Suasana kantor mulai sepi ketika jam sudah menunjukkan pukul lima lewat. Beberapa karyawan bergegas pulang, sementara yang lain masih nongkrong sebentar di lobi sambil menunggu kendaraan. Jesslyn termasuk salah satu yang tidak terburu-buru. Ia duduk di sofa lobi, berbincang dengan salah satu rekan kerja barunya, Dina—seorang staf administrasi yang ramah dan gampang akrab.
“Capek banget hari ini, ya. Untung ada Lo yang bisa bantu jelasin cara input laporan kemarin. Kalau nggak, gue bisa dimarahi bos itu,” ucap Dina sambil terkekeh.
Jesslyn ikut tertawa kecil. “Nggak usah segitunya. Gue juga masih belajar kok. Lagian lo udah rapiin arsip lebih cepat dari gue.”
“Eh, beneran loh, Lo tuh rajin banget. Makanya gue suka kerja bareng lo.”
Jesslyn tersenyum. Obrolan ringan itu membuat suasana sore terasa hangat. Sesekali mereka bercanda, saling menertawakan kesalahan kecil di kantor, hingga tanpa sadar waktu berlalu.
Namun, dari arah pintu masuk, seorang pria berdiri memperhatikan. Christian. Jasnya masih rapi, dasinya longgar, wajahnya terlihat datar tapi matanya menyimpan ketidaksenangan. Ia baru saja selesai dari pertemuan singkat, niatnya mau menjemput Jesslyn untuk pulang bersama. Tapi yang ia lihat justru Jesslyn yang tertawa-tawa dengan orang lain.
Christian mendekat dengan langkah lebar. Dina yang pertama kali menyadarinya langsung refleks menegakkan duduknya. “Eh, itu kan Pak Christian…” bisiknya pada Jesslyn.
Jesslyn menoleh, dan matanya membesar melihat Christian berdiri di hadapan mereka, ekspresi jelas nggak bisa ditebak.
“Kok di sini?” tanya Jesslyn hati-hati.
Christian menatap singkat Dina, lalu kembali menatap Jesslyn. “Nungguin Lo,” jawabnya singkat, nada suaranya dingin.
Dina buru-buru berdiri. “Wah, aku pulang duluan ya, Jess. Sampai ketemu besok!” Tanpa menunggu balasan, Dina sudah melangkah pergi, meninggalkan Jesslyn yang masih bengong.
Kini tinggal mereka berdua. Jesslyn mencoba tersenyum canggung. “Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?”
Christian mendengus pelan, lalu menunduk sedikit, berbicara dengan suara rendah tapi jelas. “Lo keliatan seneng banget tadi.”
Jesslyn berkedip. “Hah? Ya namanya ngobrol sama temen kantor—”
“Ngobrol?” Christian mengangkat alis. “Sampai ketawa-ketawa gitu?”
Nada suaranya terdengar seperti protes anak kecil, membuat Jesslyn hampir tertawa. Tapi ia cepat menahan diri karena tahu ini bukan saatnya menggoda.
“Tian, masa lo cemburu sama Dina? Dia cewek, tau.”
Christian terdiam sejenak, seolah baru ngeh kalau teman Jesslyn tadi perempuan. Tapi bukannya lega, wajahnya justru makin muram. “Tetep aja. Gue nggak suka liat lo ketawa lepas sama orang lain.”
Jesslyn terbelalak. “Astaga… lo serius?”
Christian melipat tangannya di d**a. “Gue serius banget. Hari ini gue kerja dari pagi, capek, ujung-ujungnya gue liat lo ketawa bahagia—tapi bukan sama gue.”
Jesslyn menutup wajah dengan tangannya, separuh malu, separuh gemas. “Ya ampun, Tian… ini konyol banget.”
“Buat gue nggak konyol,” jawab Christian cepat, nadanya keras tapi matanya malah kelihatan tulus.
Jesslyn menurunkan tangannya, menatap Christian lama. “Lo tahu nggak, lo kayak anak kecil ngambek rebutan mainan.”
Christian mendekat, menundukkan wajahnya sedikit ke arah Jesslyn. “Kalau mainannya Lo, ya wajar gue rebutan.”
Jesslyn terdiam. Kata-kata itu, meski terdengar konyol, sukses bikin jantungnya berdebar lebih cepat.
“Udah ah, jangan cemberut gitu. Malu diliatin orang,” katanya pelan sambil mencoba berdiri.
Tapi Christian menahan tangannya. “Janji sama gue. Lain kali kalau ketawa, ketawa sama gue aja. Boleh?”
Jesslyn mendengus geli. “Lo tuh, bener-bener…”
“Janji dulu,” Christian menatapnya serius, seperti anak kecil yang menuntut perjanjian.
Jesslyn akhirnya mengangkat tangannya, membuat tanda seolah bersumpah. “Oke, janji. Gue bakal lebih sering ketawa sama lo.”
Baru setelah itu, wajah Christian melunak. Senyum tipis akhirnya muncul, meski ia masih bergumam, “Gue nggak bercanda loh.”
Jesslyn hanya bisa menggeleng, lalu berjalan duluan keluar lobi. Tapi di belakangnya, Christian mengikuti sambil sesekali mencuri pandang, ekspresinya jelas sudah jauh lebih lega.
Dan sore itu, meski dimulai dengan ngambek yang konyol, berakhir dengan kehangatan kecil yang hanya mereka berdua yang mengerti.
***
Setelah drama kecil di lobi kantor tadi sore, Jesslyn masih sesekali menahan tawa kalau ingat wajah Christian yang merajuk. Mobil Christian berhenti di depan rumah sewa Jesslyn, dan tanpa diminta, lelaki itu malah ikut masuk begitu saja. Beberapa hari ini dia memang lebih sering tidur di sini ketimbang tempatnya sendiri.
“Ngapain masuk?” tanya Jesslyn sambil menaruh tas di sofa.
Christian santai membuka jas dan menggantungnya di kursi. “Ngawal lo. Takut ada yang bikin lo ketawa lagi selain gue.”
Jesslyn memutar bola matanya. “Ya ampun, masih baper aja.”
“Bukan baper. Waspada,” sahut Christian cepat. Tapi matanya jelas menggodanya.
Belum sempat Jesslyn membalas, Christian menepuk tangannya. “Ayo ganti baju. Kita keluar.”
“Keluar? Malam-malam gini?”
“Pasar malam,” jawab Christian mantap. “Udah lama nggak ke sana, kan?”
Jesslyn tercengang. “Lo serius? Lo—bos besar Miller Group—mau ke pasar malam?”
Christian menyeringai. “Buat lo, iya. Sekarang cepet ganti baju. Jangan lama-lama, nanti keburu tutup.”
Jesslyn mendecak, tapi pipinya terasa hangat. Ia pun masuk ke kamar untuk berganti pakaian santai.
Pasar malam ramai dengan lampu warna-warni dan suara riuh. Anak-anak berlarian, aroma jagung bakar bercampur dengan wangi sate dan gula kapas. Jesslyn menatap sekeliling dengan kagum, sementara Christian berjalan di sampingnya dengan tangan santai di saku.
Mereka melewati beberapa stand permainan. Jesslyn berhenti di depan stan tembak balon. “Dulu gue selalu gagal di sini,” katanya, mengingat masa kecilnya.
Christian langsung menarik satu senapan mainan. “Gue yang coba. Kalau kena semua, lo harus traktir gue sate.”
Jesslyn tertawa. “Oke. Kalau gagal, lo yang beliin gue es krim.”
Ternyata Christian cukup lihai. Satu per satu balon pecah terkena tembakan, dan penjual memberi tepuk tangan kecil. Jesslyn sampai tepuk tangan sambil tertawa puas.
“Ya udah, jagoan. Nih, hadiah boneka mini buat lo.”
Christian mengambil boneka beruang kecil lalu menyerahkannya ke Jesslyn. “Biar nemenin Lo tidur kalau gue nggak ada.”
Jesslyn mengerjap. Kata-kata sederhana itu bikin dadanya hangat. Ia menerima boneka itu, pura-pura acuh. “Ciyee, sok romantis.”
Mereka lanjut berjalan, mencoba permainan lempar gelang. Kali ini Jesslyn yang mencoba. Tentu saja ia gagal, dan Christian malah menertawakannya.
“Katanya nggak pernah gagal?” sindir Christian.
Jesslyn manyun. “Ya kan gue gugup.”
“Gugup? Sama siapa? Sama gue?” Christian mencondongkan wajahnya, membuat Jesslyn cepat-cepat menoleh ke arah lain.
“Astaga, Lo ini ya…”
Mereka berhenti di stand makanan. Jesslyn memilih sate ayam, sementara Christian membeli jagung bakar. Duduk di bangku kayu, mereka menikmati makanan sambil berbincang ringan.
“Lo tau nggak, gue nggak pernah kepikiran bakal duduk di sini bareng lo lagi,” kata Jesslyn lirih.
Christian menatapnya, serius kali ini. “Kenapa nggak? Dari dulu gue cuma pengen duduk di sebelah lo. Dimana pun itu. Mau di restoran mewah, atau pasar malam kayak gini.”
Jesslyn menunduk, menusuk satenya. Pipinya memerah. “Kenapa lo selalu bisa bikin gue… bingung, Tian.”
Christian mendekat sedikit, suaranya rendah. “Karena gue nggak pernah main-main soal Lo, Jess.”
Keheningan sesaat tercipta, hanya suara riuh pasar malam yang terdengar. Jesslyn merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Untuk mencairkan suasana, ia pura-pura bercanda. “Kalau gitu, abis ini lo harus nemenin gue naik bianglala.”
Christian tersenyum. “Dengan senang hati. Tapi kalau lo takut di atas, jangan salahin gue kalau gue jadi sandaran.”
Jesslyn melotot kecil. “Gue nggak takut.”
Mereka benar-benar naik bianglala. Dari atas, lampu pasar malam terlihat seperti lautan bintang. Jesslyn menatap ke bawah dengan kagum, sementara Christian justru menatapnya.
“Apa?” tanya Jesslyn ketika menyadari pandangan itu.
Christian hanya tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Cuma mikir, pemandangan paling indah malam ini bukan di bawah, tapi di sini.”
Jesslyn langsung menunduk, wajahnya panas. “Lo ini… ngomongnya selalu bikin gue—”
“Bikin Lo apa?”
“Bikin gue kesel,” sahut Jesslyn cepat, mencoba menutupi perasaannya.
Christian terkekeh, tapi tidak menuntut lebih. Ia hanya meraih tangan Jesslyn, menggenggamnya hangat. Jesslyn sempat ingin menariknya, tapi akhirnya membiarkan saja.
Dan di atas sana, dengan cahaya lampu warna-warni di bawah mereka, seolah seluruh dunia menghilang, menyisakan hanya mereka berdua.
****