BAB 4. Yesuke Yang Lucu

1524 Words
Yesuke memang lebih punya pengetahuan luas tentang sosial, kalau soal akademis dia tidak lebih baik dariku. Saat dia menjelaskan sesuatu yang baru, aku akan merasa diriku sangat kecil. Dunia ini luas, dan aku merasa tidak bergerak sama sekali. Aku seperti tetap berada di tempat yang sama setiap waktu. “Yusuf tinggal di mana?” tanyaku pada Yesuke. “Di daerah rumahmu, kulihat dia berjalan ke arah sana,” jawab Yesuke. “Benarkah? Kalau begitu, aku bisa bertemu lagi dengannya.” “Kamu menyukainya? Jatuh cinta pada pandangan pertama?” “Ish. Mana mungkin seperti itu!” “Mungkin saja, banyak perempuan Jepang menikah dengan laki-laki berwajah timur tengah dengan janggut tipis seperti itu.” “Haha. Aku tidak mungkin begitu, Yesuke.” “Kenapa? Kamu tidak suka?” “Aish! Cepat habiskan tehmu dan kita pulang!” “Kalau suka bilang saja, Hitomi.” “Hentikan, Yesuke.” “Yusuf boleh juga.” “Kubilang hentikan!” “Hahahaha.” Salahnya aku, harusnya tidak perlu membahas tentang Yusuf atau siapa pun dengan Yesuke. Dia hanya akan tertawa lalu terus mengejekku sampai dia bosan dengan sendirinya. . Rumah Yesuke, sedikit tidak sepi dibanding dengan kediamanku. Yesuke terus mengajak ngobrol neneknya, kadang mereka bercanda sambil makan camilan. Dan aku seperti sedang menonton acara komedi. Yesuke hanya tinggal punya seorang nenek, yang lain telah pergi ke dunia berbeda. Beruntungnya dia punya nenek dan rumah warisan orang tuanya, ada alasan dan tempat untuk dia pulang. Kadang aku berpikir, Yesuke menjadi seseorang yang lucu dan pandai membuat tertawa hanya untuk menutupi kesedihannya. Menutupi kesepiannya selama ini. “Ah iya, Nenek. Aku ingin menceritakan gosip terbaru hari ini,” kata Yesuke di selingi makan ubi rebus yang disediakan neneknya. “Apa itu, Yesuke?” tanya Nenek dengan tanggapan serius. “Ada laki-laki asing yang datang ke restoran kami malam ini, dan dia sangat tampan,” jawab Yesuke, sambil melirik penuh ledekan padaku. “Benarkah? Dari negara mana dia?” tanya Nenek lagi. “Dari ... India, ah, tidak. Dari Indonesia, Nek. Apa nenek pernah dengar negara itu?” “In-Indonesia? Sepertinya ... itu aku tidak pernah dengar.” “Ya, aku juga Cuma tahu sedikit, Nek. Dulu temanku ada yang cerita pernah bekerja di sana. Nenek, Hitomi sepertinya menyukai laki-laki asing itu.” “Hah, Hitomi?” Nenek langsung mengalihkan pandangannya padaku, lalu dia tersenyum ragu. Seolah aku benar-benar telah membuat suatu hubungan dengan laki-laki asing. Yesuke memang selalu saja membuatku kesal. “Hitomi, haruskah kamu menyukai laki-laki asing?” tanya Nenek. “Nenek, jangan percaya ucapan Yesuke. Dia itu selalu saja bicara asal tentangku, Nek,” jawabku. “Tidak, Nenek. Aku tidak bohong,” sahut Yesuke. “Hitomi, aku peringatkan. Jangan mudah percaya pada laki-laki asing. Apalagi kamu memiliki wajah yang sangat cantik, pasti banyak laki-laki yang akan menggodamu,” lanjut Nenek. “Ya, Nenek. Aku mengerti.” Yesuke tertawa puas, lalu pergi berlalu masuk ke kamarnya. Meninggalkan aku dan Nenek di ruang keluarga. Nenek bilang sulit tidur di malam hari, aku memberinya vitamin sesuai arahan Yesuke. Lalu aku mengajak Nenek untuk segera pergi ke kamar. Malam semakin jompo, seperti Nenek yang entah akan bertahan hidup sampai berapa lama lagi. Aku ingin Nenek selalu hidup, menemani Yesuke dan aku melalui hari-hari yang terasa makin sepi dan membosankan. Yesuke begitu takut kehilangan Neneknya, banyak penghasilan dari pekerjaannya dia gunakan untuk membeli obat dan vitamin untuk Nenek. Itu sebabnya, aku juga selalu berharap Nenek bisa selalu sehat dan hidup lebih lama. . Masih pagi buta ketika aku menyadari, Nenek tidak ada di tempat tidurnya. Aku mencari dulu ke setiap sisi rumah sampai akhirnya harus membangunkan Yesuke untuk mencari di mana Neneknya. Yesuke bilang, ini tingkah baru Neneknya yang telah lama pikun. Di musim dingin begini, berjalan di luar ketika pagi. Rasanya sangat menyakitkan seperti berada di lemari pendingin. Yesuke bilang, Neneknya sering tiba-tiba pergi untuk membeli ikan di pasar, seperti sedang kembali pada masa mudanya yang sering menyiapkan makanan pagi untuk Ayah Yesuke yang akan pergi sekolah. Sedangkan pasar cukup jauh dari rumah mereka, berjalan saja Nenek sudah kepayahan. “Di mana Nenek, harusnya dia belum jauh,” gumam Yesuke. Tersirat kekhawatiran di wajahnya. “Jadi, Nenek sering begini? Harusnya kita juga mengunci kamar semalam,” sahutku. “Tidak sering, aku juga tidak mengerti. Biasanya aku bisa dengan mudah menemukannya, tidak seperti sekarang.” “Bersabarlah, sebentar lagi pasti ketemu.” Jalanan Shinjuku masih hening, hanya terlihat aku dan Yesuke di luar yang sedingin ini. Salju pun sudah semakin menebal, lansia seperti Nenek bisa berbahaya berada di luar seperti ini. “Yesuke, ini sudah dekat dengan rumahku.” “Kamu benar Hitomi, mana mungkin Nenekku bisa berjalan sampai sini?” “Ya ampun. Apa kita perlu lapor polisi?” “Ah, nanti dulu. Kita cari saja lagi, mungkin kali ini dia benar akan sampai ke pasar.” “Tidak mungkin, itu jauh sekali, Yesuke.” “Aku juga tidak tahu.” Sedikit lagi akan tiba di rumahku, sampai aku mendengar suara berisik dari salah satu pintu rumah yang terbuka. Aku dan Yesuke segera mendekat ke arah rumah itu, yang tinggal di rumah kontrakan satu lantai seperti itu biasanya adalah para pelajar. “Nenek, tunggu dulu. Nenek harus menggunakan jaket tebal, Nenek bisa membeku di luar sana.” Aku dan Yesuke saling menatap ketika mendengar suara itu, suara dengan pengucapan bahasa Jepang kaku yang memang sepertinya baru kemarin kami dengar. Saat masuk ke rumah, baru lah kami tahu kalau Nenek ada di sana bersama dengan Ahmad Yusuf. “Nenek!” Yesuke terlihat kaget sekaligus lega karena akhirnya bisa menemukan Nenek. Aku memeluk Nenek dan segera memakaikan baju hangat tebal milik Nenek yang kami bawa dari rumah. Sedang Yusuf terlihat kaget dan heran dengan kedatangan kami. “Yesuke? Hitomi?” tanya Yusuf keheranan. “Iya, Yusuf. Ini adalah Nenekku, kami sudah mencarinya sejak tadi,” jawab Yesuke. “Begitu, ya? Aku menemukan Nenek di jalan sana tadi, kulihat dia duduk meringkuk di pinggir jalan. Aku kebingungan, jadi kubawa saja ke rumahku. Nenek terus berkata harus segera pergi, aku menahannya untuk menghangatkan tubuh dulu di sini,” jelas Yusuf. “Maaf karena telah merepotkanmu, Yusuf.” “Ah, tidak. Aku justru khawatir, di luar dingin, Nenek sepertinya bisa sakit kalau kelamaan di luar.” “Aku benar-benar berterima kasih, Nenekku ini sudah pikun. Dia bisa tiba-tiba pergi dan aku selalu kebingungan mencarinya.” “Ya, kita harus memberi pengertian pada orang tua. Tidak perlu memarahi mereka.” Yusuf benar-benar membuatku semakin menyukai sosoknya. Dia sangat peduli, bahkan pada seseorang yang tidak dikenalnya. Yusuf lalu membuatkan s**u panas untukku dan Yesuke, juga Nenek. Kami duduk di ruang tengah rumahnya yang tidak luas, akan tetapi juga terasa tidak begitu sempit. Retinaku menyapu pandangan ke beberapa sisi rumah Yusuf, meski baru pindah kemarin ternyata barang-barangnya sudah tertata rapi. Ada banyak buku di dalam rak, meja belajarnya juga hampir penuh dengan buku-buku. Sepertinya Yusuf seseorang yang sangat cerdas, lebih cerdas dariku tentunya. “Aku tadi melihat Nenek di perjalanan pulang dari rumah temanku yang tinggal di dekat kampus. Aku terkejut sekali, sebenarnya aku juga sempat bingung harus bagaimana,” jelas Yusuf. “Ya, begitu lah Nenekku, Yusuf. Aku senang dia bertemu denganmu. Jadi kamu tinggal di sini? Rumah kamu bertetangga dengan rumah Hitomi,” sahut Yesuke. Melirik padaku dengan siratan meledek. “Ah, benarkah? Senang bisa membantu, mohon bantuannya ya Hitomi,” ucap Yusuf lalu menunduk hormat padaku. “Ya, rumahku hanya jarak satu rumah dengan rumahmu, Yusuf. Senang bisa bertetangga denganmu,” sahutku. “Senang bisa bertetangga denganmu, Hitomi.” “Jadi, kamu kuliah di universitas mana? Waseda?” tanya Yesuke lagi. “Ya, aku kuliah di Waseda,” jawab Yusuf. “Hebat sekali, itu universitas kedua terbaik di Jepang.” “Ya, aku juga merasa beruntung memiliki kesempatan kuliah di sini.” “Kamu pasti seorang jenius,” sambungku. Aku harus mencoba untuk mulai akrab dengan Yusuf, agar rasa canggung menjadi hilang. “Ah, tidak. Aku biasa saja,” sahut Yusuf merendah. Dari pertama melihatnya, dia telah memancarkan kesan yang baik. Lalu sekarang aku melihat dia seseorang yang rajin belajar, rapi, dan peduli pada sesama. Menurutku akan sangat rugi bila tidak menjadikannya seorang teman. Setidaknya aku bisa mendapatkan pengetahuan yang tidak mungkin bisa kubeli. Itu pun kalau dia juga menganggapku sebagai teman. “Mau pulang sekarang, Nek?” tanya Yesuke pada Nenek. “Aku belum mendapatkan ikan segar, Nak,” jawab Nenek. Wajahnya sudah tidak sepucat saat kami menemukannya tadi. “Ah, hari ini aku tidak ingin makan ikan. Aku mau makan daging sapi, Nek,” sahut Yesuke. “Uangku mungkin tidak cukup untuk beli daging sapi, Nak.” “Aku sudah membelinya kemarin dan kuletakkan di kulkas, jadi ayo, sekarang kita pulang.” Aku dan Yesuke membantu Nenek untuk bangkit dari duduk, akan sangat menyusahkan Nenek berjalan dengan pakaian tebal. Yesuke lalu mencoba untuk menggendong Nenek, meski sedikit sulit. “Yusuf, kami akan pulang dulu. Berkunjunglah ke rumah kami,” ucap Yesuke. “Baik, semoga Allah menjaga kalian. Hati-hati membawa Nenek,” sahut Yusuf. “Baik lah, sampai jumpa.” “Sampai jumpa.” Rasanya gugup sekali berada di dekat Yusuf. Namun, aku juga merasa beruntung bisa kenal dengan laki-laki asing yang baik seperti dia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD