dimas datang menjemput laras janji an mau makan siang bareng. mereka menuju parkir mobil, lalu laras masuk dan duduk di kursi penumpang sedangkan dimas di kursi kemudi
dimas menghidupkan musik jazz kesukaannya. sambil bersiul mengikuti irama jazz
'bagaimana mas, kapan orang tua mas menjumpai mami papi" tanya laras pada dimas
"sabar ya sayang, orang tuaku masih sibuk, nanti mas kasitahu" jawab dimas sambil tersenyum
"tapi mereka setuju kan pertunangan kita?" laras penuh harap
dimas tersenyum dan mengangguk
"syukurlah, laras tunggu ya mas" mengelus elus dadanya, dilirik oleh dimas
akhirnya mereka sampai di rumah makan padang, mereka tidak membicarakan lagi tentang rencana dimas membawa orang tuanya, dimas sengaja menghindari pembicaraan itu. mereka cerita seputar pekerjaan di kantor dan kuliah laras. setelah selesai makan siang, lalu dimas mengantar laras kembali ke kantornya, dan kembali ke kantor dimas
saat di kantor, dimas duduk dengan siku tangan di atas meja dan jari saling terkait. wajah dimas menempel pada tangan dimas yang terkepal. pikirannya kacau dengan perkataan dino di klub kemarin, apa itu jalan yang terbaik? ah.... ini keputusan gila. dimas meremas remas tangannya....
lalu dia memfokuskan diri pada berkas berkas dipinggir meja kerjanya. membuka satu persatu dan membacanya dengan teliti
saat pulang kerja dimas datang ke rumah laras, disambut oleh mami laras
"ooo nak dimas, mari masuk" "mau minum apa nak?"
"air putih saja tante" "laras ada tan?"
"ada, bentar tante panggil ya nak" lalu tante yuni menghilang dibalik pintu kamar laras
laras keluar kamar, sepertinya dia baru mandi karena rambutnya masih basah
membuat pandangan dimas tertuju pada wajahnya yang cantik, libidonya naik memikirkan laras ada di bawah nya. hmmmm... sepertinya aku harus memakanmu, batin dimas
"maaf ya mas, lama menunggu" yuni duduk di samping dimas
"ah tak apa apa, malam ini ada acara tidak? temani mas jalan jalan yuk" dimas dengan senyum termanisnya
"tapi bentar saja ya mas karena malam mau temani mami ada urusan"
ok jawab dimas
mereka berpamitan pada yuni untuk jalan jalan seputar alun alun,
yuni mengangguk "hati hati ya nak dimas" dimas mengangguk pada yuni lalu mereka pun menuju alun alun
sampai di sana, mereka duduk di tempat duduk di taman alun alun, dimas menatap laras, membuat laras sedikit canggung
"ras, sebesar apa cintamu pada mas?" tanya dimas
"waduh tak bisa diukur mas" laras mulai tersipu
"seandai nya nanti saat pertemuan orang tua kita ternyata mereka tak menemukan titik temu kesepakatan, apa laras akan tinggalkan mas?" tanya dimas lagi
"jadi orang tua mas tidak setuju pertunangan kita?" tanya laras heran
"bu-bukan begitu ras, bisa jadi papi laras yang tidak setuju dengan pertunangan kita kalau ketemu orang tua mas" ujar dimas dengan suara parau
"laras bingung mas"
dimas berjongkok menghadap laras yang masih duduk di kursi, memegang kedua tangan laras dan mencium punggung kedua tangan laras bergantian
"apa laras mau kita buat anak, seandainya orang tua kita ada yang tidak setuju?" bisik dimas mendekatkan wajahnya pada laras
laras membulatkan matanya dengan alis terangkat, dan menjauhkan wajahnya dari dimas. apa dimas sadar dengan apa yang dikatakannya
"mas, jangan bercanda" yuni merinding takut
"he he he.... seumpamanya sayang, tapi itu tak mungkin terjadi. santai saja" dimas tertawa lalu balik duduk di samping laras. meletakkan tangannya di pinggiran sandaran kursi taman. laras menoleh pada dimas
dimas melihat sekeliling taman lalu pandangannya tertuju pada seorang kakek yang jual kembang gula,
"mau kembang gula?" tanya dimas mengalihkan cerita mereka yang membuat hati mereka sama sama kacau. laras mengangguk.
lalu dimas pergi membeli kembang gula karena dia tau kalo laras suka kembang gula,
masih dalam posisi duduk di taman. laras memikirkan apa yang dikatakan dimas, jantung laras berdetak kencang sampai rasanya pusing, semoga tidak ada halangan dalam hubungan mereka, laras terus memanjatkan doa, amin...
diujung alun alun, dimas yang sedang menunggu kembang gula mulai resah dengan ucapannya pada laras, dia tak bermaksud membuat laras takut tapi dia tak mau kehilangan laras
astaga, aku ngomong apa? aku tak mungkin menyakiti perasaan laras, maaf laras....
.....
'laras, mami papi tunggu di restoran biasa, jangan terlalu di forsir kerjaannya" mami laras menutup pembicaraan di ponselnya
lalu laras bergegas menuju tempat restoran di mana papi mami dan adiknya alva sedang menunggu
"setelah makan, kita bentar ke mal karena eyeliner mami habis"
"iss... mami, di rumah saja harus pakai eyeliner" alva mulai protes
'alva, mami harus terus kelihatan cantik di depan papimu nanti papi cari yang lebih cantik dari mami" mami mulai sewot
"tak bakalan mi, mendapat mami itu susahnya minta ampun, tak gampang papi beralih"
"gombal...." mami memanggil pelayan untuk meminta tagihan makan mereka
"I love u mami" papi merekatkan pinggang mami dan mencium penuh kasih sayang. mami cuma tersenyum
laras belum pernah mendengar mami mengatakan mami cinta papi, gengsi kayaknya hihi....
lalu mereka beranjak ke mal, saat menuju konter kosmetik. mereka bertemu dimas, dan orang tuanya
mami, papi, dan kedua orang tua dimas terkejut dan terdiam
"yah ini orang tua laras" dimas mulai mengenalkan mereka, walaupun tempatnya tidak tepat
"rian" "Hendra"
saat tante yuni mengulurkan tangannya, ibunya dimas tak menyambutnya membuat papi laras sedikit geram.
"ibu, maminya laras' dimas memegang lengan lusi
"saya ibunya dimas. baiklah karena kita sudah berkenalan. kami pergi dulu. selamat tinggal. ayo yah, ayo dimas"
laras sekarang yakin kalo ibunya dimas tak menyukai mami
......
di kediaman hendra
"akhiri hubunganmu dengan laras kalau kau memang sayang dengan ibu" ujar lusi
"ibu selama ini dimas menurut pada ibu, tapi tolonglah bu. restui hubungan kami" dimas memelas
"jangan jadi durhaka dimas!!!!" bentak ibunya
"ayah merestui kalian nak" tiba tiba hendra memotong perkataan lusi
"kalau sampai laras menginjakkan kakinya di rumah ini, ibu yang angkat kaki" lusi mulai mengancam
lusi meninggalkan anak dan ayah di ruang keluarga. mereka saling menatap
apa yang harus aku lakukan, batin dimas....lalu dimas pergi ke apartemennya yang kebetulan dekat dengan kantornya
"yah, aku ke apartemen" dimas menyalim ayahnya dan pergi menuju mobilnya
"hati hati ya nak, nanti ayah bujuk ibumu" dimas menoleh pada ayahnya, dia sudah pasrah
.....
.di kediaman rian
rian mengetuk pintu kamar laras. laras membuka "bisa papi masuk? laras tersenyum lalu melebarkan pintu agar papi bisa masuk
rian duduk di kursi meja rias laras sedang laras duduk di tepi ranjangnya menghadap papi. kedua tangan laras digenggam oleh rian
"laras bisa kita bicara nak?" papi pindah duduk di tepi ranjang laras
laras mengangguk lalu menoleh pada papi, dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan papinya. dia sudah pasrah
"laras sangat mencintai dimas?" laras mengangguk
"pernah dengar kalimat: cinta tak harus memiliki?"
"apa papi tak menyetujui hubungan kami?" tanya laras
"laras masih muda, cantik, pintar dan menarik. pasti banyak laki laki yang menyukai laras. sebaiknya jangan terburu buru ya nak" laras mengangguk, laras menangis.. rian memeluk putri kesayangannya tapi kalau sampai putrinya disakiti lusi betapa bodohnya dia sebagai orang tua
////
akhirnya laras sudah mantap dengan keputusannya, mengambil ponselnya mengirim chat ke dimas
"mas, mungkin ini keputusan berat, tapi hubungan kita tak dapat restu dari orang tua kita"
"semoga mas dapat penggantiku dan aku bisa mendapatkan pengganti mas"
"selamat tinggal mas"
dimas yang membacanya menjadi geram lalu menghubungi laras tapi laras tak mau menerima panggilan dimas
dimas semakin marah tapi dia tak tahu harus berbuat apa
kebetulan dino nge chat dimas;
- ketemu an yok?
sepertinya dimas harus minta pendapat dino, mungkin rencana dino harus segara dilakukan
- oke, di mana?
- kafetaria biasa
- aku segera ke sana