Bab-35

1077 Words
“Sumpah ya teriakan Lo sampai depan Jess.” Noah masuk dan langsung mengambil duduk disamping Elina. Pria itu menyeruput kopi hangat nya dengan santai sesekali menatap sekeliling tempat ini dengan mata memicing. “Lo bertiga lagi bahas apa kok kayaknya seru banget.” ujarnya. Rhea menjelaskan jika disini posisi Jesslyn sedang tidak aman. Christian jarang pergi ke kantornya, dan malah pergi ke kantor Sabian. Itu membuat Tante Yoora curiga jika ada hal lain yang membuat Christian belok. Dia memanggil Hanna untuk menjaga Christian dari seseorang yang akan mengambil posisi Hanna. Dan semua orang tahu kalau selama ini Christian cinta mati pada Jesslyn. Dia rela kembali hanya untuk Jesslyn. Pria itu sedang mendekati wanita yang dicintainya, dan besar kemungkinan tante Yoora tahu tentang Jesslyn. Tidak mungkin tidak, atau mungkin tante Yoora sudah menemukan kunci satu ruangan di kamar Christian yang isinya hanya Jesslyn dan juga Christian. Itu sebabnya tante Yoora mengambil sikap. Noah mengangguk kecil, hal ini mungkin saja akan terjadi cepat atau lambat. Hal itu bisa di minimalisir sedikit kalau mereka setuju. Misalnya Christian kembali ke kesibukannya sebelum Jesslyn kembali, begitu juga dengan Jesslyn yang kembali fokus dengan pekerjaannya. Itu bisa menghapus rasa curiga tante Yoora, dan menganggap jika mereka tidak ada hubungan apapun. “Kalau Jess sih jelas dia bisa. Tapi kalau Tian? Lo tau, saudara Lo itu malah seolah lagi nunjukin diri ke semua orang, kalau Jess itu miliknya.” jelas Elina. Kalau Noah lupa perlu diingatkan lagi ya, jika Christian lebih bar-bar sekarang ketimbang jaman masih sekolah dulu. Dia lebih nekat dari sebelumnya. Apalagi waktu Jesslyn sama Sabian aja dia bisa sengamuk itu apalagi ini. “Dan Lo tau kan Tante Yoora itu kayak apa Noah. Kalau bukan sepadan jelas nggak akan mau. Dia lebih milih kehormatan keluarga ketimbang cinta anaknya.” Dan hal itulah yang membuat Jesslyn minder. Dia takut karena dia tidak punya apa-apa. Bisa jadi nanti ibu Christian akan mengolok, atau mungkin berkata sarkas pada dirinya tentang siapa Jesslyn sebenarnya. Yang rumah saja hampir mirip dengan gudang rumah Christian. Gimana bisa dia bersanding dengan keturunan keluarga Miller? Sangat langkah dan tidak akan pernah. Christian, Sabian saja Jesslyn tidak bisa mendapatkannya. “Udah ah jangan dibahas bikin gue merinding banget sumpah.” Ucap Jesslyn. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak perihal ini. “Tapi kalau gak di urusin masalah ini bakalan—Kak Hanna … .” Pekik Noah yang mampu membuat semua orang menoleh. Begitu juga dengan Jesslyn yang ikutan menoleh dengan kaget. Wanita itu sampai melongo melihat kedatangan Hanna di kantornya. Untuk apa wanita itu datang kesini? Apa mungkin dia akan mencari keberadaan Christian? Atau ada hal lain? Mencoba untuk tidak gugup, Jesslyn tersenyum dan meminta Hanna untuk duduk di hadapannya. Elina duduk di sebelah kiri Jesslyn sambil mencubit paha wanita itu. “Hai Noah bukannya ke kampus kok ke kantor Kak Sabian.” kata Hanna tersenyum. Noah gelagapan dia pun menggaruk tengkuk lehernya yang diyakini Hanna tidak gatal sama sekali. Tapi detik berikutnya dia pun tersenyum nakal. “Males Kak, dosen yang kemarin gak ada. Jadi semangat belajarnya hilang.” Elina yang mendengar pun meluncurkan tatapan tajamnya. Tapi detik berikutnya dia kembali fokus pada Hanna. Untuk apa dia datang ke kantor ini, tidak mungkin tidak ada maksud. Dan benar saja Hanna datang ingin tahu wanita mana yang berhasil membuat Christian jatuh hati. Dia ingin tahu wanita mana yang berhasil menggeser posisinya sekarang. Dia sudah berjuang untuk Christian tidak mungkin dia kalah saing dengan orang baru. Seketika itu juga Elina dan Noah langsung menatap Jesslyn yang diam saja di samping mereka. Wajahnya terlihat tenang tapi Elina jelas tahu, jika wanita itu menahan sesuatu dalam dirinya yang ingin meledak. Hampir setiap hari Jesslyn dan Christian selalu berdekatan, dan sekarang ada Hanna disini apa jadinya kantor ini. Belum lagi gosip tentang mereka menjadi trend topik di kantor. “Ini … Christian kemana ya?” Tanya Hanna celingukan mencari keberadaan Christian di kantor ini. Dan ya, mereka hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing. *** Pintu ruang kerja itu terdorong agak keras. Jesslyn masuk dengan wajah tegang, napasnya masih memburu seakan habis berlari. Christian yang tengah menunduk menandatangani beberapa berkas langsung mengangkat kepala, keningnya berkerut. Tidak seperti biasanya, meskipun kadang tampangnya nyebelin tapi kali ini berbeda. Dan Christian tahu hal itu, meskipun Jesslyn punya tampang seribu lapis pun pria itu tahu jika wanitanya tidak baik-baik saja. “Lo kenapa? Muka Lo kayak habis dikejar debt collector.” ucap Christian datar lebih isyarat. Jesslyn mendekat, meletakkan map sembarangan di meja. Ini adalah alasan kenapa Jesslyn bisa masuk ke ruangan ini. Meskipun tidak ada sangkut pautnya dengan kerajaan nya dia dan juga Christian. “Gue baru ketemu Hanna… dia datang ke pantry. Tian, dia nyariin lo. Dia bahkan bilang—dia pengen tahu siapa perempuan yang deketin lo.” jelas Jesslyn. Suara Jesslyn terdengar gugup, matanya berusaha membaca ekspresi Christian. Tapi pria itu hanya menyandarkan tubuh ke kursinya, melemparkan pulpen begitu saja ke meja, lalu tersenyum tipis yang lebih mirip ejekan. Dia sama sekali tidak peduli akan hal itu. Ibunya mungkin bisa meminta Hanna untuk mengurus dirinya. Tapi apa yang diinginkannya hanya dirinya yang berhak atas hal ini. Dan mungkin ini sudah saatnya, jika pun Hanna tahu dan merasa amat hati Jesslyn tetap menjadi pemenang. “Dan Lo panik gara-gara itu?” Jesslyn meninggikan suaranya, dia sudah tidak tahan lagi. “Tentu saja bodoh! Bagaimana kalau dia curiga? Bagaimana kalau dia—” “Hanna bisa datang seribu kali pun gue tetap nggak peduli. Dari awal gue benci pertunangan itu, Jess. Kenapa lo yang repot mikirinnya?” Christian memotong Jesslyn terdiam, hatinya terhantam kata-kata Christian. Ia ingin marah, tapi juga… ada sedikit rasa lega yang merambat. Meski begitu, kegugupannya belum hilang. Dari awal dia tahu, hanya saja Jesslyn tidak ingin terlibat apapun dengan Hanna dan keluarga Christian. Jesslyn menundukkan kepalanya, suaranya pelan. “Dia datang ke gue, Tian. Dia bilang gue pasti tahu sesuatu… karena gue kerja di sini, karena gue kenal lo. Gue nggak bisa… gue takut kalau—” Christian berdiri mendekat, menatap Jesslyn dalam-dalam. “Jess… satu hal yang harus lo tahu. Gue nggak pernah—nggak akan pernah—anggap Hanna ada di hidup gue. Jadi berhenti khawatirin sesuatu yang nggak penting. Kalau gue mau seseorang tahu siapa perempuan yang gue cintai, biar gue sendiri yang kasih tahu. Bukan dia, bukan orang lain.” Jesslyn tercekat. Jarak mereka terlalu dekat, tatapan Christian terlalu jujur untuk dibantah. Di saat ketakutannya menguasai, pria itu justru menyingkirkan semua bayangan buruk dengan satu kalimat sederhana. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD