Bab 15

1188 Words
"Maira,"panggil Odelie. "Iya, Ma?" "Gagah baik, kan?" Wajah Maira memerah."Iya, Ma. Baik. Dan...selama ini Maira hanya salah menilainya." Odelie terkekeh."Tuh kan...kita nggak salah pilih. Lagi pula gagah langsung tertarik sama kamu. Sudah pasti dia akan menyayangi kamu seutuhnya." "Amin,"ucap Maira. Diliriknya ponsel Yangs edaei tadi berbunyi pelan. Pesan-pesan cinta dari Nugra sudah ia terima pagi ini. "Inikah yang dinamakan jatuh cinta?" "Jadi, apa agenda kamu sama Gagah hari ini?" Maira menggeleng, ia baru akan membuka pesan dari Nugra."Nggak tahu, Ma. Maira juga nggak tahu kalau di rumah aja mau ngapain. Tapi, ya mau bagaimana lagi...sudah permintaannya Nugra seperti itu." "Ya udahlah, kamu di rumah aja...pernikahan kamu juga kan nggak lama lagi. Kamu perawatan aja di rumah, biar makin cantik,"sahut Hermawan. Pria paruh baya itu disibukkan dengan ponselnya sejak Maira mengatakan ia mengundurkan diri. Tampaknya pria itu membuat pengumuman atau menghubungi pihak tertentu soal berhentinya Maira. "Kita keluar aja yuk,"ajak Odelie. "Kemana,Ma?" "Kita cari kebaya buat lamaran, buat kamu...buat Papa...buat om dan Tante...buat semua anggota keluarga kita dong,"ucap Odelie bersemangat. Berbelanja adalah aktivitas yang menyenangkan dan mengurangi stres (asalkan saldo di kartu debit banyak). "Memang harus ya, Ma?" "Harus. Kamu harus ikut ya?" "Iya, deh, Ma iya." Maira mengangguk pasrah. Ia membalas pesan Nugra, mengatakan ia akan pergi bersama Mamanya untuk mencari kebutuhan pernikahan. Tentu itu menjadi kabar yang baik untuk Nugra. Pria itu senang karena Maira sudah ikut andil dalam urusan pernikahan mereka. Kaki Maira terasa begitu pegal setelah seharian penuh berkeliling pusat perbelanjaan mencari segala kebutuhan untuk acara nanti. Ternyata banyak sekali yang harus mereka persiapkan. Rasanya dua Minggu itu akan terasa seperti satu hari saja. Odelie sangat bersemangat menyiapkan segalanya. Tentu saja, anak satu-satunya itu akan menikah. Akad dan resepsinya harus dilaksanakan dengan meriah, mewah, dan tidak akan pernah terlupakan. Apa lagi. Calon besannya juga bukan orang sembarangan. Odelie juga turut bangga pada Nugra, pria yang masih muda namun sudah memiliki banyak pengalaman dalam berbisnis. Kali ini pernikahan mereka benar-benar terlihat seperti pernikahan bisnis saja. Tapi, nyatanya Nugra dan Maira memang saling mencintai pada akhirnya. Tidak ada yang salah dari sini. Maira melangkah masuk dengan gontai. Beberapa asisten rumah tangga berhambur ke mobil menurunkan barang-barang belanjaan Maira dan Odelie. "Danan!" Odelie langsung memeluk pria yang menyambut mereka. "Tante." Danan memeluk Odelie."Tante makin cantik deh." Odelie tertawa."Kamu bisa saja. Sudah lama?" "Ya sekitar sejam yang lalu, Tante,"balasnya seraya melirik Maira yang mengerucutkan bibirnya. Odelie menepuk pundak Danan."Baik. Tante masuk dulu ya...kau mandi." "Iya, Tante." Kini ia beralih pada Maira."Sayangku!" Danan, sepupu Maira merentangkan tangan hendak memeluk Maira. Maira langsung menghindar, pura-pura tidak kenal."Eh siapa ya?"tanya Maira dengan santainya. Danan menggeleng-gelengkan kepalanya."Jadi, setelah kamu sudah menemukan calon suami, begini ya?" "Apanya yang begini?" Maira melotot. "Pura-pura lupa bahwa kita ini memiliki hubungan..." "Ih, pede amat." Maira mendengus sebal. Danan mengacak-acak rambut Maira."Kamu tuh yang kepedean. Kita kan memang punya hubungan darah." Maira.menjauh dari Danan setelah rambutnya berhasil diacak-acak."Iya iya. Ngapain ke sini? Tumben...biasanya kan kalau lebaran doang." "Eh, masa sih?" "Iya." "Kata Om, kamu mau menikah dan udah nggak memimpin perusahaan. Jadi, sebagai kakak yang baik dan Soleh, aku menggantikan kamu di kantor,"jelas Danan,"sekaligus membantu mempersiapkan acara pernikahan kamu." "Wah, baiknya kakakku ini." Danan melirik sebal."Giliran begini aja baru dibilang baik. Tadi, mau dipeluk aja susah. Padahal udah lama nggak ketemu." "Wah, kakak baiknya...." Maira memeluk Danan dengan erat sampai pria itu terbatuk-batuk. "Maira! Nggak bisa napas!" Danan mendorong tubuh Maira pelan. "Aku kan seneng banget, jarang-jarang Kak Danan mau bantuin aku." Maira tertawa. "Ya udah, bikinin kakak Teh dong." Danan duduk di sofa. "Kan ada ART,kak. Kok nggak minta dibikinin aja tadi?" Maira duduk di sebelah Danan. "Becanda, tadi udah minum kok. Kamu mau nikah? Siapa laki-laki tidak beruntung itu?"tanya Danan. "Tuh ...nyari ribut." Danan kembali tertawa, ia memang suka sekali menjahili Maira karena wanita itu mudah sekali emosi dan suka ngomel jika diganggu."Siapa sih?" "Namanya Nugra." "Oke...siapa dia?" "Anaknya temen Papa. Kita dijodohin." "Dan...kamu mau gitu dijodohin? Nggak laku?"tanya Danan menusuk hati Maira. "Tadi habis makan bon cabe level tiga puluh ya?"tatap Maira datar. "Nggak kok. Cuma mulutku ini kebon cabe,"balas Danan santai. "Oh pantesan." "Mana fotonya, mau lihat wajah laki-laki yang berhasil meluluhkan hati batu es..." Maira mendengus seraya mengambil ponselnya. Ia memperlihatkan foto kontak Nugra."Nih..." "Kurang...,"komentar Danan dengan wajah yang seperti sedang berpikir. "Kurang apa?" "Kurang ganteng!"kata Danan dengan serius."Nih beneran calon suami kamu?" "Memangnya kenapa, sih? Ini kan pilihan Papa sama Mama. Nggak mungkin salah kan,"jawab Maira. Ia pun menjauhkan ponselnya dari hadapan Danan. "Kalian nggak mirip. Nggak jodoh!" "Apaan sih, nakut-nakutin aja. Harus didukung dong." Nada suara Maira jadi sedih. "Cup...cup...cup. Pastilah aku dukung dengan segenap jiwa ragaku. Eh, besok kan kakak udah masuk ke kantor kamu. Kamu harus ikut juga, penyerahan jabatan." "Iya...iya." Maira fokus pada layar ponselnya, membalas pesan dari Nugra. Nugra : Kamu dimana. Maira : Di rumah, baru nyampe. Nugra : tadi kemana aja?" Maira : pergi sama Mama. Nyari kebaya sama perlengkapan buat acara lamaran gitu. Nggak tahu apa. Aku juga kurang paham. Nugra : oh... Maira : kamu dimana? Nugra : masih di kantor. Maira : sibuk banget? Nugra : lumayan. Rindu ya? Maira : lumayan ... Nugra : besok ketemu ya? Jam makan siang aku jemput. Maira ; besok aku ke kantor. Nugra : ngapain? Kan udah berhenti. Kamu nggak lupa sama perjanjian kamu kan? Maira : iya nggak. Aku cuma mau ngenalin Kak Danan sebagai penggantiku di kantor. Sekaligus serah terima jabatan. Nugra : siapa Danan? Maira : kakak sepupuku. Nugra : Laki-laki? Maira : Haha ya iyalah, memangnya ada wanita bernama Danan? Danin kali ah. Nugra : nggak boleh ada laki-laki lain, sayang...jangan dekat-dekat. Maira : Itu kan kakakku. Kami sedarah. Gimana bisa kamu cemburu. Ck...ck. Nugra : pokoknya nggak boleh. "Cemburuan gitu mau dijadikan suami?" Tiba-tiba Danan sudah ada di belakang Maira. Ternyata sejak tadi pria itu mengintip isi chattingan antara Maira dan Nugra. "Ih, kakak...ngintip." Maira menutup layar ponselnya. Danan menatap Maira dengan serius. "Serius...cemburunya kebangetan." "Kan cemburu tanda cinta, kak." Maira tersenyum manis. "Karena...ketika kamu sudah mengatakan bahwa aku adalah sepupu kamu, sedarah denganmu, dia masih tetap melarang kamu dekat-dekat denganku...itu gila, Maira. Udah nggak wajar." Danan menyentil hidung Maira sampai merah. Maira mengusap-usap hidungnya."Itu mungkinkarena Nugra belum kenalan langsung sama kakak. Makanya dia cemburu atau dia nggak percaya kalau kakak itu sepupuku kalau belum ketemu secara langsung." "Begitu ya? Oke...besok pertemukan kakak sama dia. Awas aja kalau berani larang-larang aku,"omel Danan sambil meninggalkan Maira. Maira terdiam, menatap chat dari Nugra yang belum ia halas-balas karena harus menanggapi Danan. Nugra : Maira... Maira : iya. Nugra : Ada masalah? Maira : ya sudah besok kita ketemu di jam makan siang. Besok kamu chat aku aja dimana lokasinya. Nugra : aku jemput kamu di kantor. Maira memutar bola matanya. Bukankah ia akan bersama Danan, masa ia harus dijemput lagi. Bukankah lebih efektif jika mereka ketemu di lokasi saja. Maira : nanti kamu bolak-balik Nugra : nggak apa-apa. Maira : baik. Nugra : aku mau video call. Maira melihat ke sekitarnya. Tidak ada siapa pun. Tapi, ia tidak berani video call di sini. Bisa-bisa tiba-tiba Danan muncul dan mengacaukan pembicaraan mereka. Maira : Oke. Aku ke kamar dulu. Nugra : baik, sayang.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD