Anin menggeleng ,” Pesannya adalah menyampaikannya pada kak Andro.” Ditatapnya lelaki itu menghembuskan nafas ,” Apa kak Andro sudah menikah ?”
“ Ya … empat tahun yang lalu.”
Anin menggigit bibirnya.
Arfa mengerutkan kening melihat perempuan dihadapannya, kesedihan terlihat jelas …. ,” Dia anak Andro ?” kesadaran akan kemungkinan itu menghantam kepalanya.
“ Ya.”
“ Anakmu ?”
“ Bukan …. Anak kakakku.”
Arfa bingung saat mengenali ada rasa lega mengalir lembut didadanya ,” Aku akan mewakili Andro.”
“ Bisakah saya bertemu kak Andro ?” Anin mengatupkan dua tangannya ,” Tolong ….”
Arfa masih terdiam.
“ Kak Andro sudah menikah, tapi ini amanat. ijinkan saya menyerahkan surat dari kak Tania.”
“ Kamu punya apa untuk membuktikan dia anak Andro ?”
Anin menepuk amplop tebal yang dibawanya ,” semua ada disini.”
Arfa menimbang apakah perlu membawa mereka ke rumah orangtuanya.
“ Saya tidak bisa memberikan surat untuk kak Andro …. tapi, …"
Arfa menunggu.
Anin menghembuskan nafas, menyodorkan amplop putih ,” Selain mungkin berisi ungkapan rasa yang bersifat pribadi dari kak Tania untuk kak Andro … disitu dikatakan isinya hampir sama dengan yang disampaikan kak Tania pada saya. Ini surat yang ditinggalkan kak Tania untuk saya melalui dr Ayu yang merawatnya selama ini. Silahkan, bacalah ini dok.”
“ Bagaimana kamu yakin aku saudara Andro ?” tanya Arfa sambil membuka amplop dan lipatan kertas didalamnya. Ada beberapa tempat bekas tetesan air yang memburamkan tulisan rapi itu … dan ia yakin itu air mata Anin saat membacanya.
Anin mengeluarkan selembar foto dari amplop ,” Dokter sangat mirip dengan kak Andro, beda gaya aja.”
Arfa tersenyum melihat foto Andro dengan perempuan berambut panjang yang nampak lembut itu ,” Tania ?”
Anin mengangguk dan memasukkan kembali kedalam amplop ,” Bacalah sebentar, saya menemui Tara.”
Arfa membaca perlahan, termenung sejenak sebelum meraih ponselnya. Dari tempatnya mengambil gambar Tara yang sedang tertawa lebar di seluncuran dan mengirimkannya.
Dan tidak sampai lima menit ponselnya bergetar ,” Pa …"
“ Ajak mereka kesini, lebih nyaman bicara dirumah.”
“ Baik, Pa.” dihampirinya Anin dan jongkok disampingnya ,” Bisakah kita menemui orangtuaku ?”
“ Tara juga ?”
Arfa mengangguk.
“ Kapan ?”
“ Sekarang kalau mau.”
Anin berdiri, memejamkan mata saat tubuhnya sedikit limbung … sekarang atau nanti tetap saja harus kamu hadapi ini ... ,” Baiklah.”
Arfa membaca pergulatan di mata coklat yang menyerupai mata anak rusa itu.
“ Tara … ikut Bua pergi yok, Tapi kita ambil mainan sama s**u Tara dulu diatas.”
Lelaki kecil itu cemberut.
“ Kita mampir beli jajan, eskrim ?”
Mata itu membulat ,” Etim okat.”
Arfa mengangguk ,” Aku akan menjaganya kalau ada yag perlu kamu ambil diatas.”
“ Tara harus bebersih sebentar, permisi.”
Arfa melihat bahu gadis itu menegang waspada sebelum meraih amplop diatas meja dan membawanya naik ,” Good, kamu cukup berhati hati.”
Tidak sampai setengah jam keduanya sudah kembali. Tara nampak segar dengan setelan birunya, sementara Anin hanya menambahkan sweater tipis diatas blus yang tadi dipakainya. Arfa tersenyum melihat tas berukuran cukup besar yang dibawa Anin ,” Ayo.”
Anin memeluk erat Tara tanpa alasan yang jelas.
“ Kalian tinggal dimana ?”
Anin menyebutkan kota kecil dikaki gunung yang bisa ditempuh dua sampai tiga jam perjalanan.
“ Sering kesini ?”
“ Kadang kadang, kalau ada yang berhubungan dengan pekerjaan.”
“ Boleh tahu kamu kerja dimana ?”
“ Dirumah, kecuali saat terpaksa harus menemui klien.” Anin menatap lelaki yang terlihat memaksakan diri untuk bersikap biasa ,” Aku punya toko online, dibantu beberapa teman. Aku bisa melakukannya dirumah sambil menjaga Tara.”
“ Gak usah defensif seperti itu.”
Anin tersenyum, menyadari apa yang dikatakan Arfa benar ,” Maaf … Apa lagi ? Pasti ada banyak pertanyaan mengingat saya tiba tiba muncul seperti ini.”
“ Nanti saja …, orangtuaku akan bertanya lebih banyak.”
Apakah Andro seperti dokter ini ? Kalau iya … rasanya tidak mungkin memberikan uang itu pada kak Tania untuk menggugurkan Tara.
“ Ada yang mau kamu tanyakan ?”
“ Apa dokter sudah menikah ?” menutup mulut melihat lelaki itu menatapnya dalam ,” Maaf … karena tadi dokter bilang ka Andro sudah menikah dan ….”
“ Aku lebih tua ?”
“ Ehm … maksud saya … kalau sudah dan punya anak ….” tiba tiba matanya memanas.
Arfa menghentikan mobilnya dihalaman rumah orangtuanya, menatap gadis yang menengadah sambil membuang muka kearah jendela sambil mengatur nafas. Seperti dejavu … Arfa kembali mengingat ingat dimana dia bertemu gadis ini.
“ Sudah sampai ?”
Arfa tergagap dan membuka sabuk pengaman dan pintu ,” Ayo masuk.”
Anin membuka pintu.
Sementara itu dua pasang mata nampak berkaca kaca mengamati dari balik jendela lebar saat Arfa mengeluarkan menggendong Tara yang terbangun dari tidur singkatnya di kursi belakang dan menunggu gadis yang meraih tas.
“ Pa … itu gadis yang menolong nenek Omi, yang mama ceritakan waktu itu.” Ny Rahadi menghapus airmatanya dan bergegas membuka pintu.
“ Ma …..” Arfa menegur kedua orangtuanya yang tertegun menatap lelaki dalam gendongannya.
“ Ini …... “