KEMEWAHAN

1462 Words
Hari ini dikampus, seperti biasa aku aku duduk bersebelahan dengan Sindi. "Bel, apa kamu juga mendapat undangan pesta ulang tahun Niken nanti malam?" tanya Sindi. "Iya nih, pasti pestanya sangat besar sedangkan aku tidak punya baju yang bagus untuk dipakai" kataku dengan sedih. Aku memang tidak punya baju khusus untuk dipakai saat pesta, aku jarang menghadiri sebuah pesta makanya gaun yang biasapun aku tidak punya apalagi mewah. Niken adalah teman semasa sekolah menengah, Niken adalah anak orang terpandang di kotaku dan dia juga temanku yang baik, mana mungkin aku bisa menghindari undangannya. "Sin, nanti selesai kelas ikut aku beli gaun ya?" "Oke Bel, siap!" jawab Sindi dengan senyum khasnya yang lebar. **** "Hei, kalian berdua mau kemana?" tanya Bima. "Ah aku mau nemenin Bela cari gaun untuk datang ke pesta Niken." sahut Sindi "Yukk aku antar!" kata Bima menawarkan diri "Ah tidak usah Bim, cewek kalo lagi belanja itu lama loh." kataku kepada Bima agar dia mengurungkan niatnya untuk menemaniku karena jujur aku belum tahu akan mencari gaun yang cocok dimana. Kemudian bunyi hape Sindi berbunyi dan Sindi mengangkatnya, terlihat dari ekspresi tubuhnya yang menegang seperti ada sesuatu yang terjadi dan ternyata dugaanku benar. "Maaf Bel aku ga bisa nemenin kamu kali ini, aku lupa harus menjemput adikku sekolah." tanya Sindi tergesa gesa kemudian meninggalkanku. Tinggal lah Bima yang sedang berdiri dihadapanku. "Jadi gimana, mau?" tanya Bima merajuk kepada ajakannya untuk mengantarkanku pergi. Aku mengangguk mengindahkan nya dan segera masuk ke dalam mobil mewah milik Bima. Kemudian kami berhenti di sebuah Boutique yang aku tahu adalah Boutique terkenal berisi gaun buatan designer ternama, bahkan harganya pasti sangat fantastis. "Hayo Bel masuk!" kata Bima sambil memegang tanganku. Jadi ya aku masuk saja mungkin hanya sekedar liat liat aja dan benar saja, saat aku cek price tag nya wahhh harganya lebih dari 1000 usd. mau mencobanya saja aku tidak berani karena harga gaun disini pasti tidak bisa aku beli. "Bim, ketempat lain yuk! disini mahal mahal" kataku berbisik kepada Bima. "Ah tenang Bel, kan aku yang ngajak kamu datang kesini." jawab Bima sambil tersenyum kepadaku. Tentu aku tidak bisa menolaknya, lalu Bima mengambil salah satu gaun yang mewah untuk aku coba diruang ganti. Bima adalah anak orang kaya, dia anak tunggal dan juga akan menjadi penerus Arya Group yang memiliki beberapa pusat pembelanjaan, taman hiburan terbesar serta pengiklanan. "Wahh gaun ini pas untukku, cantik." kataku sambil bercermin mengamati gaun aku sedang aku kenakan seakan Bima sudah tahu ukuranku, ya kita memang tumbuh bersama sejak kecil bahkan sempat tinggal didalam satu atap. Kemudian aku keluar dari ruang ganti dan memperlihatkan tubuhku yang dibalut dengan gaun mewah kepadaku Bima. Bima hanya terpaku melihatku, matanya membelalak. aku kira baju ini tidak cocok untukku tapi kemudian Bima mengatakan. "Cantik." Disitu aku tersenyum senang, untuk gaun sudah aku dapatkan. kemudian aku kembali ke ruang ganti untuk melepaskan gaunnya. "Sini Bel duduk!" kata Bima tiba tiba saat aku beri melangkah keluar dari ruang ganti baju, kedua telapak tangannya meremas bahuku lembut dan mendorong tubuhku agar terduduk di kursi sofa panjang. Lalu Bima mengambil salah satu kakiku dan memakai kan sepatu hak tinggi yang dipegangnya. "Wahh pas banget di kakiku." kataku tersenyum senang. Sepatu yang memiliki hak tidak terlalu tinggi dan juga warnanya senada dengan gaun yang akan aku kenakan pada pesta ulang tahun Niken. Kemudian kita berjalan kearah kasir untuk pembayaran dan seketika aku kaget karena jumlah harganya membuatku merinding. Aku mengambil dompet ditas kecilku, aku melihat didalamnya hanya tersisa beberapa lembar uang kertas, aku menatap isi dompetku dengan sedih. Bima lalu memegang tanganku yang berdiam diri didepan kasir dan menuntunku untuk masuk kedalam mobilnya. "Bim, terimakasih banyak ya! bagaimana kalau aku traktir makan malam?" Aku tahu nominal seperti itu bahkan tidak seberapa bagi Bima tapi aku harus membalas kebaikannya. "Hmm boleh tapi aku lebih suka kamu memasak langsung untukku, bagaimana?" "Ya tentu, aku akan membuatkan beff steak kesukaanmu!" kataku menyanggupi. **** Terdengar suara ponselku berdering lalu aku mengambilnya yang tak jauh dari tempat tidurku. "Sayang, apa kau sudah siap?" tanya Yogi jauh di seberang sana. "Iya aku sudah siap kok!" "Oke, tunggu aku ya! aku akan segera menjemputmu." Aku memakai gaun dan sepatu yang dibelikan Bima untukku, aku menata rambut yang terurai panjang kebelakang memberi jepit hitam senada dengan warna rambutku di kedua sisi telinga agar rambutku tetap berarah ke belakang dan memperlihatkan gaun yang membuka lebar bagian leherku. Beberapa menit kemudian suara mobil yang biasa aku dengar dan aku hafal berhenti tepat didepan rumahku, segera aku keluar menemuinya. "Wahh kau cantik sekali malam ini, sayang" kata Yogi memuji penampilanku. Aku hanya tersenyum malu, panas di kedua pipiku terasa. "Oh ya aku ada sesuatu buat kamu" kata Yogi sambil mengambil sesuatu didalam saku jasnya dan bergerak memakaikannya dileherku yang terbuka lebar. Sebuah kalung emas putih terdapat liontin berbentuk hati yang sangat cantik melingkar dileherku yang jenjang. "Cantik, terimakasih sayang" kataku senang sambil mengelus lembut liontin dengan jariku. "Ah sepertinya aku akan sedikit mengacaukan riasanmu sayang" kata Yogi menyeringai, entah apa yang Ia katakan aku tidak mengerti. Lalu Yogi menggenggam tanganku dan membawaku masuk kedalam kamarku yang pintunya masih terbuka lebar belum sempat aku kunci. Kedua tangannya menahan tubuhku dan bibirnya mulai melumat bibirku dengan kasar seakan sangat bernafsu, tangannya bergerak membuka retsleting bagian punggung gaunku sehingga tubuhku menyisahkan pakaian dalam saja. Kemudian dia membaringkan tubuhku diatas kasur tanpa melepaskan ciuman kasarnya kepadaku, kemudian bibirnya bergerak kearah pipiku terdengar jelas suara nafasnya yang naik surut tengah bernafsu untuk melahapku. Bibirnya bergerak di sekitar leherku yang jenjang kemudian melepaskan bh yang menutupi dadaku yang besar, setelah berhasil Ia lepaskan bibirnya berganti menuju kearahnya menjilat menggigit dan meremasnya. Begitu sensitif membuatku geli dan mengerang, gairahku memuncak seakan aku tidak peduli lagi harus datang ke pesta ulang tahun temanku. "Ah cepatlah kau masuki!" kataku tidak tahan. "Ah sayang sepertinya kau sudah tidak tahan lagi." kata Yogi tersenyum penuh arti tapi dia masih saja bermain diatasku, menyiksaku yang sudah haus ini. Aku sudah tidak tahan, dan segera membalikkan tubuhnya yang kuat dan aku duduk tepat diatasnya, lebih mendominasi dan mengendalikan keadaan. kumasukkan barangnya kedalam tubuhku. "Uhhh,ahhh,emmmm." erangan erangan keluar dari mulutku dan mulut Yogi, kedua tangannya menggenggam dadaku yang naik turun akibat ulahku. Aku membungkukkan badanku dan meraih bibirnya yang terlihat menggoda mataku dan melumatnya, memaikan lidahku didalamnya, ahh aku sangat liar malam ini. "Aku akan segera sampai sayang!" kata Yogi sambil memegang pingangku dan membuat gerakanku lebih cepat dan seketika kenikmatan didalam tubuhku itu keluar sepeti s**u kental putih membasahi daerah intimku. Kemudian aku berguling dan terbaring disisi lengan Yogi yang berotot, seakan aku tidak ingin bangun dan berlama lama diatas kasur sambil menikmati tubuh telanjangnya. Ku lihat jam yang terletak di atas dinding kamarku menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit, dimana pesta ulang tahun Niken akan dimulai pukul delapan malam. Seketika aku kaget dan beranjak dari tempat tidurku, segera aku ke kamar mandi sendiri untuk membersihkan tubuhku karena aku lihat Yogi masih terpejam menghadapi kelelahan yang sudah aku buat. **** Untung kita datang tepat waktu dan ya benar bahwa pesta ulang tahun Niken begitu megah luar biasa, rumahnya seperti istana yang tak kalah besarnya dari rumah Bima. "Hai, selamat ulang tahun ya Niken" kataku sambil memeluk teman baikku semasa sekolah itu. Ia sudah tumbuh menjadi gadis yang anggun dengan penampilan yang elegant, proporsinya bak model terkenal, begitu menawan sambil menyodorkan hadiah kecilku yang seberapa itu. "Terimakasih Bela kau sudah datang!" kata Niken sambil tersenyum kepadaku. Disusul ucapan selamat dari Yogi yang datang kepadaku, kita memperkenalkan diri kemudian kepada Niken tentang hubungan kami, aku hanya tersenyum malu. "Sayang, aku ke teman temanku dulu ya!" kata Yogi berpamitan dan meninggalkanku. "Bel, kau serius berpacaran dengan Yogi?" kata Niken disebelahku. Aku mengangguk meng iya kan, ekspresi Niken seperti tidak senang dan membuatku penasaran. "Iya aku serius, memangnya kenapa Ken?" "Hmm aku tidak ingin membuatmu sakit tapi aku hanya ingin mengatakan kau tidak boleh terlalu percaya kepadanya" Seketika aku kaget mendengar ucapan Niken barusan, sudah banyak orang yang mengatakan hal yang sama terhadapku tapi aku tidak peduli karena Yogi yang aku kenal adalah orang yang baik. Saat aku melihat kearah tamu berdatangan, aku seperti melihat sesosok wanita yang pernah berbicara dengan Yogi waktu itu. Aku penasaran dan coba untuk mendekatinya untuk bertanya tetapi aku tidak sengaja menabrak seorang dan pandanganku teralihkan. "Bima, maaf! kau tidak apa apa?" tanyaku panik. "Iya tidak apa apa kok,Bel!" Lalu aku menoleh kearah wanita yang berjalan tadi dan benar saja dia hilang dari pandangan. "Kau datang dengan siapa Bel?" tanya Bima menyadarkanku. "Oh aku datang dengan Yogi, Yogi disana dengan teman temannya." kataku menoleh dan menunjuk kerah Yogi yang sedang berkumpul dengan temannya tadi. "Dimana?" tanya Bima lagi yang tidak mengetahui keberadaan Yogi. "Eh, tadi disana!" Dalam pikiranku, aku melihat wanita itu datang dan sekarang Yogi menghilang, apakah mereka sedang berduaan? ahh semoga perkiraanku ini salah. **** FOLLOW ME :*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD