Chapter 3 : Istri CEO

1143 Words
Lira pun meninggalkan Wira begitu saja. Lira takut jika Clara menyuruh orang suruhannya untuk mengintai suaminya Wira. Lira tidak ingin berhubungan lagi dengan Wira dan keluarganya. Ternyata benar ketakutan Lira terjadi. Anak buah Clara sudah mengetahui pertemuan Wira dengan Lira di sebuah cafe. Clara sengaja menyuruh anak buahnya untuk memata matai kemanapun perginya Wira. Semua ini dilakukan tanpa sepengetahuan Wira. Foto mereka berdua saat di cafe kini sudah berada di tangan Clara. "Aku tidak mau tahu cepat kamu bawa kesini perempuan itu" Perintah Clara kepada anak buahnya. "Siap bos" Dengan segera mobil pengintai itu mengikuti taxi online Lira. Lira yang sedang di dalam taxi tidak merasa jika ada yang membuntutinya. Dua puluh menit krmudian Lira pun turun di gang kos kosannya. Taxi online pergi dan degan sigap anak buah Clara turun menyekap Lira dan membawanya ke dalam mobil. "Perempuan ini sudah ada di dalam mobil bos, mau dibawa kemana?" "Bawa dia ke rumah" perintah Clara "Siap bos" Mobil melaju sangat kencang. Lira berontak tapi usahanya sia sia. Tangannya di tali dan mulutnya di bungkam. Setelah sampai di rumah megah dan besar, diturunkannya Lira oleh kedua anak buah suruhan Clara. Lira diletakkan di ruangan tertutup, lebih tepatnya seperti gudang. Mata Lira tertutup, dan hingga akhirnya Clara membuka tutup mata Lira. "Welcome girl...... " Clara bertepuk tangan dihadapan Lira. [Sialan benar benar sial, Wira bodoh dia tidak tahu kalau istrinya selalu menngintainya] umpat Lira dalam hati. "Kenapa sayang... Masih bingung ya.... Perkenalkan saya Clara Radika Maheswari. Istri sah Wira Radika Atmaja." Clara memperkenalkan diri sambil membuka lakban yang membungkam mulutnya. "Jangan takut tenang saja, aku tidak akan menyakitimu" ucap Clara, tangannya mengelus kepala Lira. "Kau mau bekerja sama denganku kan anak manis? Jika kau menyetujuinya maka hidupmu akan bahagia dan tidak akan kekurangan" Clara mengelus pipi Lira. Kini Lira seperti menjadi tawanan Clara. "Sudahlah tante langsung saja bicara apa mau tante, jika memang tante ingin menjauhkan saya dari om Wira saya sangat mau dan menyetujuinya" ucap Lira dengan sangat tegas dan lugas. "Santai baby...... Selow.... Jangan ada pertengkaran diantara kita, jangan kau anggap aku musuhmu" "Cepat tante bicarakan langsung, jangan bertele tele" Clara langsung menekan rahang Lira dan mendongkakkan wajah Lira dihadapannya. "Dengar ya anak manis, aku tidak masalah jika kau harus menjadi simpanan Wira, tapi ingat kau harus membayar mahal semua ini, kau harus hamil dengan Wira, dengan begitu aku akan mempunyai anak, mengerti.....!! " "Tidak tante, aku tidak akan memberikan anak kepada tante dan om Wira, aku tidak mau" "Jangan melawan sayang, Wira sudah menghabiskan banyak uangnya untukmu, dan sekarang kamu harus berbalas budi kepada kami berdua, aku hanya membutuhkan anak darimu, setelah itu terprnuhi kau bebas pergi kemanapun yang kau mau, dan aku akan memberikan apapun yang kau mau, bagaimana sayang......??? Setuju.....???" "Aku akan membayar semuanya tante, aku janji setelah aku mempunyai pekerjaan aku akan melunasi semua uang yang sudah aku gunakan selama ini" Bulir mata Lira menetes dengan deras membasahi pipinya. "Tidak mungkin sayang, kamu tidak akan bisa melunasi semuanya, terlalu banyak, mau kerja apa kamu?? Kalau kau menjual diri kepada suamiku, pasti uang akan mengalir dengan sendirinya, dan semuanya akan aku anggap lunas" "Tidak tante aku tidak mau, aku mohon jangan paksa aku, lepaskan aku, aku harus pergi" "Tidak akan kulepaskan dirimu sayang, jangan berharap kamu bisa pergi dari rumah ini, nikmati saja hari harimu disini bersamaku dan Wira, lama kelamaan kau akan menikmatinya juga" Clara memanggil anak buahnya untuk membawa Lira ke sebuah kamar berada di lantai dua. Lira dikunci dan di sekap di kamar itu. Tidak ada ventilasi sama sekali. Ruangan itu hanya di kelilingi tembok dan hanya ada akses untuk keluar masuk melalui pintu. Tidak mungkin bagi Lira untuk kabur lewat manapun kecuali pintu itu. Lira menangis dan memyesali perbuatannya selama ini, balas dendamnya berakhir dengan tragis, bukan ini yang ia inginkan tapi malah berakhir tragis, penyesalan semua ini percuma dia sudah berada di dalam kekuasaan Wira dan Clara. ================== Sore harinya di rumah Wira Radika Atmaja. "Sayang.... Aku pulang" Teriak Wira di ruang tamu. "Iya sayang...... " Clara menyahuti panggilan suaminya. "Bagaimana sayang kegiatan hari ini?" tanya Clara dengan bermanja memeluk suaminya dan menciuminya. "Jangan ah aku bau belum mandi, hari ini srmuanya lancar" ucap Wira sambil membuka jas dan dasi yang masih menempel di badannya. "Baumu membuatku candu sayang, biarkan aku menciuminya" Clara dengan manja dan ganas menciumi Wira. Clara melumat bibir Wira dengan penuh nafsu. "Stop sayang aku lapar, aku mau makan dulu terus mandi, kita lanjut nanti ya setelah aku mandi" Wira menjauhkan Clara dari tubuhnya dan bergegas berdiri menuju kamar. ================ Di dalam kamar Wira yang hanya menggunakan handuk di bawah pusarnya keluar dari kamar mandi. Sedangkan Clara sudah berpakaian seksi, ia hanya memakai bra dan celana dalam. Tubuhnya sudah terbujur rapi diatas kasur. Wira yang melihatnya pun langsung nafsu dan ingin segera memangsa Clara. Cup..... Cupppp..... Suara mulut mereka saling beradu. Dengan cepat tangan Wira melepas pengait bra yang digunakan Clara. Handuk yang ia kenakan pun langsung dilepasnya. Kini mereka berdua dalam keadaan bugil. Wira menikmati setiap inci kemolekan tubuh istrinya. "Ah.... Ah..... Geli sayang" ucap Clara yang sedang meremas rambut Wira. Wira yang sedang memainkan gunung kembar Clara dengan sangat handal. Wira mengulum dengan lembut p****g Clara yang berwarna pink. Tangannya bermain di gunung satunya dan tangan yang lain bermain di area sensitif Clara. "Ah..... Aw........Nikmat sekali sayang" Lenguhan Clara menambah gairah Wira untuk segera bereksplor di area sensitif Clara. "Siap siap ya sayang" ucap Wira yang sedang berada di depan gua indah Clara. Wajah Wira terbenam di gua Clara. Ia menghisap biji kacang Clara, sesekali lidahnya memainkan biji kacang Clara. "Aw....... Aughh....... Ah...... " Sedangkan tangan Wira masuk ke l**************n Clara. Wira memainkan dengan tempo cepat, hingga Clara kelojotan dibuatnya. Apem Clara berkedut pertanda iya mau mengeluarkan cairan kenikmatannya. "Masukkan sekarang sayang cepat" perintah Clara pada suaminya. Dengan cepat Wira pun menenggelamkan rudalnya di dalam gua Clara. Jleb.... "Lebih cepat temponya sayang" perintah Clara. Dan akhirnya....... Keduanya mencapai klimaks. ================ Setelah berperang keduanya mengobrol santai tentang perusahannya. "Bagaimana dengan perusahaan teman kamu, dia mau join kan dengan perusahaan kita?" tanya Clara penuh selidik. "Belum sayang dia belum yakin dengan perusahaan kita, maybe besok lah aku ketemu lagi sama dia buat memastikan dan meyakinkan dia lagi" "Sayang aku punya kejutan buat kamu" ucap Clara dengan senyum liciknya. "Apa itu??" Wira sangat penasaran. "Kamu ingin tahu secepatnya??" "Iya tentu saja" "Ayoo ikut aku" Clara menarik suaminya untuk keluar kamar. Wira berjalan mengekor dibelakang istrinya. Dan ketika sampai di depan kamar yang didalamnya ada Lira, Clara berhenti. "Kok berhenti, memangnya kamu mau kasih aku kejutan apa?" Tanya Wira dengan penuh rasa penasaran dan selidik. "Tapi kamu janji setelah ini akan menuruti apa yang aku mau" "Iya janji" Clara membuka pintu itu. Ceklek........ Kamar itu terlihat gelap sehingga Clara dan Wira tidak bisa melihat isi kamar itu. Clara pun ketar ketir jika Lira kabur dari kamar. Dan pergi meninggalkan rumah begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD