Perkenalan

1089 Words
Ini gila! bisa-bisanya Rey malah menerima tantangan konyol mamanya, yang menginginkan dia segera menikah. Rey menerima tantangan sang mama untuk segera memperkenalkan calon istrinya pada mamanya dalam minggu ini. Masalahnya siapa dia? wanita mana yang akan dia perkenalkan? Jika tidak ada, mamanya akan memaksanya untuk menikahi Debby, wanita yang jelas-jelas sama sekali bukan tipenya. “Freya.” dia bergumam. Malam itu, Rey kebingungan kemana harus mencari calon istri. Satu-satunya wanita yang masih mengisi relung hatinya sejak sepuluh tahun silam, sampai saat ini dan hanya ada wanita itu di dalam hatinya. “Apaan sih Rey? gue masih ngantuk.” Iseng, di tengah malam Rey melakukan panggilan video pada Freya yang berada di beda benua dengannya. Jelas saja Freya mengomel, karena di sana pasti masih terlalu pagi. “Kangen. Kapan pulang?” “Lo ngelanturnya nanti-nanti aja bisa nggak? gue mau tidur lagi.” mata Freya masih terpejam erat, meski dia mengarahkan kamera pada wajahnya. “Gue nggak ngelantur ya, tolong.” balas Rey. “Lo kan tau gue pulangnya masih tiga bulan lagi.” “Gue mau nikah, Fre.” “A-apa?!” sentak Freya yang saat itu berusaha membuka matanya lebar, berharap dia salah dengar ucapan Rey barusan. “Sama siapa Rey? lo nggak nunggu gue pulang dulu? lo tega, nikah tanpa kehadiran, gue Rey?” Freya langsung bangun, sambil membenarkan rambutnya. Sementara lelaki yang sedang menatapnya melalui layar ponsel hanya senyum-senyum tak jelas. Bangun tidur aja bisa secantik ini. Puji Rey dalam hati. “Nikahnya sama lo, makanya buruan pulang,” sahut Rey dengan nada datar. “Sumpah ya Rey, ini tuh masih pagi banget di sini. Dan lo tau, tadi malam itu gue baru pulang jam 1. Jadi tolong jangan buang-buang waktu gue untuk bercanda nggak penting” omel Freya. “Gue nggak bercanda. Gue pingin nikah sama lo. Nggak bisa dipercepat, Fre? pulangnya?” Hening. Selama beberapa detik tidak ada jawaban dari seberang sana, bahkan Rey tidak bisa melihat wajah Freya saat itu. Yang terlihat olehnya hanyalah plafon kamar apartemen Freya. “Frey, lo di sana, kan?” “Iya Rey. Lo se frustasi itu ya, sampai harus ngajak gue nikah?” meski terlihat santai dan tertawa kecil, sejujurnya Freya sedang menahan gugup. Sebenarnya mereka paham tentang perasaan masing-masing, hanya saja berusaha saling menutupi demi menjaga persahabatan yang sudah terjalin selama belasan tahun. “Lo paham, perasaan gue Fre. Gue mau serius dan sehidup semati sama lo.” tegas Rey. Kembali hening, karena Freya sedang berpikir harus menjawab apa. Dia senang sekali, ungkapan Rey barusan benar-benar membuat hatinya bergetar. “Kasih gue waktu, Rey.” “Tapi gue nggak punya banyak waktu, Fre—“ “Tapi gue nggak bisa pulang secepat yang lo mau.” balas Freya. “Setidaknya lo kasih gue kepastian, iya atau enggak, Fre…” Wajah Rey tampak memelas. “kasih gue waktu, Rey.” “Oke. gue cuma mau lo tau, kalau perasaan gue nggak pernah berubah walau kita jauh-jauhan. See you Frey.” Rey menutup panggilan telepon sepihak. Ada rasa kecewa dan penuh harap setelah dia mengungkapkan cinta yang kedua kalinya untuk Freya. Sungguh, dia hanya ingin menikahi wanita itu seumur hidupnya. Hanya Freya. Tapi jika seperti ini ceritanya? dia harus bagaimana? Mata Rey kembali tertuju pada kotak bekal yang ada di meja, sudah dicuci bersih namun rencananya untuk mengembalikan kotak bekal itu kepada tetangga malah gagal karena kedatangan mamanya. Rey kembali pada niat awalnya, pergi ke rumah sebelah. * Keysha Amora, kamu mempermainkan saya? saya sengaja meluangkan waktu untuk kamu hari ini. Tapi kamu sudah terlambat satu jam. Saya pikir, kamu yang memang tidak serius menyelesaikan skripsi. Saya nggak punya banyak waktu. Karena kamu nggak temui saya hari ini, temui saya bulan depan setelah saya selesai umroh. Di depan pintu gerbang rumah, air mata Echa kembali mengalir deras. Dia menangis tanpa suara setelah membaca pesan dari dosennya. Pupus sudah harapannya untuk bisa menyandang gelar dalam bulan ini. Echa menatap pintu rumah yang selama ini menjadi tempatnya berteduh, namun tak layak untuk disebut tempat ‘pulang’ karena berada di sana, sebenarnya membuat Echa merasa asing. Karena Tante Merry yang begitu tega memintanya menyelesaikan pekerjaan rumah di waktu genting, mengakibatkan rencananya gagal. Echa semakin membenci mereka semua. “Aku benci kalian. Aku bersumpah, akan secepatnya pindah dari rumah penuh derita ini.” Echa bergumam seraya menghapus air matanya, tanpa menyadari ada seseorang yang sedang menatapnya dengan jarak sepuluh meter. “Permisi, Mbak.” dengan sepasang mata yang masih memerah, Echa melirik ke arah sumber suara. Seorang lelaki dewasa terlihat sedang berjalan ke arahnya, Echa langsung memalingkan wajah karena menyadari pasti wajahnya cukup berantakan selesai menangis. “Saya mau kembalikan kotak bekal ini.” Rey berdiri tepat di hadapan Echa. Tanpa mau bertatapan dengan lelaki di hadapanny, Echa hanya menatap kotak bekal di tangan lelaki itu. ini kan yang dibawa Olive pagi tadi? dia bertanya dalam hati. “Saya tetangga baru, di sebelah, Mbak.” lelaki itu kembali bersuara. Sementara Echa masih enggan bertatapan, dia hanya menunduk sembari meraih kotak bekal itu. “Iya Om,” sahut Echa singkat. Sungguh saat ini dia tidak berminat untuk berbicara dengan siapapun. Rencananya hancur. Revisi yang sudah dia selesaikan hingga jam dua pagi, tidak bisa Echa serahkan pada dosennya. Om? gue nggak setua itu, kali. Rey menggerutu, mendengar panggilan Echa padanya. “Makasih, ya Mbak. Masakan Mbak enak banget.” mendengar lelak itu memuji masakannya, Echa akhirnya menegakkan kepala. Pemandangan yang didapatnya adalah senyum tulus lelaki berparas lumayan itu. Ya, bagi Echa lelaki di hadapannya belum cukup untuk disebut tampan, hanya lumayan karena Echa memiliki standart lelaki idaman yang agak berbeda dari paras Rey. “Om, kok tau itu masakan saya?” dengan napas yang masih tercekat karena sakit hati, Echa bertanya. “Saya hanya menerka,” sahut Rey singkat. “Kalau begitu, saya permisi Mbak. Mungkin Mbaknya mau pergi.” Rey pamit dengan sopan tanpa perlu bertanya dan berbasa-basi dengan gadis yang tengah menangis itu, karena sedikit banyak Rey sudah mengerti penyebabnya. “Iya Om.” Echa melirik ke dalam rumah, cukup enggan jika harus masuk lagi hanya untuk meletakkan kotak bekal ini, akhirnya dia memasukkannya ke dalam tote bag. “Btw, maaf. Saya belum setua itu, untuk dipanggil dengan sebutan Om.” Rey kesal jika harus menerima begitu saja. Echa tersenyum kaku. “Maaf Pak. Saya nggak tau.” “Rey.” Lelaki itu menyodorkan tangan sambil menyebut namanya, untuk memperkenalkan diri. sedangkan Echa hanya menyatukan kedua tangannya saja tanpa mau bersentuhan. “Keysha,” balasnya. Rey tersenyum singkat sebelum pergi. Sepertinya baru kali ini ada wanita yang menolak berjabat tangan dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD