Menginap

570 Words
Anin menidurkan Tara setelah mengganti baju yang dipakainya ke rumah sakit. Siapa itu ? Anak kecil itu benar benar mirip dokter Arfa … Siapa perempuan itu ? Dokter Arfa bahkan menjemput dan mengantarnya sendiri. Eh orangtua dokter Arfa bahkan memperlakukannya dengan baik Dijatuhkannya tubuh di sofa sambil mengingat bisikan dan tatapan ingin tahu yang diarahkan pada mereka sepanjang pagi tadi. “ Istirahatlah dulu, nanti sore aku akan menjemput kalian untuk menginap dirumah.” Ucapan Arfa tadi membuat Anin bangkit dan mengemasi barang mereka. Dua malam, dan setelah itu ia akan pulang. Setidaknya sampai hasil tes keluar, Tara akan selalu bersamanya …hanya bersamanya. Lalu dimana Andro … ? Tidak ada tanda tanda lelaki itu muncul, bahkan sekedar menitipkan pesan. Drrrt … “ Kak Ayu … “ Anin menutup tas nya dan meletakkan diatas koper kecil. “ Bagaimana kabarnya, Nin ? Ada yang bisa aku bantu lagi ?” “ Sejauh ini baik baik saja, kak. Dokter Arfa cukup tenang dan membantu, orangtuanya pun kooperatif. Tadi barusan ambil sample untuk tes, walaupun … “ “ Ada apa ? Mereka menyangkal ?” Anin menghembuskan nafas ,” Sebaliknya, kelihatannya lmereka sudah yakin walau tanpa tes. Kalau saja dokter tahu betapa miripnya Tara saat digendong dokter Arfa.” Terdengar helaan nafas ,” Lalu Andro ?” “ Itulah, aku sama sekali belum ketemu atau bahkan dihubungi Kak Andro. Aku masih menahan surat pribadi kakak untuk Kak Andro, dan mereka memperbolehkan aku menemuinya setelah hasil tes keluar.” “ Apa mereka melihat ada kemungkinan Andro menyangkal ?” “ Entahlah dok … itu juga yang ada dalam pikiranku.” “ Lalu sampai kapan kamu disana ?” “ Aku pulang minggu sore. Orang tuanya meminta Tara menginap disana, mau tidak mau aku harus ikut.” “ Sekarang kamu disana ?” “ Belum, nanti sore dokter Arfa akan menjemput kami.” “ Anin ….” Nada suara dr Ayu berubah ,” Bagaimana dokter Arfa ? “ Baik, tenang …. Mungkin udah bawaan seorang dokter ya.” “ Keren ? Ganteng ?” “ Mirip banget sama kak Andro, beda style aja. Ukuran standard sih keren dan ganteng diatas rata rata.” “ Dia belum menikah … kata suamiku. Ternyata mereka satu angkatan waktu kuliah.” “ Ups, aku pikir sudah.” Tiba tiba terlintas dokter perempuan yang tadi dilihatnya tengah memeluk lengan Arfa ,” Tapi kelihatannya sebentar lagi.” “ Oh ya …. ?” “ Heem … tadi ada dokter cantik yang aku lihat cukup dekat, bahkan akrab dengan orang tuanya.” “ Lempeng gitu sih ….. “ “ Maksudnya, kak ?” Anin mengerutkan kening mendengar nada kesal itu. “ Gak tertarik ?” Anin tertawa ,” Oh … itu maksudnya.” “ Ish …. Kamu nih.” Ayu mendengus kesal. Tok … tok …. “ Kelihatannya aku sudah dijemput.” Anin bergerak membuka pintu, mengangguk pada Arfa ,” Sudah dulu ya kak … nanti kalau sudah dirumah aku kabari.” Dimasukkannya ponsel ke saku celananya. “ Sudah siap ? Ada yang bisa aku bantu bawa ?” Arfa menatap kopor kecil dan tas yang sudah rapi diatas tempat tidur. “ Dokter mau bantu bawa koper atau gendong Tara ?” Arfa memilih mengangkat lembut miniaturnya yang tengah terlelap itu. Ada kehangatan yang tidak biasa saat bocah ini dalam pelukannya. Bukan pertama kali ia menggendong anak kecil, tapi tidak seperti ini. Mungkin karena ada darah keluarganya disitu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD