BAB 2. MUSIM DINGIN

1121 Words
“Mengapa orang jahat, susah sekali mati?" gumamku, setiap kali melihat pria tua berperut buncit itu. Pria yang katanya ayahku itu tengah tertidur di depan televisi yang masih menyala, dia mana peduli pada tagihan listrik yang setiap bulan harus dibayar. Ayah, aku bahkan merasa kalimat mulia itu tak pantas untuk disematkan padanya. “Hitomi Chan ....” Terdengar suara Ibu dari pintu depan rumah yang baru saja terbuka. Aku berlalu dari ruang tengah, berjalan menghampiri Ibu. Ibu terlihat kepayahan membawa kantongan belanja, ada beberapa botol minuman keras dan beberapa cup ramen instan. Jauh-jauh Ibu berjalan ke mini market, hanya untuk membeli santapan suaminya yang pemabuk itu. “Bantu Ibu, Hitomi. Masukkan semua ini ke lemari pendingin, ya,” kata Ibu dengan senyuman penuh ketegaran. “Dia memberi Ibu uang?” tanyaku. Lalu kuraih kantongan belanja dari tangan Ibu. “Ya,” jawab Ibu singkat. “Teruslah berbohong, Bu,” sahutku. “Jangan memulai keributan, Ibu lelah mendengarnya,” kata Ibu, lalu Ibu merebut lagi kantongan belanja itu dari tanganku. “Biar aku yang bawa, Bu!” Aku merebut lagi belanjaan dari tangan Ibu, berjalan menuju lemari pendingin dan menyusun belanjaan itu ke dalamnya. Kadang aku kesal pada Ibu yang selalu menuruti apa kata Ayah, bahkan saat Ayah kumat marah-marah dan menyumpahinya. Ibu tetap menjadi istri yang setia, bahkan mungkin hingga kematian menjemputnya. “Mau makan ramen?” tanya Ibu padaku. Kulirik panci berisi air yang baru Ibu letakkan di atas kompor, ada setumpuk sayur sawi yang sepertinya juga Ibu siapkan untuk campuran ramen. Di musim dingin seperti ini memang paling pas memakan makanan panas dan lezat seperti ramen. Namun, mengingat ada Ayah di rumah, seleraku jadi hilang. “Tidak, Bu. Aku mau bersiap ke tempat kerja,” sahutku. “Restoran ramen pasti akan sangat ramai di musim dingin seperti ini,” kata Ibu sembari mengiris sayur sawi. “Ya, aku akan sangat sibuk. Hubungi saja bila terjadi sesuatu atau saat kau perlu sesuatu, Bu.” “Baik, lah. Jangan lupa pakaian hangatmu.” “Ya.” Aku berjalan kembali ke kamar, lalu melirik sebentar ke ruang keluarga. Ayah masih mendengkur di dalam selimutnya, televisi juga masih menyala dengan tayangan kuis. Harusnya Ayah ikut kuis-kuis seperti itu, setidaknya dia bisa membeli minuman dengan uangnya sendiri. Ya, kurasa otak pintar Ayah yang dibilang Ibu dulu juga hanya sebuah kebohongan. . Katakan hai pada musim dingin, ketika Desember telah tiba. Rasanya melelahkan ketika harus berjalan dengan banyak lapisan pakaian di badan, seperti alat tempur agar tidak membeku selama di luar rumah. Jalanan mulai terasa lebih licin, ketika butir-butir salju telah perlahan turun. Trotoar juga mulai di lapisi es, belum lagi kendaraan-kendaraan yang di parkir tanpa penutup. Pemandangan indah, akan tetapi siapa yang betah berlama-lama di luar saat musim dingin begini. “Hitomi, cepat, lah!” Yesuke berteriak dari depan restoran, sepertinya dia memang sedang menungguku. Aku hanya terlambat dua menit, kurasa tidak akan ada masalah hari ini. “Perlu banget kamu teriak seperti itu, Yesuke?” kataku pada teman sekaligus rekanku di restoran itu. “Kamu itu selalu saja terlambat, Hitomi. Kalau ketahuan bos, kamu bisa dimarahi lagi!” Yesuka membulatkan matanya padaku. Wajahnya yang lucu tak mampu membuatku takut sama sekali. “Memang kenapa? Yang dimarahi itu aku, bukan kamu,” sahutku. “Dasar, ya. Aku kan tidak suka melihat temanku dimarahi, itu menyakitiku, Hitomi.” “Manis sekali, baiklah. Jangan bicara lagi, aku akan mulai bekerja!” Baru sejak sebulan lalu aku bekerja di restoran ramen, tak begitu jauh dari rumah tapi melelahkan juga karena harus berjalan kaki setiap hari. Kecuali hari libur perayaan, kami hanya libur hari itu. Tugas awalku adalah membersihkan restoran, meski restoran tidak begitu besar dan masih serba manual. Selanjutnya hanya melayani tamu-tamu yang datang, akan tetapi tak biasanya Si Otsuka, chef sekaligus bos itu belum juga datang. “Bos menelepon, katanya dia tidak bisa datang hari ini. Aku yang akan ambil alih semua,” jelas Yesuke. Ya, dia memang bisa menjadi pelayan sekaligus chef. “Baik, lah. Lakukan yang terbaik, lagi pula apa susahnya membuat ramen?” sahutku. “Hitomi, kamu selalu bicara saja, kamu bahkan tak pernah membuat ramen di sini.” “Hey, Yesuke. Kalau kamu bisa, kenapa harus aku?” “Haha, Hitomi selalu benar.” “Ya. Perempuan cantik harus selalu menang!” Yesuke tertawa, lalu menyudahi obrolan tidak jelas di antara kami. Beberapa saat kemudian, sudah ada pelanggan yang datang. Wajah-wajah yang sebenarnya memuakkan, mengingat buruknya sikap mereka padaku. “Nyonya cantik dan sexy, bawakan kami empat porsi ramen!” kata Si Gendut bau yang terkenal sebagai ketua komplotan. “Baik, mohon ditunggu sebentar,” sahutku. Aku memberitahukan pada Yesuke pesanan pelanggan. Terpaksa aku juga membantu persiapan ramen agar lebih cepat dihidangkan. Aku tak mengerti, Bos Otsuka terlalu pelit sampai dia tidak ingin mencari tambahan karyawan. “Lama sekali, untung saja kau cantik!” kata Si Gendut bau itu lagi, ketika ramen panas kuhidangkan di atas meja mereka. “Maafkan aku,” sahutku. Aku segera beranjak pergi setelah mengantar pesanan, tak mau menunggu sampai Si Gendut bau itu menahan tanganku dan menggodaku dengan ucapan-ucapannya yang menjijikkan. “Hitomi, kamu kenapa terlihat takut seperti itu?” tanya Yesuke. “Tamu tamu itu, aku benci mereka,” sahutku. “Tamu adalah raja, Hitomi.” “Tapi mereka itu seperti gelandangan, tidak punya etika.” “Pelankan suaramu, ini pekerjaan baru kita dan aku sudah merasa nyaman di sini. Jangan sampai kita harus berkeliaran di jalan pada musim dingin begini.” “Itu lah keanehanmu, Yesuke. Dasar pelawak!” Aku memilih pergi ke ruang ganti, berharap tak lama lagi tamu-tamu itu pergi. Dan benar saja, ketika aku kembali ke ruang makan, mereka sudah pergi dengan pelayanan akhir dari Yesuke. “Restoran ini tak akan lama lagi tutup,” ujar Yesuke tiba-tiba. “Benarkah? Mengapa?” tanyaku. “Kamu tidak lihat? Restoran ini sudah ketinggalan zaman. Bos Otsuka sedang membuka restoran baru di daerah lain,” jawab Yesuke dengan raut wajah serius. “Jadi, kita harus cari tempat kerja lain lagi?” “Tidak, kita akan tetap di sini. Aku akan membeli tempat ini dari bos Otsuka.” Aku membelalakkan mata keheranan, mendengar rencana Yesuke. Kami bersahabat sejak SMA, dia sangat baik dan memperlakukanku selayaknya seorang adik. Meski teman-temanku yang lain pernah menggosip kalau Yesuke sebenarnya menyukaiku lebih dari itu. Kehidupan kami hampir sama saja susahnya, bahkan Yesuke lebih menyedihkan karena dia yatim piatu. Yesuke terbiasa hidup bebas dan menjalani hari-hari yang keras, dia berjanji akan membuat kehidupan kami menjadi lebih baik. Bersikap seolah dia benar kakakku. Ketika aku bekerja di suatu tempat, dia akan ikut bekerja di tempat itu. Atau kadang, dia menawarkanku pekerjaan. Lalu saat aku berhenti atau dipecat, Yesuke akan ikut berhenti. Setia kawan, begitu katanya. Aku merasa dia benar-benar telah kurang waras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD