Empat Belas

877 Words
Faiz tak berhenti mengutuki kesialannya pagi ini. Dimulai dari terjatuh dari jendela dan berakhir bertemu dengan sahabat menyebalkannya yang membombardirnya dengan segala macam jenis pertanyaan. Ujung-ujungnya tetap saja dirinya dibully habis-habisan oleh sahabatnya itu. "Di sini senang... Di sana senang... Di mana-mana hatiku senang..." Faiz terus melirik Yudia yang duduk di kursi tengah melalui kaca spion yang langsung mengarah pada Yudia. Faiz juga melihat jelas raut wajah ceria Keanu yang duduk di kursi belakang bernyanyi bersama Yudia. "Dilihatin mulu. Nggak bakalan hilang kok, percaya deh sama gue," celetuk Rumi yang tengah menyetir melirik sekilas padanya. Faiz mendengkus pelan membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan mengabaikan celetukan Rumi. "Gue nggak nyangka, Bro... Lo pecah telor juga," ujarnya lagi menambah kedongkolan di dadanya. "Lo lagi nyetir mending nyetir saja, nggak usah banyak omong," sergahnya dengan nada malas. Faiz sebenarnya enggan ikut ke Puncak untuk melakukan piknik ini. Namun berhubung Keanu yang memelas dan juga semuanya sudah berkumpul. Jadilah dirinya terpaksa ikut. "Sayang, tadi aku ketemu orang lagi joging pakai kemeja," ledek Rumi berseru pada Janira. Seketika Faiz mendelik pada Rumi. Sial! Kenapa juga dirinya harus bertemu dengan si cumi ini pas waktu berbelok menuju kamarnya. "Siapa memang?" Janira mencondongkan tubuhnya pada Rumi menatap Rumi penasaran. Faiz mengembuskan napas pelan. Habislah dia jadi bahan ejekan dan juga jadi sasaran ceramah sepanjang hari. "Ada deh..," Rumi melirik jahil ke arahnya. "Dia kayak ketakutan gitu, Sayang. Ngendap-ngendap gitu jalannya. Eh, ke gep juga ujungnya sama aku." "Sialan lo!" umpatnya lolos begitu saja. Rumi tergelak, sedangkan Janira hanya menatap heran keduanya. "Ember banget lo punya mulut kampret!" Faiz meninju lengan Rumi keras. "Abang!"                                            "Apa?" "Kurang keras nonjoknya, Bang." Giliran Faiz yang tergelak saat melihat ekspresi Rumi yang berubah kaku. "Kenapa kurang keras?" "Ya habis, Bang Rumi cuman bikin penasaran nggak kasih tahu siapa yang joging pakai kemeja. Kebayang kan aneh banget," ucap Janira kemudian disusul tawa keras dari arah Yudia. Faiz mendelik ke arah Yudia. "Kenapa kamu ketawa?" geramnya tak suka melihat Yudia yang terkesan menertawakannya. "Aku lagi ngebayangin joging pakai kemeja, terus pakai celana bahan yang kelupaan nggak pakai celana dalam," timpal Yudia disela tawanya. Celana dalam? Faiz seketika mengerang dalam hatinya. Sialan! Bagaimana bisa dia melupakan celana dalamnya tadi pagi? "Berisik!" "Ye, Om. Sensi banget kayak yang nggak dapat jatah. Padahal itu sudah habis mandi besar tadi pagi," balas Yudia mengedipkan sebelah matanya menggoda. "Uhuy... Yang sudah mandi besar cerah banget wajahnya," Rumi ikut menggodanya. "Mandi besar? Abang onani?" celetuk Janira menatapnya tak percaya. Faiz hanya mendengkus membuang pandangannya ke lain arah saat ketiganya sibuk menertawakannya. Sepertinya dia harus membeli pengering rambut agar tidak kelihatan sehabis mandi. Sialan memang. Sebuah usapan terasa di samping kiri bahunya. Faiz menolehkan kepalanya sesaat mendapati jemari lentik Yudia menyelinap dari samping mengusap bahunya. Tanpa sadar Faiz tersenyum tipis merunduk sedikit untuk mengecup jemari itu sekilas. *** Sesampainya di tempat parkir taman piknik. Semua yang ada dalam mobil kecuali Faiz dan Yudia, segera berhamburan keluar untuk menghirup udara Puncak yang masih sejuk dari kebun teh di sana. Faiz menoleh ke belakang menatap Yudia yang terlelap memeluk dirinya sendiri. Senyum Faiz mengembang saat melihat wajah indah itu terlelap. "Papa!" Seruan Keanu menghentikan kegiatannya menatapi Yudia. Faiz segera membuka pintu mobil menyambut Keanu yang berlari penuh semangat ke arahnya. "Kok nggak keluar, Pa?" Faiz tersenyum mengusap puncak kepala Keanu. "Papa mau bangunkan dulu Tante Dia," jawabnya lembut. Keanu menganggukkan kepalanya paham. "Papa tadi habis dari mana tadi pagi?" Faiz terdiam, bola matanya bergerak tampak berpikir. "Em... Papa.." "Papa habis olahraga malemnya ketiduran ditemani bidadari cantik banget. Ya, kan?" sambar Yudia membuat Faiz tercengang keheranan. "Beneran, Pa? Memangnya di rumah kita ada bidadarinya?" tanya Keanu antusias. Faiz hanya bisa mendesah lelah menatap pasrah pada Keanu. Sudahlah, kalau sudah begini dirinya akan mendengar Keanu meminta-- "Kalau beneran ada, Keanu minta satu, ya, Pa? Buat temanin Keanu tidur." Nah kan. Belum juga selesai dirinya menerka. Keanu sudah meminta langsung padanya. "Kean kan bisa minta aku buat temanin Keanu tidur," imbuh Yudia dengan kening yang mengerut dalam. Keanu menggeleng menatap dirinya dan Yudia bergantian. "Papa bilang cuman Papa yang boleh tidur sama Tante." Astaga... Faiz menghela napas pelan. Memang pintar sekali anaknya ini. Ya Tuhan... Semakin besar kepala saja Yudia bila mendengar semuanya. "Ke.. Main gih sana sama si Kembar. Banyak bicara kamu," geramnya sedikit marah. Keanu menyengir lebar seolah tahu arti tatapan darinya. Dan dengan cepatnya Keanu berlari meninggalkannya dan juga Yudia. "Ehem." Faiz menoleh menatap Yudia dingin. "Sudah deh jangan sok-sokan pasang raut wajah nyebelin kayak gitu. Ketahuan Om pandangin aku nggak lepas-lepas. Om seneng kan sama saya? Suka, kan?" tunjuk Yudia dengan mata yang memicing penuh curiga. Faiz berdecih tersenyum miring. "Siapa yang suka sama kamu? Jangan terlalu besar kepala hanya karena kita kebablasan malam tadi," kilahnya berusaha berkelit. Yudia mendekatkan wajah mereka. "Bohong banget, Om. Jelas-jelas saya lihat Om pandangin saya tadi. Terus yang peringatan Om sama Keanu itu apa? Iya... Ngeles mulu kayak bajaj si Aki ini," ucap Yudia kukuh berdecak menatapnya kesal. "Aki-aki gini juga bisa bikin kamu kewalahan malam tadi," bangganya menatap sengit Yudia. "Ya bukan Omnya yang jago. Saya yang nggak ada persiapan. Jangan bangga dulu, Om." "Apa-" Ucapan Faiz terhenti saat melihat seseorang yang bersembunyi di balik pohon besar yang rindang di sebrang mobilnya. Seseorang itu sedari tadi menatap ke arahnya. Siapa dia?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD