Apakah Aku Harus Kehilangannya?

395 Words
Anin bergantian menatap mereka , tercekat ketika menyadari kemiripan yang luar biasa antara Tara dan Arfa … dipandanginya wajah kedua orangtua Arfa yang tertegun dengan mata basah serta senyum haru … apakah ini artinya aku harus melepaskan Tara … “ Bua …...” seakan merasakan kesedihannya, Tara mencondongkan tubuh kearah Anin, segera memeluk erat dan menyurukkan wajah ke lekuk leher Anin begitu gendongannya berpindah. Arfa memberi tanda untuk membiarkan gadis yang tanpa sadar memeluk erat lelaki kecilnya dengan wajah sedih “ Ayo masuk dulu.” diraihnya punggung Anin. “ Duduklah.” “ Terima kasih.” “ Siapa namamu ? Dan nama jagoan kecil ini ?” Suara Tn Rahadi menyentakkan Anin ,” Saya Anin dan ini Tara.” “ Kita pernah ketemu, kan Nin ?” Anin memperhatikan perempuan yang tetap nampak elegan hanya dengan baju rumah berpotongan sederhana itu ,” Iya, bu … sekarang saya ingat.” sahutnya yang langsung mengaitkan dengan saat ia bertemu Arfa sebelumnya. “ Minumlah dulu.” Arfa meletakkan segelas air ,” Tara, ini … makan es krim mu.” Lelaki kecil itu segera melepaskan pelukannya dan merosot turun menerima es krim setelah melihat Anin mengangguk menyetujui. Diteguknya air sedikit membasahi tenggorokannya yang tiba tiba terasa kering kemudian duduk mengaitkan kedua tangannya dipangkuan. Ditariknya nafas panjang sebelum mengangkat wajah dan mencoba tersenyum menutupi kegelisahannya ,” Bapak … Ibu …. sebelumnya saya minta maaf tiba tiba datang.” Tn dan Ny Rahadi hanya mengangguk kecil, membiarkan Anin melanjutkan. “ Saya tadi sudah diberitahu bahwa kak Andro sudah menikah.” terlalu fokus untuk menangkap perubahan raut wajah Arfa yang duduk disampingnya ,” Saya … dan Tara tidak ingin mengganggu kehidupan kak Andro dan keluarga besar, tapi …... Bagaimanapun semua berhak tahu bahwa ada darah kak Andro dalam tubuh Tara.” diusapnya kepala bocah yang asyik menikmati es krim sambil duduk lantai, bersandar ke lututnya ,” Kalau ingin memastikan, kak Tania mempersilahkan untuk tes DNA.” Tn dan Ny Rahadi bertukar pandang. Anin mengulurkan surat yang tadi dibaca Arfa ,” Bapak dan ibu bisa membaca itu, tapi yang ini … ijinkan saya menyerahkan langsung ke kak Andro.” diaturnya nafas mengamati bagaimana ekspresi kedua orang tua Andro membaca surat itu ,” Saya minta waktu sedikit saja, kalaulah memang kehadiran Tara tetap tidak dikehendaki ….. kami akan pulang dan Tara dalam pengasuhan saya untuk selamanya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD