atas tempat tidur saat telah tiba di kamarku. Hari terus berjalan, di luar dugaan tentang alur yang harus aku lalui. Malam ini aku bertemu Tomo, bisa jadi besok bertemu lagi. Aku hanya perlu menguatkan hati, tak boleh terlihat rapuh seperti tadi. Agar Tomo tak berbangga hati, bisa jadi dia berpikir bahwa aku masih bisa dia kuasai. “Kamu sudah pulang?” Lampu kamar tiba-tiba menyala, saat kusadari ibu telah berdiri di dekat pintu. “Ya ampun, kenapa Ibu tiba-tiba di sini? Bukankah tadi kulihat sudah tidur? Mengagetkan saja,” ucapku. “Ibu terbangun tadi, lalu datang untuk melihatmu.” “Aku mau tidur.” “Sudah makan?” “Sudah.” “Bohong. Ibu akan bawakan makanan agar tidurmu nyenyak.” “Tidak usah, Bu.” “Kamu yakin?” “Ya.” “Ya sudah, Ibu pergi lagi. Lepaskan baju panasmu agar tidak sesak nafas.” “Ya, Bu.” “Baiklah, selamat malam.” “Malam.” Tak seperti biasanya, Ibu terlihat berlebihan hari ini dalam memperhatikanku. Mungkin karena bawaan dia sedang sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD