Bab-37

1201 Words
Pagi itu langit berwarna abu-abu pucat. Jalanan belum sepenuhnya padat, tapi suara klakson dan deru kendaraan sudah menguasai udara. Jesslyn berdiri di depan depan rumahnya dengan koper kecil di sampingnya. Rambutnya dikuncir seadanya, wajahnya tanpa riasan berlebihan, hanya lipstik tipis yang menegaskan ketegasan dirinya. Ia menarik napas panjang. Ini bukan perjalanan bisnis yang benar-benar penting. Bukan juga kewajiban. Tapi pagi itu, Jesslyn merasa satu-satunya cara untuk tetap waras adalah… pergi. Menjauh dari kantor, dari Hanna, dan yang terpenting—dari Christian. Teleponnya bergetar. Nama Sabian muncul di layar. Sambil memutar bola matanya wanita itu menerima panggilan Sabian. “Apa lagi, Pak? Jangan bilang lo mau ceramah jam segini.” ucap Jesslyn malas, ketika panggilannya tersambung. Sabian diam. “Ceramah kalau perlu. Gue masih nggak habis pikir lo ngotot banget pergi sendiri. Lo yakin?” Jesslyn mendengus kecil, mengangkat koper ke bagasi taksi. Kalau tidak yakin, tidak mungkin dia pergi. “Yakin banget. Nggak usah sok jadi bodyguard. Gue bisa jaga diri.” Sabian diam sejenak, menarik nafasnya perlahan dan berkata, “Lo kabur, Jess.” Jesslyn terhenti sejenak, tangannya menggenggam pintu mobil lebih erat. Kata-kata itu tepat sasaran, tapi ia menolak untuk terlihat lemah. Dia itu kuat sejak kecil, dia akan baik-baik saja setelah ini. “Kabur? Anggap aja iya. Kalau itu bikin hidup gue lebih tenang, kenapa nggak?” jawab Jesslyn dingin. Hening beberapa detik di seberang, sebelum Sabian menghela nafasnya panjang. Mungkin memang tidak ada pilihan, sehingga wanita itu memilih kabur dari kehidupan. “Christian pasti cari lo. Dan kalau dia tahu gue diem aja—” Jesslyn memotong cepat, suaranya agak bergetar tapi tegas. “Jangan bilang apa-apa, Pak. Biar dia bingung. Biar dia mikir gue ini cuma bagian kecil yang gampang dilupain. Kalau memang dia anggap gue nggak penting, toh gue pergi juga nggak ada bedanya.” Sabian mengepal tangannya di meja kerjanya. Ia bisa merasakan getaran rapuh di balik kata-kata Jesslyn, meski perempuan itu berusaha membungkusnya dengan nada sinis. Ucapannya sengak tapi terlihat realistis. “Lo salah kalau mikir gitu. Tapi ya udah. Gue nggak akan bilang ke siapa-siapa. Hanya saja…” Sabian menghentikan ucapannya seraya berpikir. “…jangan hilang terlalu lama, Jess.” Jesslyn tersenyum miring, dulu lengen Jesslyn pergi sekarang ditinggal pergi malah bilang seperti itu. Bilang aja pengen nahan tapi gengsi gak sih? “Tenang aja. Gue bukan tipe yang suka drama hilang tanpa jejak. Gue cuma butuh… jeda.” Ia memutus telepon sebelum Sabian sempat menjawab. Taksi mulai melaju meninggalkan halaman rumahnya. Jesslyn menatap keluar jendela, memperhatikan kota yang perlahan ditinggalkannya. Ada rasa lega, tapi juga ada rasa sakit yang menusuk, seperti meninggalkan sesuatu yang belum selesai. Di dalam hati, ia bergumam lirih, hanya untuk dirinya sendiri: Jangan bikin gue kembali nyariin lo, Tian. Kalau Lo nggak bisa nemuin gue… mungkin memang kita nggak pernah ditakdirkan. Mobil melaju semakin jauh. Jesslyn bersandar di kursi, memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia membiarkan dirinya lari. Pergi sendirian, tanpa pamit, tanpa beban kecuali luka yang masih melekat di dadanya. Dan pagi itu, kota kehilangan satu sosok wanita judes yang sebenarnya… hanya sedang berusaha menyembunyikan hatinya yang terlalu rapuh. *** Sore itu, langit sudah mulai menguning, tapi ketegangan di ruang keluarga Miller justru semakin menebal. Yoora duduk anggun di sofa panjang dengan gaun pastel, menyesap teh hangat seolah dunia baik-baik saja. Namun suasana langsung berubah ketika pintu utama dibuka keras oleh Christian. Langkahnya mantap, wajahnya kelam. Jas kerjanya belum sempat ia lepas, dasinya longgar, tapi matanya menatap ibunya dengan dingin. Selama ini dia sudah menurut tidak untuk kali ini. “Kita perlu bicara, Mom.” ucap Christian merendah, penuh dengan isyarat. Yoora menoleh tenang, meletakkan cangkir tehnya. “Kedengarannya serius. Duduklah dulu, Christian.” Christian tetap berdiri. “Aku nggak akan duduk sampai Mom jelasin. Kenapa Hanna tiba-tiba datang ke kantorku? Kenapa dia terus menempeliku seolah aku ini… miliknya?” Yoora tidak kaget. Ia hanya menghela napas seakan sudah menebak arah pembicaraan ini. Senyumnya tipis, dingin, penuh kendali. Apa salahnya jika Hanna berada disekitarnya? “Karena dia memang calon istrimu, Christian. Wajar jika dia mengkhawatirkanmu. Lagipula, aku yang memintanya menjaga kamu lebih ekstra. Aku tidak mau keluarga Hanna berpikir kau mengabaikan pertunangan yang sudah diatur.” Christian mendekat, suaranya meninggi. “Pertunangan itu bukan pilihanku! Dari awal aku nggak pernah peduli dengan Hanna, Mom! Dan sekarang, Mom masih tega mengikatku dengan cara seperti itu?” “Kau pikir kehidupan ini hanya tentang cinta dan kebebasan? Tidak, Christian. Pernikahan adalah tentang keluarga, status, dan masa depan. Hanna punya semuanya. Dia layak berdiri di sampingmu.” suara Yoona meninggi, seolah muak dengan jawaban yang itu itu saja Christian berikan. Christian mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Setiap kata ibunya seperti pisau yang menusuk perlahan. Dimana ibunya yang dulu? “Layak? Bagiku, dia tidak berarti apa-apa! Mom tahu itu. Aku tidak butuh Hanna. Aku tidak pernah membutuhkannya!” Yoora menatap tajam, suaranya tegas. “Lalu siapa? Perempuan yang bahkan tidak sepadan dengan keluarga kita? Perempuan yang hanya membawa masalah jika kau serius dengannya?” Christian terdiam sejenak, dadanya naik turun cepat. Yoora tidak menyebut nama Jesslyn, tapi mereka berdua sama-sama tahu arah kata-kata itu. Yoora tahu jika anaknya itu sudah kecintaan pada Jesslyn. Itu sebabnya pertunangan ini ada. “Hati-hati dengan kata-kata Mom.” ucap Christian lirih penuh dengan tekanan. Yoora menyilangkan tangan, tetap angkuh. “Aku hanya ingin melindungi masa depanmu, Christian. Jika kau terus bermain dengan api, cepat atau lambat semua orang akan tahu. Dan ketika itu terjadi, bukan hanya kau yang jatuh… seluruh keluarga kita akan ikut tercoreng.” Christian mendekat, kali ini matanya tajam menusuk ibunya. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena marah dan terluka. Ibunya selalu mengatur apa yang tidak seharusnya dia lakukan. Christian sudah besar, dia punya kehidupan dan juga pilihannya sendiri kalau ibunya lupa. “Mom selalu bicara soal nama baik keluarga, soal status, soal masa depan. Tapi kapan Mom pernah peduli dengan kebahagiaan anak Mom sendiri? Aku bukan boneka yang bisa diatur seenaknya. Aku bukan alat transaksi sosial!” Yoora menatap anaknya, wajahnya sempat goyah sesaat, namun segera kembali kaku. Untuk saat ini keputusannya sudah benar. “Kau masih muda, Christian. Kau pikir cinta cukup untuk membangun masa depan? Suatu hari nanti kau akan mengerti kenapa aku memilihkan Hanna untukmu.” Christian menggebrak meja kecil di samping sofa, suaranya meledak. “Aku tidak akan pernah mengerti! Karena aku tidak pernah mencintainya, dan tidak akan pernah mencintainya! Jadi berhenti mendorong Hanna ke hidupku. Kalau Mom pikir aku akan tunduk, itu salah besar.” Keheningan panjang menggantung di ruangan. Hanya terdengar nafas berat Christian dan detak jam dinding yang terdengar terlalu keras. Yoora tetap duduk tegak, meski matanya berkilat, menyimpan kemarahan yang ditahan. “Aku tidak akan menarik kata-kataku. Hanna tetap tunanganmu. Dan selama aku masih hidup, aku akan memastikan pernikahan itu terjadi.” kata Yoora memutuskan percakapan mereka. Christian menatap ibunya dengan luka yang dalam. Ia tidak menjawab lagi, hanya berbalik dengan langkah kasar, meninggalkan ruangan. Pintu ditutup keras di belakangnya, menggema di seluruh rumah besar itu. Di balik ketegasannya, Yoora menggenggam erat cangkir tehnya, tangannya sedikit bergetar. Sementara di luar, Christian berdiri di beranda, menatap langit senja dengan d**a sesak. Kalau dunia ini terus mencoba menjauhkan gue darinya… gue akan melawan. Bahkan kalau itu berarti melawan Mommy sendiri. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD