Dengan lembut, Affandi merengkuh raga Aninda yang mulai renta ke dalam pelukannya. Ia sengaja membiarkan Aninda menangis dalam pelukannya. Yah, meskipun ia tahu dekapannya tidak akan mampu memutar kembali peristiwa itu. Namun paling tidak ia mampu menenangkan hati Aninda. "Mama menyesal, Fandi. Menekan Manda sedemikian rupa." sesal Aninda seraya berurai air mata. "Apa mama mau menebus rasa sesal itu? Kalau mama berkenan, Fandi mau malam ini juga mengantar ke rumah tante Afida," tawar Affandi seraya merenggangkan dekapannya. "Benar Fandi mau mengantar mama ke sana? Ah, terima kasih sayang." Dengan mantap, Affandi menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia tidak main-main dengan niat mulianya seraya berkata, "Iya, Fandi serius, Ma." "Coba lihat, outfit Fandi 'kan emang udah siap

