Bab 17

1079 Words
"Ya udah, kalau memang begitu. Aku nggak terlalu akrab sama Kak Danan,"jawab Maira. Sebenarnya itu hanya untuk menenangkan hati Nugra saja. Tidak mungkin ia menjauhi Danan, aneh-aneh saja. "Kenapa pernikahan kita masih lama ya?" Nugra terlihat tidak sabar. Maira tertawa, ia turun dari tempat tidur dan memunguti pakaiannya."Sabar...itu juga termasuk kilat banget persiapan pernikahan kita. Dijalani aja. Nanti juga akan tiba waktunya." "Iya, sih." Nugra melihat Maira seperti akan bersiap-siap pulang."Beneran mau pulang?" "Sudah jam delapan, Nugra. Aku harus pulang. Nanti Papa curiga." Maira merapikan rambutnya. Nugra turun dari tempat tidur, menghampiri Maira dan memeluk wanita itu dari belakang."Papa kamu nggak bakalan curiga kok. Beliau udah percaya sama aku." Maira membalikkan badannya, mengalungkan kedua tangannya di leher Nugra, sedikit berjinjit untuk mengecup bibir kekasihnya itu."Besok kita bisa ketemu lagi." "Iya, sayang. Ya udah aku siap-siap dulu untuk antar kamu pulang." Setelah menunggu selama sepuluh menit, keduanya pun segera keluar dari sana. Nugra akan mengantarkan Maira pulang. Mereka tiba di lantai satu, di sana terdapat butik, kafe, mini market serta gerai ATM. Nugra masuk ke gerai ATM untuk mengambil uang. Maira menunggu dengan sabar di depannya. "Sudah. Yuk,"ajak Nugra "Oke." Nugra tidak sengaja menabrak lengan orang yang sedang melintas di sebelahnya hingga wanita itu sedikit terhuyung."Maaf..." Wanita itu mengusap lengannya, tersenyum. Nugra mematung beberapa detik, wajah itu tidak asing. Wanita cantik itu tersenyum pada Nugra. "Tidak apa-apa, Nugra." Nugra menganga, terkejut karena wanita itu tahu namanya."Hmm...bagaimana kamu tahu namaku?" "Ah, aku tidak pernah lupa denganmu, Nu,ternyata kamu sudah lupa sama aku." Wanita itu terkekeh sambil menepuk lengan Nugra. Nugra berusaha mengingat-ingat senyuman khas itu."Hai, kakak! Ini Kakak kan?" "Kamu beneran Nugra? Ya ampun nggak nyangka bisa ketemu di sini ya?" Wanita itu tertawa lepas."Tadinya sempat ragu, tapi...entah kenapa Dengan pedenya aku panggil kamu Nugra." Nugra mengusap tengkuknya."Iya, kak." "Kamu ngapain di sini?" "Ah, kebetulan aku tinggal di apartemen ini. Kakak sendiri ngapain?" "Cuma lagi ketemu temen di kafe itu." Wanita itu melihat ke arah Maira yang sedari tadi bengong."Ini siapa, Nu?" Nugra melihat ke arah Maira."Ah, kenalkan, Kak...ini Maira calon istriku. Sebentar lagi kita menikah." "Wah...sudah mau menikah. Hai, kenalin saya Yuki,"sapanya dengan ramah seraya mengulurkan tangannya. Maira membalas uluran tangan Yuki. Wanita itu terlihat sangat cantik sekali kalau tersenyum. Maira jadi tidak percaya diri saat bicara dengannya."Saya Maira. Salam kenal, kak." "Kak Yuki ini seniorku sewaktu kuliah dulu. Kita juga dulu satu organisasi jadi lumayan dekat dan udah lama nggak ketemu. Makanya kaget banget tadi,"jelas Nugra. Maira mengangguk-angguk."Oke...oke. Paham." "Kak, kami harus pergi. Mau antar Maira pulang. Sampai ketemu lagi." Nugra melambaikan tangannya. "Mari,kak." Maira ikut berpamitan "Dah, hati-hati!"teriak Yuki dengan ceria. Ia pun melanjutkan aktivitasnya. Tapi, baru beberapa langkah ia langsung berhenti."Nugra!"teriaknya. Tetapi Nugra tidak dengar. Pria itu sudah jauh berjalan bersama sang kekasih. "Ah, lain kali aja minta kontaknya. Lagi pula aku sudah tahu kalau dia tinggal di sini,"kata Yuki yang kemudian berlalu. "Wajah kak Yuki kayak orang Jepang ya?"komentar Maira. "Dia memang keturunan Jepang, sayang. Kalau nggak salah Papanya atau mamanya, ya, yang Jepang. Duh lupa deh." "Kayaknya orangnya baik." "Iya. Dia ramah banget." "Nanti kita undang aja kalau nikah." Nugra baru teringat kalau tadi ia tidak bertukar kontak dengan Yuki, padahal sudah lama sekali ia ingin berkomunikasi dengan seniornya itu."Eh iya...tapi, aku nggak tahu dia tinggal dimana sekarang. Tadi nggak minta alamatnya. Ya udah nanti kalau ketemu lagi aja.” "Iya, sayang." Maira bersandar manja di lengan Nugra. Sementara Nugra terus memeluk kekasihnya itu dengan erat seolah-olah Maira tak boleh lepas dari pelukannya sedetik pun. Nugra mengantarkan Maira sampai rumah. Pria itu tidak ikut masuk ke dalam karena sudah malam. Maira mengecup bibir Nugra sebelum mereka benar-benar terpisah. Wanita itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah ceria. Danan sengaja batuk-batuk saat Maira masuk. "Batuk, Pak Haji!"komentar Maira. "Nggak, cuma keselek!" "Oh...syukurlah,"balas Maira. "Habis ngapain?"Danan langsung menginterogasi Maira. Pria itu mengitari tubuh Maira dan memberikan tatapan curiga. "Habis makan malam dong, Kak,"balas Maira berusaha santai. "Kok bau m**i ya?" Danan mengendus tubuh Maira. "Astaga, mulut kakak itu suka sembarangan ya!"omel Maira. Tapi, ia juga ikut mengendus tubuhnya sendiri, mungkin saja benar-benar mau cairan Nugra. Danan menyipitkan matanya."Habisnya seharian ngilang. Bikin aku berpikir yang m***m-mesum." "Apa yang kakak pikirkan terhadapku, adalah apa yang sebenarnya kakak inginkan terhadap kakak sendiri. So, kakak yang m***m. Makanya cepetan cari jodoh! Biar otaknya nggak m***m terus,"sembur Maira. "Eh...kenapa jadi ke kakak coba?" Danan hendak memprotes tapi sayangnya Maira sudah pergi dari hadapannya. Sementara itu, Nugra kembali ke apartmenennya. Pria itu berjalan dengan cool, membuat wanita mana saja yang melihatnya jadi terpana. “Nugra!”Yuki menghampiri Nugra. Ia memang sengaja menunggu pria itu di sini akrena takut kehilangan jejak. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu dan sekarang mereka dipertemukan kembali di saat ia memang sudah sendiri. Nugra terkejut melihat Yuki masih ada di sini,ia mengusap lehernya dengan wajah merona saat wanita itu menghampirinya.”Kakak...” “Maaf...aku nungguin kamu.” “Iya, kak...nggak apa-apa.” “Dek,”panggil Yuki. “Kakak...” Jantung keduanya berdegup kencang, wajah mereka terasa panas karena sama-sama malu. “Eh, udah lama banget ya kita nggak ngobrol.” “Iya, kita ngobrol di cafe itu aja, kak,”saran Nugra. “Bagaimana kalau di apartemen kamu aja, Dek, sekalian pengen tahu kamu tinggal dimana.” Ajakan Yuki itu membuat Nugra tidak bisa menolak. Pesona wanita itu memang tidak pernah pudar sejak mereka sama-sama masih berstatus mahasiswa.”Oh iya, Kak. Ayo. Tapi, maaf kalau berantakan.”Nugra dan Yuki berjalan beriringan memasuki gedung. “Nggak apa-apa, dulu juga kostan kamu sering berantakan, kakak yang sering bereskan kan?” “Ah iya, jadi malu.” Wajah Nugra kembali merona. Ia membuka pintu apartemen dan mempersilakan Yuki masuk.”Silakan, Kak.” “Terima kasih.” Wanita itu membuka jaketnya dan menggantungkan di belakang pintu. “Silakan duduk, Kakak mau minum apa?” “Nggak perlu, Dek, kakak belum haus. Kita duduk aja sambil ngobrol.”Yuki menarik lengan Nugera agar duduk di sisinya. Nugra berdehem, sedikit terkejut dengan perlakuan Yuki padanya.”Kakak apa kabar?” “Baik.” “Apa kegiatan Kakak sekarang ini?” “Kakak sekarang...cuma kerja sebagai guru honor saja, Dek.” Nugra mengerutkan keningnya. ”Guru? Bukannya kakak itu pramugari?” “Dari mana kamu tahu kalau Kakak pernah jadi pramugari, Dek?”Yuki tampak kaget, pasalnya dulu ia mati-matian menyembunyikan diri dari Nugra. Ia tahu, Nugra mencarinya mati-matian, tapi ia juga mati-matian menghindar dari pria itu, tapi untungnya pekerjaannya sebagai pramugari membuatnya dengan mudah pergi dari kehidupan Nugra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD