Tantangan Mama Rey

1109 Words
“Oh bukan Pak, mereka nggak punya ART. Mbak Echa itu keponakan Pak Bara. Tapi mereka perlakukan layaknya pembantu. Warga komplek sini udah pada tau, Pak. Pada kasihan sama Mbak Echa, apalagi sering dimarahin di halaman rumah, kayak sengaja mempermalukan begitu-“ “Hai Pak Rey, selamat pagi.” seorang gadis melenggang santai dari pgar rumah menuju teras rumah Rey. Tanpa peduli lelaki itu sedang terlihat bicara serius dengan seseorang. “Pak, saya permisi dulu kalau begitu, hati-hati Pak. Jangan sampai terjebak.” lelaki itu memperingati Rey, sebagai ketua RT yang baik. Dia juga sengaja memelankan suaranya sebelum wanita bernama Olivia itu semakin mendekat. “Baik Pak, terima kasih. Hati-hati,” sahut Rey. “Ada apa?” Rey to the point tanpa basa-basi, telah mendengar sebagian cerita tentang tetangga sebelahnya itu, Rey merasa benar-benar ingin menjaga jarak. “Eum, ini Pak… saya mau kasih makanan, mungkin bapak belum sarapan.” Oliv menyodorkan sebuah kotak bekal pada Rey. ah sial, mau nolak tapi lapar. Kalau nerima nanti dia malah kegeeran lagi, kenapa tawaran datang disaat yang tepat sekali seperti ini? suara hati Rey sebelum dia menerima makanan itu dari Olivia. “Cuma nasi goreng sih Pak, tapi semoga bapak suka, ya?” ucap wanita itu lagi. Padahal, Rey belum tentu akan menerima. “Makasih, tapi… ini kotaknya gimana? saya pindahkan dulu-“ “Nggak usah Pak, nanti-nanti aja deh.” tolak Oliv. “Lagian saya juga buru-buru mau ke kantor.” Oliv menampilkan senyumnya dengan bangga atas pemberian makanan pada tetangga barunya itu. Dia merasa berhasil selangkah mendekati Rey. “Terima kasih sekali lagi, nanti saya kembalikan.” Rey melambaikan tangan pada Oliv. Hm, orang ganteng memang ada aja rejekinya. Alhamdulilah. “Santai aja Pak, kita kan tetangga bisa ketemu kapan aja.” Selepas kepergian tetangganyabitu. Rey langsung menutup pintu. Segera menuju meja makan untuk membuka kotak bekal dan sebeum mencicipinya, Rey membaca doa, takut saja barangkali ada sesuatu yang di letakkan di sini, karena dia ingat ucapan ketua RT tadi, bahwa kelurga di sebelah rumahnya sangatlah payah. Bisa saja Olivia punya niat lain padanya, kan? “Bissmillah…” Satu suapan lolos ke dalam mulut Rey, dia terperangah. Rasanya benar-benar nikmat. Sudah lama dia tidak menyantap makanan rumahan seperti ini. Memang, dari tampilannya terlihat sederhana. Namun, cukup bisa memanjakan lidahnya. Pikiran Rey mulai berkelana. Jika dikaji dari cerita si Ketua RT, bahwa gadis bernama Echa itu diperlakukan layaknya pembantu di rumah itu, bisa jadi masakan ini adalah buatannya. Rey segera menghabiskan isi kotak bekal itu, dia memiliki sebuah rencana. Tidak mau dianggap tetangga yang tidak tahu terima kasih, Rey mencuci kotak bekal itu sebelum mengembalikannya. Dia tak peduli, meskipun Olive mengatakan mengembalikannya nanti-nanti saja. Rey merasa harus singgah ke rumah di sebelahnya, karena penasaran akan sesuatu. Dengan sedikit tergesa, lelaki itu melangkah menuju pintu rumahnya. “Eh, Mama?!” dia terkejut ketika membuka pintu, terlihat sosok wanita yang cukup dikenalinya, berdiri di depan pintu rumahnya. Wanita yang dia sebut dengan panggilan mama itu, tidak sendirian. Melainkan bersama seorang wanita cantik yang sedang tersenyum ramah ke arahnya. “Ada apa, Ma?” tanya Rey. Dengan nada yang memperlihatkan dia tak suka akan kehadiran mereka. “Mama dan Debby mau mampir, lihat rumah baru kamu. Emangnya nggak boleh?” jawab sang mama. “Hai Mas Rey, apa kabar?” Debby menyodorkan tangan untuk bersalaman. Wanita itu tak asing lagi bagi Rey. Mereka sudah beberapa kali bertemu karena sebuah pertemuan yang sengaja diatur oleh mamanya. Di usianya yang sudah menginjak tiga puluh tahun, Rey diburu-buru untuk menikah. Sementara dia masih terlalu sibuk dengan dunia kerjanya, karir dan usahanya. Tapi si mama terlalu sibuk memintanya menikah dengan alasan ingin menimang cucu seperti teman-temannya yang lain. “Baik,” sahut Rey acuh tak acuh. Dia bahkan tidak menyambut uluran tangan Debby. “Hm, makanya cepet dihalalin dong Debbynya. Masa kamu salaman aja nggak mau, karena alasan bukan muhrim.” cetus mamanya. “Mama nggak disuruh masuk nih? kamu mau ke mana?” “Mau ke… nggak jadi.” Rey balik badan. Dia membuang napas kasar dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke tetangga. “Ya, silakan masuk Ma, Debby,” ucapnya terpaksa. Rey sangat menyayangi mamanya, hanya saja sejak mamanya suka memaksanya untuk mendekatkan diri dengan Debby, apalagi sering terang-terangan memintanya menikahi wanita itu, dia jadi seperti menjaga jarak dengan mamanya bahkan memutuskan pindah rumah dan tinggal terpisah dari orang tuanya dengan alasan tempat tinggalnya saat ini lebih dekat dengan tempat kerjanya. “Nyaman juga ya suasana di sini,” tutur Debby. Dia menatap sekeliling isi rumah Rey. Lalu tak sungkan duduk di sebuah sofa tanpa diminta. “Ya begitulah.” jawab Rey singkat. “Ya, apalagi kalau udah ada nyonya di rumah ini. Pasti kamu bakalan lebih nyaman lah! Ada yang masakin, ada yang ngurusin kamu Rey. Ya kan Debb?” wanita bernama Debby itu hanya tersenyum simpul, menatap ekspresi Rey yang jelas terlihat tak suka dengan sindirian mamanya. “Mama mau langsung aja nih. Kapan hubungan kalian mau diresmikan?” tanya mamanya lagi. “Resmikan apa, sih Ma?” “Ya kapan kamu mau melamar Debby?” “Kenapa aku harus melamarnya?” “REY!” Sentak sang mama. “Kamu ingat penyakit Papa?! Dokter bilang Papa nggak akan bertahan lama-“ “Cukup Ma!” sahut Rey cepat. “Aku tau.” “Permintaan sederhana papa, cuma ingin melihat kamu menikah, bahagia sebelum dia pergi!” “Oke aku akan menikah!” sahut Rey. “Bagus, kapan? baiknya kalian tunangan dulu.” “Tapi bukan dengan Debby!” sangkalnya lagi. “Jadi, dengan siapa?” tantang mamanya, yang saat itu langsung merasa tak enak dengan Debby karena jelas-jelas putranya itu sudah menolak. “Lihat aja nanti!” Mama tertawa mendengar jawaban Rey. “Udahlah Rey, berhenti mengada-ngada. Mama tau, kamu itu nggak punya calon. Bersyukur aja kenapa, sih? mama udah nyiapin buat kamu. Udah ada di depan mata, tapi kamu malah-“ “Kata siapa aku nggak punya calon?” Rey menjwab dengan yakin, karena memang ada seseorang yang sangat ingin dia nikahi, hanya saja waktunya yang belum tepat. Saat ini, Rey memang sedang menyukai seseorang. Tapi wanita pujaannya itu kini sedang berada jauh di luar jangakauannya. Mereka bersahabat sejak masa kuliah, terpisah jarak pula. Hanya berkomunikasi sesekali via telepon, chat atau video call. “Tunggulah sampai waktunya tiba!” lanjut Rey. “Tante, Debby mau pulang-“ mata wanita itu tampak berkaca-kaca. “Iya, ayo kita pulang!” Naili seakan menyerah mempengaruhi anaknya untuk menikahi perempuan pilihannya. “Oke Rey, Mama tunggu dalam minggu ini. Kalau memang kamu udah punya calon! kenalin ke mama dan papa!” ujar Naili lagi sebelum beranjak dari rumah itu. “Oke!” sahut Rey tanpa ragu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD