Sore itu suasana kantor cabang mulai lengang. Sebagian besar karyawan sudah berkemas, hanya beberapa yang masih bertahan di meja masing-masing untuk menyelesaikan laporan harian. Jesslyn duduk di meja kerjanya, sedang membereskan berkas sambil sesekali bercakap dengan Mira, rekan satu divisi yang kebetulan belum pulang juga.
“Akhir-akhir ini lo kelihatan lebih ceria ya, Jes,” komentar Mira sambil merapikan map biru.
Jesslyn menoleh singkat, lalu tersenyum kecil. “Ah, masa sih? Mungkin karena kerjaannya udah mulai bisa gue ikutin ritmenya.”
Mira terkekeh pelan. “Iya mungkin. Tapi gue suka lihat lo gitu, soalnya biasanya lo kelihatan dingin banget.”
Jesslyn hanya menunduk, pura-pura sibuk dengan laptopnya. Padahal dalam hati, ia tahu benar alasannya bukan sekadar kerjaan—kehadiran Christian di kota ini perlahan-lahan membuat dirinya lebih ringan, meski tetap ada ketakutan soal masa lalu.
Percakapan mereka terhenti ketika sebuah suara pria tiba-tiba memanggil.
“Jesslyn?”
Jesslyn dan Mira sama-sama menoleh. Seorang pria jangkung dengan kemeja lengan panjang hitam berdiri di pintu ruang kerja. Wajahnya familiar, meski sudah lama tidak berjumpa.
“Andy?” ucap Jesslyn kaget.
Andy mengangguk sambil tersenyum ramah. “Iya. Wah, kebetulan banget aku lagi ada urusan di cabang sini. Nggak nyangka ketemu kamu.”
Mira menatap bergantian antara mereka, lalu pamit pelan, “Gue duluan ya, Jes.” Ia sengaja memberi ruang, meski rasa penasaran jelas terpancar dari wajahnya.
Jesslyn menarik napas, berdiri dari kursinya. “Udah lama banget nggak ketemu kamu. Gimana kabarnya?”
“Baik. Kamu gimana? Aku sempat dengar kamu pindah kerja ke sini,” balas Andy santai.
Jesslyn mengangguk kecil. “Iya, baru beberapa minggu.”
Obrolan mereka ringan, hanya seputar kabar dan pekerjaan. Andy terlihat tulus, tidak ada nada lain. Tapi justru momen sederhana itulah yang membuat situasi berubah drastis beberapa menit kemudian.
Suara langkah berat terdengar dari arah koridor. Christian muncul dengan setelan rapi khasnya, menenteng kunci mobil. Matanya langsung mengunci pada Jesslyn—dan kemudian pada Andy yang berdiri terlalu dekat di depannya.
“Jes.” Suaranya datar, tapi dingin.
Jesslyn menoleh cepat. “Tian? Lo ngapain ke sini?” tanyanya agak gugup.
Christian tidak menjawab, malah menghampiri dan berdiri di sisi Jesslyn. Tatapannya tajam ke arah Andy.
Andy terdiam sejenak, lalu mengangguk sopan. “Lo Christian, kan? GueAndy, teman lama Jesslyn.”
Christian hanya menggerakkan dagunya, tidak menjabat tangan. “Teman lama, huh? Atau teman kencan dulu?” ucapnya pelan, tapi sarat nada sinis.
Jesslyn buru-buru menengahi. “Dia cuma mampir tanya kabar, nggak lebih.”
Namun Christian sudah jelas tidak suka. “Kalau cuma tanya kabar, harusnya cukup lewat pesan. Bukan datang langsung ke kantor.”
Andy terlihat salah tingkah. “Gue nggak ada maksud jelek. Maaf kalau—”
“Sudah. Kamu boleh pergi sekarang,” potong Christian, nada perintahnya begitu jelas.
Jesslyn menatap Christian dengan sorot tak percaya. “Tian, jangan gitu.”
Andy hanya tersenyum kaku lalu berpamitan pada Jesslyn. “Senang ketemu kamu lagi. Semoga kita bisa ngobrol lain waktu.” Setelah itu, ia benar-benar pergi.
Begitu Andy menghilang dari pandangan, Jesslyn langsung menoleh pada Christian. “Kenapa lo harus sekeras itu?”
Christian mendengus, menahan emosi. “Gue nggak suka, Jes. Gue benci lihat ada pria lain datang dengan santai, seakan dia punya hak untuk dekat sama lo. Belum lagi panggil aku kamu, apaan coba.”
“Tapi dia cuma teman, Tian,” sanggah Jesslyn pelan, mencoba menjaga nada suaranya tetap stabil.
“Teman yang jelas-jelas pernah punya hubungan sama lo,” balas Christian cepat. Tatapannya menusuk, sorot matanya campuran antara cemburu dan takut kehilangan.
Jesslyn terdiam. Ia tahu, di balik nada keras Christian, ada ketakutan yang tak pernah ia ungkapkan. Namun, ia juga tidak suka diperlakukan seolah dirinya tidak bisa menjaga jarak.
“Gue tahu lo khawatir. Tapi gue bisa jaga diri, Tian. Lo nggak perlu marah seperti tadi,” ucapnya lembut.
Christian menatap Jesslyn lama, lalu menarik napas dalam. Suara beratnya terdengar lebih rendah. “Gue cuma… nggak mau kehilangan lo lagi. Sekali aja lihat ada laki-laki lain di dekat lo, rasanya… gila, Jes.”
Ada keheningan singkat. Jesslyn menunduk, hatinya berdebar. Ia menghela napas, lalu pelan menjawab, “Gue disini, Tian. Sama lo. Jadi, jangan selalu takut.”
Wajah Christian akhirnya melunak, meski sorot matanya masih gelap oleh sisa emosi. Ia mengusap pelipisnya, lalu berbisik nyaris tak terdengar, “Jangan bikin gue gila, Ai.”
Jesslyn tidak membalas, hanya menatapnya lama—antara kesal dan haru. Sore itu, menegaskan sekali lagi betapa dalam ikatan yang mereka punya.
***
Hujan baru saja reda ketika Jesslyn membuka pintu rumah sewanya. Dia masih mengenakan blazer kerja, rambut sedikit berantakan karena terburu-buru. Pandangannya langsung tertuju pada sosok Christian yang berdiri di depan rumah dengan koper besar di tangannya.
Mata Jesslyn membulat. “Eh… Tian? Itu… koper lo?”
Christian tidak menjawab. Wajahnya datar, rahang mengeras, seolah menahan emosi. Tanpa banyak bicara, dia menyeret koper itu masuk begitu saja. Ban koper berderit di lantai, mengisi keheningan yang menegang.
“Ngapain sih bawa-bawa koper segala?” Jesslyn buru-buru menutup pintu, berlari kecil mengikuti langkahnya. “Ini rumah sewa kecil, bukan apartemen. Lo lagi marah ya?”
Christian menaruh kopernya tepat di ruang tengah. Ia berbalik perlahan, menatap Jesslyn dalam-dalam. “Mulai malam ini, gue tinggal di sini.”
Jesslyn ternganga. “Apa? Lo… serius?”
“Lo pikir gue bercanda?” nada suaranya rendah, dalam, membuat Jesslyn refleks mundur setengah langkah. “Gue muak liat Andy sok deket sama lo. Gue nggak kasih celah lagi. Mulai sekarang, selama lo di cabang sini, gue jagain lo dua puluh empat jam.”
Jesslyn menelan ludah. Ia bisa merasakan bara amarah di balik ketenangan Christian. “Tian… gue udah nolak ajakan dia. Lo kan tahu gue nggak ada niat apa-apa sama Andy.”
Christian mendekat, langkahnya mantap, suaranya nyaris berbisik tapi menggetarkan. “Justru karena gue tahu lo polos. Gampang bikin orang lain kepincut. Lo pikir gue tenang ninggalin lo sendirian di sini?”
Jesslyn terpaku. Dia ingin membantah, tapi d**a sesak, kata-kata tertahan di tenggorokan.
Tanpa menunggu, Christian melepas jas kerjanya dan meletakkannya di kursi. Ia membuka koper, mengeluarkan beberapa kemeja rapi, lipatan celana, lalu langsung menyusunnya di lemari kecil Jesslyn. Gerakannya tegas, seperti ingin menunjukkan: ini bukan keputusan main-main.
Jesslyn akhirnya bersuara, suaranya lebih pelan. “Lo beneran serius ya? Ini bukan cuma karena cemburu?”
Christian menutup pintu lemari, lalu berbalik mendekat. Wajahnya tinggal sejengkal dari wajah Jesslyn. Mata hitamnya menatap tanpa berkedip. “Cemburu itu bonus,” katanya pelan tapi mantap. “Alasan utamanya cuma satu, Jess.”
Jesslyn menahan napas. “Apa…?”
Christian tersenyum tipis. “Karena tempat gue… selalu di samping lo.”
Jesslyn tercekat. Kata-kata itu menghantam dadanya seperti palu. Antara ingin marah karena Christian seenaknya, tapi di sisi lain hatinya justru meleleh mendengar pengakuan lugas itu.
Christian mengangkat tangan, menepuk kepala Jesslyn pelan, gerakannya lembut kontras dengan nada suaranya yang keras barusan. “Udah, jangan banyak protes. Siapin satu sisi kasur buat gue. Gue nggak mau tidur di sofa.”
Wajah Jesslyn langsung panas. “Tian! Lo tuh…”
Christian menyeringai nakal. “Apa? Kita udah tunangan, kan? Atau lo lupa semalam lo yang nempel terus ke gue pas ada petir?”
Pipi Jesslyn langsung merona merah padam. Ingatan semalam saat ia ketakutan dan refleks memeluk Christian masih jelas di kepalanya. “Itu… itu lain cerita! Jangan dibawa-bawa sekarang!”
Christian terkekeh, lalu mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi, hingga Jesslyn bisa merasakan hembusan nafasnya. “Jess, denger ya. Gue nggak akan kasih kesempatan sekecil apapun buat orang lain deket sama lo. Lo milik gue. Udah titik.”
Jesslyn menunduk, jantungnya berdegup kencang. Dia tahu betul sisi keras kepala Christian. Sekalipun ia berusaha menolak, Christian tetap akan menemukan cara untuk menang. Dan anehnya, ada rasa aman yang menyusup di balik sikap posesifnya.
“Yaudah…” Jesslyn akhirnya menghela napas, pasrah. “Tapi jangan ganggu aktivitas gue di kantor, Tian.”
Christian mengangkat alis. “Selama nggak ada Andy, gue nggak akan ribut.”
Jesslyn mendesah. “Lo bener-bener…”
“Bener-bener apa?” Christian mencondongkan tubuhnya, nadanya menggoda.
“Nyebelin,” gumam Jesslyn cepat, lalu buru-buru berbalik pura-pura merapikan meja.
Christian terkekeh lagi, kali ini lebih ringan. “Nyebelin tapi lo nggak bisa jauh dari gue.”
Jesslyn menggigit bibir, menahan senyum yang hampir lolos. Dalam hatinya, ia tahu, keputusan Christian membawa kopernya dan tinggal di sini akan mengubah banyak hal. Rumah sewa kecil itu kini akan menjadi tempat penuh drama, tawa, juga mungkin… keintiman yang tak lagi bisa ia tolak.
****