Pagi itu William masuk ke kamar Hana. Tanpa mengetuk pintu dulu, dia melihat wanita paling cantik yang pernah ada dalam hidupnya sedang terlelap.
“Bangun sayang, mau tidur sampai kapan?”
Will membangunkan kekasihnya dengan mencium keningnya.
Hana yang terbangun langsung tersenyum. “Will…”, ucap Hana pertama kali memanggil namanya.
William berdebar saat pertama kali namanya disebut Hana. Dia mencium kembali Hana, tapi kali ini di bibirnya.
“Cukup Will, aku belum sikat gigi dan mandi.”, Hana menutup mulutnya dengan selimut.
“Memang sejak kapan kau malu padaku? Aku sudah melihat semua yang ada padamu. Aku tahu bagian tubuhmu yang terdapat tanda lahirnya. Aku tahu bagian mana yang paling geli jika dikelitik.”
William mendekat dan berbisik.
“Baru beberapa hari yang lalu aku melihatmu tanpa sehelai kain pun.”
Hana merona mendengar ucapan William, seluruh bulu kuduknya meremang.
“Ayo bangun, dosenmu sudah datang.”
William tersenyum karena berhasil menggoda Hana.
William bekerja lebih giat lagi, dia tahu harus menghidupi Hana dan anak-anak mereka dimasa depan. Dia harus membuat perusahaan Darson dan Franklin jauh lebih berkembang, walaupun akibatnya harus pulang malam setiap hari.
“Sabar sayang, 1 tahun, aku akan melamar kamu secara resmi.”, batin William gembira.
Beberapa bulan berselang, sepupu Darson mengadakan pernikahan. Otomatis William sekeluarga juga diundang, dan juga keluarga Valerin, mereka juga ikut datang karena mereka juga mengenal keluarga mempelai. Mungkin itulah yang disebut jaringan bisnis kelas atas, semua saling mengenal saat berada dilevel yang sama.
William sudah bersiap dengan tuxedonya. Dia menghampiri Hana yang sedang bersiap-siap di kamarnya.
“Kau sudah selesai Hana?”
Will membuka pintu kamar Hana tanpa permisi.
Ternyata Hana baru selesai mandi dan masih membalut tubuhnya dengan handuk. William yang melihat pemandangan itu segera masuk dan menutup pintu. Dia takut tubuh Hana terlihat pelayan yang tidak sengaja lewat.
William mendekati Hana, mencium aroma sabun mandi. Dia tersenyum saat melihat Hana mengeratkan handuk yang menutup tubuhnya.
“Ada apa sayang? Kau malu? Bukankah aku sudah bilang, aku pernah melihat semua. Kau tahu sudah berapa ratus kali aku memandikanmu? Kau tidak bisa mundur lagi semenjak kau menciumku. Aku yang memimpin sekarang.”
William melepaskan handuk Hana.
Tanpa sehelai kain pun yang menutup tubuhnya, William mengeringkan rambut dan tubuh Hana.
Wajah Hana semakin memerah, dia menahan nafasnya. Sentuhan William berbeda dari yang pernah dia rasakan. Mungkin setelah mendengar pernyataan cinta William, Hana jadi lebih berdebar. Setiap sentuhan membuatnya semakin membeku.
“Aku akan menikahimu Hana. Sabarlah 1 tahun lagi karena aku pun bersabar menunggu. Jangan berpaling dariku.”
William mencium pundak Hana, leher Hana dan terakhir mendarat di bibir Hana.
Ciuman mereka berlangsung lama.
Tangan William menyusuri tubuh indah di hadapannya.
Tangan kanannya meremas p****t bulat Hana sedangkan tangan kirinya meremas d**a Hana.
Suara lenguhan gadis suci itu semakin mendebarkan suasana.
“Hana…jika bisa…jika boleh aku ingin memilikimu seutuhnya sekarang juga. Tapi kita harus pergi, jadi bersiaplah.”
William memeluk tubuh Hana namun kemudian memilih menjauh, dia harus berpikir waras.
Selama Hana bersiap-siap, dari memakai pakaian dalam, memakai gaun dan bermake up, William tetap di kamar itu. Menatap Hana yang berjalan bolak-balik dengan gugup, bahkan William membantu menarik zipper gaun Hana.
Akhirnya Hana selesai bersiap. William menggandengnya sejak keluar kamar sampai menuju mobil.
Pesta pernikahan itu dihadiri orang-orang penting, dari pejabat sampai artis juga hadir. Tapi William selalu menggandeng Hana sepanjang acara. Banyak mata menatap mereka, karena William yang diketahui wali dari Hana yang seorang Franklin adalah pria yang diincar banyak wanita.
“Hana, jangan jauh-jauh. Aku sebenarnya tidak suka pergi ke tempat ramai seperti ini.”
William menggenggam tangan Hana semakin erat, mengajaknya menemui Harry yang terlihat dari kejauhan sedang berbicara dengan walikota.
“Halo kakek.”, sapa Hana pada Harry.
“Cucuku, kau baru datang? Sudah makan?,” Harry melihat Hana sangat cantik hari ini.
“Ini cucu anda, Tuan Harry?”, tanya walikota itu.
“Benar ini cucuku satu-satunya, Hana. Dan kau pasti tahu ini adalah William.”
Harry memperkenalkan Hana dan William pada walikota itu.
“Cucu anda cantik sekali. Sudahkah cucu anda mempunyai pasangan? Kalau boleh aku ingin menjodohkannya dengan keponakanku.”
Walikota itu tampak bersemangat.
“Oh kebetulan itu keponakanku.”
Dia melambaikan tangannya pada seorang pria yang sedikit lebih tua dari Hana.
William yang melihatnya menjadi sangat marah, dia sengaja memasang wajah tidak suka.
Sedangkan Harry melihat William dengan tatapan mengejek.
"Lihat. Hana adalah bunga yang diincar semua pria. Lalu mengapa dia harus memilihmu?"
“Perkenalkan ini keponakan saya, Frans. Frans ini adalah cucu dari Tuan Harry, Anastasia Franklin.”
Walikota itu mencoba memperkenalkan Hana dengan Frans.
Hana yang sopan mencoba mengulurkan tangannya untuk menyambut Frans yang memberi salam, tapi William sama sekali tidak melepaskan tangan Hana.
Bisa diduga, bagai gayung tak bersambut, begitu juga dengan tangan Frans yang tergantung di udara.
Harry yang sedari tadi melihat adegan konyol dan perubahan wajah William hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Maaf, cucu saya sudah akan menikah.”, merasa tidak enak Harry mencoba menjelaskan.
Walikota tertawa getir, dia sudah kepalang malu.
“Kalau begitu saya minta maaf. Saya tidak tahu. Tapi siapa yang menjadi calon suami cucu Anda?”
Walikota itu bertanya karena penasaran.
“Saya adalah calon suaminya.”
William menjawab langsung.
“Apa yang dilakukan anak bodoh ini? Cemburu tidak pada tempatnya. Apa dia tidak punya malu.”, Harry membatin.
Walikota dan keponakannya sempat terdiam sebentar, lalu mereka segera meminta maaf pada William. Walikota, keponakannya, Harry dan Hana tertawa dengan canggung, sedangkan William tetep tidak berekspresi.
Matanya garang melihat lirikan setiap pria di ruangan itu. Baik yang muda mau pun yang tua.
Berita menyebar secepat angin. Begitu juga rumor tentang William yang akan menikahi Hana. Tapi bukan gosip jika tidak dilebih-lebihkan. Rumor tidak sedap pun bermunculan, salah satunya William yang mengincar kekayaan Hana karena dia wali sementara dari seluruh kekayaan Franklin.
Akhirnya Hana sudah menamatkan kuliahnya. Hana mengambil 2 selar sekaligus, dia memadatkan semua mata kuliahnya. Itu pun juga ditunjang dengan semua fasilitas Franklin.
William ikut bangga pada calon istrinya. Otaknya cukup cerdas, walaupun tidak sepintar dirinya, tapi itu gerbang awal dari pernikahan mereka. Paling tidak Hana tidak harus cuti kuliah seperti Abi saat mengandung Hana.
“Kau ingin hadiah apa untuk kelulusanmu?”, tanya William pada Hana saat mereka berdua duduk di teras kamar Hana sambil menatap taman bunga.
“Emmm…bagaimana jika kita pergi liburan? Aku ingin pergi ke Inggris. Ke rumah kakek Hans.”
Hana memberikan ide yang tidak terduga.
"Kau ingin kesana berapa lama? Aku harus meluangkan jadwalku dulu."
"Satu minggu."
“Ok. Kalau begitu aku akan meminta ijin paman dulu.”
William menyetujuinya sambil mengelus kepala Hana.