Bab 10

1062 Words
"Baiklah, Ma. Maira haus." Tenggorokan Maira terasa kering. Dengan cepat, Odelie mengambilkan segelas air dan menyerahkan pada Maira. Wanita itu meneguknya sampai habis. "Gimana? Kamu sudah enakan?" Maira mengangguk."Iya, Ma." "Ya sudah, jangan banyak mikir dulu. Kamu harus pulih secepatnya biar bisa beraktivitas lagi." Maira memperhatikan anggota tubuhnya sendiri."Ma, kalau Maira kecelakaan, kenapa nggak ada luka di badan Maira?" Odelie terdiam beberapa detik, mencari jawaban."Memang tidak ada, kamu cuma pingsan." "Ya bukan kecelakaan dong, Ma. Sebenarnya apa yang terjadi sama Maira, Ma? Terus...pas kejadian, ada orang lain nggak selain Maira?" Maira mulai merasa banyak kejanggalan. Tapi, kenapa semua ini bisa terjadi, bisa-bisanya ia tidak ingat apa pun setelah ia dan Nugra berduaan di kamar. Odelie menggeleng pelan."Nggak ada." Maira tidak puas dengan jawaban sang Mama. Tapi, kali ini ia memilih diam seraya berpikir keras. "Kemarin, Gagah jenguk kamu loh." Odelie membuka pembicaraan lagi. "Gagah siapa?"tanya Maira spontan, sebenarnya ia juga ingat dengan nama Gagah, si pria ingkar janji. Tapi, mungkin saja ada Gagah yang lain, pikirnya. "Ya Gagah yang mau dijodohkan sama kamu,"kata Odelie lagi. "Ah, kenapa kemarin...kan Maira nggak bisa lihat orangnya." Odelie tertawa kecil."Yang penting kan dia jenguk kamu. Dia itu orang sibuk, Maira, jadi...susah mencocokkan jadwal sama kamu." "Ah, sesibuk itu ya...berarti ketika menikah, Maira bukanlah prioritas. Kenapa Maira harus menikah dengan orang seperti itu." Maira kembali menunjukkan ketidaksukaannya terhadap pria tukang ingkar janji. "Ya enggak dong, setelah menikah...tentu kamu menjadi prioritas." Maira membiarkan Mamanya bercerita tentang Gagah. Mata Maira tertuju pada Odelie, tapi otaknya sedang berpikir tentang kenapa dan bagaimana ia bisa sampai di rumah sakit ini. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di kepalanya, tapi siapa yang bisa menjawab. Wanita itu menghela napas panjang, tiba-tiba hatinya berdenyut, matanya berkaca-kaca sebab ia merindukan Nugra. Pintu kamar diketuk, perawat dan dokter masuk untuk memeriksa kondisi kesehatan Maira. Pikiran Maira terus bergejolak, ini seperti sebuah misteri yang harus ia pecahkan. Pasalnya, Sang Mama terlihat tidak begitu khawatir atau tidak begitu terlihat bahagianya saat ia membuka mata. "Dok, kapan saya boleh pulang?"tanya Maira. "Kita lihat perkembangan kesehatan kamu sampai sore ini ya. Setelah itu baru bisa saya putuskan kapan kamu bisa pulang,"jelas sang dokter. "Memangnya saya sakit apa, Dok?" "Ada benturan di kepala kamu, Maira,"katanya seraya tersenyum ramah. "Benturan?"ucap Maira dalam hati."Benturan apa?" Begitu banyak pertanyaan di kepala Maira, satu pun tidak terjawab. Sampai akhirnya ia tidak sadar kalau sang dokter sudah pergi. "Ma..." "Iya,sayang?" "Maira boleh minta tolong, hubungin Alex?"pinta Maira dengan nada selembut mungkin. "Bisa, sayang. Tapi, Alex sudah tidak bekerja lagi untuk kita." Odelie tersenyum penuh arti. Maira menganga, tidak percaya jika orang seperti Alex harus keluar dari perusahaannya. Dan kenapa asisten pribadinya itu harus keluar."Kenapa Alex keluar, Ma? Apa dia dikeluarkan? Dia itu orang kepercayaan Maira,Ma!" "Alex resign, sayang,"kata Odelie. Maira menggeleng."Nggak mungkin, Ma, nggak mungkin. Ini pasti ada yang salah. Maira harus bicara sama Papa. Jangan-jangan Alex sengaja dipecat ya?" "Hush, jangan bicara sembarangan. Nanti kalau Papa datang, kamu tanyakan langsung saja ya? Sekarang kamu makan dulu." Odelie mengambil makanan yang dibawakan oleh perawat tadi. "Apa yang sedang terjadi?" Hati Maira mulai tak tenang, ia merasa akan banyak beberapa kejadian mengejutkan setelah ini. Apakah itu baik atau justru sebaliknya, ia tidak tahu. Ia harus bersiap. Maira mulai merasa bosan terbaring di ranjang. Sejak tadi, tidak ada tanda-tanda Hermawan akan datang. Mungkin saja Papanya itu akan datang pada malam hari atau mungkin tidak akan datang sebab ada di luar kota, begitu pikirnya. Maira melirik Odelie yang tengah menonton televisi, wanita itu tampak serius menyaksikan berita politik yang sedang memanas saat ini. Maira mengembuskan napas berat,kemudian ia turun dari ranjang seraya menarik infusnya. Odelie menoleh, ia pun memekik karena Maira nekat turun."Maira, kenapa kamu turun?" Maira kembali ke tempat tidurnya dengan kesal."Maira bosan, Ma. Maira kan nggak sakit. Kita pulang saja ya, Ma?" "Sebentar, sayang. Kita harus menunggu persetujuan dokter dulu,"kata Odelie dengan sabar. Wanita itu melirik jam tangannya, lalu mengambil tas."Maira, Mama harus pergi sekarang. Kamu di sini saja ya. Mama mau jemput Papa di depan." Maira bernapas lega, akhirnya Hermawan datang juga. Ada banyak sekali pertanyaan yang akan ia ajukan pada Papanya itu. Sekitar lima menit kemudian, pintu kamar terbuka. Tapi, bukan Hermawan atau pun Odelie yang masuk, melainkan pria yang kemarin ia temui. "N...Nugra?"mata Maira berkaca-kaca melihat pria yang kemarin-kemarin sudah membolak-balikkan hatinya. Pria itu tersenyum, ia berjalan pelan menuju ranjang."Hai...kamu baik-baik saja?"Nugra duduk di sisi ranjang. Maira mengangguk dengan haru."Kamu kemana saja? Aku rindu." Nugra tersenyum penuh arti."Oh ya? Kamu rindu aku?" Ada sedikit nada tidak percaya yang keluar dari mulut pria itu. Maira memukul d**a Nugra pelan, kemudian tangannya digenggam erat oleh Nugra."Iya...aku juga merindukanmu. Makanya aku datang." "Terakhir kali aku ingat...kita ada di kamar kan? Kenapa tiba-tiba aku bisa ada di sini? Kamu bisa ceritakan?"tatap Maira dengan penuh harap. "Halo!" Hermawan datang. Nugra melepaskan genggamannya dan berdiri di sisi ranjang Maira. Maira tidak menyangka di momen seperti ini ia justru akan kepergok oleh Hermawan. Padahal ia masih ingin bicara banyak dengan Nugra. "Halo, Om." "Pa...kenalin ini..." Maira mulai gugup. "Nugraha Syarif,"ucap Hermawan seraya tersenyum geli. "Oh...kalian sudah berkenalan." Maira bernapas lega, setidaknya ia tidak perlu cemas jika Hermawan melontarkan banyak pertanyaan tentang pria asing yang berada di dalam sini. Hermawan bertukar pandang dengan Nugra."Kami kenal sudah cukup lama, jauh sebelum kalian saling kenal kan?" "Oh iya, Pa." Maira mengangguk-angguk, diiringi rasa syukur. Bukankah ini kabar yang baik, sebab ia dan Nugra sedang sama-sama tertarik. "Ya sudah, kalian lanjutkan saja obrolannya. Papa lihat kalian benar-benar cocok. Nggak sia-sia kami menjodohkan kalian." Maira mengerutkan keningnya."Menjodohkan kami? Sejak kapan Papa menjodohkan Maira sama Nugra? Kami kan secara tidak sengaja ketemu di sana, Pa." Hermawan menatap Nugra dengan bingung."Loh...kan memang kalian dijodohin. Iya, kan, Gagah?" Hermawan menepuk pundak pria yang diketahui Maira bernama Nugra. Tapi, Hermawan justru memanggilnya Gagah. Maira menganga tak percaya."Nugra adalah Gagah?"lantas ia menepuk jidatnya sendiri, permainan semacam apa ini! "Saya tinggal dulu ya?" Hermawan pun pergi dari sana. Maira melipat kedua tangannya di d**a, menatap Nugra dengan sinis. Tapi, sepertinya tatapan Maira tidak berpengaruh pada Nugra, pria itu terlihat santai-santai saja seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Pria itu justru pergi ke pintu dan menguncinya. "Apa-apaan ini? Sejak kapan ruang rawat inap pakai dikunci segala?"kata Maira "Sejak aku ada di sini." Nugra duduk di sisi tempat tidur, menatap Maira dengan dingin. "Jadi, kamu dengan sengaja menciptakan permainan ini dan merusak semua momen liburanku?"balas Maira tak kalah dingin, kini suasananya seperti sedang berada di kutub Utara. "Ya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD