Rasa Kemanusiaan

1188 Words
“Mana Rey? Mana calon istri yang mau kamu kenalkan ke Mama? kamu nggak mikir perasaan Papa yang tiap hari takut mati sebelum melihat kamu nikah, Rey?” sudah hampir satu minggu berlalu, Rey kembali diungkit soal calon istri oleh mamanya. Lelaki itu memijat pangkal hidungnya. Dia terlalu sibuk memikirkan Freya sampai lupa kalau mamanya akan menagih janji dengan menerima tantangannya. “Ma, aku minta waktu tiga bulan lagi, bisa nggak Ma?” pinta Rey dengan nada memohon. “Capek banget mama dengar kamu minta waktu udah dari tahun lalu. Ingat Rey, kamu itu udah tiga puluh lebih.” mama kembali mengingatkan. “Nggak perlu mama ingatin, aku juga ingat,” sahut Rey tak mau kalah. Bayangkan, sore itu dia baru pulang dari luar setelah menjalani segudang aktifitasnya sebagai seorang dosen. Pulang-pulang, dia sudah ditagih calon istri oleh mamanya. “Kalau memang kamu nggak mampu nyari, biar Mama siapkan—“ “Enggak usah,” sahut Rey cepat. “Apa sih kurangnya kamu, sampai nggak ada perempuan di dunia ini yang mau sama kamu, Rey?” keluh sang mama. “Ada kok, ada. Oke satu minggu lagi, ya?” “Kamu nggak penyuka sesama, kan, Rey?” tuduh Mama. “Astaga Mama!” “Makanya, jangan bikin mama khawatir.” “Satu minggu lagi, ya Ma?” wanita paruh baya itu mengangkat bahunya. “Nanti udah waktunya satu minggu, kamu pasti minta waktu lagi. Gitu aja terus sampai mama atau papa mati.” “Ya ampun Ma, mulutnya nggak bisa direm sedikiiit aja.” perkara membicarakan soal jodoh, mama papanya selalu saja membawa-bawa kata mati. Tentu saja bertujuan untuk menakut-nakutinya. Walau sebenarnya Rey tidak sekhawatir itu, tapi dia mulai bosan mendengar ocehan mamanya yang setiap hari itu-itu saja. “Nggak bisa. Pokoknya mama bakalan teror kamu terus sampai kamu bawa calon istri kamu ke hadapan papa dan mama.” tegas wanita itu. “Ma, janji ya satu minggu lagi.” Rey memohon. Dan karena permohonannya itu, dia mendapat lirikan tajam dari mamanya. “Habis satu minggu, terus minta lagi waktu satu bulan, satu tahun-“ “Enggak Ma, kali ini aku serius.” “Emang nggak ada perempuan yang kamu suka? di kampus tempat kamu ngajar, nggak ada dosen-dosen muda yang masih single. Atau mungkin mahasiswa kamu sendiri. Kamu itu harus percaya diri jadi laki-laki. Nggak ada kurangnya, duit punya, kerjaan tetap juga punya. Tampang apalagi, aduh Rey jangan buang-buang waktu kamu.” Rey sengaja membiarkan mamanya mengomel panjang sampai puas. Padahal, mama datang membawa makanan kesukannya, tapi makanan itu sama sekali tidak menggungah seleranya karena dibahas soal menikah terus-terusan. “Mama nggak pingin pulang?” pertanyaan Rey memang terdengar kejam karena secara tak langsung dia sedang berusaha meminta mamanya segera pergi dari rumahnya. “Kenapa? bosan kamu dengar omelan mama?” Rey tersenyum masam. “Aku ada janji sebentar lagi, aku harus keluar. Kalau mama masih mau di sini, ya nggak apa-apa.” bohong. Padahal Rey taj ingin pergi kemanapun. Hanya ada satu cara agar mamanya segera pulang, yaitu dia pura-pura pergi meninggalkan rumah. “Ya udah mama pulang kalau gitu. Jangan lupa dimakan, makanannya.” “Iya mama sayang. Hati-hati. Mama bawa mobil sendiri?” “Iya.” “Wah, bikin khawatir aja.” “Kamu nggak perlu khawatirkan mama karena nyetir sendirian, yang perlu kamu khawatirkan itu kalau mama dan papa meninggal sebelum bisa gendong cucu dari kamu.” tegas Naili, sambil menunjuk tepat ke wajah Rey. Lalu wanita lanjut usia itu berlalu pergi. “Hati-hati, Ma. Jangan nyetir dalam keadaan kesal.” Naili tak lagi mempedulikan kata-kata anak laki-lakinya. Dia masuk ke dalam mobil, lalu mengendarai mobil, keluar dari perkarangan rumah Rey. Saat melewati rumah tetangga Rey, Naili menoleh karena melihat sosok gadis yang sedang berdiri di depan pagar rumah, sambil membongkar tempat sampah. Gadis itu juga tampak sedang menangis terisak. Suasana komplek perumahan yang nyaris sunyi di siang hari seperti ini, membuat Rey bisa mendengar suara-suara yang ada di sekitarnya, termasuk suara tangisan seseorang yang nyaris mirip dengan suara kucing anak kucing hingga Rey sulit membedakannya. “Cari, sana! kamu cari aja di tong sampah itu, flashdisk kamu ada disana! Makanya, kamu harus bisa bagi waktu, antara kuliah dan pekerjaan rumah. Bisa-bisanya kamu masak sambil ngerjain skripsi, sampai pancinya kering. Kalau sampai kebakaran gimana? kamu sengaja mau bakar rumah?” Rey yang hampir menutup pintu rumahnya, langsung mengurungkan niat. Dia mendengar jelas suara teriakan seorang perempuan dengan nada tinggi. Siapapun yang mendengar suara itu, pasti tahu kalau orang itu sedang emosi. Rey tak perlu lagi menerka… Sudah pasti si gadis mungil tetangganya itu sedang dimarahi oleh pemilik rumah. “Ma-maaf Tante, soalnya aku harus selesaikan revisi hari ini karena besok pagi—“ “Itu terus alasanmu. Kalau tadi saya nggak keluar dari kamar, mungkin rumah ini benar-benar kebakaran. Puas kamu?!” Rey tak seharusnya kepo dengan urusan orang lain, tapi untuk kali ini, dia tak bisa menahan lagi. Menurutnya, ini sudah keterlaluan. Hingga lelaki itu melangkahkan kakinya ke halaman rumah, mengintip sedikit melalui celah-celah pagar rumahnya untuk melihat apa yang terjadi. Seorang gadis berkerudung yang memakai pakaian rumahan, sedang membongkar tempat sampah. Saat memastikan kini gadis itu sedang sendirian dan tak ada siapapun di sekitarnya, Rey meluruskan niat untuk menghampirinya. Mungkin saja dia bisa membantu. Niatnya tulus hanya untuk membantu, tanpa ada maksud yang lain-lain. “Hai, maaf kalau saya terkesan ikut campur. Kamu lagi nyari apa?” Echa langsung menoleh, mendengar suara yang begitu dekat dengannya. Tampak seorang lelaki yang dia tahu itu adalah tetangga barunya karena seminggu yang lalu baru berkenalan, tapi sayang sekali Echa lupa namanya. “Sa-saya… lagi nyari flashdisk Pak. Jatuh ke dalam sini.” Echa menunjuk tempat sampah yang sebagian isinya sudah dia keluarkan, kini Echa sedang membongkar satu kantong plastik besar di yang dia yakini ada flashdisk berisi hasil revisiannya di dalam sana. Satu jam lalu, Echa sedang memasak, tapi sambil merebus sayuran, Echa pergi ke kamar untuk memastikan sesuatu yang berkaitan dengan skripsinya. Echa yang pikirannya terpecah belah, tak mampu mengingat banyak hal termasuk masakan sayuran yang sedang direbunya hingga Echa meninggalkan kompor yang masih menyala itu selama satu jam. Air di dalam panci sudah kering, sayur yang ditebus juga nyaris gosong hingga menimbulkan aroma tak sedap, memancing Merry si tante kejam untuk keluar dari kamarnya. Alhasil, wanita itu marah besar, menghampiri Echa yang sedang berada di kamar. Merry langsung menarik flashdisk miliknya yang masih terpasang di laptop, lalu membawanya keluar dan memasukkan ke dalam salah satu plastik di dalam tempat sampah. “Saya bantu, ya?” Rey menawarkan diri, sebenarnya dia enggan sekali berurusan dengan hal-hal yang kotor seperti ini, tapi tidak apa-apa, kali ini dia akan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan terhadap sesama. “Eh Pak, ngg, nggak usah, ini sampah loh.” Echa mengusap air matanya dengan kerudung. Dia sudah tidak lagi peduli dengan bagaimana penampilannya di hadapan si tetangga baru, yang penting, flashdisknya ketemu. Echa tidak bisa menyimpan filenya langsung di dalam laptop, karena laptop itu adalah milik temannya yang Echa pinjam selama beberapa minggu belakangan ini. “Nggak apa-apa.” tanpa Ragu, Rey ikut membongkar salah satu kantong plastik yang ada di sana. “Ma-makasih Pak.” “Iya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD