Petir menyambar-nyambar, kilatannya terlihat dari balik tirai kamar Hana. Hana yang bersiap tidur jadi harus dipeluk oleh William.
“Paman Will, Hana takut. Mama papa kapan pulang?”
Hana bersembunyi dibalik selimut sambil didekap William.
William mendekap Hana dalam dadanya. Dia juga mengkhawatirkan Albert dan Abi karena mereka tidak bisa dihubungi sejak sore.
“Sayang, hati-hati membawa mobilnya. Jalanan sulit terlihat.”
Abi menggenggam erat sabuk pengamannya.
Albert yang juga sedari tadi was-was memegang kemudi dengan hati-hati. Saat baru saja dia ingin menghubungi pengawal yang mengikuti mereka, tiba-tiba ban mobil yang mereka kendarai meletus sehingga mobil sulit dikendarai. Mobil itu menabrak tebing tinggi dan terpental ke arah jurang. Setelah beberapa kali terguling, akhirnya mobil yang mereka kendarai berhenti di dasar jurang.
Albert dan Abi terluka cukup parah. Kepala Albert terbentur kaca mobil dan banyak mengeluarkan darah karena dia memeluk Abi, mencoba melindungi Abi setelah menabrak tebing.
Karena mobil menabrak bagian Abi duduk, kaki Abi jadi terjepit pintu mobil yang ringsek. Dalam kesadaran yang tidak penuh mereka samar-samar melihat api di bagian depan mobil.
“Abi…kau baik-baik..?”
Albert mengkhawatirkan Abi yang tidak bergerak.
“Al..kakiku sakit. Al..kepalamu berdarah.”, sambil mencoba menggerakkan kakinya Abi melihat ke arah Albert.
“Abi…sepertinya tidak akan berhasil. Sayangku…maafkan aku…”
Dengan susah payah Albert bernafas. Asap sudah memenuhi isi mobil.
“Al…aku mencintaimu. Anastasia…anakku…mama menyayangimu…”
Abi menghembuskan nafas terakhirnya.
“Aku mencintaimu Abi. Terima kasih karena melahirkan Anastasia. Putriku…anakku…papa menyayangimu…”
Dalam tangis Albert melihat kepergian Abi. “Sampai maut memisahkan…”
Mobil itu seketika meledak, membakar segala sesuatunya. Tidak ada yang tersisa lagi.
Foto pernikahan orang tua Abi terjatuh dari dinding, mengagetkan Harry yang kebetulan ada di kamar itu. Perasaan Harry tidak enak seketika, dia langsung menelepon Abi tapi tidak bisa tersambung. Lalu dia juga menghubungi Albert, tapi sama saja. Tidak bisa tenang, Harry menghubungi Hans. Tapi karena Hans dan Lilian masih ada di Inggris mereka tidak bisa berbuat banyak.
“Hubungi kastil, tanyakan pada James.”, kata Lilian pada Hans yang juga ikut khawatir.
Petir menyambar taman Abi di kediaman Franklin. Hana yang sedari tadi tidak bisa tidur dan hanya memeluk William dengan erat pun berteriak. Petir sangat dekat dari kamar Hana karena kamarnya terletak disebelah kamar Albert dan Abi.
James yang menerima telepon dari Hans memberi tahu bahwa Albert dan Abi pergi dari pagi dan William yang sedari tadi di kediaman Franklin juga tidak bisa menghubunginya.
Tak lama Hans mendapat telepon dari pengawal yang mengawal Albert dan Abi.
“Tuan Besar, mobil Tuan Muda dan Nona Muda mengalami kecelakaan.”
Hans yang menerima kabar terkejut bukan kepalang, dia langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri. Lilian yang melihatnya segera memeluk suaminya dan mengambil telepon yang masih tersambung dengan pengawal.
“Mobil Tuan muda terbakar.”
Begitu pembicaraan terakhir yang didengar Lilian.
“Oh tidak...”, Lilian menangis sambil memeluk Hans.
Berita duka tersebar ke seluruh penjuru. Franklin dan Valerin tertimpa bencana besar. Orang tua renta itu sangat terpukul atas kepergian Albert dan Abi. Apa lagi Harry yang seperti orang gila meraung-raung mendengar kabar kecelakaan tersebut.
Pihak kepolisian sudah mengidentifikasi jenasah, Albert dan Abi, serta 2 pengawal mereka yang ikut terbakar saat mencoba menyelamatkan Albert dan Abi yang terjebak di dalam mobil.
Dari hasil penyelidikan ditemukan sejenis ranjau yang ditaruh di jalan yang dilalui rombongan mobil Albert. Berarti kecelakaan itu disengaja. Keterangan dari pengawal yang masih selamat sudah didapat, mereka tidak bisa melihat ada ranjau karena jarak pandang sangat pendek sebab hujan badai sangat hebat.
Hana kecil yang mencari orang tuanya menangis dalam pelukan William. William tidak bisa menahan air matanya, dia pun ikut hancur karena sahabat terbaik, satu-satunya sahabat yang dia miliki telah pergi selamanya. Tapi dia mencoba tegar demi Hana.
Setelah mendengar keterangan dari pihak kepolisian, Hans segera bertindak, memerintahkan penyelidikan menyeluruh untuk mencari pelaku dari kecelakaan itu. Pemegang saham juga ikut goncang. Hans langsung mengambil ahli perusahaan untuk menyelamatkan harga saham yang sempat anjlok ketitik terendah.
Harry dalam dukanya menemui Hana di kediaman Franklin. Mereka semua, keluarga besar, bahkan orang tua William juga ada di sana.
“Saya memutuskan akan merawat Hana. Walaupun Hana juga cucu Anda, tapi kediaman Franklin yang paling aman.”, begitu kata Hans pada Harry.
“Ada bahaya mengintai keluarga besar kita sekarang. Saya juga merasa itu hal yang terbaik bagi Hana. Hanya Hana satu-satunya keturunan Franklin dan Valerin.”
Harry menyetujui Hans.
Lilian menambahkan, “Kalau begitu urusan pendidikan Hana, sebaiknya tidak menyekolahkannya di luar. Kami akan memanggil guru untuk itu. Dan kami sudah memeriksa seluruh pelayan dalam kediaman Franklin, mereka semua bersih.”
Ayah William ikut angkat bicara saat mereka semua berkumpul di ruang utama kediaman Franklin.
“Kami keluarga Darson yang sudah menganggap Abi sebagai bagian dari keluarga akan ikut membantu merawat Hana. William akan mengurusnya jika ada sesuatu yang diperlukan Hana."
Franklin, Valerin dan Darson sekarang bersatu. Menghadapi kesulitan bersama dan tidak ada yang bisa meruntuhkan mereka walaupun harus kehilangan orang-orang berharga.
Peti jenasah sudah diturunkan ke dalam liang lahat. Taburan bunga, bunga mawar kesukaan Abi tapi kali ini hanya bunga mawar putih. Bersebelahan, selalu bersama selamanya, bahkan saat maut itu datang.
Cucuran air mata, tangisan dan pilu yang tak terperih. Tangisan Hana yang memanggil orang tuanya terasa menyayat hati.
Ayah yang sudah kehilangan istrinya sekarang juga harus kehilangan putrinya.
“Sayang, maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga putri kita. Sekarang giliranmu menjaganya dan juga menantu kita.”
Orang tua yang kehilangan anak kebanggaannya, kesedihan dihari tua yang terlalu panjang yang mereka rasakan. Tangan-tangan yang sudah sama-sama berkeriput saling berpelukan, mencoba berbagi kesedihan yang dirasakan.
Sahabat yang dalam kesendiriannya berjanji akan merawat putri kecil mereka. Berjanji dengan jiwanya akan melindungi Hana.
“Aku berjanji akan merawat Hana, demi kamu sahabatku, selamat tinggal Abi.”
Pagi itu, dalam rintik hujan yang menyertai, seolah langit juga ikut menangis. Berita duka diliput diberbagai stasiun berita dan media cetak. Kerabat, kolega, dan keluarga besar ikut menyampaikan berita dukanya. Ratusan karangan bunga tanda berbela sungkawa memenuhi kediaman Franklin dan Valerin. Hanya ada 1 orang yang sepertinya tidak ikut menangis juga tidak terlihat kesedihan diwajahnya. Dendam dan sakit hatinya terbalaskan.