Tak lama setelah Barra memutuskan panggilan dengan Aura, Aura pun menelepon Leona. Baru satu kali dering panggilannya diterima oleh Leona. “Ada apa telpon?” tanya Aura. “Sudah selesai sidang?” tanyanya dari seberang sana. “Sudah,” jawab Aura sambil sesekali melirik ke arah gerbang sekolah Zoya yang berada tak jauh dari tempatnya menunggu, khawatir dia sampai terlewat jika ternyata Zoya sudah keluar kelas. “Kata ibu, belakangan sering terima pesanan brownis?” tanya Leona membuat Aura menelan salivanya kasar. Dia khawatir Leona mencari tahu siapa kah pemesan kuenya. “Hmmm, ya kenapa?” tanya Aura, cara paling mudah menutupi kebohongan, adalah dengan memberikan pertanyaan kembali, kan? Leona terdengar bergumam di seberang sana, lalu dia mengatakan, “mau pesan 5 loyang untuk besok,” ucapn

