Mereka dalam perjalanan ke Inggris, William menyewa pesawat pribadi demi keamanan Hana.
Harry sudah memberi ijin, tapi juga memberi peringatan.
“Jangan kau sentuh Hana, kalau tidak pernikahan itu dibatalkan.”
William berjanji akan berlaku sopan pada Hana, tapi sekarang, saat di pesawat, saat dia melihat Hana tertidur di sebelahnya, dia tidak bisa menjamin janjinya akan terpenuhi.
Perjalanan yang mereka tempuh sangat jauh. William dan Hana tertidur bersebelahan, kepala mereka saling bersentuhan, tangan mereka saling berpegangan. Dua insan yang saling mencintai, yang telah melewati suka dan duka bersama, saling menguatkan dan berjanji untuk saling melindungi.
Akhirnya mereka sampai di sore hari waktu setempat. Baru kali ini Hana pergi sejauh ini. Dia senang bukan main, akhirnya dia bisa jalan-jalan dalam arti yang sesungguhnya.
“Will...aku senang sekali. Terima kasih.”
Hana melonjak kegirangan sambil memeluk William saat mereka telah turun dari pesawat, “Sekarang kita ke rumah kakek dulu untuk taruh tas, setelah itu kita jalan-jalan ya.”
“Iya, apapun yang kamu mau.”, jawab William mengacak-acak rambut Hana.
Mereka telah tiba ke kediaman Hans dan Lilian.
Rumah kayu sederhana yang terletak di pinggir danau. Udaranya sejuk, benar kata Lilian, suasananya baik untuk melepaskan kepenatan kota.
Terlihat rumah berwarna putih terbuat dari kayu dengan teras kecil di depan dan beberapa kursi untuk duduk-duduk bersantai. Begitu memasuki rumah terdapat 2 kamar yang ukurannya tidak terlalu besar dan lantai rumah juga terbuat dari kayu. Ada kamar mandi kecil yang hanya cukup untuk mandi dan kakus. Di bagian belakang ada dapur dengan sebuah kompor dan lemari kecil. Selebihnya tidak ada yang spesial, tanpa adanya pelayan, sangat sederhana untuk ukuran seorang Franklin.
“Kita tidur disini ya.”, Hana berkata sambil melihat kamar mana yang mau dia pakai.
William mulai khawatir dengan ide gila Hana, “Kamu yakin tidak mau di hotel? Disini tidak ada pelayan, nanti siapa yang akan menyiapkan makan. Lagi pula banyak nyamuk.”
“Tidak apa-apa. Aku akan memasak, aku kan sudah ikut kelas memasak. Jadi kita hanya harus membeli bahan-bahannya saja.”
Hana tersenyum pada Will.
Makan malam bisa dikatakan sukses walau terbilang alang kadarnya karena peralatan masak yang tidak memadai, tapi William mengakui masakan Hana.
“Calon istriku sudah bisa masak.”
Hana menghidangkan 2 piring spaghetti untuk mereka berdua.
"Enak?"
"Sangat enak. Kau pintar. Tapi bukan berarti kau harus memasak setiap hari. Saat menjadi istriku kau harus jadi nyonya besar. Biar pelayan yang melakukan hal seperti ini."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Kau hanya harus melayaniku."
Mata Hana membelalak. Ada makna ganda dalam kalimat terakhir yang dilontarkan William.
Setelah makan mereka memutuskan duduk-duduk di teras depan.
Saling terdiam, mendengar suara jangkrik, melihat bulan penuh bersinar terang, pun sama-sama bisa mendengar setiap hembusan nafas, menyadari keberadaan masing-masing.
“Will, kau tahu, ini saat-saat paling membahagiakan untukku. Bisa berdua denganmu.”
Hana mengawali pembicaraan.
William memandang Hana, wajahnya yang diterpa sinar rembulan sungguh cantik. “Terima kasih karena hanya dengan bersamaku saja kau sudah bahagia.”
Hana tersenyum lalu menghampiri William dan duduk di pangkuannya. William melandaikan tubuhnya siap menerima Hana dalam pelukannya.
“Will…ceritakan padaku. Apa yang kau suka dariku. Mengapa kau jatuh cinta padaku yang masih terbilang anak kecil di matamu.”
Hana membiarkan rambutnya tergerai di d**a William.
“Dulu aku bukanlah pria yang baik. Karena aku bisa mendapatkan apapun dengan mudah, aku tidak begitu menghargai apa yang aku miliki saat itu.
Temanku, sahabatku satu-satunya adalah ibumu. Dia selalu menasehati aku jika aku dimarahi orang tuaku. Setidaknya hanya pada ibumu aku mau menurut.
Aku punya banyak kekasih, berganti setiap beberapa hari. Walau mereka tahu aku menduakan dan mentigakan dan juga mengempatkan mereka, tapi itu tidak masalah bagi mereka, cinta yang tidak tulus, hanya ingin mengejar materi.
Saat pertama kali melihatmu yang baru lahir, entah aku merasakan inilah saatnya aku berhenti dari semua kegilaan itu. Melihatmu tumbuh di dalam dekapanku. Menyentuh tangan-tangan mungilmu. Menyenangkan untukku.
Entah karena apa dan sejak kapan rasa ingin melindungimu berubah menjadi cinta. Aku takut jika Albert akan menentang karena dia tahu masa laluku. Tapi seiring waktu berlalu, rasa ini tidak bisa aku bendung.
Melihatmu tumbuh besar dan semakin dewasa, aku tidak bisa menganggap rasa ini hanya ilusi. Rasa ini nyata, aku sudah jatuh cinta padamu sedari awal. Aku berterima kasih pada orang tuamu karena mereka kau ada."
Hana menangis haru, selama hidupnya ini adalah pengakuan paling manis yang pernah dia dengar.
"Paman dan orang tuaku sudah merestui kita. Jadi jangan kau mundur, Hana. Aku tidak sanggup kehilanganmu, tidak pernah terpikirkan jika aku tidak pernah bertemu denganmu.”
William mencium kening Hana sambil bernafas seperti Hana adalah udara yang dia butuhkan.
Malam semakin larut, Hana tertidur dalam pelukan William.
Dia menimang Hana seperti menimang anak kecil.
“Terima kasih Abi, kau memberikan Hana dalam hidupku. Aku berjanji akan membahagiakannya dan hanya dia satu-satunya wanita dalam hidupku.”, bisik kecil William.
William memutuskan tidur di kamar belakang karena Hana ingin tidur di kamar depan yang langsung bisa melihat pemandangan danau.
William menggendong Hana yang terlelap, menidurkannya di kamarnya sendiri lalu menutup kelambu supaya serangga tidak masuk.
Hana terbangun dan menarik tangan William yang akan pergi.
“Jangan pergi, tidurlah disini, temani aku.”, pinta Hana.”
William memenuhi permintaan Hana, dia naik ke ranjang dan tidur di sebelah Hana. “Tidurlah, aku disini.”
Hana menaruh kepalanya di lengan William sambil memeluk William yang tidur terlentang.
Saat William terlelap, Hana terbangun. Dia memandangi William, tersenyum mendengar dengkurannya.
Diam-diam Hana mengecup bibir kekasihnya. William terbangun menerima sentuhan seperti itu, tapi dia tetap memejamkan matanya.
Hana semakin nakal, mengelus d**a dan perut William, merasakan otot William jauh lebih keras.
Dia tidak pernah menyentuh pria manapun sebelumnya, jadi tangan kecilnya tidak bisa diam. Menekan-nekan ke sana kemari. Kakinya mengesek-gesek kaki William. Dia juga mengendus William, mulai dari tangan, ketiak, perut dan d**a William. Hana menikmati aroma tubuh William.
“Apa yang dilakukannya? Dia tidak tahu apa akibat dari kelakuannya ini?”, batin William yang sudah tersadar penuh tapi tetap berpura-pura tidur.
Tiba-tiba William memegang pergelangan tangan Hana yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Hana terkaget, seperti kancil yang terciduk mencuri ketimun, dia beringsut menjauhi William.
William sigap langsung memeluk Hana dan mengkungkungnya di bawah tubuhnya.
“Kau tahu akibat mengganggu pria dewasa yang terus mencoba menahan nafsu?”, tanya William dengan suara serak.