Empat

890 Words
Yudia menggeret koper hijau toskanya yang berukuran besar kesusahan, sesekali Yudia menghentakkan kakinya sebal karena Faiz hanya berdiam diri dalam mobil tanpa berniat keluar membantunya membawa koper. Huh.. Hah! Yudia mengembuskan napas kesal terus menggeret kopernya. Setelah percakapan absurd tadi, Faiz langsung memaksanya berkemas seperlunya saja karena katanya dia dikerjar waktu. Yudia bahkan tidak sempat berpamitan pada Siena karena Siena belum datang ke apartemennya. Yudia juga berniat menyewakan apartemennya nanti pada teman-temannya yang mau. Sampai di luar gedung, Yudia menggedor keras kaca mobil sampai akhirnya kaca mobil terbuka menampakkan Faiz yang hanya menatapnya datar. Yudia mendengkus dalam hati merutuki sikap Pria kulkas itu. "Bantuin kek, Om!" sungut Yudia kesal sendiri. Faiz melirik koper dan Yudia bergantian kemudian malah menekan tombol untuk membuka bagasinya. "Itu sudah saya bantuin," sahutnya sekenanya. Astaga...                                   Yudia menggeram dalam hatinya kesal. "Om tega banget sih!" Sebelah alis Faiz terangkat tersenyum miring. "Kamu minta saya bantuin, kan? Itu saya sudah bantuin bukakan bagasi," liriknya ke belakang. Ya Tuhan... Yudia menganga menatap Faiz tak percaya. Baru kali ini ada seorang Pria yang memerlakukannya seperti sekarang ini. Yudia tak terima. Dengan kesal Yudia mengentakkan kakinya sebelum beralih ke belakang menuju bagasi. Susah payah Yudia memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Kalau tahu begini mending tidak usah bawa apapun. Langsung beli saja baju yang baru biar tidak repot, batinnya mendumel sendiri. Selesai meletakkan kopernya ke dalam bagasi, Yudia sengaja menutup pintu bagasi keras. Yudia sangsi, Pria kulkas di dalam itu pasti terkejut. Yudia menyeringai jahil melangkah menuju pintu penumpang lalu masuk ke dalam. "Berangkat, Om," ucapnya seenaknya bersikap layaknya Nyonya besar. "Pindah ke depan. Saya bukan sopir kamu," titah Faiz datar melirik kaca spion tengah. Yudia menggeleng bersedekap malas. "Nyaman di sini, Om. Nggak silau," tolak Yudia enggan. "Pindah." "Enggak." "Saya hitung sampai tiga, kalau kamu nggak pindah ke depan saya bakalan-" "Apa? Lempar saya keluar? Nggak usah dilempar, tinggal batalkan saja, nggak usah dibikin repot," selanya enteng. Yudia jadi kesal sendiri. Kok ada Pria sedingin dan secuek Faiz, padahal kulkas juga tidak selalu dingin kalau dimatikan ya otomatis hangat. "Oke. Kamu lupa kalau kamu sudah tandatangan di atas materai 6000? Saya bisa tuntut kamu." Ah, Yudia lupa. Siena benar. Dia pintar tapi bodoh. Yudia berdecak kemudian merangkak melewati pertengahan jok. Dia malas kalau harus keluar dulu, sama saja pindah, kan? "Kamu nggak bisa jalan pintu?" Faiz menyingkir saat dirinya mulai menyelip ke sana. Yudia mendesah agak susah untuk masuk ke sana. "Saya bilang kamu lewat pintu." "Berisik, Om!" Yudia berusaha semakin membungkukkan tubuhnya. Saat sudah pindah ke depan, Yudia oleng bergeser ke sisi Faiz menimpa tubuh Faiz. "Punya mobil sempit banget, irit penumpang mentang-mentang yang punya juga irit segalanya," gerutu Yudia bergerak untuk berpindah ke samping kemudi. "Ini kok susah banget sih, ah!" Yudia berusaha berpindah, tetapi malah kembali lagi terduduk di pangkuan Faiz. "Jangan bilang ini siasat kamu buat menggoda saya," ucap Faiz rendah. Yudia bergeming, menggoda? Sudah jelas dirinya kesulitan berpindah. Yudia terkesiap saat tubuhnya berpindah tiba-tiba ke samping. "Kamu salah kalau mau menggoda saya," pungkas Faiz kemudian menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya. Yudia bergeming membuang pandangannya ke luar kaca jendela. Entah kenapa hatinya merasa tersentil dengan kata menggoda yang terlontar dari mulut Pria kulkas itu, padahal menggoda itu memang bagian pekerjaannya. *** Mobil Faiz sampai di rumah minimalis yang masih sangat dijaga keasriannya. Faiz keluar lebih dulu setelah memarkirkan mobilnya di garasi. Yudia menyusulnya dengan mata yang tak lepas memandangi taman buatan yang indah di bagian depan. "Ayo masuk," ajak Faiz lebih dulu melangkah. "Tapi koper saya?" sergah Yudia menatap punggung kokoh Faiz. "Koper kamu biar Satpam yang bawakan, sekarang kamu ikut saya." Faiz kembali melangkah tanpa berniat berbalik sedetikpun. Yudia menghela napas panjang kemudian menyusul Faiz yang sudah lebih dulu masuk ke dalam. Yudia masuk ke dalam rumah, pandangan matanya mengawasi setiap desain ruang tamu yang terlihat sederhana, tapi tercurah sebagaian kemaskulinannya. "Papa!" Pandangan Yudia teralih pada anak kecil yang berlari menghampri Faiz. Yudia tersenyum karena anak itu begitu mirip dengan Faiz, ibaratnya copy paste. Mirip sekali. Tatapan Yudia bertemu dengan tatapan anak itu. Yudia memperkirakan usia anak itu 8 tahunan. Yudia hanya bisa tersenyum kikuk saat tatapan mereka bertemu. "Ke, kenalkan, ini Tante Yudia yang bakal menemani kamu selama Papa kerja," Faiz menyingkir supaya Keanu bisa melihat jelas Yudia. Yudia tersenyum melambaikan tangannya tanda perkenalan pada Keanu. Yudia tidak tahu bagaimana cara menghadapi anak kecil, tetapi Yudia sedikit mempelajari artikel tentang anak kecil di google. Kening Keanu mengerut tak suka. "Kok temannya cantik banget, Pa?" cetus Kenau dengan polosnya. Yudia melongo tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Haruskah dia tertawa? Atau menangis? Astaga... "Tante cantik karena memang Tante Perempuan," tanggap Yudia disertai senyuman tulus. "Enggak, Tante beda sama Tante sitter lainnya. Tante cantik, mulus--" "Ke, Papa nggak pernah mengajarkan kamu bersikap nggak sopan kayak gitu," sela Faiz menggeram kesal. Yudia menahan napasnya mengusap tengkuknya gugup. Dengan sedikit memberanikan diri, Yudia melangkah mendekati Keanu lalu berlutut di hadapan Keanu. "Nama kamu Keanu, ya?" tanya Yudia yang langsung diangguki oleh Keanu. Yudia tersenyum mengusap pipi Keanu lembut. "Hai, nama Tante Yudia. Kamu bisa panggil Tante Di atau Tante Dia juga boleh," ucap Yudia lembut. Yudia tidak tahu kenapa tiba-tiba nalurinya mendorongnya untuk bersikap seperti sekarang. Yang jelas, Yudia baru tersadar bahwa dia adalah seorang wanita yang sudah pasti akan memiliki anak kelak. Yudia tersenyum getir, dia melupakan kenyataan yang akan segera mendatanginya cepat atau lambat.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD