Sedih bercampur bahagia menyelimuti benak Anin ketika mengetahui Arfa bahkan menyiapkan kursi untuk Tara, dan saat ini dengan lembut lelaki itu memastikan Tara aman dan nyaman ditempatnya.
“ Sini kopermu.”
Anin tersentak, meletakkan koper kecil dan tasnya di bagasi ,” Ada apa ?” tanyanya melihat Arfa terseyum melihat tas kanvas yang cukup besar dengan banyak kantong itu.
“ Tas ibu ibu muda yang punya balita.”
Anin tertawa kecil, membuka pintu dan duduk disamping Arfa yang sudah siap di belakang kemudi.
Arfa menjalankan mobil perlahan, melirik ketika Anin mengambil ponsel dari saku celana panjangnya dan membalas pesan ,” Harus ya pakai tas yang bisa menenggelamkanmu ?”
Anin tersenyum ,”Itu bukan tas.”
“ Lalu ?”
“ Kantong doraemon.”
Arfa tertawa, lebih pada senyum yang sampai ke mata gadis itu ,” Kamu sudah menikah ?”
Anin menggeleng.
“ Tapi siapapun bisa melihat kamu menyayangi dan merawat Tara dengan baik. Pasti bukan satu dua orang yang menyangka kamu ibunya.”
“ Dia lebih sering bersamaku, apalagi saat mamanya …..”
“ Apa yang terjadi dengan Tania ?”
Anin menarik nafas panjang ,” Tara lahir diusia 7 bulan kehamilan. Tiba tiba tekanan darah kak Tania meningkat, pingsan di tempat kerjanya. Dokter Ayu memutuskan operasi untuk menyelamatkan keduanya.”
Arfa mengguman ,” Tara sehat waktu lahir ?”
“ Sehat, walaupun butuh perawatan ekstra di bulan bulan pertama kehidupannya.”
“ Lalu Tania ?”
“ Sejak itu, kondisi kakak tidak pernah fit seperti sebelumnya. Kakak berusaha memberikan ASI tapi tidak maksimal, karena kondisi kesehatannya. Pada saat itu saya hanya berpikir ini hanya berkurangnya daya tahan tubuh, bagaimanapun kakak tidak terlalu siap mengandung dan melahirkan ….” Anin mengatur nafasnya ,” hanya karena cintanya dan tanggung jawabnya pada Tara, kakak bertahan dan berusaha kuat.”
“ Pada saat itu, mengapa tidak mencoba menghubungi Andro … atau kami ?”
Anin menggeleng ,” Kak Andro tidak menginginkannya, untuk apa diberitahu ?”
“ Maaf …. cek itu, harusnya bisa kalian pakai.” Arfa melihat Anin menggenggam ponselnya erat erat ,” Operasi, perawatan bayi belum cukup bulan, kondisi kesehatan Tania …. kalian punya banyak alasan untuk itu.”
“ Cek itu bukan untuk meyelamatkan kakak ataupun Tara … cek itu diberikan untuk membunuhnya.” Anin menghela nafas kasar, menyadari suaranya meninggi ,” Maaf.”
Arfa menggulurkan tissue ,” Aku paham.”
“ Kami bukan orang berada, tapi kami punya pekerjaan … punya penghasilan. Walaupun harus berhemat, kami mampu melewati tiga tahun ini.”
“ Jadi, Tania sakit apa ?”
“ Kanker darah … dan kakak baru mengatakan setelah sudah terlalu lemah untuk menutupinya. Stadium empat hampir lima.”
Arfa terdiam, menatap sekilas pada gadis yang lagi lagi menengadah sambil mengatur nafasnya ,” Adakalanya kamu boleh menangis, itu akan lebih baik daripada selalu menahannya seperti itu.”
“ Aku punya waktu untuk menangis saat tidak ada Tara didekatku.” ditatapnya Tara yang tidur pulas di belakang.
“ Keadaan Tania, dan kehadiran Tara … apa itu tidak mempengaruhi kehidupan pribadimu ?”
Anin tersenyum kecut ,” Kehidupan pribadi ? Kehidupanku hanya aku dan mereka berdua. Dan aku cukup dengan itu.”
Melihatnya bersedekap dan membuang pandangan keluar jendela membuat Arfa tahu untuk melanjutkan perjalanan dalam diam … dan kami akan mengambil satu-satunya yang tersisa bagimu, maaf ...