Bab 16

1050 Words
Esok paginya, Maira, Danan, dan juga Hermawan pergi ke kantor untuk mengumumkan bahwa Maira sudah tidak lagi bekerja di sana. Sekaligus memperkenalkan Danan sebagai pengganti Maira. Setelah semuanya beres, Hermawan pamit, masih banyak hal yang harus ia urus. Sementara itu, Maira dan Danan masih tetap tinggal di kantor. "Alex!" Maira memekik girang. "Bu!" Alex terlihat begitu terharu."Akhirnya aku dibalikin ke sini lagi. Syukurlah...kemarin udah sempat pindah." Maira mengusap-usap pundak Alex. "iya. Aku yang minta sama Papa supaya kamu dibalikin lagi ke sini. Kasihan kamu kalau jauh banget gitu." "Terima kasih, Bu,"balas Alex,"tapi, kenapa Ibu nggak kerja lagi di sini?" "Supaya kamu bisa kerja lagi di sini , Lex...ya ada sedikit insiden tidak menyenangkan sih kemarin. Intinya kalau aku pengen kamu tetap di sini, ya aku resign. Soalnya...calon suamiku nggak suka aku punya asisten cowok." "Astaga." Alex menepuk jidatnya."Ibu mau menikah ya?emang sih kemarin sudah dengar selentingan tentang itu. Ternyata benar. Syukurlah. Semoga semuanya lancar." "Iya, Lex. Kamu...kerja sama Kak Danan ya. Semoga kerjaan kamu lancar." "Terima kasih,Bu. Oh ya saya kerja dulu ya, Bu. Nanti kita ngobrol lagi." Alex melambaikan tangan. "Maira, sini...ada yang mau kakak tanya!"panggil Danan. Maira pun menghampiri Danan, menjelaskan beberapa hal yang tidak diketahui Danan tentang perusahaan ini. Sebenarnya hari ini Maira terasa begitu sedih, apalagi saat diumumkan bahwa posisinya digantikan oleh Danang. Ada beberapa karyawan yang mengucapkan salam perpisahan, ada pula yang terlihat begitu sedih atas berhentinya Maira. Tapi, mau bagaimana lagi. Ini harus Maira lakukan demi kebaikan bersama. Jam makan siang tiba. Nugra berjalan dengan coolnya menuju ruangan Maira. Pintu ia buka begitu saja tanpa mengetuk ya terlebih dahulu. Maira dan Danan terkejut saat tiba-tiba pintu dibuka. Nugra menyipitkan matanya saat melihat wanita yang ia cintai duduk di sebelah pria yang tidak ia kenal. "Loh!" Maira bangkit dan menghampiri Nugra."Kok nggak bilang-bilang kalau ke sini?" "Siapa?" Maira menoleh ke arah Danan yang sedang memerhatikan dirinya dan Nugra."Kakakku. Sini kukenalin." Maira menarik tangan Nugra. Kini keduanya berhadapan, saling melempar tatapan tajam. "Kak, ini Nugra...calon suami Maira,"kata Maira memperkenalkan Nugra pada Danan. "Saya Danan, kakaknya Maira." "Saya Nugra, Calon suami Maira." Danan menyipitkan matanya, menatap Nugra dengan intens. Begitu sebaliknya, Nugra pun menatap Danan tanpa mengedipkan matanya sedetik pun. Maira jadi bertanya-tanya kenapa dua lelaki itu bersikap demikian. Mungkinkah sebelum ini mereka saling mengenal. "Ah, kenapa kalian saling menatap gitu? Nanti jatuh cinta. Ayo duduk." Maira menarik Nugra agar duduk di sofa. Perasaannya mulai tidak enak. Mungkinkah setelah ini akan ada masalah menjelang pernikahan mereka. Biasanya pasti ada hal-hal demikian, begitu mitosnya. "Nggak kerja?"tanya Danan pada Nugra. "Ini jam istirahat,"balas Nugra. Maira meringis, mengusap kepalanya sendiri, kebingungan. Ia tidak tahu bagaimana caranya mencairkan suasana ini."kalian ini kenapa sih?" "Apanya?"sahut Danan. "Kenapa kalian kayak orang musuhan gitu. Sebelumnya sudah kenal dan ada masalah ya?" Maira menatap Nugra dan Danan bergantian. Danan mendecih."Aku nggak punya teman seperti dia." "Apalagi aku,"balas Nugra. Maira menggeleng-gelengkan kepalanya."Udah deh. Jangan cari masalah. Udah siang, aku lapar. Kalau masih mau berantem ya udah, aku duluan aja."Maira mengambil tasnya lalu bangkit hendak pergi. Nugra dan Danan bangkit bersamaan. Mereka berdua berjalan di belakang Maira beriringan bak bodyguard. Maira menoleh ke arah belakang, kemudian ia memilih tidak berkomentar. Ia terus berjalan ke parkiran. "Baikan!"kata Maira tiba-tiba membalikkan badannya. "Kita nggak musuhan, sayang,"ucap Nugra lembut. "Terus...kenapa begitu sikapnya. Kak Danan itu calon kakak ipar kamu, kamu harus sopan. Dan kakak...Nugra itu calon adik ipar kakak. Jangan memusuhinya begitu. Ayolah...jangan kekanakan, kalau memang nggak ada apa-apa ya...udah jangan kayak gini,"omel Maira. Danan dan Nugra bertukar pandang, lalu keduanya berhadapan dan setelah itu berpelukan. Mereka berdua langsung tertawa seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa. Maira mengembuskan napas lega. "Syukurlah kalau begitu. Sekarang...kita makan ya?" "Oke!" Jawab Nugra dan Danan bersamaan. Tiba-tiba keduanya menjadi anak yang baik. Ternyata tidak ada sesuatu yang serius di antara mereka. Usai makan siang, Danan langsung kembali ke kantor. Sementara Nugra dan Maira masih berada di tempat makan. Akhirnya mereka bisa berdua lagi tanpa ada gangguan dari Danan. Nugra menggenggam tangan Maira dengan erat, mencium punggung tangannya dengan lembut."Aku kangen kamu." "Aku juga." "Mau kencan malam ini?" Maira mengangguk."Berdua saja kan?" Nugra mengangguk, mengedipkan sebelah matanya."Tentu saja, berdua!" "Ya karena aku sedikit khawatir kalau tiba-tiba Kak Danan minta ikut. Dia suka begitu orangnya. Perusak suasana." Maira terkekeh. "Aku yakin dia nggak bakalan mau ikut kok. Dia sudah dewasa, pasti mengerti kalau kita butuh waktu untuk berdua." Maira menarik napas panjang."Kemarin aku lihat lingerie...bagus." Nugra menaikkan sebelah alisnya."Oh ya? Seperti apa?" "Aku punya fotonya,"bisik Maira. Ia mengambil ponsel, membuka galeri dan menunjukkan lingerie hitam transparan pada Nugra. "s**t,juniorku jadi bangun!"umpat Nugra. Maira mengerucutkan bibirnya."Hanya lihat patung dengan lingerie ini...kamu jadi tegang?" Ia menyipitkan matanya curiga. "Bukan, sayang...aku langsung membayangkan kamu pakai. Lalu kita..." Nugra memegangi kepalanya. Maira tertawa melihat ekspresi lucu Nugra."Lalu kita kenapa?" Nugra menyeringai."Jangan memancingku, sayang. Bisa-bisa aku langsung menyeret kamu ke apartemen." "Jangan, nanti kamu nggak bisa kontrol." "Kan ada ini...bisa bantuin aku." Nugra mengusap punggung tangan Maira. Wajah Maira merah, teringat benda yang pernah ia genggam hingga menyemburkan cairan hangat."Memangnya itu cukup?" "Sebenarnya tidak. Harus benar-benar melakukannya. Tapi, aku akan menunggu sampai menikah saja. Kecuali...kamu bersedia bantu aku lagi." Nugra mengedipkan sebelah matanya. "Kapan?"tanya Maira seolah-olah memberi tantangan pada Nugra. Nugra tersenyum, lantas ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi."Sekarang!" "Oke,"balas Maira dengan tatapan penuh arti.                                                                                             **   Ini sudah malam. Nugra dan Maira masih berada di apartemen sejak siang tadi. Keduanya bermesraan di atas ranjang sepanjang hari sampai lupa waktu. Ponsel keduanya pun sengaja dimatikan supaya tidak ada yang mengganggu. "Sayang, udah malam ini kan?"kata Maira seraya memainkan jemarinya di d**a Nugra. "Iya. Lalu?" "Aku harus pulang..." Nugra memeluk tubuh Maira dengan posesif."Aku masih mau sama kamu. Bisa nggak kalau kamu...di sini aja." Maira tertawa, memukul d**a Nugra pelan."Ya janganlah, nanti aku dicariin soalnya kan Mama sama Papa di rumah. Kecuali...mereka lagi ke luar kota. Pun ya...sekarang ada Kak Danan juga. Pasti dia bawel." "Tutup mulutnya pakai kanebo biar nggak bawel,"sahut Nugra. "Kamu ini, kenapa kayak sewot banget sama Kak Danan." Maira memperbaiki posisi duduknya. "Ya aku cemburu aja." Maira mendecak, menanggapi ucapan Nugra barusan sepertinya akan membuang-buang waktu saja. Harus berapa kali ia katakan kalau Danan adalah kakaknya. Papa Danan dan Papanya adalah kakak beradik. Tentunya Danan bisa menjadi wali nikah Maira, mana mungkin Maira dan Danan akan memiliki hubungan spesial. Bahkan tidak akan bisa menikah sekali pun misalnya mereka jatuh cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD