BAB X

1038 Words
Keamanan kediaman Franklin diperketat, hanya tamu yang sebelumnya sudah menghubungi kediaman dalam yang diijinkan masuk. Hans dan Lilian tidak lagi tinggal di Inggris, mereka merawat dan memenuhi segala kebutuhan Hana secara langsung. William datang setiap hari untuk menemani Hana belajar. William yang sudah tidak pernah berpacaran dengan siapapun lagi hanya mencurahkan hidupnya untuk Hana seorang. Guru terbaik dan yang telah diselidiki latar belakangnya didatangkan untuk mengajar Hana. Dari pengetahuan umum, bahasa, aljabar, sains, ekonomi, politik, sejarah, kegiatan fisik, tata karma dan lain sebagainya yang menunjang Hana untuk persiapannya sebagai penerus keluarga berikutnya. “Kita harus kuat, kita harus hidup lebih lama untuk mempersiapkan Hana.” Hans berucap pada istrinya setiap kali mereka mengingat putra yang sudah pergi mendahului mereka. Mau tidak mau mereka harus merelakan kepergian Albert, harapan mereka dimasa tua. Sedangkan Harry selalu datang setiap minggu, untuk bermain dengan Hana. Melihatnya tumbuh semakin dewasa, mengingatkannya pada sosok Abi. Abi yang pintar dan ceria, binar mata yang sama saat anak itu menemukan sesuatu yang menarik atau saat sedang tertawa. Pihak kepolisian mengalami jalan buntu karena tidak ada bukti siapa pelaku yang menaruh ranjau tersebut. Namun mereka masih terus melakukan penyelidikan sampai saat ini. Tahun berganti tahun, musim-musim pun berlalu. Putri kecil sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Cantik dan percayaan diri yang terpancar dari matanya serasa menggetarkan hati. Saat putri itu tumbuh besar, yang tua pun semakin menua. Hans dan Lilian yang dalam keadaan sakitnya meminta pengacara untuk datang. “Seluruh harta kekayaan Franklin hanya jatuh pada keturunan satu-satunya Franklin yaitu Anastasia Franklin. Dia akan menerima semua saat berumur 21 tahun. Tapi selama masa itu kekayaan Franklin akan dikelola William Darson, sampai nantinya Hana cukup umur. ” Pengacara mencatat setiap ucapan Hans sebagai surat wasiat. Mereka percaya William akan menjaga Hana. Sekarang William jauh lebih dewasa bahkan dia sendiri yang mengajukan untuk mengelola perusaahan Darson secara penuh. Padahal orang tuanya sudah sejak dulu mendesak agar William memegang bisnis keluarga, dulu saat semua belum terjadi hidupnya hanya bermain-main. Tapi sekarang intuisi dan pemikirannya sangat tajam. Perusahaan Darson berkembang pesat dibawah tangannya dalam beberapa tahun ini. 8 tahun setelah kepergian Albert dan Abi, Hans dan Lilian dalam umurnya yang sudah renta memanggil Harry, William dan kedua orang tuanya. Hans dan Lilian sudah tidak bisa banyak bergerak, mereka hanya terbaring di ranjang. "Terima kasih karena kalian telah datang. Kebaikan dan dukungan kalian pada kami tidak cukup kami balas dengan apapun juga." Hafas Hans terdengar tersenggal-senggal. "Kita telah melalui semua bersama untuk itu aku dan istriku ingin sekedar berbagi." Kakek tua itu terbatuk-batuk dan terlihat kesulitan bernafas. “Kami sudah membuat wasiat, saat kami nantinya harus pergi menyusul Albert dan Abi, seluruh kekayaan kami akan jatuh kepada Hana. Tapi karena Hana belum cukup umur, kami meminta tolong padamu Will. Tolong kau urus seluruh kekayaan dan perusahaan kami sampai Hana berumur 21 tahun.” Lilian berbicara mengantikan suaminya. “Harry, terima kasih atas semua. Keluarga kita harus kuat karena saat bersama kita bisa melalui saat-saat terberat. Hana cucuku, kemarilah. Ini milik ibumu, kami menyimpannya untuk saat ini.” Lilian menyerahkan buku harian Abi. Saat Albert dan Abi meninggal, Lilian menemukan tumpukan buku harian yang ditulis Abi sejak kecil. Buku-buku itu berada di dalam kardus yang terletak di bagian bawah walk-in closet di kamar Al dan Abi. Malam itu seluruh keluarga berkumpul, karena dokter keluarga Franklin menyatakan Hans dan Lilian dalam masa krisis. Selang pernafasan dan alat pacu jantung sudah terpasang, tapi karena mereka berdua sudah terlalu tua alat-alat itu hanya penopang kehidupan sementara. Saling berpegangan tangan, Hans dan Lilian mencoba melewati malam ini. “Lili...”, Hans memanggil istrinya. Mata Lilian terbuka, tapi suaranya tidak terdengar. Dia hanya merespon lewat genggaman tangan yang semakin erat. Kilatan ingatan masa lalu…saat Albert kecil lahir, saat pertama kali bisa memanggil nama mereka, saat langkah pertamanya, suara tawa kecil yang memenuhi kastil, prestasi-prestasi yang membanggakan mereka berdua, pernikahan yang luar bisa, menantu mereka yang berbakti, cucu kecil mereka. Tiba-tiba terdengar alat pacu jantung milik Hans dengan nada panjang, disusul milik Lilian. Tim dokter segera melakukan CPR tapi tanpa alat kejut jantung. Untuk orang setua mereka, alat kejut jantung malah akan membuat pembuluh darah pecah dan berujung pada kematian. Setelah lama melakuan pertolongan, akhirnya Hans dan Lilian dinyatakan meninggal dunia. “Kakek…nenek…jangan tinggalkan Hana.” Hana menggoncang-goncang tubuh Lilian dan Hans yang semakin dingin. “Oh Tuhan…tolong jangan ada kesedihan lagi dalam keluarga ini.” Harry menangis melihat kepergian kedua besannya. Ibu William juga ikut menangis. Dia bersedih untuk Hana yang selalu ditimpa kemalangan sedari kecil. William segera memeluk Hana. Hana menangis tersedu-sedu, hatinya hancur terasa tak tersisa. Dulu ayah dan ibunya, sekarang kakek dan neneknya. Dia tidak kuat untuk pukulan selanjutnya jika itu terjadi. Manusia datang dan pergi tapi kehidupan terus berlanjut. Prosesi penguburan sudah terjadi beberapa hari yang lalu. Hana sekarang hanya tinggal dengan para pelayan. Tentu saja Harry tidak bisa membiarkan hal itu, dia takut Hana akan kembali terpuruk. Jadi dia meminta William tinggal disana menemani Hana. "Paman." "Ya, Hana? Ada apa?" Hana sedang berusaha untuk tidur ketika William menemaninya. William duduk di atas ranjang, di samping Hana. "Apa nanti paman juga akan meninggalkan Hana?" "Jangan berkata hal buruk. Paman akan selalu bersamamu selamanya." "Tapi bagaimana jika itu tidak terjadi? Bagaimana kalau semua pergi dan aku hanya sendiri?" William membetulkan selimut agar menutupi tubuh Hana. "Paman berjanji. Tidak akan pernah menbiarkan Hana sendiri. Paman akan menemani kamu sampai tua. Jadi buang pikiran itu. Sekarang ayo tidur." Lampu sudah dipadamkan. Hanya lampu kecil di sudut ruangan yang masih menyala untuk memberi nuansa temaram. "Paman, tidur di sini saja. Temani Hana." William tersenyum dan melakukannya untuk gadis itu. Dia masuk bersama ke dalam selimut. Hana otomatis mendekatkan tubuhnya agar bisa dipeluk William. "Tubuh paman harum. Hana suka." "Ehemm..." "Juga hangat." "Kapan kau akan tidur? Ini sudah malam. Besok kau harus sekolah dan paman harus kerja." Hana tertawa kecil. "Iya aku tahu. Selamat malam paman. Hana sayang paman." "Selamat malam Hanaku. Paman lebih menyayangimu." William mengecup kening Hana dan kedua insan itu tidur terlelap sambil berpelukan, saling menenangkan satu sama lain. Mereka berpelukan sepanjang malam. Sama-sama mengobati luka hati ditinggalkan orang-orang terkasih. Meratapi kemalangan dan mencoba bangkit kembali setelah badai ini berlalu. "Aku tidak akan pergi. Aku berjanji akan ada untukmu." William berjanji dalam hatinya sebelum tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD