Keesokannya Hana membuka kardus berisi buku harian Abi. Setelah selesai sekolah dimasuk ke kamarnya dan membacanya buku-buku itu.
“Ayah selalu pulang malam, aku selalu sendiri. Untungnya William datang, bibi sangat baik telah membawa William datang ke rumah hampir setiap hari. William benar-benar lucu, aku juga ingin punya adik.”
“William sakit..oh Tuhan sembuhkan adikku. Jangan Kau ambil dia seperti Kau mengambil ibu.”
“Malam ini ayah menangis lagi. Aku sering melihat ayah menangis, pasti dia merindukan ibu. Aku juga rindu ibu, walaupun aku tidak pernah bertemu ibu. Tapi dari foto yang ayah berikan, ibu adalah wanita paling cantik. Paling cantik sedunia. Aku sayang ibu.”
“Hemm…kenapa William jauh lebih pintar dariku. Bisa-bisanya dia menyusul. Awas kau bocah.”
“Akhirnya aku mengaku kalah. Selamat atas kelulusanmu adik.”
“Hari ini teman sekelasku menyatakan perasaannya. Kamu lumayan ganteng, tapi….maaf, kamu tidak menggentarkan hatiku.”
“Semalam aku bermimpi bertemu ibu. Ibu berpesan agar aku berbakti pada ayah. Jadi wanita yang jujur, berani dan sopan. Siap ibu…aku akan membanggakan kamu dan juga ayah.”
“Aku memberikan ijin kepada ayah untuk menikah lagi. Aku tahu tidak ada yang mengurus ayah. Tapi ayah selalu menolak, dia masih terlalu mencintai ibu dan tidak pernah tergantikan di hati ayah. Aku juga ingin punya cinta yang seperti itu. Haha…seperti mencari di luasnya samudra.”
“Lagi-lagi Will datang setelah dimarahi paman Dia selalu bersembunyi di kamarku sampai malam jika bibi dan paman mencarinya.”
“Hari ini aku diserang salah satu wanita Will. Untung pengawal yang disiapkan ayah bergerak cepat, kalau tidak sudah basah aku disiram jus. Pasti mereka mengira aku kekasih Will. Ternyata punya adik yang nakal itu merepotkan.”
“Aku bertemu pria…Albert Franklin….ohhh…hatiku.”
“Malam ini Albert menyatakan cintanya. Aku juga mencintaimu. Aku mau jadi istrimu…melewati hari tua bersama dengan banyak anak. Anak-anak kita.”
“Pernikahan paling sempurna. Aku adalah wanita yang paling beruntung. Albert…kau yang pertama dan terakhir.”
“Malam pertama kami luar biasa. Aku mencintaimu suamiku.”
“Aku HAMILLLLL…ada buah cinta kita. Jika perempuan aku akan menamakannya Anastasia, jika laki-laki maka namanya….aku belum memikirkannya.”
“Terima kasih untuk hadiah kejutan ulang tahunku. Kau yang terhebat suamiku.”
“Ayah dan ibu mertua sering mengirimkan hadiah, kemarin baju sekarang sepatu. Lama-lama lemariku bisa banjir barang. Terima kasih untuk orang tua yang menyayangiku."
“Ayah datang membawa makanan kesukaanku. Ayah tahu saja bayi kecil dalam perutku mau makan yang manis-manis.”
“Anastasia bergerak...pertama kalinya aku merasakan. Pasti itu salah satu kaki kecilnya. Sehat ya sayang. Mama akan mencurahkan seluruh kasih sayang mama untukmu.”
“Sebentar lagi aku akan melahirkan. Aku takut ibu, tolong bantu aku dari sana.”
“Tangan kecil yang mungil, harum sekali bayi kecilku. Matamu sangat cantik, seperti mata mama. Tapi senyumanmu seperti papa. Lebih banyak mirip papa. Mama sayang kamu.”
“Aku dipanggil mama, Hana kecilku memanggilku ‘mama’. Aku senang sekali. Loh ada gigi kecil..haha…pantas saja kamu menggigit apapun yang kamu pegang, ternyata sudah tumbuh gigi.”
“Langkah pertama Hana. Luar biasa kamu, Nak. Kamu akan sehebat papa. Mama percaya padamu.”
“Hana sakit. Mama tidak bisa berbuat banyak. Ini adalah proses untuk membuat kamu kuat. Setiap sakit dan penderitaan akan menguji kamu untuk lebih tangguh.”
“Albert cemburu karena Hana hanya dekat dengan Will. Mau bagaimana lagi Will adalah adikku dan Hana menyukai Will sejak dalam kandungan. Lagi pula tingkah laku Will jauh berubah semenjak Hana lahir. Aku percaya dia sangat menyayangi Hana.”
“Ayah..terima kasih untuk kado ulang tahun Hana. Satu set perhiasan bayi…haha…apa tidak terlalu berlebihan. Ayah terlalu sayang cucu.”
“Hana terjatuh saat bermain bersama Will. Aku tahu Will merasa bersalah. Hebatnya setelah dipeluk oleh William…Hana langsung berhenti menangis”
“Gadisku sudah tumbuh semakin besar. William jadi sering datang untuk bermain dengan Hana. Tapi setiap kali aku melihat Will sedang bermain bersama Hana…tatapan Will berbeda. Apa aku salah menduga.”
Banyak kalimat-kalimat yang belum dapat dipahami oleh anak seumur Hana. Tapi lambat laun pikiran Hana terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Hana sekarang sudah berumur 15 tahun.
Tubuhnya cepat terbentuk, rambut panjang berwarna coklat, kulit putih tanpa cacat, mata bulat dengan binar mempesona, bibir berbentuk M yang menggoda, sungguh gadis yang sangat cantik.
Selain itu otak encernya tidak bisa disangkal. Pelajaran untuk sekolah tingkat atas bahkan sudah diselesaikannya. Dari nilai akademisnya, menunjukan minat Hana pada ilmu ekonomi dan bisnis. Jadi fokus pelajaran yang diberikan lebih berfokus pada minat Hana. Untuk lebih mengasah intuisinya.
Harry sering membawa cucunya untuk bekerja di kantor berita miliknya. Hari ini Hana akan pulang sedikit malam bersama Harry karena dia ingin mengajak cucunya untuk mengikuti rapat di perusahaannya tersebut.
Beberapa rekan bisnis Harry juga sempat ingin meminang Hana, tapi Harry selalu menolaknya dengan halus.
"Cucuku masih kecil, dia masih banyak belajar."
Atau Harry akan menjawab, "Nanti saat dia cukup umur baru kita bicarakan lagi masalah ini."
Entah mereka berniat tulus atau ada hubungannya dengan tahta Franklin. Yang pasti Harry akan menyaring semua pria-pria yang ingin mendekati cucunya.
William juga sudah menjadi pria dewasa di usianya yang 35 tahun. Tubuhnya berotot dibeberapa bagian, tidak terlalu besar seperti binaragawan tapi justru terlihat sangat seksi dengan tubuh tingginya. Rambutnya sedikit ikal, tulang pelipisnya cukup tinggi sehingga membuat tatapan matanya terkesan tajam, kulit coklatnya menambah ketampanan pria ini. Satu kata yang bisa menggambarkan William yaitu menggairahkan.
William baru menyelesaikan meeting maraton dengan beberapa klien. Hari ini dia sudah memenangkan 3 tender. Rapat yang berjam-jam untuk meyakinkan klien agar berinvestasi pada proyek-proyeknya tidak sia-sia. Semua berkat didikan Hans dan juga dukungan dari ayah yang selalu memarahinya.
"Aku perlu berendam dalam air hangat. Tubuhku terasa pegal semua. Duduk seharian benar-benar membuat pinggangku sakit.” Dengan berjalan gontai Will memasuki kamar mandi dimana air hangat sudah disiapkan pelayan.
William memejamkan matanya sambil merasakan otot-ototnya yang mulai rileks.
Sambil memejamkan mata, pikiran William melanglang buana.
"Apa Hana sudah pulang? Jika sudah seharusnya suara tawanya sudah terdengar sedari tadi. Kalau begitu kapan dia kembali? Apa aku harus menghubunginya? Tapi dia pergi dengan Paman Harry, seharusnya tidak masalah."
Isi pikirannya hanya tentang Hana sampai dia tertidur di dalam bath tub.