BAB XII

1002 Words
Tiba-tiba tanpa diketahui, Hana memasuki kamar William begitu mendapat kabar bahwa William sedang ada di kamarnya. Hana baru saja kembali bersama Harry, tapi kakeknya tidak mampir karena malam sudah cukup larut.. Hana mengendap-endap bermaksud untuk mengagetkan pamannya. Kepalanya menyembul dari balik pintu saat kamar itu tidak dikunci tapi Hana tidak menemukan pria itu di atas ranjang. Memang jadi kebiasaan William dan Hana untuk tidak mengunci pintu kamar agar saat Hana kecil membutuhkan William, dia bisa datang ke kamar itu atau William yang datang ke kamar Hana. “Paman ada dimana ya? Katanya sudah pulang. Apa paman sedang mandi?”, Hana mengelilingi kamar William yang cukup besar dari area tidur sampai walk-in closet. “Paman, apa kau sedang mandi?” Hana mengetuk pintu kamar mandi namun tidak ada jawaban. Karena penasaran Hana memberanikan diri membuka pintu kamar mandi dan melihat William memejamkan mata di dalam bath-tub. Seketika Hana terkaget karena baru pertama kali dia melihat laki-laki telanjang di depan matanya dan itu adalah pamannya sendiri. Segera Hana menutup pintu kamar mandi William dan berlari kembali ke kamarnya. “Oh Tuhan, apa yang baru saja aku lihat. Aku melihat paman…” Hana tidak melanjutkan pikirannya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Malam itu Hana tidak bisa tidur memikirkan pemandangan yang dia lihat. Jantungnya terus berdegup kencang, wajahnya memerah dan terasa panas sampai ke telinga. "Apa yang terjadi padaku. Kenapa jantung ini terus berdebar-debar?" Dia tidak berani bertanya pada siapapun, lebih tepatnya, dia tidak tahu mau bertanya pada siapa. Keesokan hari Hana terbangun. Hari ini adalah hari ulang tahunya. Harry dan orang tua Will akan untuk merayakan, hanya keluarga kecil ini saja. Hana tidak suka formalitas yang melelahkan dengan mengadakan pesta besar-besaran jadi setiap tahun Hana selalu merayakan bersama keluarga. Selesai mandi Hana keluar dari kamar mandi dengan celana dalam dan bra, handuknya sudah dia jatuhkan di atas ranjang. Sudah kebiasaanya mondar mandir di area kamar sambil memilah baju. “Aku mau pakai gaun yang kakek belikan bulan lalu saja, aku belum sempat memakainya.”, Hana memilah-milah baju untuk mencari baju yang dia mau. Namun tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan tubuh setengah telanjang Hana terpampang jelas. Hana terlalu terkejut sehingga hanya berdiri mematung. William yang membuka pintu juga terkejut tapi dia segera masuk dan mengunci pintu dari dalam. Bayangan semalam kembali melintas saat William bergerak maju. Hana menundukkan wajahnya dengan gugup. William berjalan mendekat dan mengambil handuk dan menutupi tubuh Hana. “Hana, kamu sudah bukan anak kecil lagi. Biasakan untuk mengunci pintu kamarmu jika sedang berpakaian atau sedang tidur.” Perkataan William hanya dibalas anggukan oleh Hana. “Kau mau pakai baju ini?” William mengambil baju yang sempat dijatuhkan Hana tadi saat dia terkejut ada yang membuka pintu kamarnya. “Ayo paman bantu, kamu akan kesulitan mengancing bagian belakangnya.” Hana tidak bergerak saat William perlahan membuka kembali handuk yang menutupi tubuh Hana. Perlahan William memakaikan gaun tersebut dan membantu mengancingkan bagian punggung yang agak sedikit terbuka. "Kenapa kau diam terus? Kau sedang sakit?" Hana terus menunduk. Pikiran serasa kacau. William memegang dahi Hana. "Tidak panas." "Aku baik-baik saja, Paman." "Lalu kenapa kau diam saja sedari tadi?" Hana menggeleng. "Kau malu pada paman? Gadis lucu." Setelahnya William menarik Hana untuk duduk di depan cermin dan mulai mengeringkan rambut Hana dan dengan telaten dia menyisiri rambut Hana. William berdiri di belakang Hana. Mereka sama-sama melihat pantulan diri dalam cermin. William tersenyum dengan lembut dan mengatakan, “Selamat ulang tahun Hanaku yang cantik.” Pesta ulang tahun dirayakan secara sederhana. Hanya makan sederhana dan acara pemotongan kue ulang tahun. Harry memberikan hadiah berupa gelang giok yang dia beli sebulan lalu dari perjalanannya ke China. Orang tua Will memberikan tas branded keluaran terbaru yang mereka pesan dari kolega mereka di Paris. Dan William menghadiahi kalung emas dengan liontin merah berbentuk hati. Berlian itu tidak terlalu besar, karena William tidak mau Hana terlihat seperti wanita dewasa dengan perhiasan yang berat. Malam itu saat akan meniup lilin Hana memanjatkan permohonannya. “Tuhan, biar perasaanku ini tersampaikan.” Beberapa bulan kemudian. “Paman, hari ini jadi kan?”, tanya Hana saat menghubungi William. “Ya, paman sebentar lagi sampai. Paman sudah menyerahkan pekerjaan pada sekretaris.”, balas Will yang sedang dalam perjalanannya kembali ke kediaman Franklin. William jadi sering pulang malam karena harus mengurus perusahaan Darson dan juga Franklin. Tapi hari ini dia berjanji pada Hana untuk berlibur ke vila keluarga Darson sebagai hadiah karena nilai-nilai sekolahnya bagus. Vila milik keluarga Darson itu terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Jadi jika berjalan kaki sebentar maka akan ada pantai pribadi milik Darson. Baru kali ini William mengajak Hana tempat itu. Beberapa hari sebelum keberangkata, beberapa pelayan sudah diminta untuk merapikan vila. “Sudah siap semua? Sudah bawa baju renang juga? Sudah bawa topi? Sun-block? Di pantai pasti panas.” Will mengingatkan Hana saat memasukkan tas-tas Hana ke dalam bagasi. “Sudah paman, aku juga sudah bawa baju untuk 1 minggu.” Hana sudah menjatuhkan dirinya di kursi depan karena William akan membawa mobil sendiri bersama Hana. Pengawal mereka sekarang lebih banyak. Ada tim yang membuka jalan yang berangkat lebih dulu dan ada tim yang mengikuti mereka. Keheranan akan pernyataan Hana, William membalas, “Kenapa sebanyak itu? Kita hanya pergi 5 hari.” “Untuk jaga-jaga. Kalau kita tinggal disana lebih lama.” Hana sedang kesulitan memakai sabuk pengaman karena rambutnya tersangkut di pangkal tali. William dari kursi kemudi berinisiatif membantu Hana memakaikannya, dia menarik perlahan helai demi helai agar rambut Abi tidak rontok. Tapi karena tubuh William yang jauh lebih tinggi dan besar maka posisi duduk Hana jadi terhimpit. Wangi parfum William tercium saat tubuh mereka berdekatan. Tapi tubuh William memberikan isyarat saat merasakan nafas Hana di lehernya. William segera menarik tubuhnya dan membetulkan posisi duduk setelah membantu Hana sambil mengatur nafas agar dirinya tenang. Tim pengawal pertama yang membuka jalan sudah sampai lebih dulu. Saat mobil William dan tim pengawal kedua sampai, mereka mempersiapkan kedatangan dengan mengamankan lokasi lebih dulu. Para pelayan yang sudah menunggu sedari tadi bersiap menyambut William dan Hana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD