Bab-51

1103 Words
Suasana coffee shop siang itu nggak terlalu ramai. Musik akustik mengalun pelan, aroma kopi menyatu dengan wangi pastry yang baru keluar oven. Jesslyn duduk di sudut dekat jendela, menyilangkan tangan di d**a, menatap Christian yang tampak terlalu santai di hadapannya. “Tian, gue masih nggak percaya lo tiba-tiba nyeret gue ke sini. Katanya cuma makan siang,” gumam Jesslyn sambil membuka menu. “Ya emang makan siang,” balas Christian, menurunkan menu tanpa membacanya. “Tapi makan siang sama calon istri tuh beda rasanya.” Jesslyn hampir menjatuhkan buku menu. “Jangan ngomong sembarangan, orang bisa denger.” Christian hanya nyengir. “Biarin. Gue malah pengen semua orang tau.” Jesslyn mendesah kesal. Ia menutup menu dengan keras. “Lo tuh ya, kalo ngomong nggak pernah mikirin gue malu apa nggak.” “Ngapain malu? Lo udah gue lamar, dan lo udah nerima. Jadi status lo jelas. Officially mine.” Christian mencondongkan tubuh, menatap Jesslyn dengan senyum puas. Jesslyn berusaha keras menahan senyum yang hampir pecah di bibirnya. “Lo tuh nyebelin banget.” Pelayan datang membawa cappuccino dan pasta pesanan mereka. Jesslyn buru-buru sibuk dengan garpu, berharap fokus Christian beralih ke makanannya. Tapi pria itu malah mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Jesslyn melirik. “Lo ngapain lagi? Jangan bilang—” Terlambat. Christian sudah menekan nomor di kontak, menyambungkan telepon. “Tian!” bisik Jesslyn panik. Christian menempelkan ponsel ke telinga sambil meliriknya, matanya berbinar-binar nakal. “Halo, Mbak Rhea? Lo lagi di kantor?” Jesslyn menunduk, menutupi wajah dengan tangan. Tolong bumi telan gue sekarang juga. “Eh, gue cuma mau kasih tau kabar penting. Tadi malem gue udah ngelamar Jesslyn. Yes, di rumahnya. Dan dia nerima,” ucap Christian lancar, suaranya cukup keras sampai meja sebelah ikut melirik. “TIAN!” Jesslyn langsung meraih tangan Christian, mencoba merebut ponselnya. “Lo gila ya?!” Christian menghindar, malah menahan ponsel lebih erat. “Nggak, gue serius. Jadi kalo lo denger gosip apa pun, jangan heran. Kita udah tunangan.” Dari ponsel terdengar suara Rhea menjerit histeris, lalu Elina yang ikutan ribut di belakang. Christian terkekeh puas, lalu menutup telepon tanpa peduli wajah Jesslyn yang sudah merah padam. Jesslyn menatapnya dengan campuran malu, marah, dan tidak percaya. “Lo tuh… sumpah ya, kalo bisa gue lempar kopi ke muka lo, udah gue lakukan sekarang juga!” Christian menyandarkan tubuh santai, memasang senyum sok tak berdosa. “Tapi lo nggak bakal lakuin itu, karena lo sayang sama gue.” “Lo kebangetan, Tian.” Jesslyn menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Christian diam sebentar, lalu meraih jemari Jesslyn, membuka perlahan hingga wajahnya terlihat. “Hei.” Suaranya lebih lembut kali ini. “Gue cuma pengen lo berhenti sembunyi. Kita udah cukup lama main kucing-kucingan. Gue pengen dunia tau, Jess. Gue serius sama lo.” Mata Jesslyn bergetar, semua amarahnya runtuh seketika. Ia menggigit bibir, berusaha menahan senyum yang muncul. “Lo tuh… bikin gue susah marah.” Christian terkekeh kecil, lalu mengangkat tangan Jesslyn, mengecup punggungnya dengan santai di hadapan semua orang. “Good. Karena mulai sekarang, lo nggak punya alasan lagi buat nolak gue.” Jesslyn mengalihkan pandangan keluar jendela, pipinya memanas. Sialnya, meski gengsinya menolak, hatinya justru berbisik pelan: dia benar. *** Jesslyn duduk di mejanya, jari-jarinya mengetuk ringan keyboard tanpa fokus. Pikirannya masih kebawa makan siang bareng Christian di coffee shop siang tadi—dan lamaran yang ia terima. Senyum tipis sempat lolos, tapi buru-buru ia hapus ketika layar ponselnya bergetar. Sudah pasti mereka mempertanyakan apa yang Christian ucapkan tadi. Notifikasi video call. Dari grup kecil: Mbak Elina dan Mbak Rhea. “Duh… apa lagi ini…” gumam Jesslyn setengah pasrah, lalu menekan tombol hijau. Wajah Elina langsung memenuhi layar, diikuti Rhea yang kayaknya lagi selonjoran di sofa rumahnya. “HAI CALON NYONYAAA—” teriak Elina langsung, bikin Jesslyn hampir menjatuhkan ponselnya. “MBAK ELINAAA! Suara kamu kecilin dikit napa, orang sekantor bisa denger!” bisik Jess panik sambil noleh kanan-kiri, memastikan nggak ada yang merhatiin. Dan dua staff itu untung saja belum kembali. Rhea ngakak puas. “Beneran, Jess? Jadi beneran lo nerima lamarannya Christian?” Jesslyn menggigit bibir, wajahnya merah padam. “Gue… yaa… gimana ya…” “Elah, masih pake gimana. Lo itu udah ditembak, dilamar, diterima pula! Astaga Jess, akhirnya juga hati batu lo luluh!” Elina tepuk tangan heboh. Jesslyn menunduk, senyum malu yang nggak bisa ia sembunyikan. “Kalian jangan ribut gitu ah. Ini kantor, malu gue kalo ada yang denger.” Rhea tiba-tiba mendekat ke kamera, sok serius. “Jadi statusnya… official atau masih private?” “Private lah, Mbak Rhea. Belum semua orang perlu tahu.” jelas Jesslyn pada akhirnya. Mau ditutup juga rugi Christian sudah ngespill duluan ketimbang dia. Elina langsung nyeletuk, “Yaelah, padahal Christian tuh keliatan kayak pengen ngumumin ke seluruh dunia. Untung tadi dia nggak ikutan call, kalo nggak dia bisa langsung bikin postingan story ‘Finally engaged’ pake foto kalian berdua.” Jesslyn mendengus, tapi pipinya makin panas. Ia mencoba mengalihkan topik, tapi Elina malah mencondongkan wajahnya. “Tapi Jess…” suaranya tiba-tiba lebih rendah, nada bercanda berganti serius. “Kalau Hanna tau gimana? Lo udah siap?” Hening sejenak. Senyum Jess langsung kaku. Jari-jarinya meremas ujung pulpen di atas meja. “Gue… belum tahu. Gue takut, Mbak El. Apalagi kalau sampai nyokap Christian juga—” “Eh, jangan mikir terlalu jauh dulu,” potong Rhea cepat, berusaha menenangkan. “Yang penting sekarang lo percaya sama Christian. Urusan lain belakangan.” Elina mengangguk, meski ekspresinya tetap khawatir. “Iya sih. Tapi tetap, lo harus siap Jess. Karena ini bukan rahasia yang bakal bisa disembunyiin lama.” Jesslyn menghela napas. Senyum yang tadi sempat hadir, pelan-pelan hilang dari wajahnya. Ia tahu Elina benar. Di balik kebahagiaannya menerima Christian, ada ketakutan yang tak bisa ia tolak—saat nama Hanna muncul. “Yaudah deh, stop dulu ngomongin Hanna,” Rhea mencoba mencairkan suasana. “Mending sekarang kamu kasih liat cincin lamaran itu ke kamera. Cepet! Biar kita puas dulu liatnya!” Elina langsung bersorak, “YES! Zoom in, Jess, zoom in!” “Duh kalian nih yaaa…” Jesslyn menutupi wajahnya dengan satu tangan, tapi tangan satunya tetap mengangkat cincin ke arah kamera. Sorak-sorai di ujung video call pun pecah lagi, seakan drama tadi tidak pernah ada. Jesslyn hanya bisa tersenyum malu, meskipun bayangannya ingin dilamar di tengah salju, tapi tidak masalah hal kemarin juga sudah membuat Jesslyn bahagia meskipun setelah ini, jika dia kembali ke kantor pusat dia akan dipertemukan dengan Hanna dan juga Yoora. Siap tidak siap Jesslyn harus siap untuk mengurus mereka. Entah kekecewaan atau mungkin kebencian yang akan Jesslyn terima dari mereka. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD