Bab-55

1128 Words
Usai sarapan, Jesslyn mengerutkan keningnya menatap panggilan masuk dari Elina. Wanita itu ternyata sudah menelponnya berkali-kali dan Jesslyn malah sibuk sarapan dengan Christian sambil bercanda tawa. Tangannya yang lentik menekan tombol hijau, menempelkan benda pipih berwarna hitam itu di telinganya. “Kenapa Mbak El? Ada berita apa pagi ini sampai Lo harus telepon gue berkali-kali.” Jesslyn mengeringkan rambutnya di depan cermin usang di hadapannya. Tidak begitu besar tapi bisa lah membuat Jesslyn bercermin sampai pinggang. “Lo kapan sih balik kantor pusat?” suara Elina terlihat kesal. Tapi matanya tak bisa berbohong jika wanita itu sedang menyelidik. Alis Jesslyn mengerut. “Gue disini kan tiga bulan baru bisa balik kantor pusat. Ada apa?” Sekali lagi Elina menatap sekeliling memastikan tempat dirinya berada cukup aman. Wanita itu menghela nafasnya tidak tahan, jarene Noah selalu saja meminta Elina untuk tutup mulut. Dan wanita itu sudah tidak bisa lagi jika harus berbohong pada Jesslyn. “Hanna nyariin lo. Dia curiga ke elo karena lo pergi sehari sebelum Tian nggak pulang sampai sekarang.” Jantung Jesslyn berhenti berdetak untuk beberapa detik, sampai akhirnya wanita itu menunjukkan ekspresi diamnya. “Gue sampai mual liat dia tiap hari ke kantor cuma nyariin Tian doang.” Ujarnya. Jesslyn terdiam. Matanya tak bisa berbohong jika wanita itu bingung. Tapi Elina mencoba untuk menyakinkan Jesslyn jika dia bisa mengatasi semua ini sendirian. Hanya saja Elina bingung harus mencari jawaban apalagi jika Hanna bertanya tentang Jesslyn, yang bilang ya secara bersamaan. Itulah kenapa Elina berpikir Hanna mulai curiga dengan Jesslyn dan juga Hanna. Ditambah lagi pengumuman mengejutkan dari Christian, yang dimana dia mengklaim Jesslyn sebagai tunangannya. “Gue tanya sekali lagi ya, itu cincin beneran dari Tian? Dia beneran ngelamar lo Jess? Kemarin gue agak gak yakin karena banyak orang, gue tanya sekali lagi ini untuk mastiin apa yang terjadi.” Jesslyn masih diam. Dia menatap seseorang yang berdiri di depan pintu kamarnya. Pria itu menunjukkan wajah tidak sukanya, mendengar apa yang baru saja dia dengar. Sungguh bukan hal itu yang Christian inginkan. Melangkah mendekati pria itu merebut ponselnya dan menatap Elina tajam. Meskipun hanya lewat video call tapi mampu membuat Elina canggung. “Haii Tian … apa kabar lo? Kok bisa di rumah Jess ngapain?” Christian menatap Jesslyn sejenak, lalu kembali menatap wajah Elina yang memenuhi layar ponselnya. “Gue tinggal satu rumah sama Jesslyn selama disini.” Elina cukup terkejut, dia pikir Christian tengah asyik main di rumah Jesslyn. Tapi melihat handuk kecil yang mengalun di leher pria itu membuat Elina sadar, jika mereka benar-benar tinggal bersama. Elina juga menyinggung soal pertunangan itu, dimana dia hanya memastikan apa yang dikatakan Christian itu benar dan tidak menyakiti Jesslyn. Meskipun endingnya semua orang tahu kalau Christian sudah memiliki calon istri bernama Hanna. Gosip tentang mereka juga sirnah, tidak ada satu orang yang membicarakan ketika Hanna mengumumkan kalau dirinya tunangan Christian. Sehingga semua karyawan kantor memilih untuk tidak membahas Jesslyn dan juga Christian. Pria itu mengepalkan tangannya kesak, terlihat jelas jika Christian sangat tidak setuju dan tidak suka dengan apa yang Hanna katakan. Jika pun satu kantor tahu itu harusnya Jesslyn bukan Hanna. Kenapa harus dia? Dengan percaya dirinya memberitahu semua orang jika mereka ada hubungan? “El … Lo diminta apa saja Hanna?” “Diminta cari tahu Jesslyn lagi sama Tian enggak selama ini. Tapi gue pura-pura nggak tau sih, gue bilang Jess lagi perjalanan bisnis kalau Lo gue gak ngasih jawaban apapun.” Elina menghela nafasnya berat. “Setelah ini Lo harus bayar gue ya, Tian. Gue nggak mau kebohongan gue terlihat gratis. Gue mau mau tas branded, makeup terbaru pokok ya Lo harus bayar gue.” Christian tersenyum kecil. “List apa yang lo mau, gue penuhi semuanya. Sekarang biarin gue sama Jesslyn dulu, gue capek mau dikeloni Jess dulu. Bye!!!” Tanpa menunggu jawaban Elina, Christian langsung mematikan sambungan teleponnya. Wanita itu nampak kaget dengan ucapan Christian, sampai Jesslyn yang ada disampingnya memukul lengan pria itu dengan gemas. “Apa sih Jess, sakit tau.” Ringis Christian manja. “Sembarangan kalau ngomong, kayak nggak tau Mbak Elina kek apa aja.” Pria itu tersenyum nakal, menaruh ponsel wanita itu di nakas. Lalu menarik tubuh wanita itu sampai tiduran diatas kasur. “Tapi serius kali ini gue pengen dikeloni.” Katanya dengan suara serak yang dimana Jesslyn hanya bisa menelan salivanya kasar dan sedikit ketakutan. Entah pikiran Jesslyn saja yang busuk, atau mungkin bayangan sialan yang terus menghantui pikiran Jesslyn sekarang! Dada bidang, otot bisep, perut kotak-kotak yang mampu membuat pikiran Jesslyn melayang ke mars!! *** Bangun tidur, hal pertama yang Jesslyn lihat adalah wajah Christian yang tidur layaknya bayi. Wanita itu menghela nafasnya panjang dan menatap ponselnya yang menyala. Hanna meneleponnya terus menerus, mengirim pesan yang sekalipun tak pernah Jesslyn balas. Dan wanita itu kembali meneleponnya setiap jam untuk apa? Jelas saja untuk bertanya keberadaan dirinya dan juga Christian. Dia pasti ingat betul waktu masih sekolah, dimana Jesslyn pergi disitulah Christian akan pergi juga dari muka bumi dan mengikuti kemanapun Jesslyn pergi. Dan sekarang wajar jika Hanna berpikir begitu, karena sejak dulu kalau pergi Hanna selalu tidak pernah diajak oleh mereka. Ingin rasanya menekan tombol hijau di ponselnya, Christian lebih dulu menarik ponsel itu dan menyembunyikan dibawah bantal. Mata pria itu tertutup, tapi dia tahu apa yang akan Jesslyn lakukan setelah itu. “Jangan diangkat atau dia akan merusak mood Lo dan marah terus-menerus. Ini kota orang, gak ada red Velvet kayak kesukaan Lo disana.” Ucap Christian. Jesslyn terkejut, dia pun langsung mencubit pria itu dengan kesal. “Apa sih. Kata siapa juga gak ada red Velvet disini, banyak kali cuma belum ketemu aja.” “Kota kecil gak ada setengahnya dari ibukota ini Lo mau berharap apa? Spaghetti aja gak ada apalagi red Velvet.” Merasa tersinggung dengan itu sebuah Jesslyn semakin kesal. Dia akan membuktikan pada Christian jika ditempat ini ada red Velvet enak seperti di kota. Ada juga makanan yang seperti Christian bilang dengan masakan yang enak harga terjangkau. Dan ya, ketika Jesslyn mencari menu makanan itu sama sekali tidak ada. Kalaupun ada itu hitungannya jauh, sudah jelas tidak mungkin ada kurir yang mau mengantar makanan itu ke tempat Jesslyn. Yang seharusnya datang dengan keadaan hangat atau panas, jelas sampai di rumah Jesslyn sudah dengan keadaan dingin dan tak berbentuk. Untuk pertama kalinya Jesslyn merasa menyesal telah kesini karena makanan kesukaan dia tidak ada. Christian yang tau perubahan ekspresi Jesslyn pun tersenyum kecil. “Gue bilang apa. Lo gak akan menemukan dua hal itu disini. Kalaupun ada sudah pasti rasanya nggak akan sama. Versi low budget gak seenak yang biasanya Lo makan, sepiring bisa buat beli lipstik lo satu tanpa diskon.” Memang ya mulut Christian itu minta dicabein. Tidak masalah diskon yang penting Jesslyn punya. Itu prinsip Jesslyns sejak dulu. “Dasar mulut ember!!!” ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD