BAB VI

1014 Words
Hari yang dinanti semua orang akhirnya tiba. Kediaman Albert sudah dipenuhi tamu undangan. Dekorasi pernikahan bernuansa putih menghiasi setiap sudut kastil dan taman. Lampu-lampu tambahan sudah terpasang di taman karena pesta pernikahan akan berlangsung sampai malam. Makanan dari western sampai asian sudah tersedia sebab tamu yang datang tidak hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri. Tidak kurang dari 50 pelayan yang mondar-mandir menyiapkan semua hal untuk kesuksesan acara. Wartawan yang terdaftar sudah berkumpul di tempat yang disediakan, kanan dan kiri altar serta bagian depan gerbang untuk meliput tamu undangan yang datang. Kursi sudah diatur dan dihiasi nuansa putih. Altar pernikahan di tempatkan di tengah, diantara dua barisan-barisan bangku. Di setiap sudut altar diletakkan karangan bunga sebagai penghias. Karpet merah di gelar disepanjang jalan yang akan dilalui pengantin sampai menuju ke altar. Kursi di sebelah Harry sengaja dikosongkan untuk menghormati mendiang ibu Abi yang sudah tiada. Acara pun dimulai. Semua tamu undangan sudah duduk di tempat masing-masing. Tampak dari ujung karpet merah, Harry menggandeng tangan Abi. Mereka jalan beriringan menuju altar dimana Albert menunggu. "Ayah menyayangimu Abi. Kau harus bahagia." Abi mendengar ucapan ayahnya dibalik veil yang dia kenakan. "Terima kasih ayah. Aku juga sayang ayah." Air mata Abi menetes tidak tertahan. Kenangan demi kenangan ayah dan anak itu seperti diputar kembali. Tidak pernah ada air mata kesedihan, tidak ada rasa kecewa satu sama lain, yang ada hanya rasa bersyukur bahwa mereka berdua adalah keluarga yang dirancangkan Tuhan. Setelah sampai di depan altar, Harry menyerahkan tangan Abi yang dia genggam erat kepada Albert. Seperti tidak rela dia melepaskan putri kecilnya, lama Albert menunggu. mereka bertiga saling menatap dalam kebisuan. "Jaga putriku dan cintai dia." "Pasti" Albert dengan yakin mengucapkan janji yang hanya didengar oleh mereka bertiga. Ayah Abi melihat putrinya di altar pernikahan dengan gaun seperti putri dalam cerita dongeng, cantik, persis seperti ibunya dulu. Gaun bertabur berlian itu menjuntai panjang sampai beberapa meter ke belakang. Tiara bertahtahkan berlian yang dipesan khusus hanya untuk Abi menghiasi kepalanya. Dan tidak lupa 1 set perhiasan melengkapi kilauan kecantikan Abi. “Lihat sayang, itu putri kita. Aku tahu kau disini menyaksikan hari bahagia ini.”, senyum bangga Harry mengembang sepanjang prosesi pernikahan Pasangan tua Franklin tersenyum bahagia karena penerus keluarga sudah pasti ada didepan mata. Lilian memeluk Hans erat dan berkata, “Putra kita akhirnya menikah, aku tidak sabar menimang cucu.” ”Sabar sayang, mereka baru menikah…hahaha…kau selalu menggebu-gebu dalam segala sesuatu.” Hans tertawa mendengar istrinya yang sudah tidak sabar ingin mempunyai cucu. Cincin pernikahan mereka terbuat dari emas putih bertahtahkan 1 batu berlian besar dan di balik cincin itu terpahat nama masing-masing, bagian dalam cincin terdapat batu ruby biru yang melambangkan cinta abadi. Cincin sudah tersematkan dan sumpah pernikahan terucap dari kedua mempelai. "Saya Albert Franklin berjanji." - Albert "Saya Abigail Valerin berjanji." - Abi "Untuk setia, mencintai dan melindungi dalam segala sesuatu." - Albert "Untuk setia, mencintai dan menghormati dalam segala situasi." - Abi "Sampai maut memisahkan." - Albert dan Abi Ciuman pertama mereka begitu manis dan meyakinkan satu sama lain bahwa mereka diciptakan untuk bersama selamanya. Semakin malam pesta semakin riuh. Semua tamu ingin mengenal masing-masing pasangan pengantin. Para kolega bisnis, keluarga besar berbaur. Didalamnya juga ada Charles Durt, sepupu dari keluarga Franklin. Pria tua gendut dengan kekecewaannya. "Seharusnya putriku yang menjadi pasangan Albert sekarang ini. Mereka sudah menolak tawaranku untuk menikahkan putri semata wayangku dengan Albert. Kurang apa Lisa, cantik dan berpendidikan tinggi. Lebih pantas untuk Albert dari pada wanita tidak jelas yang ayahnya hanya punya stasiun televisi. Aku tidak akan melupakan penghinaan ini." Dia mencengkram erat gelasnya seakan ingin menghancurkan dalam sekali genggaman. Penuh dendam Charles meminum wine sampai mabuk dan menunggu kesempatan untuk membalas rasa malu dan sakit hatinya. Seteleh pernikahan Al dan Abi, mereka langsung berbulan madu 1 bulan mengelilingi kota-kota romantis di seluruh dunia. Al sudah memesan hotel terbaik diseluruh tempat destinasi mereka Dikamar hotel. “Aku mencintaimu. Kau yang pertama dan terakhir untukku. Jadilah ibu untuk anak-anakku.” Ciuman Al sangat lembut. Dimulai dari kening, pipi, dan bibir Abi. Cinta ini belum pernah dirasakan sebelumnya oleh mereka. Semua dimulai secara perlahan, suci dan lembut. Menjadi semakin memanas dan penuh nafsu. “Aku serahkan semuanya hanya untukmu.” Suara Abi pasrah atas sentuhan-sentuhan Al yang semakin liar. Malam yang sunyi dan keheningan yang menjadi saksi penyatuan 2 manusia yang saling mencintai. Mengharapkan benih itu segera tumbuh sebagai penyempurna sebuah pernikahan. Sepulangnya mereka dari bulan madu, Abi secara otomatis tinggal di kastil Franklin. “Selamat sore Tuan Muda dan Nona Muda.”, sapa kepala pelayan. “Selamat sore James.”, balas Abi. “Dimana ayah dan ibu?” Albert mencari orang tuanya. “Tuan dan nyonya ada di kamar, sedang bersiap-siap untuk pergi.”, sambil membungkuk tanda memberi hormat. Al dan Abi bertanya-tanya, mau kemana orang tua mereka. Sesampainya di ruang keluarga, terlihat Hans dan Lilian menuruni tangga, diikuti beberapa pelayan yang membawa tas koper yang cukup banyak. “Ayah, ibu, ingin pergi kemana?”, tanya Al penasaran. Kakek nenek itu bergandengan tangan menuruni tangga. “Kami ingin pindah, kami akan tinggal di Inggris. Sudah lama kami meninggalkan rumah disana.” “Memang kenapa ibu?” Abi khawatir telah menyinggung mertuanya. “Tidak apa-apa sayang, kami hanya ingin kalian mandiri. Kalian sudah membentuk keluarga baru dan kami sudah terlalu tua untuk rumah sebesar ini. Kami akan tinggal di rumah yang lebih kecil, lagi pula suasana disana baik untuk orang tua seperti aku dan ayahmu.” Lilian menggenggam sambil mengusap tangan mungil Abi. Hans menimpali, “Benar, kalian baik-baiklah. Kami akan kembali setelah mendapat kabar tentang cucu kami.” “Mengapa mendadak ayah, kami baru kembali. Setidaknya kalian belum banyak mengenal Abi.” Albert sedikit kecewa dengan keputusan mendadak orang tuanya. “Kami sudah merencanakan ini jauh sebelumnya. Kami yakin Abi yang terbaik untukmu. Dan segeralah berikan kami kabar baik.”, Hans menepuk bahu Albert. Pelayan sudah memasukkan seluruh koper ke dalam mobil. Mereka saling berpelukan seperti untuk yang terakhir kalinya. Albert dan Abi mengantarkan kepergian orang tuanya dengan tidak rela sampai ke pintu utama. Mereka akan berangkat dengan pesawat pribadi siang itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD