Aku membantu Yesuke untuk membawa nenek pulang, tubuh Nenek tidak begitu berat, pakaian tebalnya lah yang membuat semakin sulit. Rasanya lega sekali bisa menemukan Nenek, ini peringatan agar kami lebih bisa menjaga Nenek di rumah.
.
Bibi Kim datang setelah diminta Yesuke, bukan anak juga bukan cucu. Yesuke harus menyisihkan uangnya lagi untuk membayar orang menjaga Nenek selama dia tidak di rumah. Bibi Kim masih tetangganya, kalau tidak karena kejadian pagi tadi mungkin Yesuke tidak perlu membayar penjaga.
Bos Otsuka pun mengomel karena kami datang terlambat untuk membuka restoran, setelah mendengar penjelasanku dan Yesuke, Bos Otsuka mungkin terenyuh, lalu memaafkan kami begitu saja.
“Sekeras-kerasnya hati, akan ada saja sesuatu yang membuatnya menjadi lembut.” Sering kudengar kata-kata mutiara seperti itu.
“Hitomi, Ibumu menelepon!” Bos Otsuka memanggilku dari ruang istirahatnya.
Aku gegas membereskan meja setelah dipakai tamu pertama kami hari ini, lalu pergi ke ruang istirahat Bos Otsuka untuk menelepon balik Ibu.
“Jadi, ponselmu belum selesai diperbaiki?” tanya Bos Otsuka.
“Entah, aku hanya belum menebusnya,” jawabku.
“Baiklah, telepon Ibumu sebanyak yang kamu mau. Mendengar cerita Yesuke tadi pagi, aku jadi memikirkan Ibuku yang sudah tiada.”
“Terima kasih banyak, Bos.”
Bos Otsuka lalu pergi dari ruang istirahat, membuatku menjadi lebih nyaman untuk bicara dengan Ibu. Tak biasanya Ibu meneleponku lebih dulu.
“Ibu, ini aku, Hitomi,” kataku ketika telepon telah tersambung.
“Aku ayahmu, ibumu sedang sakit,” sahut seseorang yang berhasil mengejutkanku.
“Apa yang kamu lakukan pada Ibuku?”
“Hey, Ibumu sakit dengan sendirinya. Aku tidak melakukan apa-apa!”
“Kau pasti melakukan sesuatu sampai dia jadi sakit!”
“Astaga, dasar anak tidak tahu diri! Cepat pulang dan rawat Ibumu kalau kamu benar-benar khawatir!”
Ayah memutuskan panggilan sepihak. Aku tak menyangka akan dapat kabar seperti ini. Bisa saja Ayah meminta Ibu keluar, lalu Ibu sakit asmanya kambuh karena di luar sangat dingin.
“Hitomi, kamu kenapa?” Yesuke sepertinya menangkap kekhawatiran di wajahku ketika keluar dari ruangan Bos Otsuka.
“Ibuku sakit, Yesuke,” sahutku.
“Ya ampun. Kalau begitu cepatlah pulang dan lihat keadaan Ibumu.”
“Mana mungkin aku meninggalkan restoran, kita baru saja buka.”
“Begini. Kamu akan pulang sebentar, lalu beri kabar apa sakit Ibumu parah atau tidak. Kalau tidak terlalu bermasalah, kamu bisa kembali lagi ke sini. Aku akan jelaskan pada Bos Otsuka.”
“Apa tidak masalah?”
“Tidak akan. Cepat sana!”
“Baiklah, terima kasih Yesuke.”
Aku segera melepas celemek seragam kerja, lalu memasang pakaian tebalku. Berjalan dengan cepat pulang menuju rumah. Sudah cukup siang, akan tetapi cahaya matahari tidak terasa terik sama sekali. Udara semakin terasa dingin saja.
Ibu sudah lama punya sakit asma, ketika terlalu lelah atau kedinginan, penyakitnya itu akan mudah kambuh. Ayah pasti merepotkan Ibu di rumah, sedang dirinya sendiri hanya bermalas-malasan di depan televisi sambil mabuk-mabukan.
“Hitomi Chan ...!”
Suara itu, Yusuf! Aku berjalan dengan fokus melalui jalanan yang licin hingga tak menyadari akan berpapasan dengan Yusuf. Dia tersenyum bersemangat padaku, sementara hampir seluruh tubuhnya tertutup kain hangat. Menyisakan wajah tampan yang baru-baru ini terekam jelas di memori otakku.
“Yusuf,” sahutku.
“Kamu baru pulang?” tanya Yusuf.
“Ya, aku akan pulang sebentar,” jawabku.
“Begitu, ya. Aku baru saja akan mampir ke restoran kalian.”
“Ah, benarkah?”
“Ya, silahkan lanjutkan aktivitasmu, Hitomi.”
“Baik, lah. Aku pergi dulu, ya.”
“Ya, sampai jumpa.”
“Sampai jumpa.”
Yesuke benar, aku akan sering bertemu dengan Yusuf. Dan aku tidak menyesali itu. Pria asing cenderung tidak pendiam seperti pria Jepang biasanya, ah, tidak! Yesuke salah satu contoh pria Jepang yang sangat banyak bicara. Super cerewet!
.
Setiba di rumah, aku langsung mendobrak pintu. Kunci rumah tak pernah lagi memiliki kekuatan melindungi, sudah sering sekali rusak karena ulah pemabuk itu. Lalu aku dengan sendirinya mewarisi sifatnya itu.
Aku langsung ke kamar Ibu, dan Ibu terlihat tengah berbaring dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Sementara Ayah pasti sudah pergi entah ke mana, setelah puas merepotkan Ibu.
“Ibu, bagaimana keadaan Ibu?” tanyaku. Lalu mendaratkan telapak tangan di keningnya yang telah mulai kusut termakan usia.
“Ibu tidak apa-apa, Hitomi. Ibu sudah minum obat, kok,” jawab Ibu tanpa membuka kelopak matanya.
“Ya, Ibu juga tidak demam kan?” tanyaku lagi.
“Hemm, Ibu akan membaik setelah tidur sebentar,” jawabnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Baik lah, tapi ... Apa Ibu sudah makan?”
“Sudah. Apa ayahmu masih ada di luar?”
“Dia sudah tidak ada, Bu. Kuharap dia tak kembali lagi.”
“Jangan bicara begitu, Hitomi.”
“Ah, sudahlah. Kita hanya akan ribut saat membahas dia. Aku akan memasak untuk Ibu makan nanti, ya?”
“Ibu sudah masak, tidak perlu masak lagi.”
“Kalau begitu aku akan di sini untuk menjaga Ibu.”
“Jangan. Kembali saja bekerja.”
“Tidak, aku akan tetap di sini. Aku juga sudah bicara pada Yesuke.”
“Anak bandel, lakukan saja apa yang kamu mau.”
Aku menepikan tubuhku, duduk bersandar pada dinding. Kugunakan ponsel butut Ibu untuk menelepon ke Restoran. Bos Otsuka mengijinkanku untuk tidak bekerja sampai besok, dan itu berarti Yesuke akan sangat kerepotan.
.
Melihat Ibu sakit, umpama melihat bencana alam yang tiba-tiba terjadi. Aku takut, khawatir Ibu akan menghilang seperti Ibunya Yesuke. Seberapa dewasa pun umurku, aku tidak akan pernah siap menjalani hidup tanpa Ibu.
Kegagalanku dalam akademi, hal yang sampai saat ini selalu kusesali. Sementara orang lain sedang berusaha keras membangun prestasi, aku malah disibukkan hanya memikirkan tentang bagaimana aku bisa mendapat banyak uang.
Dengan bisa menghasilkan uang, aku tidak lagi membuat Ibu harus bekerja. Juga aku bisa mewujudkan banyak hal yang sejak lama aku impikan. Walau uang yang kuberikan pada Ibu, pasti Ibu berikan pada suaminya itu. Setidaknya Ibu tidak lagi perlu menangis karena bentakan Ayah.
Kadang aku berpikir untuk bekerja di tempat ekstrim, dengan pekerjaan mudah dan hasil yang melimpah. Namun, setiap aku baru akan memulainya, aku akan teringat pada nasihat Ibu. “Setidaknya meski kita tidak punya banyak uang, kita masih punya harga diri. Tidak membuat orang-orang memandang rendah pada kita.” Begitu kata Ibu. Sudah lama sekali dia ucapkan nasihat itu padaku.
Tepatnya saat hidupku hampir hancur karena pria bernama Tomo. Setelah mengemis cintanya untuk tetap bertahan denganku, dia bahkan membuatku ingin meninggalkan dunia ini. Jatuh cinta membuatku lemah, bahkan hampir saja kehilangan harga diri. Hilang dan hancur sehancur-hancurnya.
“Hitomi, ada apa denganmu?” Tanpa kusadari Ibu telah duduk di depanku dan memandangiku.
“Kenapa Ibu bangun?” tanyaku balik.
“Ibu bosan berbaring. Apa kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja, Bu.”
“Kamu itu pembohong.”
“Ya, Ibu juga sama.”
“Yesuke menjagamu dengan baik kan? Bagaimana restoran kalian?”
“Semuanya baik-baik saja, Bu. Berhentilah khawatir, perhatikan saja kesehatan Ibu.”
“Ibu masih hidup karena ingin memperhatikanmu, Hitomi.”
“Ya, berumurlah yang panjang, Bu. Karena aku juga masih bertahan demi Ibu.”
“Apa kamu melihat tetangga baru kita?”
“Tetangga? Siapa?”
“Namanya ... Misup, ah, bukan. Yukup.”
Aku tak bisa menahan tawa mendengar Ibu mengucapkan nama yang salah, mungkin karena nama Yusuf tidak begitu sering terdengar.
“Hitomi, kenapa kamu tertawa?” tanya Ibu dengan wajah heran.
“Namanya Yusuf, bukan Yukup atau Misup, Bu,” jawabku.
“Ah, iya, Yusuf. Dia baik sekali, mau meminjamkan baju hangatnya untuk Ibu.”
“Apa?”
“Ya, itu baju hangatnya.”
Ibu menunjuk ke baju hangat berwarna hijau botol yang tergantung di gantungan baju. Aku tak menyangka Ibu sudah bertemu dengannya.
“Bagaimana bisa? Apa Ibu meninggalkan baju hangat Ibu? Pantas saja asma Ibu kambuh!”
“Emm, ya, Ibu hanya memakai satu lapisan. Tak Ibu sangka di luar sedingin itu.”
“Ini musim dingin, Bu. Orang seusia Ibu harus memakai banyak lapisan bila berjalan ke luar.”
“Ya, Ibu akan mengingatnya. Nanti tolong Ibu, kembalikan baju hangat itu pada misup.”
“Haha, Yusuf, Bu. Berhentilah memanggilnya Misup.”
“Ibu sulit sekali mengingat namanya, Hitomi. Dia anak muda yang sangat baik dan ramah.”
“Ya, dia juga cukup tampan.”
“Begitu menurutmu? Ibu setuju kalau kamu menyukainya, Hitomi.”
“Apa? Ibu semudah itu menyerahkan anak gadis Ibu pada pria asing?”
“Ibu hanya menyarankan, terserah kamu saja. Lagi pula kamu itu cantik dan tidak pintar, siapa yang mau denganmu?”
“Katakan sesuka hati Ibu.”
Ibu kembali berbaring di atas kasur lantainya, kembali menenggelamkan diri dalam selimut. Aku berjalan menuju gantungan baju, meraih baju hangat milik Yusuf. Kuhirup aroma yang menempel di baju hangat itu, aroma wangi yang lembut dan hampir tak tercium, akan tetapi terasa memberi kenyamanan.
“Bu, aku akan kembali ke restoran. Apa tidak apa-apa kutinggal?”
Ya, setelah mendengar Ibu bisa bicara banyak. Kuputuskan untuk berubah pikiran dan kembali bekerja saja ke Restoran.
“Ibu sudah menyuruhmu pergi dari tadi, Hitomi,” sahut Ibu.
“Aku akan kembali secepatnya,” kataku lagi.
“Terserah kamu saja, rumah kita tidak pernah dikunci kan?”
“Ya, aku merusak kuncinya lagi hari ini.”
“Kamu memang sangat mewarisi sifat Ayahmu.”
“Jangan pernah bilang begitu, Bu!”
“Sudah, pergilah!”
Aku memperhatikan dulu keadaan rumah sebelum memutuskan untuk pergi, kubereskan perabotan kotor yang ada di tempat cuci piring. Pekerjaan lain pasti masih bisa kukerjakan nanti.
Sepatu cat berbuluku berjalan lagi di atas jalanan yang licin, juga dingin. Baju hangat milik Yusuf kuletakkan di dalam tas belanja yang masih baru, berharap kami akan berpapasan di jalan. Atau aku harus berkunjung ke rumahnya lagi.
Tiba di depan rumahnya, kulihat ada dua sepeda yang terparkir. Mungkin Yusuf memiliki tamu lain. Kutekan bel, dan tak lama wajah yang ingin selalu kulihat itu berjalan keluar menghampiriku.
“Hitomi?” sapanya ramah.
“Maaf, aku ke sini untuk mengembalikan baju hangat milikmu, yang tadi kamu pinjamkan ke ibuku,” ucapku.
Yusuf mengernyitkan keningnya, lalu melihat isi tas belanjaan yang kuberikan. Dia tersenyum ketika menyadari bahwa baju hangat itu benar miliknya.
“Benar, ini milikku,” katanya sambil tersenyum.
“Ya, orang yang kamu pinjamkan itu, adalah Ibuku,” jelasku.
“Ah, begitu? Kebetulan sekali, ya. Masuklah dulu Hitomi, di dalam ada temanku. Kami sedang mengerjakan tugas bersama.”
“Ah, tidak usah. Aku harus kembali ke restoran. Sampai jumpa, ya. Sekali lagi terima kasih.”
“Ah, ya. Baiklah. Sampai jumpa lagi Hitomi.”
Aku merasa ada sisi hati yang lega setiap kali melihat Yusuf, apa mungkin hatiku yang lama kosong kini telah rindu untuk diisi kembali?