Bab 9

1006 Words
Nugra menoleh saat mendengar suara pintu terbuka."Ma..." Ia tertegun dengan penampilan Maira. Rambutnya yang belum kering dibiarkan terurai. "Kamu masih mau balik ke air terjun?"tanya Maira. "Iya. Kamu mau ke sana lagi juga? Biar aku tunggu,"kata Nugra. Maira berpikir beberapa saat, kemudian ia mengangguk."Tapi, aku hangatkan badan dulu ya. Soalnya air di sana dingin sekali." "Oh...begitu, kamu mandi aja pakai air hangat, terus pakai baju hangat. Aku pesankan teh atau minuman yang bikin badan hangat?" "Ah, nggak perlu. Tehnya bisa dibikin sendiri kok di sini." Maira berdiri untuk memanaskan air. "Oke." Maira memanaskan air, kemudian ia segera mandi air hangat. Nugra duduk dengan tenang seraya memperhatikan ponselnya. Hening, sesekali terdengar suara percikan air dari dalam. Setelah itu terdengar derit dari teko. Air yang dipanaskan Maira sudah mendidih, Nugra pun mematikan serta menyeduh teh untuk mereka berdua. Setelah itu ia duduk kembali dan menanti dengan sabar. Maira keluar, sudah mengenakan kaus lengan panjang serta celana panjang berbahan katun, rambutnya sedikit lembab. Ia melihat dua cangkir teh sudah tersaji di meja. Ia tersenyum."Oh, airnya udah mendidih. Maaf jadi merepotkan." Nugra menyimpan ponselnya ke dalam tas."Iya. Nggak apa-apa. Ayo minum." "Thanks." Maira duduk di kursi yang masih kosong, menyeruput tehnya sedikit."Nugra..." Nugra hanya menatap Maira seraya menanti ucapan wanita itu selanjutnya. "Aku minta maaf soal kemarin...aku sudah kasar ke kamu." "Tidak apa-apa. Setiap manusia memang punya mood yang mudah berubah. Terkadang pun aku begitu,"jawabnya. "Ah...terima kasih atas pengertiannya." "Lalu...kenapa tadi kamu cium aku?" Wajah Maira merona seketika, ia berdehem seraya menyembunyikan wajahnya."Ah itu...apa kamu keberatan?" "Tidak,"balas Nugra tanpa ekspresi. Melihat ekspresi Nugra, Maira jadi kebingungan harus mengatakan apa lagi. Entah kenapa, tadi sewaktu di air terjun ia ingin sekali mencium Nugra."Oh..." "Kamu boleh melakukannya lagi kalau kamu mau,"tawar Nugra dengan kekehan di dalam hati. "Iya...eh, maksudku...apa itu bukan masalah? Misal...ternyata kamu punya pasangan yang akan marah..." "Aku tidak punya pasangan,"potong Nugra. "Oh...baik!" "Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku, Maira?"todong Nugra langsung. "Semuanya." Alis Nugra terangkat sebelah."Semuanya?" "Ya!" Kini suara Maira terdengar serius."Aku ingin menawarkan sesuatu padamu." "Apa itu?" "Aku ingin memilikimu selama ada di sini." Nugra melirik. Kemudian ia tersenyum."Memiliki aku selama di sini? Kita...pacaran atau sejenisnya?"Nugra menegaskan. "Ya. Tapi, setelah liburan ini selesai, hubungan kita berakhir,"sambung Maira. Nugra mengangguk, ia tersenyum di dalam hati, penawaran yang begitu menarik, pikirnya."Oke. Lalu...apa yang akan kita lakukan selama berpacaran?" "Semuanya!" "SEMUANYA?" Nugra memberikan penekanan pada kalimat itu."Semua artinya...tidak ada pengecualian." "Benar." "Oke. Deal!" Nugra tersenyum penuh arti. Mudah-mudahan saja Maira benar-benar paham dengan apa yang diucapkannya barusan. Mereka berjabat tangan sebagai kesepakatan. "Deal!" "Jadi, sekarang...kita sudah pacaran?" "Ya." "Apa aku harus memanggilmu sayang?"tanya Nugra dengan lembut. "Terserahmu saja." Maira menyeruput tehnya lagi. Kemudian bangkit dan duduk di pangkuan Nugra. Pria itu tampak terkejut. Sebenarnya apa yang sedang wanita itu pikirkan. Batinnya bergejolak, tapi ia sendiri tidak berani mengambil tindakan terlebih dahulu. Maira mengalungkan kedua tangannya di leher Nugra. Dengan berani ia mengecup bibir dan kemudian beralih ke leher, Gairah Nugra berdesir, tapi ia berusaha bersabar untuk tetap tidak mengambil tindakan lebih lanjut. Nugra sempat berpikir, mengapa Maira tiba-tiba menjadi seperti ini. Belum hilang rasa penasarannya, Maira melepaskan ciuman dan menatap Nugra."Nugra..." "Iya, sayang?" "Kita ke tempat tidur..." Nugra menatap mata Maira lekat-lekat untuk memastikan apakah Wanita itu benar-benar serius dengan ucapannya."Kamu yakin? Sekali aku bilang iya, aku nggak akan mundur lagi, Sayang." "Iya. Aku yakin..." Nugra merapikan anak rambut wanita itu."Kamu masih virgin?" "Ya." "Kamu akan kehilangan itu selamanya." Nugra berusaha mengingatkan, mungkin saja wanita itu sedang lupa akan segala konsekuensinya. "Ya, aku tahu..." "Tapi, kenapa, Maira? Kita hanya akan pacaran di sini...dan aku orang asing. Lalu...kamu rela kehilangan..." "Stop, Nugra! Baru kali ini aku mendengar pria mempermasalahkan itu. Bukankah biasanya pria tidak peduli. Yang penting 'enaknya' saja,"balas Maira sedikit ketus. "No, aku peduli sama kamu. Makanya aku pertanyakan itu. Aku nggak mau di kemudian hari kamu menyesal, di saat dimana...aku sudah tidak ada di sampingmu." Maira menggeleng lemah."Tidak. Aku sudah pikirkan semuanya." Suara Maira terdengar begitu sedih seakan sedang menyimpan beban yang begitu berat. Nugra memeluk Maira."Sudah...jangan sedih. Aku di sini, kita akan lewati hari-hari di sini bersama-sama." Mereka tidak jadi melanjutkan apa yang sudah mereka mulai tadi. Lagi pula waktu mereka masih panjang. Masih ada waktu lain untuk sekedar bermesraan di ranjang. Perlahan mata Maira terpejam, ia pun tertidur dengan nyenyak. Nugra menatap Maira, meyakinkan jika wanita itu benar-benar sudah tidur. Ia pun bangkit dan memakaikan pakaian Maira. Nugra mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.”Jemput kami!” ** Aroma bunga mawar begitu tajam menusuk ke hidung Maira. Mata wanita itu masih terpejam, rasanya berat sekali untuk dibuka. Tapi, aroma itu sungguh membuatnya penasaran. Ia membuka matanya dengan susah payah, lalu dilihatnya ke sekeliling. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya lampu di sana. Seketika jantungnya berdegup kencang, lalu ia melihat tangannya terdapat jarum dan selang infus. "Maira?" Odelie menghampiri anaknya dengan senang."Kamu udah bangun." Bunga mawar yang sedang ia rapikan tadi diletakkan di atas nakas sebelah ranjang Maira. "Ma, Mama...kok ada di sini? Terus...kok Maira begini?" Maira melihat ke sekeliling dengan bingung. Tentu, sangat bingung. "Kamu kecelakaan, sayang, di tempat wisata itu,"jelas Odelie. Maira menggeleng kuat. Sepertinya sekarang ia tengah bermimpi bertemu Mamanya. Ia segera mencubit tangannya sendiri, sakit. Ini bukanlah mimpi."Nggak mungkin,Ma. Maira nggak ingat apa-apa." "Benar, sayang, kemarin pihak penginapan menghubungi Papa, bilang kalau kamu kecelakaan di air terjun jadinya, kita jemput kamu dan...bawa kamu ke sini untuk dirawat,"jelas Odelie. Tapi, penjelasan itu tetap tidak bisa diterima oleh otak Maira. "Tapi, Ma...terakhir kali Maira ingat lagi ada di kamar. Bagaimana mungkin Maira kecelakaan?" Maira kebingungan. Rasanya tidak mungkin ia kecelakaan, terakhir kali ia dan Nugra sedang bersama di dalam kamar. Ya, mereka selesai berciuman dan bermesraan. Indah sekali, bahkan ia tidak ingin liburan itu segera berakhir. Tapi, kenyataannya sekarang ia sudah berada di rumah sakit. Tidak ada Nugra. Bagaimana caranya ia bertemu dengan pria itu lagi, mereka bahkan tidak sempat bertukar kontak. "Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Kamu baru sadar, tidak baik memaksa otak kamu berpikir keras seperti itu." Odelie mengusap kepala Maira dengan lembut. "Ma..." "Maira..." Odelie menatap anaknya itu dengan tajam, lalu ia tersenyum   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD