Lampu neon parkiran berpendar redup, angin malam membawa dingin, yang anehnya selaras dengan tatapan Christian saat melihat sosok Hanna berdiri menunggu. Tubuh pria itu kaku, rahangnya mengeras. Sudah pasti dia datang ke tempat ini atas permintaan mommy. Jika tidak untuk apa dia datang kemari? Hanya karena Christian tidak mau pulang? Atau lebih memilih menghabiskan waktu bersama dengan Jesslyn? Bukannya dari sini harusnya Hanna sadar jika wanita yang diinginkan Christian itu bukan dirinya, melainkan orang lain.
Entah terlalu polos atau lugu, tapi Christian tahu jika Hanna tidak sebodoh itu. Dia tahu wanita itu mencintainya tapi Christian tidak bisa. Dia tidak bisa membuka hati maupun ada hal lain yang wanita itu perbuat dan membuatnya tertarik.
Pria itu mendekat dengan tatapan dingin. “Ngapain Lo kesini?”
Hanna menarik napas, pura-pura tersenyum lembut. “Aku hanya datang ingin melihatmu. Aku… ingin dekat dengan hidupmu, Tian. Kita ini—”
Christian memotong tajam, suara rendah tapi menghantam. “Jangan pernah menganggap gue bagian dari hidup Lo. Lo salah besar. Dan selama ini Lo tau kalau gue nggak pernah anggap Lo lebih dari teman saja.”
Langkah Christian mendekat, setiap langkah membuat Hanna makin tertekan. Senyum di wajah Hanna memudar, diganti kegugupan. Tapi ia menolak mundur. Dia menahan diri untuk tidak takut pada Christian, entah apa yang akan pria itu lakukan di tempat yang sepi dan hanya ada mereka berdua saja. Nafasnya benar-benar membuat Hanna sesak.
“Aku tunanganmu, Christian! Aku punya hak. Kalau bukan aku yang menjagamu, siapa lagi? Apa salahku kalau aku ingin tahu lebih banyak, bahkan… bahkan tentang orang-orang yang ada di dekatmu?”
Hanna berusaha tegar, dia punya hak besar atas hidup Christian. Hubungan mereka bukan lagi teman atau sahabat, tapi lebih dari itu. Mereka bertunangan, hubungan yang tinggal satu langkah lagi masuk ke pelaminan. Apa Christian sadar dengan apa yang dia lakukan selama ini yang menyakiti Hanna. Selama ini dia diam, tapi kali ini tidak. Dia tidak akan melepas apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Tangan Christian mengepal, dia marah dan dia tidak suka dengan apa yang Hana katakan. Pertunangan itu bukan berarti bisa mengikat dirinya selamanya. Dia punya kehidupan dan juga pilihan yang ingin dia pilih.
“Dengar baik-baik, Hanna. Pertunangan ini bukan pilihan gue. Itu keputusan keluarga. Dari awal gue tidak pernah mau, dan tidak akan pernah berubah. Jadi berhenti gunakan kata ‘hak’ di hadapan gue. Lo tidak punya hak apapun atas gue.”
Hanna tercekat. Kata-kata itu lebih tajam dari belati. Ia mencoba mencari celah untuk bertahan.
“Tapi… kalau keluargamu tahu kamu seperti ini… kalau mereka tahu kamu dekat dengan—”
Christian menyipitkan mata, nada penuh ancaman, dia suka sekali memotong ucapan Hanna setiap kali dia berkata. Minimal untuk menyadarkan diri kalau dia tidak pantas untuk Christian.
“Hentikan, Hanna. Jangan berani bawa-bawa mereka atau orang lain. Lo pikir gue akan tunduk hanya karena ancaman? Gue lebih baik putus semua urusan keluarga daripada pura-pura menjalani sesuatu yang menjijikkan ini.”
Hanna menutup mulutnya, matanya bergetar. Air mata menumpuk tapi gengsi menahannya. Sementara Christian tidak menunggu jawaban. Ia membuka pintu mobil dengan kasar, lalu menatap Hanna sekali lagi—tatapan yang jelas-jelas penuh penolakan.
“Jangan pernah datangi kantor gue lagi. Dan jangan dekati orang-orang gue. Gue muak.” jelas Christian dingin dan penuh penekanan.
Pintu mobil dibanting keras. Mesin meraung. Dalam sekejap, Christian melaju meninggalkan Hanna berdiri sendiri di parkiran, dengan hati yang diremuk oleh kenyataan pahit: tunangannya bahkan tidak mau menoleh padanya.
***
Lampu-lampu kantor sebagian besar sudah dimatikan, hanya beberapa sudut yang masih menyala. Jesslyn duduk di ruangannya dengan laptop terbuka, namun fokusnya berantakan. Bayangan pertengkaran Christian dan Hanna tadi terus menari di kepalanya. Kata-kata tajam Christian, tangisan Hanna, lalu tatapan kosong Christian setelah itu… semua menusuk ke dalam hatinya.
Dia mengetuk pelan meja dengan ujung jarinya, mencoba menenangkan diri. Namun semakin ia mencoba, semakin sesak dadanya. Jesslyn benci dirinya sendiri karena merasa terusik. Seharusnya aku sudah kebal. Seharusnya… pikirnya. Tapi nyatanya, luka itu kembali terbuka.
Jesslyn meraih ponsel, membuka chat internal kantor. Ia menemukan pesan dari divisi bisnis tentang rencana proyek luar kota minggu depan. Jelas itu bukan bagian kewajibannya sebagai HR, tapi jiwanya berteriak ingin pergi. Mungkin dengan menjauh, pikirannya bisa sedikit lebih tenang.
Jesslyn bergumam pelan, sinis pada diri sendiri. “Biarin aja. Kalau jauh… mungkin gue nggak perlu lihat wajah menyebalkan itu tiap hari.”
Ia mengetik cepat, mengajukan diri untuk ikut serta. Tak ada alasan logis, tapi ia tulis alasan formal: untuk mengamati kebutuhan SDM di cabang. Tangannya gemetar sedikit saat menekan tombol send.
Tak lama, pintu ruangannya diketuk. Sabian muncul, membawa beberapa berkas. Wajahnya kelelahan, tapi matanya tajam seperti biasa.
“Lo belum pulang?” tanya Sabian basa basi.
Jesslyn mengangkat bahunya. “Kerjaan nggak akan beres kalau ditinggal, kan?”
“Apa lagi? Gue tahu lo nggak bisa diem kalau ada masalah. Tapi wajah lo itu—” Sabian menatap serius, sambil meletakkan beberapa berkas di meja Jesslyn. “—lo habis lihat sesuatu, ya?”
Jesslyn menahan napas. Ia paling benci ketika Sabian terlalu peka. Lelaki itu satu-satunya orang di kantor yang bisa membaca sisi rapuhnya. Ia mencoba berkelit, namun suaranya terdengar getir. Meskipun hasilnya nihil, apalagi berhubungan dengan adiknya. Mana mungkin tidak tahu sih.
“Masalah kerjaan. Nggak usah kepo, Pak.”
Sabian menyipitkan mata, lalu tersenyum tipis. “Kerjaan, atau Christian?”
Nama itu membuat Jesslyn tersentak, dan sialnya ucapan itu benar. Ia refleks menutup laptop keras-keras, seakan suara clack bisa menenggelamkan rasa sakit yang menguar.
“Lo pikir semua masalah gue ada hubungannya sama dia? Please deh, gak semua loh meskipun dia salah satunya tapi ini bukan dia.” jelas Jesslyn.
“Kalau bukan, kenapa mendadak lo ngajuin diri ke proyek luar kota? Padahal gue tahu, itu sama sekali bukan jobdesc-lo.”
Jesslyn membeku. Ia menatap Sabian lama, lalu akhirnya menghela napas berat. Benar, ini bukan jobdesc miliknya. Seorang HRD keluar kota katana perjalanan bisnis itu bukan alasan yang masuk akal. Tapi Jesslyn tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi pada dirinya, dan apa yang barusan dia dengar sore tadi mampu membuat Jesslyn sedikit terusik.
“Gue cuma… butuh udara baru. Capek lihat orang-orang disini.” kilahnya, dan membuat Sabian tersenyum kecil.
“Orang-orang, atau seseorang?”
Jesslyn merasakan hatinya mencelos. Bayangan Christian berdiri dengan wajah dingin setelah memaki Hanna, suara beratnya yang memotong setiap kalimat Hanna tanpa ragu, dan tatapan sesaat yang entah sengaja atau tidak sempat menembus ke arahnya… semuanya membuat tubuhnya gemetar lagi.
Ia menunduk, akhirnya jujur tapi dengan nada getir. Mau bohong pun sepertinya Sabian tidak akan meloloskan Jesslyn. Lebih baik dia jujur ketimbang dia terus menerus bertanya masalah ini.
“Gue nggak mau ada di tengah pertengkaran mereka. Gue nggak mau lagi ngerasain luka lama. Kalau gue tetap di sini, gue bisa hancur. Jadi… biarin gue pergi.”
Sabian diam. Tatapannya melembut, meski ada kilatan marah yang ia sembunyikan. Ia tahu siapa yang jadi penyebab semua ini. Tapi Sabian juga tahu, memaksa Jesslyn tetap di sini hanya akan memperburuk luka. Setidaknya dengan ini wanita itu bisa pergi dengan hati yang damai. Melupakan apa yang terjadi, kembali dengan pribadi yang lebih baik lagi.
“Kalau itu yang lo mau… pergi. Tapi jangan pernah lupa, Jess. Lari nggak selalu bikin masalah hilang. Kadang, justru bikin masalah ikut terus ke manapun Lo pergi.” jelas Sabian.
Jesslyn terdiam, menatap Sabian dengan mata berkaca-kaca tapi tetap menegakkan wajah judesnya.
“Yaudah, biarin aja. Kalau masalahnya ikut… semoga dia kelelahan duluan.” Jesslyn terkekeh, untuk menghibur dirinya sendiri.
Sabian menghela napas panjang, menahan kata-kata. Ia tahu, Jesslyn hanya ingin terlihat kuat. Padahal di balik tatapannya, ada hati yang sudah terlalu sering berdarah karena seseorang bernama Christian Tian.
Lampu kantor padam sepenuhnya. Jesslyn menutup pintu ruangannya, langkahnya terdengar mantap—tapi di dalam, hatinya runtuh pelan-pelan.
****