Bab 14

1070 Words
"Besok aja. Aku juga udah capek. Harus istirahat, besok mau kerja." Maira to the point saja daripada harus capek sendiri. "Oh...oke deh. Kita harus pesan tart gitu nggak sih?"tanya Nugra, pria itu terlihat lebih antusias dalam persiapan pernikahan ini ketimbang Maira. "Tart untuk apa?" "Itu loh yang biasanya kayak...kue ulang tahun, tapi yang tinggi banget. Terus nanti ada acara potong kue begitu...dipandu pembawa acara." Nugra duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. Maira meringis. Pria seperti Nugra memikirkan hal sekecil itu. Menurutnya Maira itu tidak begitu penting dan buang-buang duit saja. Maira justru menginginkan resepsi pernikahan yang simpel sekali. Yang terpenting semuanya berjalan dengan lancar dan semuanya bahagia. "Oke...aku ikut kamu aja. Gimana baiknya, ya...silakan dilanjutkan." "Oke. Nanti kubicarakan sama Mamaku,"kata Nugra seraya membuka buku menu yang baru diserahkan pramu saji. Maira memperhatikan Nugra. Pria yang akan menjadi suaminya itu terlihat begitu unik. Pria yang menurutnya dingin dan kaku itu, ternyata menjadi pria yang berbeda ketika menghadapi urusan pernikahan seperti ini. Ia menjadi pria yang menyenangkan. Tapi, Nugra juga terlihat berbeda ketika menyatakan atau lebih tepatnya mengajak Maira menikah. Ia menjadi pemaksa dan sedikit menyeramkan. "Sayang, kamu nggak pesan makanan?"tanya Nugra. Maira tersentak, ternyata ia asyik dengan pemikirannya sendiri."Ah iya...samain aja." "Oke." "Kamu mau souvernir pernikahannya apa?"tanya Nugra. Maira jadi capek sendiri. Ia sedang tidak ingin membicarakan masalah persiapan acara pernikahan mereka. Sebaiknya semua diserahkan pada pihak WO saja. Lagi pula apa pun souvenirnya, ia tidak begitu paham, kenapa juga harus menggunakan souvenir."Yang kamu suka aja. Kenapa nggak serahkan aja semuanya sama orang?" "Iya...untuk souvenir aku suruh orang kok. Cuma...aku kan harus tanya kamu dulu. Siapa tahu kamu ada usulan. Biasanya selera wanita itu bagus." "Tapi, wanita itu bukan aku, Nugra. Mungkin...aku bukan teman diskusi yang baik untuk hal-hal seperti ini."Maira menyerah dan rasanya ingin melambaikan tangan langsung ke kamera. Seandainya ia bisa memohon pada Nugra, ia pasti akan meminta jangan tanya perihal persiapan pernikahan mereka. Lakukan saja, ia akan nurut dan mengikuti semuanya dengan baik. "Biar pun begitu, kamu adalah teman hidup yang baik, yang...sempurna untukku." Nugra mengusap pipi Maira dengan lembut. Wajah Maira merona. Kemudian ia tertawa."Aku sudah menyerah, nggak sanggup lagi menghadapi pria sepertimu. Jadi, sekarang aku sudah menerimamu. Apa...Alex boleh jadi asisten pribadiku lagi?" "Nggak boleh ada laki-laki lain di hidupmu selain aku,papamu, dan saudara laki-lakimu." Maira memutar bola matanya."Memangnya ada yang salah dengan Alex? Dia sudah cukup lama bekerja di perusahaanku. Dia orang kepeecayaanku. Kasihan kalau sampai diberhentikan." "Alex tidak dipecat, tapi hanya dipindahkan, sayang. Jangan khawatir." "Aku tetap mau Alex." "Tidak boleh. Aku cemburu." "Tapi, dia bukan lelaki normal, Nugra,"kata Maira geram. "Tetap tidak boleh!" Maira mendengus sebal. Baru kali ini ia benar-benar merasakan diatur oleh laki-laki. Apa pun yang ia lakukan sekarang sudah di bawah pengawasan Nugra. "Alex bisa kembali ke kantormu lagi...asal..." Maira menatap Nugra dengan mata berbinar."Asal apa?" "Kamu berhenti bekerja." Nugra menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi seraya melipat kedua tangannya di d**a. "s**t,"ucap Maira dalam hati. Pilihan yang sulit, pikir Maira.   Pagi ini, Maira terbangun dengan hati yang berbunga-bunga. Semalam Nugra mengantarkannya pulang dan mengecup keningnya dengan hangat. Ciuman di kening itu benar-benar terasa berbeda. Ia merasa kasih sayang Nugra begitu besar padanya. Ia mulai merasa yakin bahwa Nugra adalah jodoh yang disiapkan Tuhan untuknya. Hari ini Maira tidak bekerja. Sepanjang malam ia memikirkan tentang pilihan yang diberikan oleh Nugra. Berhenti bekerja atau bekerja tanpa Alex. Ia bisa saja berhenti bekerja tanpa Alex, sebab nanti jika ada waktu ia bisa menemui pria itu. Tapi, masalahnya tidak sesederhana itu. Alex harus kembali ke kantornya karena pria kondisi perekonomiannya pasti akan kacau saat ia dipindahkan. Sebagai bos sekaligus sahabat, Maira tidak bisa membiarkan itu terjadi, ia tahu bagaimana kehidupan Alex dan keluarganya. Maira pun segera turun untuk sarapan sekaligus mengutarakan maksudnya. Hermawan dan Odelie sarapan di halaman belakang. Keduanya tampak mesra meski mereka terlihat semakin tua. Maira mengecup pipi keduanya, kemudian duduk. "Kamu belum siap-siap?"tanya Hermawan begitu melihat Maira hanya mengenakan kaus dan celana pendek. "Pa, Maira mau berhenti kerja,"ucap Maira membuat Hermawan menghentikan makannya. Pria paruh baya itu berdehem, meneguk sedikit air putihnya."Kamu yakin? Kok tiba-tiba sekali?" Maira tersenyum tipis, kemudian menuangkan air putih ke gelas yang kosong."Papa tahu sendiri kan kalau Nugra itu suka ngatur." "Dia nyuruh kamu berhenti? Itu kan perusahaan Papa sendiri." "Maira mau Alex balik kerja di sana lagi, Pa. Kasihan dia ...kontrakannya itu dekat sama kantor yang sekarang. Kalau dipindah, dia harus ngeluarin uang untuk transportasi lagi dong. Kasihan, Pa. Dia itu nanggung adiknya yang masih kuliah loh." Maira meneguk air putihnya sampai setengah gelas. "Kamu perhatian banget sama Alex, Maira...nanti Gagah cemburu loh." Odelie terkekeh. "Alex itu bukan sekadar asisten Maira, Ma. Tapi, udah seperti saudara. Dia selalu bantu Maira dalam hal apa pun. Saking baiknya, dia nggak kasih tahu Maira kalau dia udah dipindahkan,"jelas Maira dengan suara tercekat, rasanya ia ingin sekali menangis bila harus bercerita soal Alex. "Lalu...hubungannya dengan kamu berhenti bekerja apa, sayang?"tanya Hermawan. Maira mengembuskan napas berat."Nugra kasih syarat, Pa, kalau aku mau Alex balik ke kantor itu, ya aku harus berhenti bekerja. Dia nggak suka kalau ada laki-laki yang berhubungan langsung denganku. Papa setuju kan sama ucapan Nugra, makanya Papa ganti Alex menjadi Nana." "Ada-ada saja deh anak muda ini." Hermawan terkekeh."Terus kalau memang Papa wujudkan keinginan kan itu, kamu berhenti kerja...yang gantiin kamu siapa?" Maira mengangkat kedua bahunya."Ya itu urusan Papa deh." Maira meringis malu."Kan...Papa yang jodohin Maira sama pria seribet itu. Semua urusan yang mudah jadi susah." "Oke deh. Sore nanti pasti sudah ketemu kok penggantinya." Hermawan mengangguk-angguk, ia hanya perlu memikirkan siapa yang akan ia geser posisinya ke atas. "Jadi, semalam...kalian kemana saja sampai pulang tengah malam?"selidik Odelie. Maira terbatuk sebab yang ia ingat hanyalah kejadian di apartemen. Tapi, beberapa detik kemudian ia teringat kalau mereka juga pergi membeli gaun pengantin, cincin, lalu pergi makan malam."Cari cincin sama gaun, Ma. Habis itu makan." "Wah, kemajuan yang pesat ya. Padahal kemarin siang kamu masih menolak Gagah mentah-mentah." "Tapi, sepertinya Maira sudah luluh tuh. Buktinya pulang-pulang sudah selesai beli cincin sama gaun pengantin,"goda Hermawan. "Iya...udah, Pa. Maira malu. Pokoknya apa pun yang terbaik untuk pernikahan kita nanti, Mama sama Papa lakukan aja. Maira ikut aja. Soalnya pusing ngurusin hal kayak gitu, Ma, Pa." Odelie mengusap puncak kepala anaknya itu."Ya udah, kamu siapkan diri aja. Undangannya Minggu depan sudah selesai." Jantung Maira berdebar-debar. Ia masih tidak percaya bahwa prosesnya berjalan secepat ini. Rasanya ia belum siap menghadapi pernikahan. Tapi, sampai kapan pun ia tidak akan pernah merasa siap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD