Gerbang rumah keluarga Miller menjulang tinggi, menjelma seperti tembok kokoh yang menahan segala rahasia di baliknya. Hanna berdiri di depan sana, menunggu pelayan yang sudah mengenalnya sejak dulu membuka pintu. Hatinya berdentum keras, tiap detak seakan berperang dengan pikirannya sendiri
Aku harus tahu… aku harus dengar langsung dari Tante Yoora. Aku nggak bisa terus-terusan dibutakan. Ucap Hanna dalam hati.
Hari-hari terakhir begitu menyiksa. Christian menghilang dari radar. Teleponnya jarang diangkat, pesannya sering tak terbalas. Hanna sudah berulang kali datang ke kantor pusat, namun hasilnya nihil. Bahkan, saat ia menekan Elina—sahabatnya sejak kuliah—jawaban yang didapat selalu sama: mengelak, berpura-pura sibuk, atau memotong pembicaraan. Hanna tahu Elina menyembunyikan sesuatu, dan itu membuat darahnya mendidih sekaligus hatinya menciut.
“Silakan masuk, Nona Hanna,” sapa pelayan ramah setelah gerbang terbuka.
Langkah Hanna terasa berat ketika melewati halaman luas dengan taman bunga yang terawat sempurna. Semua terlihat indah, tapi perasaannya compang-camping. Ia mencoba menenangkan diri, tapi semakin dekat dengan pintu utama, semakin kuat rasa panik itu menjerat.
Yoora sudah menunggunya di ruang tamu. Wanita anggun itu duduk tegak di sofa, mengenakan gaun biru gelap, rambutnya disanggul rapi. Begitu Hanna masuk, ia tersenyum tipis, senyum khas yang selalu membuat siapa pun merasa dipantau, bukan disambut.
“Hanna,” panggil Yoora lembut, namun mengandung wibawa. “Jarang sekali kamu datang tanpa kabar dulu. Ada apa, sayang?”
Hanna menelan ludah, lalu menunduk sebentar sebelum duduk di sofa seberang. “Tante… aku… aku butuh bicara.”
Yoora mencondongkan tubuh sedikit, matanya tajam tapi tenang. “Baiklah. Katakan.”
Hanna menarik napas panjang, suaranya bergetar. “Akhir-akhir ini, Christian… dia makin sulit ditemui. Aku telepon, sering tak diangkat. Aku ke kantor, dia nggak ada. Aku—” ia berhenti sejenak, bibirnya bergetar. “Aku khawatir ada seseorang yang lagi dekat sama dia.”
Yoora tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir teh dari meja, menyesapnya perlahan. Keheningan itu menyiksa Hanna, membuatnya ingin lari tapi sekaligus memaksa untuk bertahan. Akhirnya Yoora meletakkan cangkir itu kembali dengan hati-hati, lalu menatap Hanna lurus.
“Hanna,” katanya pelan namun tegas, “jangan terlalu banyak berpikir macam-macam. Christian memang keras kepala. Kalau dia sibuk, dia bisa menghilang begitu saja. Itu bukan hal baru.”
“Tapi, Tante…” suara Hanna meninggi sedikit. Ia sadar, lalu menunduk, mencoba mengendalikan diri. “Aku merasa ada yang berubah. Bahkan Elina pun… aku tanya berkali-kali, dia selalu mengelak. Dia sahabatku, Tante. Tapi kali ini dia… dia seolah sengaja menutup mulutnya.”
Yoora menyipitkan mata, bibirnya melengkung tipis, senyuman dingin yang tak memberi kehangatan. “Elina hanya menjaga posisinya. Jangan salahkan dia. Kalau dia diam, itu artinya memang bukan bagiannya untuk bicara.”
Hanna mengepalkan tangan di atas pangkuan. “Tapi aku tunangan Christian, Tante. Aku berhak tahu kalau memang ada sesuatu. Aku… aku nggak mau ditipu.”
Yoora tersenyum, kali ini penuh penekanan. Ia bergerak ke depan, mengusap punggung tangan Hanna. “Dengar aku baik-baik. Kamu tunangan Christian. Kamu satu-satunya yang pantas ada di sisinya. Jangan biarkan siapa pun menggoyahkan keyakinan itu.”
Air mata menggenang di mata Hanna. “Kalau… kalau memang ada orang lain? Apa yang harus aku lakukan?”
Tatapan Yoora berubah tajam, nadanya dingin seperti bilah pisau. “Kalau ada orang lain, maka pastikan dia tidak pernah punya tempat di hidup Christian. Kamu harus berdiri lebih kuat dari siapa pun. Jangan beri celah. Jangan biarkan. Ingat, Hanna, ini bukan hanya soal perasaan. Pertunanganmu dengan Christian adalah soal kehormatan dua keluarga besar. Dan kehormatan itu harus dijaga.”
Hanna menunduk, pundaknya bergetar halus. Ia merasa kecil di hadapan Yoora, seolah semua keputusannya dikendalikan. Tapi di satu sisi, hatinya terasa semakin perih. Kata-kata Yoora justru memperkuat firasatnya: ada sesuatu yang memang sengaja disembunyikan.
“Tapi, Tante…” Hanna berusaha mengangkat wajahnya, suaranya serak. “Aku… aku merasa aku mulai kehilangan dia. Dia menjauhiku, bahkan… aku takut kalau aku hanya jadi bayangan di sisinya.”
Yoora menyipitkan mata, lalu menyandarkan punggung ke sofa dengan elegan. “Jangan pernah bicara seperti itu lagi. Kamu bukan bayangan, kamu adalah pusat. Kamu harus membuat Christian sadar akan posisimu. Kalau dia menjauh, tarik dia lebih dekat. Jangan biarkan dia merasa nyaman dengan yang lain. Ingat, Hanna, kelemahan terbesar seorang pria adalah ketika perempuan di sisinya goyah. Jangan pernah tunjukkan keraguanmu. Tunjukkan bahwa kamu akan selalu ada, meski dia melawan.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Jam antik berdetak pelan, suara detiknya terdengar jelas. Hanna hanya bisa menunduk, air mata menetes ke pangkuannya. Yoora tetap menatapnya, wajahnya penuh ketegasan, tak memberi ruang untuk menawar.
“Baik, Tante…” suara Hanna nyaris tenggelam. “Aku akan berusaha.”
“Bagus.” Yoora mengangguk, lalu menambahkan dingin, “Itu sikap yang harus kamu punya. Ingat, Hanna… Christian harus tetap milikmu. Apapun caranya.”
Hanna berdiri perlahan, tubuhnya masih gemetar. Ia pamit, menunduk sopan sebelum melangkah keluar. Begitu pintu rumah besar itu menutup di belakangnya, napas Hanna tercekat. Langkahnya berat menuruni anak tangga depan. Angin sore berhembus, tapi tubuhnya terasa panas, dadanya sesak.
“Apapun caranya…” kalimat Yoora terus terngiang-ngiang. Itu bukan lagi sekadar nasihat, melainkan perintah.
Di dalam mobilnya, Hanna duduk mematung, jemari mencengkeram setir erat. Air mata jatuh tanpa bisa ia cegah. Dalam hati, ia berbisik lirih:
“Kalau benar ada perempuan lain… aku akan menemukannya. Dan aku akan memastikan dia menyingkir. Aku nggak akan biarkan siapa pun merebut Christian dariku.”
Dengan tekad itu, Hanna menyalakan mesin mobil. Tapi di balik sorot matanya yang basah, ada sesuatu yang lebih dalam: rasa takut. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu—perempuan itu ada. Ia hanya belum tahu siapa.
***
Begitu pintu utama tertutup rapat, Yoora bersandar perlahan di sofa. Senyum tipis melintas di wajahnya, tapi bukan senyum hangat melainkan penuh perhitungan.
“Hanna benar-benar polos…” gumamnya lirih. “Bahkan setelah bertanya berkali-kali, dia masih tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.”
Yoora mengambil cangkir tehnya yang mulai dingin, menyesap sekali, lalu menatap kosong ke arah jendela besar. Bayangan Christian segera muncul di benaknya. Ia tahu persis, putranya itu bukan sibuk di luar negeri, bukan juga sibuk di kantor pusat. Christian memilih menjauh bersama seseorang.
“Jesslyn…” Yoora menyebut nama itu dengan nada datar. “Gadis itu yang membuat Christian melawan segalanya. Padahal aku sudah memperingatkannya sejak dulu.”
Ia menekan bel kecil di meja. Tak lama seorang pria bersetelan hitam masuk, menunduk hormat. “Ya, Nyonya?”
Yoora menegakkan punggungnya, wajahnya kembali dingin. “Aku ingin kamu menugaskan orang-orang kita. Awasi Christian. Dimanapun dia berada, siapapun yang bersamanya. Catat setiap detail. Jangan ada yang terlewat.”
“Baik, Nyonya.”
Yoora mencondongkan tubuh, suaranya lebih tajam. “Dan yang paling penting… jangan sampai Hanna tahu. Biarkan dia percaya kalau semua baik-baik saja. Aku tidak mau ada kegaduhan sebelum waktunya.”
Pria itu kembali menunduk. “Mengerti.” Ia lalu melangkah keluar dengan cepat.
Kini Yoora sendirian lagi, kedua tangannya saling mengatup di pangkuan. “Christian… kalau kau pikir bisa bersembunyi selamanya bersama Jesslyn, kau salah besar.”
Senyumnya kembali muncul, tipis namun menusuk. “Pada akhirnya, aku yang akan menentukan siapa yang pantas ada di sisimu.”
****