“Aku cari tahu,Kak...ya, setahun kemudian sih.”Nugra tersentum lirih mengingat itu semua. Mungkin wanita itu tidak akan pernah tahu bagaimana sakitnya ia saat itu, ditinggalkan oleh wanita yang ia cintai begitu saja.
“Maafin Kakak, Dek, saat itu...kakak hanya menuruti keinginan orangtua supaya nggak pacaran sama kamu,”jelas Yuki kemudian.
“Iya, Kak, aku paham.” Pada masa itu, keluarga Nugra memang tidak sesukses sekarang, hingga kerap kali kondisi itu membuat orangtua Yuki melarang mereka berpacaran, apa lagi dulu Yuki sangatlah pintar dan cantik, banyak pria-pria kaya mendekatinya. Nugra jelaslah bukan level anak gadis itu, begitu pikir orangtua Yuki.
“Lalu, kenapa sekarang kakak jadi guru?”lanjut Nugra.
Yuki menunduk sedih, air matanya pun mengalir ketika teringat dengan semua kejadian yang telah berlalu.
“Kak, maaf!” Nugra mendekati Yuki perlahan, tangisan pilu wanita itu membuatnya memeluk Yuki.”Kalau belum siap, nggak apa-apa. Jangan ceritakan.”Ia mengusap-usap punggung Yuki.
Yuki mengangguk seraya mengusap air matanya.”Makasih banyak, Dek,”ucapnya sambil membalas pelukan Nugra.
“Aku ambilkan minum dulu.” Nugra melepaskan pelukannya, kemudian mengambilkan air mineral untuk Yuki.”Silakan, Kak, jangan sedih ya.”
Yuki meneguk air mineral itu,lalu tersenyum,”Kamu masih semanis dulu.”
Nugra tersipu,”Iya, aku memang masih seperti dulu, kak. Nggak ada yang berubah.”
“Masih suka risolles?”tatap Yuki penuh arti.
Mereka berdua bertatapan selama beberapa detik,kemudian tertawa bersamaan karena mengingat sesuatu di masa lalu.
“Aku masih suka, Kak, cuma udah jarang kumakan. Soalnya...kalau makan itu aku jadi ingat kakak,”kenang Nugra, ada sedikit uka yang kembali menguak di hatinya.
Yuki meraih tangan Nugra, menggenggamnya dengan erat.”Maafin Kakak, Dek.”
“Iya, kak. Aku mau maafin kakak...asal....”Nugra menggantungkan ucapannya.
“Asal apa?’
“Kakak buatkan aku risolles yang banyak!”
Yuki tersenyum dengan haru.”Kakak buatkan untuk kamu sebanyak-banyaknya sampai kamu bosen!”
“Aku nggak akan bosen kalau itu buatan kakak,”balas Nugra lagi. Perasaannya begitu berbeda kali ini, ia merasa sesuatu yang hilang dari diirinya selama ini telah kembali.”Oh ya, Kakak sudah menikah? Nnati dicariin suami kakak belum pulang jam segini.”
Yuki menggeleng.”Kakak belum menikah.”
“Oh begitu...”
“Dulu...pernah punya pacar, pilot,”kata Yuki memulai ceritanya.”Tapi, ternyata dia itu sudah punya istri. Hubungan kami ketahuan dan istrnya itu marah besar. Akhirnya ia melakukan seuatu yang membuat Kakak dipermalukan di depan orang banyak. Akhirnya kakak mengundurkan diri saja.”
“Oh ya?Kapan kejadiannya?”
“Mungkin...dua tahun lalu.”
“Iya, Kak. Suatu saat kakak pasti akan menemukan pria yang jauh lebih baik dari pria itu,”hibur Nugra.
“Pria seperti kamu...”
Nugra tertawa.”Kakak bisa saja.”
“Lain kali, Kakak boleh main lagi ke sini, kan?”
“Pintu selalu terbuka lebar untuk kakak.”
Yuki pun bangkit.”Kakak harus pulang karena besok harus masuk pagi.”
Nugra berdiri mngikuti Yuki yang kini tengah memakai jaketnya.”Aku antar ya, Kak.”
“Nggak perlu, Kakak masih harus ke tempat lain. Lain kali aja kamu anterinnya.”
“Iya, Kak.”Nugra membukakakn pintu.
“Kakak pulang dulu!” Yuki mengecup pipi Nugra sekilas, kemudian pergi begitu saja.
“Ha-ti...hati, kak,”ucap Nugra syok seraya memegangi pipinya yang kini sudah merona.
**
Maira melirik jam dinding, sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Ia segera bersiap-siap menuju kantor Nugra. Hari ini, mereka akan pergi makan siang dan setelah itu mencari kue pernikahan. Nugra ingin pernikahannya ada acara potong kue pengantin, tingginya sekitar dua meter dan harus terlihat mewah. Maira hanya bisa mengiyakan dengan sabar. Kata Odelie, jarang ada lelaki yang sangat respon dengan persiapan pernikahan. Biasanya mereka lebih suka menyerahkan semuanya pada pihak keluarga wanita atau orang lain. Tapi, Nugra, ia lebih suka turun langsung mengurus semuanya. Jadi, Odelie menyarankan sebaiknya diikuti saja.
Demi kebaikan bersama, Maira menuruti permintaan Nugra meskipun ia benar-benar tidak suka dengan acara yang begitu ribet dan membuang uang yang banyak. Maira melepaskan semua rasa egonya, berubah menjadi wanita penurut dan lebih mudah tersenyum.
Maira menatap gedung di hadapannya, ia tersenyum penuh arti. Sebentar lagi atau lebih tepatnya dua Minggu lagi ia akan menjadi Nyonya Nugra. Menjadi istri orang penting di kantor ini. Ya walaupun dulu ia juga merupakan orang penting di kantornya sendiri, tapi kali ini sensasinya berbeda. Sebab ia akan menjadi seorang istri.
Maira mengetuk pintu, Nugra membuka pintunya langsung karena pria itu tahu kekasihnya itu sudah sampai.
"Sayang,"peluk Nugra dengan erat.
Maira terkejut tiba-tiba mendapat pelukan. Beberapa detik kemudian ia membalas pelukan Nugra."Aku kaget."
Nugra tersenyum, mengecup pipi Maira dengan gemas."Aku sayang kamu."
Maira menatap Nugra."Aku juga sayang sama kamu. Kenapa...kok tiba-tiba manja begini?"
"Aku kangen, yuk sini duduk." Nugra membawa Maira duduk. Kemudian ia merapatkan tubuh mereka, mencium bibir Maira dengan lembut. Andai Nugra tidak ingat jika mereka sedang ada di kantor, mungkin ciuman mesra mereka akan terus berlanjut pada adegan mesra lainnya.
"Nggak sabar banget mau nikahin kamu." Nugra mengusap bibir Maira yang basah.
"Aku juga...dua Minggu lagi kan?"
"Iya, sayang...dua Minggu lagi menuju ena-ena. Oh ya...hari ini kita jadi pergi cari tart kan?"
"Iya. Black forest dong ya?"pinta Maira.
"Ya udah kita lihat aja ntar di sana." Nugra mengecup kening Maira.
"Apa ini?" Perhatian Maira terpusat pada kotak kue bewarna cokelat.
Nugra melirik ke arah yang dimaksud Maira."Kue."
"Beli?"
"Iya ...kamu mau? Masih banyak itu loh. Cobain...enak,"kata Nugra.
Maira meraih kotak kue tersebut, isinya risoles."Wah, kamu suka risol ya? Biasanya cowok suka yang manis-manis begitu kan?" Maira mencomot satu isinya telur dan mayonaise.
"Maksudnya yang manis-manis?"
"Kayak Papa sama Kak Danan, mereka kurang suka gorengan seperti ini. Lebih suka yang kue basah dan manis. Kayak kue talam, putu ayu, lapis, kayak gitu deh,"jelas Maira.
"Oh, tapi kan selera orang berbeda. Aku suka ini kok." Nugra mencomot satu."Tuh enak banget."
"Iya sih enak." Maira meraih tissue untuk menyeka mulutnya."Kamu udah selesai?"
"Selesai bekerja? Kalau untuk kamu...sih sudah." Nugra kembali mengecup pipi Maira. Sikap Nugra yang seperti ini membuat Maira tidak ingin jauh-jauh dari Nugra. Ingin sekali rasanya tiap detik bersama, mengungkapkan segala hasrat yang ada.
"Minum dulu, berminyak nih." Nugra bangkit, mengambil air mineral botol miliknya di meja dan menyerahkan pada Maira.
"Makasih..."
"Kamu udah perawatan?"tanya Nugra.
Maira menggeleng."Belum. Minggu depan aja."
"Jangan dong, kamu udah bisa mulai dari sekarang. Perawatan semuanya, biar makin cantik dan seksi kalau sudah menikah nanti."
"Ya ampun, sayang..." Maira terkekeh. Ia pun bangkit dan memeluk Nugra."Terima kasih sudah perhatian sama aku. Aku nggak nyangka ternyata kamu seperti ini. Dulu ...aku suka jutek sama kamu."
Nugra menangkup wajah Maira hingga bibir wanita itu mengerucut. Dikecupnya bibir Maira berkali-kali."Nggak apa-apa, sikap kamu bikin aku pengen kejar kamu terus. Aku harus berjuang, ikut liburan, berpura-pura menjadi orang lain. Awalnya aku mau nyamar sampai dua Minggu sih. Tapi, waktu itu kita hampir saja kelepasan. Kita hampir making love. Sejujurnya aku nggak mau itu terjadi sebelum kita menikah. Sebab aku sayang kamu."
"Maafin aku."