“Kamu akan membeli tempat ini? Dengan menjual sebelah ginjalmu?” tanyaku dengan lirikan remeh.
“Tidak sulit bagiku kalau aku mau, aku sudah cinta pada tempat ini,” jawab Yesuke enteng.
“Tadi kamu bilang tempat ini sudah ketinggalan zaman.”
“Aku akan memperbaikinya sedikit demi sedikit, tenang saja.”
“Kalau begitu gajihku harus naik.”
“Kamu ini teman atau apa, Hitomi?”
“Teman adalah teman, bisnis adalah bisnis, Yesuke.”
“Dasar kau, sudah sana cepat bereskan mangkuk kotor!”
“Ish. Baik, baik!”
Baru saja selesai membereskan meja, sudah ada lagi tamu yang datang. Tamu yang datang, kebanyakan adalah warga sekitar. Kebanyakan sudah paruh baya, jarang sekali ada anak-anak muda seusiaku yang datang.
Kali ini, tamu yang datang seorang diri. Dia membawa tas ransel kecil di punggung layaknya seorang mahasiswa, akan tetapi dia juga terlihat membawa koper besar seperti seseorang yang sedang bepergian. Matanya besar dengan pupil hitam, tak seperti warga lokal. Kulitnya juga tidak begitu putih, juga ada sedikit rambut di dagunya. Membuatnya terlihat menawan, ya, tampan juga.
“Astaga, bukan kah kita bertemu semalam?”
sambutku di depan meja. Entah ini kebetulan atau apa, kami baru saja bertemu semalam.
“Wah, benar. Kau kan yang tadi malam,”
sahutnya dengan membesarkan mata, seperti tak percaya akan melihatku lagi.
“Selamat datang,” sambutku lagi.
“Ya, mohon bantuannya. Apa di sini menjual ramen?” tanyanya.
“Ya, kami menjual ramen. Kamu bisa membaca daftar menunya,” jawabku sembari memberikan selembar daftar menu.
“Ramen paling enak, tapi apa semua terbuat dari sapi?” tanya pria itu dengan senyum lugu.
“Apa kamu tidak makan sapi?” tanyaku balik.
“Aku tidak makan babi,” jawab pria itu.
“Ah, begitu? Sebentar, aku akan tanyakan pada chef.”
“Ya, baik lah.”
Aku cepat menghampiri Yesuke di dapur, mendengar ada tamu, Yesuke langsung bersiap menyiapkan bumbu.
“Yesuke, apa ramen kita menggunakan babi?” tanyaku.
“Kenapa? Apa yang datang orang dari timur tengah?”
“Aku tidak tahu.”
“Katakan padanya, restoran kita bukan restoran halal.”
“Halal? Apa itu halal?”
“Hitomi, kau harus perluas pengetahuanmu. Biar aku yang menghampiri tamu itu.”
Yesuke akhirnya menghampiri tamu itu, berjalan melewatiku begitu saja. Pengetahuan umumku memang sangat kurang, dan tak biasa mendengar kalimat-kalimat asing. Halal itu apa? Daging babi?
Yesuke memulai lagak sok akrabnya dengan Yusuf, sedangkan aku mengintip mereka dari bilik pemisah ruang makan tamu dan dapur. Yusuf bicara dengan ramah, meski Yesuke terdengar sering menggodanya.
“Jadi namamu Ahmad Yusuf, dan kamu dari Indonesia?” tanya Yesuke, memperjelas lagi percakapan mereka.
“Ya, Tuan Yesuke. Aku baru tiba dan akan tinggal di sekitar daerah ini. Aku sangat lapar, dan aku kesulitan menemukan makanan halal,” jawab pria itu.
Namanya Ahmad Yusuf, ya, seperti nama khas orang-orang dari timur tengah. Namun, tadi dia bilang dari Indonesia. Aku cukup sering mendengar nama salah satu negara di asia itu.
“Jangan memanggilku tuan, aku yakin usia kita tidak terlalu jauh. Aku minta maaf, restoranku tidak bisa kujamin halal,” sahut Yesuke lagi.
“Eum, ya sudah. Tidak masalah kalau begitu. Tapi, boleh aku minta tolong?”
“Ya, tentu. Akan kubantu kalau aku bisa.”
“Aku boleh minta air panas? Aku membawa mie instan dari Indonesia. Aku sangat lapar hingga rasanya tak sanggup lagi berjalan.”
“Ya ampun, kasihan sekali. Baik, akan aku ambilkan air panas dan kubuatkan teh hangat untukmu. Tunggu sebentar, ya.”
“Terima kasih, tuan. Ah, terima kasih, Yesuke.”
“Ya, jangan sungkan.”
Yesuke melirik padaku lalu menarik tanganku menuju dapur. Dia mulai mengambil mangkuk dan mengisinya dengan air panas.
“Hitomi, buatkan segelas teh hijau hangat,” kata Yesuke.
“Baik,” sahutku.
Tanpa basa-basi aku segera membuatkan teh hijau, sebenarnya kami jarang sekali membuat teh di restoran. Bos hanya minta dibuatkan sesekali olehku, di depan restoran juga hanya disediakan air putih dan minuman kaleng di lemari pendingin.
“Dia dari Indonesia, seorang muslim. Mereka tidak boleh makan babi, juga minuman beralkohol,” jelas Yesuke.
“Begitu?” tanyaku.
“Ya, ayo, biar aku kenalkan.”
“Kamu akan mengenalkan aku pada tamu itu, Yesuke?”
“Ya, tentu saja. Dia itu orang asing, dan sepertinya dia baik. Karena dia tinggal di daerah ini, mungkin kita bisa berteman baik dengannya.”
“Hem, sebenarnya kami telah bertemu dan berkenalan semalam. Di tempat pemandian air panas.”
“Apa? Yang benar?”
“Ya.”
“Bagus lah, kalau begitu. Ayo.”
Aku dan Yesuke menaruh mangkuk berisi air panas dan secangkir teh hijau ke atas meja. Di atas meja sudah ada sebungkus kemasan mie instan, sepertinya dia memang membawa mie itu dari negaranya karena aku belum pernah melihat kemasan itu sebelumnya.
“Silahkan Yusuf, lakukan apa yang kamu inginkan,” ucap Yesuke.
Yusuf tersenyum, lalu mulai membuka bungkusan mie instan. Dari aromanya, tercium berbeda dengan aroma masakan Jepang yang biasa kuhirup. Kudengar, Indonesia kaya akan rempah-rempah. Aku dan Yesuke memperhatikan saja sampai mie itu siap, dan Yusuf langsung memakannya dengan lahap.
Restoran kami entah mengapa jadi sepi hari ini, malah kami kedatangan tamu yang tak terduga. Melihat Yusuf, entah kenapa rasanya membuat hatiku menjadi senang. Tak biasanya aku punya rasa tertarik pada pria asing.
“Bagaimana, Yusuf? Apa sudah hilang rasa laparnya?” tanya Yesuke.
“Ya, alhamdulillah. Terima kasih sekali, Yesuke,” jawab Yusuf. Kali ini senyum Yusuf lebih cerah, mungkin karena perutnya telah terisi.
“Syukurlah. Oh iya, benarkah kalian sudah saling kenal?”
Aku mendadak merasa gugup ketika Yusuf menatapku. Aku pun tersenyum saja mencoba untuk terlihat santai.
“Ya, kami sudah kenal semalam. Dia membantuku untuk mendapatkan tempat beristirahat,” jelas Yusuf.
“Syukurlah kalau begitu, semoga kita bisa berteman baik,” ucap Yesuke.
“Tentu, aku sangat merasa beruntung,” lanjut Yusuf dengan senyum gigi kelincinya.
“Ya, semoga kamu senang dengan pelayanan kami.”
“Aku sangat berterima kasih.”
“Ya, jangan sungkan.”
Tiba-tiba saja setelah perkenalan itu, ada beberapa tamu lagi yang datang. Yusuf langsung pamit untuk melanjutkan perjalanannya, aku dan Yesuke pun harus kembali pada pekerjaan kami. Menyenangkan bisa bertemu lagi dengan Yusuf, bisa jadi kami memang ditakdirkan untuk menjadi teman.
.
Karena tidak ada bos dan pengunjung tidak terlalu ramai, aku dan Yesuke hanya membuka restoran sampai pukul enam sore. Biasanya kami buka sampai pukul delapan, setidaknya hari ini bisa bekerja lebih santai.
Sepulang kerja, aku dan Yesuke berjalan bersama. Menyusuri gang yang berlawanan arah dari menuju rumahku. Aku bilang pada Yesuke tidak ingin pulang karena di rumah sedang ada Ayah, dia pun mengijinkanku tidur di rumahnya.
“Dingin sekali,” gumam Yesuke.
“Mau minum?” tanyaku.
“Teh atau kopi?” Yesuke bertanya balik.
“Sejak kapan kita minum teh dan kopi?”
“Sejak malam ini, berhenti lah minum-minum dan merokok, Hitomi.”
“Haha. Apa yang terjadi padamu Yesuke?”
“Aku selalu mengingatkanmu bukan?”
“Ya, tapi ini sudah lama. Biasanya kita akan merokok dan minum sampai tertidur di kedai bir!”
“Ya, aku kan bilang akan membeli restoran dan membuka usaha kita.”
“Jadi kamu serius?”
“Ya, aku serius.”
“Baik lah, kalau begitu. Semangat!”
“Semangat!”
Menyusuri gang yang sepi, melihat lampu di kanan kiri. Dingin dan membosankan. Tiba-tiba saja wajah Yusuf terlintas di kepalaku, membuatku jadi senyum-senyum sendiri.
“Ayo kita minum!” ajak Yesuke tiba-tiba.
“Tadi kamu bilang kita harus berhenti mabuk!” sahutku.
“Ya, minum teh hitam hangat tidak akan membuat mabuk kan?”
“Ah, kamu ini, baiklah.”
Ternyata Yesuke mengajakku ke kedai roti, sudah tak begitu jauh dari rumahnya. Tak hanya menyediakan roti, di tempat itu juga ada bermacam-macam menu teh yang bisa dinikmati.
“Hitomi, sepertinya aku ingin membuka restoran halal,” ujar Yesuke. Ketika kami baru saja duduk untuk menunggu teh.
“Ya, halal itu sebenarnya apa, Yesuke?” tanyaku.
“Halal itu sebutan untuk makanan atau apa saja yang bebas dari babi dan minuman keras, sehingga orang muslim seperti Yusuf bisa menikmatinya,” jelas Yesuke.
“Mengapa harus seperti itu?”
“Hey, di dunia ini tak semua orang hidup seperti kita. Seperti seseorang yang tidak bisa makan daging sapi, seperti itu juga orang yang tidak bisa makan babi. Kita harus menghargainya, Hitomi.”
“Lalu? Kenapa kita harus peduli?”
“Aku berpikir mungkin itu akan menjadi sebuah keuntungan di restoran kita, orang-orang asing akan semakin banyak yang singgah makan ramen di tempat kita.”
“Terserah kamu saja, Yesuke.”
“Kamu mendukungku kan?”
“Tentu saja, Kakakku yang super cerewet!”
“Ah, kamu ini!”