Setelah menikah Albert berhenti menjadi dosen dan terjun penuh pada perusahaan Franklin.
Abi masih meneruskan kuliahnya, dan pengawalan untuk Abi sekarang diurus oleh Albert. Bukan lebih merenggang, malah semakin ketat.
Tempat duduk Abi di kelas sudah diatur. Di barisan tengah, sebelah kanan dan kiri, depan dan belakang harus kosong. Pengawal sekarang tidak menunggu di tempat parkir lagi, tapi di depan pintu kelas.
Tidak ada yang berani mengajak bicara Abi, apalagi mahasiswa pria. Tapi Abi tidak keberatan, dia tahu semua demi kebaikan Franklin.
Setelah pulang kuliah Abi langsung diantar ke kantor Albert karena mereka selalu pulang bersama. Kadang William yang mengantarkan Abi ke kantor Albert. Dan biasanya mereka bertiga makan malam bersama.
Albert pun sekarang menjadi sahabat William dan Albert menaruh kepercayaan penuh pada William sama seperti Abi percaya padanya.
Dua bulan setelah pernikahan Abi jatuh sakit, dia kesulitan makan dan tubuhnya lemas. Albert tidak berangkat kerja hari itu.
Bahkan William sampai datang ke kediaman Franklin karena Abi memintanya untuk datang.
“Abi, kamu kenapa? Kamu sakit apa?”
William sudah berada di kamar Albert dan Abi. Abi tertidur di ranjang, terlihat lemas dan tidak menjawab William.
“Entahlah, dia hanya ingin kau datang. Berkali-kali dia memintaku untuk menghubungimu”, sahut Albert.
“Sudahkan kau membawanya kedokter?”
William mulai khawatir setelah melihat kondisi Abi yang tidak berdaya.
Sambil duduk di sebelah Abi, Albert menjawab, “Dokter keluarga sudah dihubungi, seharusnya sebentar lagi sampai.”
Tidak lama kemudian dokter keluarga Franklin datang dan melakukan pemeriksaan menyeluruh atas Abi.
Bukan Franklin jika tidak sempurna, bahkan dokter membawa alat-alat yang hanya bisa ditemui di rumah sakit.
Pemeriksaan berlangsung hampir 1 jam. Lalu dokter memanggil Albert yang sedari tadi menunggu di luar kamar bersama William.
“Selamat Tuan Albert, Anda akan menjadi seorang ayah. Nona Abigail hamil.”
Albert dan William yang baru masuk setelah sedari tadi menunggu diluar kamar langsung kaget. Tanpa sadar mereka berdua berpelukan layaknya sahabat karib.
"Selamat Al, kau akan jadi ayah dan aku akan jadi paman.”
Albert lalu segera masuk dan menghampiri Abi. Memberinya ciuman bertubi-tubi, “Terima kasih sayang.”
“Saya sudah memberikan vitamin. Jika keadaannya belum membaik sebaiknya menghindari kegiatan fisik berlebihan. Dan saya akan berkala untuk memeriksa keadaan Nona Abi dan janin. Saya pamit dulu.”, imbuh dokter dan beberapa suster yang sudah merapikan barang-barang medis dan keluar ruangan,
“Selamat untuk kalian berdua, paman akan sangat terkejut setelah mendengar kabar kehamilanmu. Aku harus memberi tahu ayah ibuku juga.”
William segera keluar kamar untuk menelepon orang tuanya.
Kedua calon orang tua itu berpelukan di atas ranjang dan saling mengucapkan terima kasih serta banyak harapan dan doa untuk buah hati mereka.
Seperti yang diduga, kabar kehamilan Abi sudah sampai ke telinga orang tua Albert dan Abi. Hans dan Lilian berangkat kembali dengan pesawat pagi sehari setelah menerima kabar gembira tersebut.
Harry langsung datang esok pagi, dia meluangkan waktunya sebelum pergi ke kantor.
Karena Abi harus mengalami semester awal kehamilan yang menyulitkan, maka dia pun terpaksa mengambil cuti kuliah.
Janin Abi semakin membesar. Perhatian seluruh keluarga hanya untuk Abi. Dari makanan, baju hamil, senam kehamilan, kamar bayi, perawat bayi dan ibu setelah persalinan, segala sesuatu dipersiapkan hanya untuk penerus Franklin.
“Sayang kamu ingin makan apa lagi untuk hari ini? Aku akan menyuruh James membuatkan apapun yang kamu mau.”
Albert memeluk Abi yang berdiri di teras kamar mereka. Sambil melihat taman bunga mawar mereka menikmati sore yang sejuk. Abi meminta taman ditanami bunga lebih banyak. Semenjak kehamilan ini Abi lebih menyukai bunga.
“Tidak sayang, aku tidak terlalu rewel dalam hal makanan. Aku hanya ingin William datang setiap hari.”
Albert memasang wajah agak kesal, “Benar-benar kemauan bayi yang aneh, kenapa harus William? Bahkan saat dia datang kemarin kamu tidak mengajaknya bicara. Dia datang dan langsung pergi setelah kau melihatnya”
“Haha…kamu cemburu suamiku? Entahlah…saat mendengar suara William bayi kecil kita melonjak. Sepertinya dia senang setiap William datang.”
William selalu menyempatkan diri datang mengunjungi Abi sambil membawa makanan atau mainan bayi.
Kandungan Abi semakin membesar dan memasuki masa penantian persalinan.
Dia mulai mengalami kontraksi palsu sebagai tanda sudah semakin dekatnya calon penerus Franklin lahir ke dunia.
Lilian mulai semakin rewel dengan para pelayan, dia hanya mau semua keperluan Abi terpenuhi, segalanya harus sempurna untuk calon cucunya.
Peralatan medis sudah terpasang di kamar mereka karena persalinan akan dilakukan di kediaman Franklin. Hal itu menghindari informasi keturunan Franklin tersebar ke awak media jika persalinan dilakukan di rumah sakit. Dokter dan perawat standby diminggu-minggu akhir persalinan.
Albert juga sementara waktu tidak pergi ke kantor, dia menyerahkan semuanya pada asisten dan sekretarisnya. Tugasnya hanya menemani keseharian Abi.
Hans dan Harry lebih sering bertemu untuk membicarakan penggabungan perusahaan untuk calon cucu mereka yang akan segera lahir. Kerajaan Franklin akan semakin besar karena didukung pertelevisian dan media cetak dari Valerin.
Malam itu pukul 2 malam, saat semua orang terlelap dalam tidur nyenyak, seorang Abi tiba-tiba terbangun.
Dia merasakan perutnya terasa sakit sekali dan tiba-tiba ada banyak cairan dipunggungnya.
“Oh Tuhan…sepertinya ini saatnya. Al, bangun, aku sakit sekali.”
Abi merintih karena sakit yang tiba-tiba menghebat.
Memang Abi sudah mengalami kontraksi dalam beberapa hari belakangan ini. Itu adalah pertanda bagi dokter bahwa waktu kelahiran sudah semakin dekat.
Albert yang terkejut langsung melompat dari ranjang dan menekan tombol emergency yang memang sudah disiapkan sebelumnya. Tombol itu terhubung ke seluruh ruangan di kediaman Franklin. Gunanya untuk memberitahu semua penghuni rumah saat tibanya Abi untuk melahirkan.
“Aku disini sayang. Semua orang sudah bangun. Kamu atur nafasmu. Jangan khawatir. Aku disini.”
Albert mengelap kening Abi yang sudah bercucuran keringat karena menahan sakit.
Dengan kesakitan Abi masih bisa berkata, “Al, tolong hubungi William. Minta dia datang.”
Albert menghubungi William tanpa perduli jika orang itu sedang tidur.
"Halo."
William menerima telepon tanpa melihat siapa yang menghubungi.
"Will. Datanglah kemari. Abi akan melahirkan."
"Sekarang?!?"
"Iya, sekarang."
"Baik. Aku datang."
William melompat dari ranjangnya dan mengambil kunci mobil. Dia pergi tanpa mengganti bajunya tapi dia sempat berpesan pada pelayannya agar memberitahu orang tuanya saat bangun nanti kalau Abi akan melahirkan.