Ruang istirahat kantor pusat sore itu lengang. Beberapa karyawan sudah pulang, hanya tersisa suara jam dinding yang berdetak pelan. Aroma kopi hitam yang baru diseduh Rhea masih tercium samar di udara. Elina duduk di kursi dekat jendela, membuka bekal yang belum sempat disentuh sejak siang. Ia baru saja menghela nafas ketika pintu ruang istirahat terbuka dengan cukup keras.
Hanna masuk dengan langkah tergesa, wajahnya tegang, matanya langsung mengunci ke arah Elina. Rhea yang tadinya santai bersandar, spontan duduk lebih tegak. Ada sesuatu yang berbeda—seperti badai yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
“Elina,” panggil Hanna datar, tapi tajam.
Elina sempat terdiam sepersekian detik sebelum tersenyum tipis. “Han, tumben. Muka lo serius banget. Ada apa?”
Hanna langsung menarik kursi di depan Elina, duduk dengan sikap bersedekap. “Gue mau nanya. Dan kali ini, gue nggak mau denger jawaban muter-muter.”
Rhea menatap mereka berdua, lalu menunduk pura-pura sibuk dengan ponselnya. Ia tahu, percakapan ini tidak main-main. Dan Rhea tahu betul kemana arah pembicaraan mereka berdua.
Elina menegakkan tubuh, mencoba tetap santai. “Oke. Tanya aja, gue jawab.”
“Christian,” kata Hanna singkat.
Nama itu meluncur begitu saja, tapi cukup untuk membuat udara seketika lebih berat. Elina menunduk sesaat, menusuk-nusuk nasi di kotak bekalnya dengan sendok, meski perutnya sama sekali tidak berselera setelah nama itu kembali diucapkan.
“Kenapa dengan Christian?” Elina berusaha menahan getaran suaranya.
“Akhir-akhir ini dia makin jarang ada di kantor. Pulang pun nggak. Gue udah coba nanya ke dia, gak ada jawaban. Dan setiap kali gue tanya lo, lo cuma kasih alasan seadanya.” Hanna mencondongkan tubuh, matanya menatap tajam. “Ada apa sebenarnya? Lo tau sesuatu, kan?”
Elina mengedipkan mata pelan, mencoba memberi senyum yang dipaksakan. “Han… please deh. Gue udah bilang berkali-kali. Gue nggak tau. Christian itu bos, dia punya urusan sendiri. Masa gue harus mengawasi dia kayak satpam?”
Hanna mengetuk meja dengan jari-jarinya, jelas menunjukkan frustrasi. “El, gue ini tunangannya. Kalau gue nggak bisa percaya lo, gue harus percaya siapa? Gue butuh jawaban jujur. Jangan terus-terusan nutupin.”
Rhea akhirnya angkat suara, mencoba meredakan ketegangan. “Han, mungkin Christian lagi sibuk proyek. Gue pernah dengar dia banyak kerjaan di luar kota. Wajar kalau dia sering nggak di kantor.”
Tapi Hanna hanya melirik singkat ke Rhea lalu kembali menatap Elina. “Itu alasan yang terlalu gampang. Dan gue nggak percaya begitu aja.”
Elina menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat. Sial. Hanna makin dekat ke kebenaran. Ia meraih botol minumnya, meneguk sedikit hanya untuk menenangkan diri. Setidaknya dia harus mencari alasan lagi untuk hal ini.
“Elina…” suara Hanna bergetar, kali ini lebih pelan, penuh perasaan. “Lo sahabat gue sejak dulu. Gue tahu lo paling ngerti gue. Gue ngerasa… ada yang Lo sembunyiin. Ada hal besar yang lo tahu, tapi lo nggak mau cerita.”
Elina menutup bekalnya, meletakkannya pelan di meja. Ia menatap Hanna dengan sorot mata yang berusaha lembut. “Han, lo terlalu mikir. Gue sumpah, kalau ada sesuatu yang penting, gue nggak bakal diem aja. Gue pasti cerita ke lo. Tapi sekarang… gue nggak tau apa-apa. Jadi jangan siksa diri lo sendiri dengan curiga.”
“Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa setiap kali gue nanya Lo selalu jawabannya beda-beda?” Hanna menekan. “Kemarin lo bilang Christian ke luar kota, lalu lo bilang dia sibuk proyek, sekarang bilang lo nggak tahu sama sekali. Mana yang benar?”
Elina tercekat. Rhea buru-buru menimpali, “Han, kadang kita juga nggak tahu persis. Christian kan bukan tipe yang suka cerita detail ke orang lain.”
Hanna menghela napas berat, suaranya nyaris pecah. “Gue tunangannya, El. Gue berhak tahu. Kalau memang ada perempuan lain, gue lebih baik tahu daripada terus dibohongi.”
Kata-kata itu menusuk Elina. Tangannya mengepal di bawah meja, tapi ia tetap menjaga wajahnya tetap tenang. Ia mengulurkan tangan, meraih tangan Hanna pelan.
“Han, dengerin gue.” Elina menatap mata sahabatnya, berusaha setulus mungkin. “Nggak ada yang lo pikirin itu. Jangan biarin rasa curiga ngerusak hati lo sendiri. Percaya sama gue, semua akan baik-baik aja.”
Untuk beberapa detik, hanya ada keheningan. Hanna menatap balik, seolah mencari celah kebohongan di wajah Elina. Tapi Elina sudah terlalu terlatih menyembunyikan semuanya.
Akhirnya Hanna melepaskan tangannya, bersandar lelah di kursi. “Gue pengen percaya. Tapi perasaan ini… nggak enak banget. Seolah-olah semua orang tahu sesuatu, cuma gue yang nggak tahu.”
Elina tersenyum hambar, menahan napas lega dalam hati. “Lo terlalu sensitif aja. Udah, jangan bikin diri lo capek.”
Hanna tidak menjawab, hanya menatap kosong ke meja. Setelah beberapa menit, ia bangkit, meninggalkan ruangan dengan langkah berat.
Begitu pintu tertutup, Rhea langsung memandang Elina dengan wajah cemas. “El… lo hampir ketahuan barusan. Sampai kapan lo bisa nutupin ini?”
Elina mengusap wajahnya, menghela nafas panjang. “Sampai mereka berdua balik ke kantor pusat. Gue akan terus ngasih jawaban itu.”
***
Begitu pintu rapat tertutup keras, Elina langsung jatuh terduduk di kursinya. Tangannya gemetar, nafasnya terasa sesak. Rhea masih memandanginya dengan tatapan khawatir.
“El, serius lo baik-baik aja? Wajah lo pucet banget.”
Elina mengusap wajahnya, lalu meraih ponselnya dengan gerakan terburu-buru. “Gue nggak bisa diem, Mbak Rhea. Hanna makin gila kalau terus ditutupi. Gue harus kasih tau Jesslyn biar dia hati-hati.”
Rhea menggigit bibir, ragu. “Lo yakin itu nggak bikin masalah lebih gede?” dia takut jika satu hal terbongkar semuanya akan sama. “Elina, lo sadar nggak? Hanna udah ngerasa gue muter-muter. Kalau dia nekat nyari sendiri dan nemu Jess sama Christian…” Elina menghela napas panjang. “Itu bisa bencana. Jadi gue harus wanti-wanti sekarang juga.”
Ia membuka kontak di layar ponsel, menemukan nama Jesslyn, lalu segera mengetik cepat, jika dia tengah tutup mulut ketika Hanna kembali bertanya dimana Christian. Dan dia berpesan pada Jesslyn untuk selalu menjaga diri, jangan sampai Hanna atau siapapun nanti bisa menemukan dia dan juga Christian. Disini, Jesslyn pun juga langsung membalas pesan Elina dengan cepat, jika dia mengerti dan akan menjaga dirinya. Dia meminta Elina untuk tidak memberi celah pada Hanna untuk bisa menemuinya. Maklum saja Hanna dikelilingi orang kaya yang bisa menemukan dirinya dengan sedetik berikutnya. Dia juga berterima kasih pada Elina karena sudah mau melakukan hal ini, setelah acaranya ini Jesslyn akan pastikan apapun yang Elina inginkan akan terpenuhi.
Elina menatap layar itu lama, lalu menutup ponselnya pelan. “Dia bales. Katanya ngerti.”
Rhea masih menatap Elina, ekspresinya antara lega dan tetap waspada. “El… lo sadar nggak, posisi lo sekarang paling berat. Lo diapit dua orang—sahabat lama lo, sama rahasia Jess. Itu bisa bikin lo meledak kapan aja.”
Elina tersenyum getir. “Gue udah pilih, Mbak Rhea. Gue lebih baik Hanna benci gue daripada gue ngianatin Jesslyn. Karena kalau Hanna tahu, bukan cuma Jess yang kena, Christian juga. Dan gue nggak mau semua berantakan gara-gara gue bocor.”
Elina membaca pesan itu, lalu meletakkan ponselnya di meja. Ia menatap Rhea dengan tatapan mantap, meski suaranya lirih. “Mulut gue rapat. Gue nggak akan biarin siapa pun tahu sebelum waktunya. Termasuk Hanna.”
Dan di ruangan itu, keduanya hanya bisa saling pandang, sadar kalau badai yang lebih besar mungkin sudah menunggu di depan.
****