“ Tetap tidak dikehendaki …?” pertanyaan Arfa membuat orang tuanya segera menyudahi membaca surat pendek itu.
Anin mencoba tersenyum walaupun terlihat nyata senyum itu getir. Menarik keluar kotak tipis dari dalam amplop besar ,” Ini benda benda yang pernah diberikan kak Andro pada kak Tania, dan ini ….” diulurkannya amplop yang sudah nampak lusuh ,” Ada cek kosongan didalamnya …. dan surat yang menyatakan kak Andro membebaskan kak Tania menarik berapapun.” ditelannya ludah ,” Untuk menggugurkan Tara.” lanjutnya dengan kesedihan dan sakit hati yang tidak ditutupi.
“ Andro …...” Ny Rahadi menelusup ke pelukan suaminya.
Sementara Arfa meraih amplop itu dan membukanya, mengeluh pelan mengenali dengan jelas tulisan dan tanda tangan adiknya.
“ Apa kamu baru mengetahui ini Anin ?”
“ Tentang cek itu ? Tidak, dari awal kakak sudah memberitahukannya pada saya. Dan kakak tidak berniat menggunakannya. Tara akan sepenuhnya jadi tanggung jawab dan milik kak Tania.” Rahangnya sedikit mengeras dengan tatapan sedih ,” Tapi kalau saya harus menemui kak Andro dan membicarakan ini … iya. Kak Tania berpesan untuk memberikan ini kepada saya setelah 100 hari kepergiannya.”
“ Mengapa ?” tanya perempuan parobaya yang masih terlihat shock itu
“ Entahlah, bu. Karena dari awal kak Tania sudah bertekad membesarkan Tara sendiri … bersama saya.” ditariknya nafas saat suaranya sedikit bergetar ,” Tapi pasti kakak punya alasan berubah pikiran disaat saat terakhirnya.”
“ Apa yang terjadi dengan Tania ?”
“ Mania .., akit,kuyus tlus tidul lama, tinggalin Taya main ke culga.” sahut Tara sambil mendongkak menatap Anin, lalu meletakkan wadah es krimnya dan kembali ke pangkuan Anin ,” Bua angis ? Cup cup ada Tala.”
Anin memeluk Tara, tidak membiarkannya tahu ia menangis .
Arfa merasa dadanya sesak melihat Anin mengatur nafas, berusaha keras menahan airmatanya tumpah.
“ Bua ….” Tara berontak karena dipeluk begitu erat ,” Bua gak oleh angis, nanti jeyek lho.”
Anin tersenyum ,” Ok, Bua gak nangis lagi.”
“ Pintel, toss” Tara mengulurkan tangannya disambut Anin.
“ Kalian isitrahat dulu, ibu akan minta disiapkan makan malam.” Ny Rahadi memilih berdiri mencari waktu bagi dirinya untuk menangis … Bagaimana kamu bisa menahannya seperti itu, Anin ? Berapa lama kamu menahan diri di depan cucuku ? …
“ Pak … apa yang harus dilakukan sekarang ?”
“ Beri kami waktu Anin, ini …. mengagetkan kami semua. Seorang cucu yang ….” ditariknya nafas panjang.
Anin menggigit bibirnya ,” Kalau perlu tes …..”
“ Arfa akan mengurusnya.” potong Tn Raharsya ,” Bukan berarti kami meragukannya … “
“ Kamu sendiri ? Perlu tes itu ?” tanya Arfa, tahu bahwa gadis disampingnya langsung pucat saat menyadari kemiripannya dengan Tara saat dalam gendongannya tadi.
“ Ya … untuk memastikan …" menggantung kalimatnya, Anin memilih mencium ujung kepala Tara yang masih bergelung dipelukannya sambil mempermainkan sweater Anin.
“ Kamu berapa hari disini ? Kapan rencana pulang ?”
“ Secepatnya.”
“ Aku coba mempersiapkannya besok, bisa tinggal sampai akhir pekan ?”
Anin mengangguk ,” Kapan saya bisa menemui Kak Andro ?”
Arfa berpandangan dengan papanya ,” Setelah hasil tes keluar.”
“ Anin … kalian menginap dimana ?” Ny Rahadi kembali.
Anin menyebutkan nama penginapannya, tersenyum kecil melihat perempuan itu berusaha menutupi sisa tangisnya. Setidaknya ia tidak membuat Tara tidak nyaman dengan tangisannya.
“ BIsakah kalian menginap disini ?” pintanya hati hati.
Anin tercenung … mereka ingin didekat Tara … diusapnya punggung Tara lembut ,”Tidak malam ini ya, bu ...Saya sudah mengiyakan untuk pulang setelah akhir pekan, setidaknya ijinkan kami kembali ke penginapan malam ini.”
“ Tara …. tara suka ikan ?” tanya Ny Rahadi melihat mainan nemo yang tengah dimainkan lelaki kecil itu.
Tara mengangguk ,” Kan ….”
“ Nenek punya ikan disana.” ditunjuknya aquarium besar diruang tengah ,” Mau lihat ?”
Tara menengadah ,” Bua oleh ? Kan ?”
Anin tersenyum dan mengangguk, menurunkan Tara ,” Bua tunggu disini ya …"
Ragu ragu Tara menyambut uluran tangan Ny Rahadi setelah kembali melihat Anin mengangguk.
“ Ada bagian dari dirimu yang menginginkan hasil tes negatif .”
Anin tersenyum lemah ,” Pertanyaan atau pernyataan ?”
“ Tebakan.”
Anin menghembuskan nafas sedikit keras sebelum menengadah.
“ Kamu pikir air mata gak jadi keluar kalau menengadah seperti itu ?” Arfa tertawa kecil.
“ Gak juga …. tapi setidaknya membuatku merasa lebih kuat ketimbang harus menunduk.” diraihnya gelas dan meneguknya sampai habis
Alih alih memikirkan hubungan Tara dan Andro, otak Arfa lebih dipenuhi pertanyaan kapan ia pernah bertemu gadis ini dan dimana ? Apa yang membuatnya merasa mengenali gadis ini sementara Anin sama sekali tidak mengingatnya ?