Malam turun perlahan, menyelimuti rumah sewa kecil yang kini terasa berbeda. Jesslyn mondar-mandir di ruang tengah, tidak tenang sejak Christian resmi membawa koper dan memutuskan tinggal bersamanya. Sesekali ia melirik ke kamar, di mana Christian sedang sibuk mengutak-atik laptopnya seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Jesslyn mendengus. Seenaknya banget sih dia. Datang bawa koper, langsung betah, kayak rumah sendiri.
“Jess,” suara Christian memecah lamunannya. “Air panas udah nyala, mau mandi duluan apa gue?”
Jesslyn refleks menoleh. “Eh… Lo aja dulu deh.”
Christian tersenyum tipis, berdiri sambil menggulung lengan kemejanya. Tatapan matanya membuat Jesslyn buru-buru memalingkan wajah. Setelah Christian masuk kamar mandi, ia menjatuhkan tubuh ke sofa, menutup wajah dengan bantal.
“Aduh, kenapa sih deg-degan banget. Dia cuma… ya, Tian. Tapi kok rasanya kayak…” gumamnya lirih.
Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka. Jesslyn menurunkan bantal, lalu membeku. Christian keluar hanya dengan kaus hitam tipis dan celana training abu-abu, rambutnya masih basah, meneteskan sisa air ke leher.
“Kenapa bengong?” Christian menyeringai, menyeka rambutnya dengan handuk.
“Nggak… nggak apa-apa!” Jesslyn cepat berdiri, pura-pura sibuk mencari sesuatu di dapur. “Gue… mandi dulu.”
Christian hanya terkekeh kecil, membiarkannya kabur.
Beberapa saat kemudian, Jesslyn keluar dengan piyama sederhana. Rambutnya masih lembap, wajahnya tanpa make-up, terlihat natural. Christian yang sedang duduk di sofa menoleh sebentar, lalu menahan senyum. Cantik banget…
Jesslyn menyadari tatapan itu. “Jangan liatin gue terus dong, jadi nggak enak.”
“Kenapa? Lo istri gue,” jawab Christian santai, membuat pipi Jesslyn langsung panas.
“Bisa nggak sih jangan ngomong sembarangan?!” protesnya, lalu duduk di ujung sofa, jauh dari Christian.
Namun Christian justru meraih bantal kecil dan menjatuhkannya di pangkuan Jesslyn. “Udah ah, jangan jaim. Malam pertama tinggal bareng tuh biasanya awkward. Jadi, gue bikin nyaman aja.”
Jesslyn menatap bantal itu bingung. “Maksudnya?”
Christian menyender, meletakkan kepala di atas pangkuan Jesslyn dengan seenaknya. “Maksudnya gini. Gue capek. Biarkan gue tidur sebentar di sini.”
Jesslyn membeku. Jantungnya berdetak kencang ketika merasa berat kepala Christian di pahanya. “T-Tian! Lo ini kenapa sih?!”
“Kenapa? Lo nggak nyaman?” tanya Christian tanpa membuka mata.
Jesslyn diam. Ingin bilang “iya”, tapi tubuhnya justru kaku tak bergerak. Ada rasa hangat merambat dari tempat Christian bersandar.
“Lo bisa usap rambut gue kalau mau,” ucap Christian lagi, suaranya berat menahan kantuk. “Biasanya kan cewek suka begitu.”
Jesslyn mendengus kecil. “Sok tahu.” Meski begitu, tangannya perlahan bergerak, menyibak sisa rambut basah di dahi Christian. Ia tak bisa menolak dorongan itu.
Keheningan melingkupi mereka. Hanya suara detik jam dinding dan nafas teratur Christian yang terdengar. Jesslyn memandangnya lama, perasaan campur aduk memenuhi d**a.
Tiba-tiba Christian membuka mata, menatap Jesslyn dari posisi terbaring. “Ketahuan lo senyum-senyum sendiri.”
Jesslyn tersentak. “Hah?! Aku nggak senyum!”
Christian terkekeh, bangun perlahan. Ia duduk, mendekat hingga wajah mereka hanya sejengkal. “Jess…” suaranya lembut kali ini. “Mulai malam ini, lo nggak sendirian lagi. Lo ada gue. Jadi berhenti mikirin hal-hal yang bikin lo takut.”
Tatapan itu terlalu dalam. Jesslyn berusaha menahan diri, tapi akhirnya mengangguk pelan. “Iya…”
Christian tersenyum puas, lalu berdiri. “Oke, gue ambil selimut. Kasurnya kecil sih, tapi muat buat berdua. Jangan khawatir, gue nggak akan macem-macem.”
Wajah Jesslyn kembali memanas. “Lo tuh—”
“Kenapa? Takut?” Christian menoleh sambil mengangkat alis.
Jesslyn menghela napas panjang, menutupi wajah dengan tangan. “Bukan takut. Cuma… ya sudahlah.”
Christian mendekat, meraih tangannya, lalu menariknya pelan. “Gue janji. Tidur aja. Besok pagi lo bakal bangun dan sadar, hidup lo udah berubah. Jadi siap-siap, istri kecil gue.”
Jesslyn terpaku. Meski protes sudah menggelayut di lidahnya, hatinya justru terasa hangat. Malam pertama tinggal bersama itu, meski penuh canggung dan candaan, meninggalkan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
***
Matahari pagi menembus tirai tipis rumah sewa itu, memantulkan cahaya hangat di ruang kecil yang kini terasa berbeda. Jesslyn keluar dari kamar dengan rambut masih sedikit berantakan, matanya setengah mengantuk. Namun langkahnya terhenti ketika mencium aroma sedap dari dapur. Siapa sepagi ini yang sudah bergulat dengan aroma dapur?
Ia mengintip pelan. Christian sudah berdiri di depan kompor, hanya mengenakan kaus putih sederhana dan celana training. Punggung bidangnya bergerak tenang, tangannya cekatan mengaduk sesuatu di wajan.
Jesslyn bersandar di dinding, tersenyum tanpa sadar. Ya ampun… beneran masak dia. Bukan cuma gaya doang. Sejauh ini Jesslyn lebih tidak menyangka jika hal ini terjadi, mengingat dulu Christian itu seperti apa. Rasanya seperti … mimpi!!
Christian menoleh tiba-tiba, menangkap basah tatapan Jesslyn. “Ketahuan lo bengong, pake senyum segala lagi.”
Jesslyn buru-buru berdeham, lalu berjalan ke meja makan. “Gue cuma… heran. Sejak kapan lo bisa masak?”
Christian terkekeh. “Sejak sadar kalau gue pengen punya istri yang tiap pagi bangun, langsung bisa sarapan buatan gue.”
Jesslyn melotot, pipinya merona. “Jangan ngomong sembarangan deh.”
Namun Christian hanya menaruh piring di meja: omelet keju, roti panggang, dan secangkir kopi hitam. Ia duduk di seberang Jesslyn, wajahnya tenang. “Lo pikir gue bercanda?”
Jesslyn menunduk, menusuk omelet dengan garpu. “Ya… selama ini Lo nggak pernah nunjukin serius. Jadi gue susah percaya.”
Christian terdiam sebentar, lalu mencondongkan tubuh. “Jess, coba bayangin. Kita tiap pagi begini. Gue masak, lo duduk manis, kita sarapan sambil ngomongin rencana hari itu. Kalau lo lagi bete, gue bawain kopi kesukaan lo. Kalau lo lagi capek, gue urusin semuanya biar lo bisa tidur lebih lama.”
Jesslyn mendongak, matanya melebar. “Lo…” suaranya tercekat.
Christian tersenyum tipis, melanjutkan dengan nada serius. “Gue nggak lagi main-main. Gue udah mikirin masa depan, Jess. Sama lo. Rumah kecil yang hangat, dapat satu anak bandel yang tiap pagi ribut minta roti bakar.”
Jesslyn tertawa kaget, menutup mulutnya. “Lo tuh ya! Udah mikir sejauh itu?”
“Kenapa nggak?” balas Christian, matanya penuh keyakinan. “Gue udah kehilangan lo sekali. Gue nggak mau ulang lagi. Jadi gue akan terus bikin lo lihat, kalau gue serius.”
Jesslyn tercekat. Tangannya berhenti di atas piring, hatinya dipenuhi rasa yang sulit dijelaskan. Ada haru, ada takut, tapi juga ada bahagia yang menekan kuat di dadanya.
Christian memperhatikan ekspresinya, lalu tersenyum lembut. “Nggak usah jawab sekarang. Gue sabar. Yang penting, mulai pagi ini lo tau, gue nggak akan kemana-mana. Gue disini buat lo.”
Hening sejenak. Jesslyn menunduk, berusaha menyembunyikan pipinya yang merona. Ia mengambil satu potong roti, lalu mengunyahnya sambil pura-pura sibuk. Namun dalam hatinya, kata-kata Christian berputar tak henti, membuatnya sadar betapa lelaki itu benar-benar mengubah segalanya.
Di meja kecil itu, sarapan sederhana terasa lebih istimewa daripada hidangan mewah manapun. Karena bukan hanya perut yang terisi—hati Jesslyn pun mulai dipenuhi harapan baru.
****